
Pagi harinya Laura sangat tergesa-gesa sekali ketika menerima telepon dari bosnya yang bernama Ryan itu.
Laura, jemput saya di rumah sebelum kamu berangkat ke kantor. Saya tunggu.
Perkataan Ryan membuat Laura menoleh ke arah jam yang tergantung di dindingnya.
"Jam setengah enam. Gawat, aku kesiangan," ucap Laura sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Jika Ryan tidak menghubungi Laura saat itu, sudah bisa dipastikan jika Laura akan terlambat datang ke kantor.
Badannya sangat lelah sekali. Selain itu pikirannya juga tidak kalah lelah dengan tubuhnya, sehingga dia ingin mengistirahatkan badan dan pikirannya dengan tidur lebih lama lagi.
Namun, Ryan, CEO dari perusahaan RAZ yang berarti bosnya itu telah memberikan pekerjaan untuknya, sehingga dia harus berangkat saat itu juga.
Laura tergesa-gesa memakai bajunya dan menyisir rambutnya. Bahkan dia memoles wajahnya dengan riasan yang sederhana.
"Emmm… Sudah bangun? Kenapa sudah rapi? Jam berapa ini?" tanya Arsenio yang baru saja bangun tidur sambil menguap dan mengusap-usap kedua matanya menggunakan tangannya.
Laura melirik suaminya dari cermin yang ada di hadapannya. Kemudian dia memasang anting di telinganya seraya berkata,
"Aku harus berangkat kerja sekarang. Maaf aku tidak bisa menyiapkan sarapan untukmu. Buatlah roti dengan olesan selai sendiri. Semuanya sudah ada di meja makan."
Setelah itu dia beranjak dengan cepat menyambar tasnya yang ada di meja dan berkata,
"Aku berangkat dulu."
"Sayang, kenapa terburu-buru sekali?" tanya Arsenio sambil menatap istrinya seolah tidak rela ditinggalkan begitu saja oleh istrinya.
Laura menghentikan langkahnya ketika akan membuka pintunya. Dia menoleh ke arah suaminya yang masih berada di ranjang mereka. Kemudian dia berkata,
"Pak Ryan menghubungiku. Dia menyuruhku berangkat sekarang untuk menjemputnya."
"A-apa? Menjemputnya? Kenapa? Apa itu harus?" tanya Arsenio dengan beberapa pertanyaan pada istrinya.
"Aku harus menurutinya. Ini semua demi kerja sama denganmu. Bahkan semalam aku mengantarkannya pulang dan makan malam terlebih dahulu di rumahnya. Sudahlah, aku akan terlambat jika harus menjelaskan semuanya. Aku harus berangkat menjemputnya sekarang," jawab Laura dengan cepat seolah tidak mau menunda-nunda waktu.
Laura membuka pintu kamarnya dan berjalan keluar dari kamar tersebut. Arsenio segera turun dari tempat tidurnya dan tergesa-gesa mengikuti istrinya.
__ADS_1
"Kamu bukan sopir. Kenapa harus mengantar jemput dia?" tanya Arsenio ketika berjalan mengikuti Laura di belakangnya.
"Entahlah. Semua perintahnya harus aku turuti. Tak terkecuali itu. Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi sopir cantiknya," jawab Laura yang sedang berjalan sambil sedikit terkekeh dengan jawaban asalnya.
Seketika langkah kaki Arsenio berhenti setelah mendengar perkataan istrinya. Otaknya merekam kalimat pada bagian jika istrinya itu harus menuruti semua perintah bosnya, apa pun itu, tidak terkecuali.
Pagi ini dia merasakan keresahannya kembali setelah kemarin malam dia berhasil membuat istrinya itu menuruti keinginannya untuk memuaskannya. Karena itulah mereka berdua kelelahan dan bangun terlambat pagi ini.
Arsenio sangat senang kemarin malam karena keinginannya itu dengan cepatnya disetujui oleh istrinya, sehingga rasa cemburu dan kesalnya pada Ryan hilanglah sudah.
Namun, pagi ini rasa kesal dan cemburu itu datang kembali. Dia merasa tidak bisa mentolerir lagi sikap Ryan pada istrinya.
"Laura adalah istriku. Dan sampai kapan pun dia akan menjadi istriku," ucap Arsenio sambil mengepalkan kedua tangannya melihat mobil mewah milik Ryan yang dikendarai Laura keluar dari halaman rumah mereka.
Mengingat Laura yang tergesa-gesa meninggalkan rumah, membuat Arsenio sadar jika hari sudah beranjak siang. Dia segera berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya dan segera bersiap berangkat bekerja.
Di dalam mobil mewah yang sedang dikendarainya, Laura berusaha untuk mempercepat laju kendaraannya. Dia tidak ingin Ryan memarahinya karena keterlambatannya ketika menjemputnya.
Beruntungnya saat itu jalanan sedang senggang, sehingga Laura bisa melalui jalanan tersebut dengan lancar hingga sampai di kediaman Ryan tanpa halangan apa pun.
Hanya butuh beberapa menit saja Laura sampai di rumah mewah itu. Dia segera turun dari mobil tersebut dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah tersebut.
Ryan melihat jam yang melilit di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,
"Tidak masalah. Kita belum terlambat. Duduklah dan makanlah terlebih dahulu. Kita sarapan bersama."
Laura yang menundukkan kepalanya karena merasa bersalah, seketika mendongakkan kepalanya disertai matanya yang terbelalak kaget mendengar perintah dari bosnya itu.
Namun, Laura tidak bisa menolaknya karena dia tahu jika Ryan tidak suka jika dibantah. Dengan segera Laura duduk di kursi yang ada di hadapan Ryan. Di hadapannya sudah tersedia makanan yang sama dengan makanan yang ada di piring Ryan.
Ryan melipat koran yang dibacanya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian dia berkata,
"Makanlah. Setelah itu kita berangkat ke kantor."
"Baik Pak," tukas Laura sambil menganggukkan kepalanya.
Senyuman tipis terlihat pada bibir Ryan. Dia mencuri pandang pada Laura yang sedang menikmati makanannya.
__ADS_1
Setelah makanan mereka selesai, Ryan mengajak Laura untuk segera berangkat ke kantornya.
Ryan duduk di kursi penumpang yang ada di dekat pengemudi. Dan Laura tetap menjadi sopir cantik bagi Ryan.
Dia tahu jika Laura sedikit tegang dan tidak nyaman karenanya. Dia pun mencoba untuk mencairkan suasana.
"Saya ingin membuat iklan yang sangat bagus untuk perusahaan. Apa kamu ada ide Laura?" tanya Ryan yang mencoba memancing Laura.
"Nanti coba saya pikirkan Pak. Bapak ingin yang seperti apa? Mungkin saja saya ada ide yang berkaitan dengan keinginan Bapak," jawab Laura sambil mengemudikan mobilnya.
Ryan tersenyum tipis mendengar jawaban dari Laura. Dia menoleh ke arah samping untuk melihat Laura sedang fokus dengan jalanan yang ada di hadapannya dan kemudi yang dipegangnya. Kemudian dia berkata,
"Apa kamu mempunyai saran perusahaan mana yang bisa membuat iklan menarik dan bagus melebihi iklan perusahaan kami yang biasanya?"
Ini kesempatanku. Tapi aku tidak bisa terlalu mencolok mengatakannya. Aku tidak ingin dia curiga padaku. Karena aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, Laura berkata dalam hatinya.
"Mengapa tidak dengan perusahaan yang biasanya saja Pak?" tanya Laura dengan tenang dan tetap fokus pada kemudinya.
Ryan kembali tersenyum mendengar jawaban dari Laura. Kemudian dia berkata,
"Jika ada yang lebih bagus, mengapa tidak?"
"Nanti akan coba saya carikan beberapa perusahaan iklan yang mempunyai karya bagus Pak. Setelah itu Bapak tinggal pilih saja di antara beberapa perusahaan tersebut," jawab Laura dengan mantap dan tidak terlihat ragu-ragu sama sekali.
Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,
"Baiklah. Aku akan menantikannya."
Sesuai pikiranku, kamu akan bersikap seperti ini. Semoga saja apa yang aku pikirkan benar adanya. Dan jika itu memang benar, aku tidak akan segan-segan untuk bertindak, Ryan berkata dalam hatinya sambil menatap Laura yang masih dalam keadaan mengemudikan mobil tersebut.
Sesampainya di kantor, mereka berdua berjalan masuk ke dalam lift khusus petinggi untuk menuju ke ruangan Ryan. Semua orang selalu saja memperhatikan mereka. Bahkan mereka bertanya-tanya tentang bagaimana cara Laura bisa menjadi asisten pribadi seorang Ryan Arion Syahreza yang sangat cuek dan dingin pada semua perempuan sehingga tidak pernah menempatkan seorang perempuan di dalam ruangannya sebagai asisten pribadinya.
Selang beberapa saat setelah mereka sudah berada di dalam ruangan Ryan, Laura memberikan beberapa map di hadapan Ryan seraya berkata,
"Maaf Pak, ini semua daftar perusahaan iklan yang mungkin saja sesuai dengan keinginan Bapak."
Ryan menatap Laura sambil tersenyum tipis padanya. Dia mengambil map tersebut dan membukanya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Menurutmu perusahaan mana yang harus saya pilih?"