
Pria dengan wajah yang sedang bersedih itu berjalan menghampiri Laura yang masih berada di tempat tidur pasien.
"Laura…."
"Sayang…."
Suara pria tersebut bergetar memperlihatkan kesedihannya.
Laura diam, tidak bergeming. Dia hanya menatap pria yang masih berstatuskan suaminya itu dengan tatapan tidak suka, sama seperti kemarin.
"Mas, aku ingin bicara," ucap Laura mengawali pembicaraannya.
Arsenio merasa sedikit lega karena Laura sudah mau berbicara padanya. Akan tetapi, dia merasakan ada yang aneh dari tatapan istrinya. Dan dia juga merasakan aura tidak menyenangkan saat ini.
Arsenio berdiri di dekat tempat tidur pasien yang masih ada Laura di sana. Dia pun bertanya,
"Ada apa Laura? Apa ada yang sakit?"
"Ceraikan aku Mas," sahut Laura tanpa melihat ke arah Arsenio.
"A-apa? Kamu… kamu bercanda kan?" tanya Arsenio pada Laura seolah tidak yakin dengan pendengarannya.
Laura menghela nafasnya mendengar ucapan suaminya yang mengharuskannya untuk mengulangi perkataannya.
"Aku sudah capek Mas. Aku sudah lelah berjuang sendiri selama ini untuk rumah tangga kita. Sekarang… ceraikan aku. Aku ingin lepas dari semua siksaan ini," ujar Laura dengan suara yang bergetar dan sedikit tercekat menahan tangisnya.
Seketika dunia Arsenio terasa hancur. Baru saja dia kehilangan anak yang belum sempat diketahui kehadirannya. Setelah itu dia kehilangan ibunya. Dan kini dia harus kehilangan istri tercintanya hanya karena kesalahannya sendiri.
"Maksud kamu apa?" tanya Arsenio dengan suaranya yang melemah dan sedikit bergetar.
"Lepaskan aku Mas. Aku… aku sudah tidak tahan lagi. Ceraikan aku dan hiduplah berbahagia dengan wanita pilihan kamu itu," jawab Laura dengan diiringi deraian air matanya.
__ADS_1
Mendengar perkataan istrinya dan tangisannya yang menyayat hati itu, Arsenio segera meraih tangan istrinya dan berlutut di hadapannya seraya berkata,
"Tidak Sayang, aku tidak mau melepaskan mu. Aku tidak mau menceraikan mu. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku ingin selalu hidup bersamamu. Tolong jangan katakan itu. Kita benahi lagi dari awal dan hidup bahagia bersama dengan anak kita."
Laura menghempaskan tangan suaminya. Dia menggelengkan kepalanya disertai dengan isakan tangisnya yang lagi-lagi terdengar menyayat hati.
"Tidak. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Selama ini aku yang selalu berjuang sendirian untuk rumah tangga kita. Dan apa yang aku dapatkan? Aku sangat lelah. Aku sakit hati dengan semua yang kamu lakukan. Selama ini hatiku tersiksa menahan semuanya. Ingin rasanya aku berlari dari kenyataan. Tapi apa? Aku malah kembali dihadapkan dengan kenyataan baru yang membuatku lebih tersiksa lagi. Jadi… jadi aku mohon lepaskan aku…," ucap Lauran dengan suara yang bergetar dan sedikit tercekat diiringi dengan deraian air matanya.
Arsenio tidak mau mengalah. Dia masih berusaha untuk mendapatkan pengampunan istrinya. Dia kembali meraih tangan istrinya seraya berkata,
"Sayang… Tolong jangan begini. Ibuku baru saja meninggal. Aku terlambat membayar semua administrasi dan biaya operasinya sehingga ibu tidak bisa dioperasi."
Seketika Laura terkejut dan menatap iba pada suaminya. Dia bisa merasakan kepedihan itu. Kepedihan karena rasa bersalah sebagai seorang anak yang tidak bisa menolong ibunya.
"Aku merasakan apa yang kamu rasakan waktu itu. Maafkan aku yang tidak bisa berbakti pada ibumu. Kini aku serasa menerima karma yang sama pada saat kehilangan ibuku. Semua yang kamu rasakan ketika kehilangan ibumu, saat ini aku juga merasakannya. Maafkan aku… Maafkan aku Sayang… aku janji akan memperbaiki semua kesalahanku," ujar Arsenio yang berjuang agar mendapatkan pengampunan dari istrinya.
Laura kembali menarik tangan suaminya dan berkata,
"Maaf, aku tidak bisa Mas. Keputusanku sudah bulat. Dan aku sudah memutuskan untuk menggugat cerai kamu jika kamu tidak mau menceraikan aku."
"Tidak… Jangan… Aku tetap akan mempertahankan kamu sebagai istriku. Aku tidak mau kehilanganmu. Mengertilah…."
"Apa yang harus aku mengerti Mas? Kamu egois! Kamu menyuruhku untuk tetap bersabar dan bertahan agar aku semakin tersiksa dan menderita? Asal tahu saja Mas. Tabungan yang kita kumpulkan selama ini untuk anak kita kelak, kini sudah terpakai. Ternyata tabungan itu benar-benar untuk anak kita. Aku gunakan tabungan itu untuk biaya keguguran anak kita," sahut Laura dengan deraian air matanya mengingat tentang anaknya yang telah tiada tanpa diketahui kehadirannya selama ini dalam kandungannya.
Arsenio terkesiap mendengar perkataan istrinya. Dia tidak pernah mengira jika uang tabungan tersebut benar-benar berguna untuk anaknya. Sayangnya untuk biaya kematian anak mereka, bukan untuk biaya tumbuh kembang atau pun biaya pendidikan seperti rencana awal mereka.
Laura mengusap kasar air mata di pipinya yang dengan lancangnya keluar membasahi pipinya. Air mata kurang ajar itu membuatnya terlihat lemah di hadapan suaminya dan dia tidak suka itu.
Badan Arsenio semakin lemah. Dia hanya bisa berlutut dan tidak mempunyai tenaga untuk bangkit kembali. Dunianya benar-benar hancur seketika. Semua yang dilakukannya selama ini seolah musnah tak tersisa untuknya.
Ryan hanya bisa menatap kehancuran seorang Arsenio di dalam ruangan tersebut. Arsenio yang tadinya sangat percaya diri, kini merasa sangat kecil dan tidak berwujud di hadapan Ryan.
__ADS_1
Seorang Ryan yang sangat berwibawa sangat enggan mencampuri urusan orang lain. Apa lagi urusan rumah tangga orang lain. Sayangnya saat ini dia tidak sengaja sudah masuk ke dalam urusan rumah tangga orang lain, sehingga dia tidak bisa lagi menghindarinya.
"Sayang… Laura… Aku mohon maafkan aku… Aku sangat menyesal. Aku mohon jangan tinggalkan aku…," pinta Arsenio dengan penuh penyesalan, bahkan air matanya menetes saat ini di hadapan wanita yang menggugat cerai dirinya.
Laura menahan sekuat tenaganya agar air matanya tidak menetes kembali di pipinya. Sebenarnya dia tidak tega melihat pria yang sudah hampir enam tahun menjadi suaminya itu mengeluarkan air mata di hadapannya.
Bahkan dia tidak tega melihat pria yang selama ini menemani hidupnya itu terlihat lemah tidak berdaya di hadapannya. Dia ingin menolongnya dan memeluknya untuk memberikan kekuatan.
Namun, semua itu tidak bisa terjadi. Semua telah berubah. Laura sudah mengubur dalam-dalam rasa cintanya itu. Dia sudah merelakan perasaan cintanya dan kehidupannya selama hampir enam tahun itu. Kini dia ingin menikmati hidupnya dengan merasakan kebahagiaan yang selama ini tidak dirasakannya bersama suaminya.
"Maaf Mas, keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa lagi melakukannya," ucap Laura dengan suara yang bergetar.
Hati Arsenio merasa sangat sakit sekali mendengar penolakan dari istrinya. Dia mencengkeram baju yang melapisi dadanya untuk menahan rasa sakit yang dirasakannya.
Tok… Tok… Tok…
Tiba-tiba pintu kamar inap Laura diketuk oleh seseorang dari luar.
Ryan berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu kamar tersebut.
Tampak seorang pria berpakaian rapi dengan setelan jas warna senada masuk ke dalam ruangan tersebut. Pria tersebut menganggukkan kepalanya pada Ryan untuk menghormatinya sebelum dia masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Selamat sore Bu Laura. Ini saya bawakan surat pengajuan gugatan cerai yang Ibu inginkan," ucap pria tersebut yang ternyata seorang pengacara dari Ryan untuk membantu persoalan Laura.
Sontak saja Arsenio berdiri dan menatap pengacara tersebut serta Laura secara bergantian dengan tatapan tidak percaya.
"A-apa? Surat gugatan cerai? Laura kamu… kamu benar-benar…," Arsenio tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Matanya menatap berkas-berkas yang ada di tangan pengacara tersebut. Kemudian dia beralih menatap Ryan yang berdiri tidak jauh dari mereka. Setelah itu dia menatap Laura yang masih duduk di tempat tidurnya.
Kini tatapan mata Arsenio berubah menjadi kesal dan penuh amarah. Dia meninggalkan ruangan tersebut tanpa mengatakan apa pun pada Laura.
__ADS_1
Hatinya sakit melihat Laura bersama dengan Ryan meminta bantuan pengacara untuk perceraian mereka.
"Sialan! Apa ini karena bos sialannya itu?"