
Dahi Arsenio mengernyit mendengar perintah dari Alberto. Ingin sekali dia menolaknya, akan tetapi tidak bisa dilakukannya. Alberto adalah atasannya. Dan dia harus menuruti semua perintahnya.
Tiba-tiba dia teringat akan posisi Laura yang juga sama sepertinya. Laura tidak bisa menolak perintah Ryan.
"Apa itu berarti mereka…," ucapan Arsenio tidak bisa dilanjutkan.
Dia tidak bisa menerima kenyataan jika hal itu benar-benar terjadi.
"Tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Laura bukan perempuan yang seperti itu. Lebih baik aku cepat-cepat pulang setelah urusanku dengan Pak Alberto selesai," ujar Arsenio yang menolak pikiran buruknya sendiri.
Sore itu pun Arsenio segera mendatangi ruangan Alberto. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera pulang untuk bertemu dengan istrinya.
"Ayo kita pergi sekarang," ajak Alberto ketika Arsenio sudah berada di dalam ruangannya.
Mereka pun meninggalkan ruangan tersebut dan pergi ke tempat yang dituju oleh Alberto menggunakan mobil Arsenio.
"Belok kiri," perintah Alberto pada Arsenio yang sedang mengemudikan mobilnya.
Arsenio pun menuruti perintah Alberto. Dia membelokkan mobilnya sehingga masuk ke dalam sebuah bangunan yang tidak pernah dikunjungi olehnya.
"Apa tidak salah alamat Pak?" tanya Arsenio sambil mengernyitkan dahinya memandang bangunan yang ada di hadapannya.
"Tidak. Kita memang akan masuk ke dalam sana. Cepatlah turun. Kita akan merayakan keberhasilan mu hari ini," jawab Alberto sambil melepas sabuk pengamannya.
"Tapi Pak saya–"
"Saya tidak suka dibantah," sahut Alberto sambil menatap tegas pada Arsenio.
Arsenio menghela nafasnya. Dia harus kembali mengikuti perintah Alberto. Dia tidak mau jika usahanya yang sudah hampir berhasil itu gagal di tengah jalan.
Mereka berdua masuk ke dalam bangunan tersebut. Sebuah club malam yang tidak pernah dikunjungi oleh Arsenio. Club tersebut biasa didatangi oleh Alberto bersama dengan teman kencannya.
Dentuman suara musik yang sangat keras membuat pendengaran mereka hanya tertuju pada musik yang sedang diputar.
"Pak, kita tidak lama-lama kan berada di sini? Saya ada janji dengan istri saya," bisik Arsenio di telinga Alberto.
Alberto tersenyum dan merangkul pundak Arsenio seraya berbalas bisik di telinganya.
__ADS_1
"Sejak kapan seorang Arsenio pulang cepat? Saya sudah sering mendengar bahwa tim kalian suka merayakan keberhasilan kalian di club malam."
Seketika mata Arsenio terbelalak. Dia tidak menyangka jika Alberto mengetahui tentangnya dan tim yang bekerja dengannya.
Kini Arsenio tidak bisa menolak lagi. Dia sudah terjebak oleh kebiasaannya sendiri.
Sebelumnya Kessy telah mengatakan sudah menyiapkan minuman untuknya dan Arsenio. Minuman itu berkadar alkohol tinggi. Dan tanpa sepengetahuan Alberto, Kessy telah mencampur minuman tersebut dengan obat yang akan membuat mereka saling menginginkan.
Kessy sengaja hanya menyiapkan dua gelas minuman karena dia menginginkan agar Alberto meninggalkan mereka.
Begitu Arsenio dan Alberto duduk di meja bar, mereka langsung disuguhi dengan dua gelas minuman di hadapan mereka.
Saat itu juga Kessy datang menghampiri mereka. Dia berdiri di sebelah Arsenio yang sedang duduk dan merangkul pundak Arsenio dengan sangat mesra.
Arsenio menoleh ke arah sampingnya. Dia menghela nafasnya melihat Kessy yang sudah berdiri dengan merapatkan bagian dadanya yang kenyal itu pada tubuhnya.
"Kessy, sebaiknya kamu duduk di sebelah sana," ucap Arsenio sambil menunjuk kursi yang ada di sebelah Alberto.
Alberto hendak minum minuman yang ada di hadapannya, sayangnya gelas tersebut segera diambil oleh Kessy dan dengan cepatnya dia meneguk minuman tersebut hingga habis tidak tersisa.
Alberto menggelengkan kepalanya melihat apa yang dilakukan oleh Kessy. Dia memberikan gelas miliknya yang belum diminumnya sama sekali pada Alberto.
Kessy menatap Alberto sambil menggelengkan kepalanya. Alberto pun mengerti. Dia tidak mencurigai apa pun. Dia beranjak dari duduknya seraya berkata,
"Saya akan ke toilet sebentar. Tolong jaga Kessy. Dan temani dia selagi saya belum kembali."
Kessy tersenyum dengan wajahnya yang sudah mulai mabuk karena minuman yang diteguknya.
Sedangkan Arsenio, dia merasa keberatan dengan perintah Alberto. Akan tetapi dia lagi-lagi tidak bisa menolaknya.
Kessy bergelayut manja pada tubuh Arsenio yang masih duduk di kursinya. Sayangnya Arsenio tetap menolaknya. Dia berusaha keras untuk melepaskan Kessy dari tubuhnya.
Namun, pegangan Kessy sangat kuat, sehingga Arsenio tidak bisa dengan mudah melepaskannya.
Arsenio masih berusaha melepaskan diri dari tubuh Kessy yang semakin lama semakin menempel padanya. Bahkan dia bisa merasakan bagian tubuh inti milik Kessy yang duduk di pangkuannya. Bagian dada Kessy pun menempel sangat erat di dadanya.
"Sayang… aku menginginkanmu sekarang juga," bisik Kessy dengan suara yang sedikit tercekat menahan gejolak yang ada di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Seketika mata Arsenio terbelalak. Dia laki-laki normal. Dan dia memang sedikit tergoda dengan apa yang dilakukan Kessy padanya. Bahkan Kessy mencoba menciumnya saat itu juga. Sayangnya Arsenio masih ingat akan janjinya pada istrinya, sehingga ciuman itu tidak bisa dilakukan Kessy padanya.
Dengan segera Arsenio beranjak dari duduknya, sehingga membuat Kessy yang ada di pangkuannya terjatuh di lantai.
Tanpa mengatakan apa pun, Arsenio segera meninggalkan club malam tersebut tanpa menolong Kessy yang masih terduduk di lantai dengan gerakan yang menarik perhatian semua laki-laki yang melihatnya.
Kessy merasakan badannya sangat panas dan menginginkan sesuatu untuk melampiaskan hasratnya saat ini. Dia memanggil-manggil nama Arsenio yang sudah pergi meninggalkannya.
Bahkan dia tidak bisa berdiri sendiri karena tubuhnya yang sudah mabuk saat ini.
Alberto segera berlari ke arah Kessy ketika melihat keponakan istrinya itu sedang bergerak layaknya ulat yang sedang kepanasan.
Dia segera menolong Kessy agar duduk di kursi bar tersebut. Matanya kini melihat segelas minuman yang diyakininya milik Arsenio. Merasa sangat haus setelah sedikit berlari, Alberto segera meneguk minuman yang masih utuh tersebut dan belum dicicipi sama sekali oleh Arsenio.
"Di mana Arsenio? Kenapa dia meninggalkanmu duduk sendiri di lantai?" bisik Alberto di telinga Kessy.
Merasakan hembusan nafas Alberto di telinganya, membuat sesuatu di dalam tubuh Kessy semakin bergejolak.
Dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Alberto dan menatap matanya dengan tatapan menginginkannya. Kemudian dia mendekatkan bibirnya pada telinga Alberto dan berbisik di telinganya,
"Ke apartemen saja. Aku ingin tidur."
Dengan segera Alberto membopong Kessy keluar dari club malam tersebut. Dia mencari mobil milik Kessy dan mengambil kunci dari tas keponakan istrinya itu.
Di dalam mobil tersebut, Alberto merasakan apa yang dirasakan oleh Kessy. Dia merasa tidak nyaman dalam tubuhnya dan ingin melepaskan hasrat yang dirasakannya saat ini.
Dengan segera dia melajukan mobil tersebut menuju apartemen miliknya. Dia tidak membawa Kessy ke apartemennya karena apartemen milik Kessy terlalu jauh, sehingga Alberto lebih memilih untuk membawa Kessy masuk ke dalam apartemennya.
Dengan bersusah payah Alberto berhasil membopong tubuh Kessy menuju apartemen miliknya yang terletak di lantai empat.
Tubuh Kessy diletakkan di atas sofa dengan posisi terlentang. Tubuh Kessy yang dibalut dengan kain tipis dan sangat ketat itu membuat Alberto merasakan sesuatu yang semakin bergejolak dalam tubuhnya. Dia menatap Kessy dengan tatapan yang menginginkannya diiringi dengan nafasnya yang memburu.
Alberto menyeka keringat yang ada di pelipis dan lehernya. Kemudian dia melepas dasinya ke sembarang arah seraya berkata,
"Kenapa tubuhku jadi merasa seperti ini?"
Kessy bergerak melepas bagian tali dress nya seraya berkata dengan suara manjanya,
__ADS_1
"Panas…."