System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 60 : Proses kerja sama


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari Arsenio tentang apa yang mereka tawarkan dalam kerja sama ini membuat Ryan terdiam. Dia tersenyum tipis dan menatap Arsenio ketika memikirkannya.


"Bagaimana Pak, apa anda tertarik dengan penawaran dari kami?" tanya Arsenio dengan harap-harap cemas pada Ryan.


Ryan menoleh ke samping, di mana Laura duduk di sebelahnya. Dia tersenyum padanya dan berkata,


"Bagaimana Laura? Apa kamu menyukainya?"


Sontak saja Laura terbelalak. Dia terkejut mendengar pertanyaan yang diberikan Ryan padanya. 


Bukan hanya Laura saja yang terkejut mendengarnya. Bahkan Arsenio merasa jika Ryan sedang mengejeknya dengan memanas-manasinya.


Sedangkan Kessy, dia memperhatikan antara Ryan dan Laura. Menurutnya hubungan antara mereka bukan hanya hubungan pekerjaan semata.


"Sa-saya Pak?" tanya Laura dengan ragu.


Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Apa kamu menyukainya? Jika kamu menyukainya, aku pun menyetujuinya. Tapi jika kamu kurang suka, sebaiknya kita cari yang lainnya."


Seketika Laura menganggukkan kepalanya dan berkata,


"Saya suka Pak. Saya menyukainya."


Ryan yang masih menatap Laura itu tersenyum melihat ekspresinya saat ini. Dia melihat ada rasa bersalah dalam mata Laura. Dan Ryan tahu itu.


Pandangan mata Ryan beralih pada Arsenio yang tersenyum bahagia saat ini melihat Laura menyetujui kerja sama tersebut. Dia tersenyum tipis seraya berkata,


"Baiklah Pak Arsenio. Karena Laura menyukainya, maka tidak ada alasan bagi saya untuk tidak menyetujuinya. Bahkan Laura yang memilih perusahaan ini dan anda untuk bekerja sama dengan kami. Saya hanya bisa menurutinya saja."


Laura menoleh pada Ryan dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Pak, tapi bukannya tadi Bapak meminta saya untuk memilih?" tanya Laura yang terlihat tidak mengerti dengan perkataan bosnya itu.


Ryan tersenyum dan menatap Laura dengan penuh arti. Dia pun berkata,


"Karena saya sangat menghargai kerjamu."


Laura tidak bisa berkata-kata. Dia merasa terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Ryan. Dia merasa sangat dihargai oleh bosnya itu.


Arsenio menatap tidak suka pada Ryan yang bersikap seperti itu pada Laura. Dia cemburu padanya. Rasa cemburu, kesal dan marah itu kini merajai hatinya. 


Dadanya bergemuruh melihat tatapan mata Ryan pada Laura yang seolah sangat memujanya.

__ADS_1


Tangan Arsenio mengepal untuk menahan emosinya. Kessy tersenyum melihat pemandangan cinta segitiga yang ada di hadapannya. Dalam hatinya berkata,


Pintar sekali kamu Laura bisa menaklukan orang yang berlevel tinggi seperti dia. Tapi aku berterima kasih padamu karena kamu sangat membantuku. Aku tidak harus capek-capek menyuguhkan tubuhku padanya untuk kerja sama ini.


Kessy menoleh ke arah sampingnya di mana Arsenio sedang duduk dan menahan amarahnya melihat istrinya bertatap mata dengan bosnya.


Tangan Kessy memegang tangan Arsenio yang terkepal itu. Dia mencoba menenangkannya dengan caranya sendiri.


Arsenio melihat tangan Kessy yang sedang memegang tangannya. Kemudian dia melihat ke arah Kessy yang sedang tersenyum padanya.


Ryan menoleh ke arah Arsenio yang ada di hadapannya dan berkata,


"Baiklah Pak. Kita sepakati kerja sama ini."


Laura pun melihat ke arah suaminya. Dia menatap marah pada suaminya yang sedang bertatapan dengan Kessy yang memegang tangannya dan tersenyum padanya.


Ryan pun melihatnya. Dia tersenyum tipis melihat apa yang tersuguh di hadapannya.


Sontak saja Arsenio menoleh ke arah Ryan setelah mendengar suaranya yang sedang memanggilnya.


Segera dihempaskannya tangan Kessy ketika dia melihat istrinya menatapnya seolah sedang marah padanya. Dia sangat berterima kasih pada istrinya itu karena bisa berhasil meyakinkan Ryan untuk bekerja sama dengannya. Dan dia tidak mau istrinya salah paham dan marah padanya sehingga membatalkan kerja sama tersebut.


Nasibku ada di tangan Laura. Aku tidak boleh membuatnya marah padaku, Arsenio berkata dalam hatinya.


"Siapkan berkas-berkasnya dan temui kami di kantor untuk penandatanganannya," tutur Ryan dengan tegas dan menyandarkan punggungnya pada kursi.


Bibir Arsenio melengkung ke atas. Matanya pun berbinar seolah dia sedang mendapatkan lotre saat ini.


"Baik Pak, akan saya persiapkan semuanya dan secepatnya akan saya temui Bapak di kantor," ujar Arsenio dengan sangat antusias.


Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,


"Akan saya tunggu kedatangan anda. Sekarang kalian boleh pergi. Maaf saya dan Laura tidak bisa mengantar kalian berdua keluar. Kami masih ada urusan di sini."


Arsenio terkejut mendengar ucapan Ryan yang seolah sedang mengusirnya. Dia memandang istrinya yang juga terlihat terkejut mendengarnya. 


Begitu pula dengan Kessy. Dia menyeringai mendengar perkataan Ryan. Kemudian dia beralih memandang Laura dengan senyuman meremehkannya.


Kessy berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Ryan seraya tersenyum serta berkata,


"Kami pergi dulu Pak. Saya harap hari anda akan menyenangkan."


Ryan pun berdiri. Dia menerima uluran tangan Kessy seraya berkata,

__ADS_1


"Terima kasih. Saya harap hari kalian berdua juga sangat berkesan."


Kessy tersenyum manis mendengar ucapan Ryan. Dalam benaknya Ryan memang seperti yang dipikirkannya. 


Dengan berat hati Arsenio pun berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Ryan.


"Terima kasih telah percaya pada kami Pak. Secepatnya saya akan menemui anda," ucap Arsenio ketika berjabat tangan dengan Ryan.


Ryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya ketika berjabat tangan dengan Arsenio. Kemudian dia berkata,


"Saya akan menantikan pekerjaan anda yang terbaik itu Pak."


Arsenio menoleh ke arah istrinya yang masih duduk di tempatnya. Ryan mengerti arti tatapan Arsenio pada Laura. Dia pun berkata,


"Laura, sebentar lagi makanan kita akan datang. Setelah itu kita akan meneruskan apa yang akan kita lakukan tadi."


Lagi-lagi perkataan Ryan itu membuat Arsenio dan Kessy berpikiran buruk tentang mereka berdua. Mereka berpikiran jika Laura dan Ryan akan melakukan sesuatu seperti layaknya pasangan ketika berada di dalam kamar hotel.


Sedangkan Laura, dia hanya menatap bingung pada bosnya itu. Dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Ryan padanya.


Meneruskan? Apa yang akan kita lakukan tadi? Memangnya apa yang akan kita lakukan tadi? Lalu apa yang harus diteruskan? Laura bertanya-tanya dalam hatinya.


Kessy menarik tangan Arsenio untuk keluar dari tempat itu. Dengan berat hati Arsenio pun meninggalkan ruangan tersebut meskipun hatinya tidak ingin meninggalkan istrinya berada di dalam kamar hotel bersama dengan laki-laki lain. 


Ketika Arsenio dan Kessy keluar dari kamar tersebut, pas sekali mereka berpapasan dengan waiter yang masuk ke dalam kamar tersebut dengan membawa troli makanan yang tentunya sangat menggiurkan dan membuat perut menjadi lapar.


Mereka berdua menatap waiter dan makanan yang ada di troli makanan itu hingga masuk ke dalam kamar tersebut.


"Istrimu sangat pintar merayu bosnya. Dia mendapatkan kemewahan bersama dengan bosnya," ucap Kessy sambil terkekeh memanas-manasi Arsenio.


Arsenio menatap tajam pada Kessy dan berjalan meninggalkannya. Kessy berjalan cepat berusaha mengejar Arsenio yang berjalan sangat cepat meninggalkannya.


"Kamu pikir mereka akan melakukan apa di dalam kamar hotel itu? Pasti mereka akan–"


"Cukup Kessy! Jangan berpikiran buruk padanya!" sahut Arsenio dengan tegas dan menatap Kessy dengan tatapan bengisnya.


Kessy berdiri di hadapan Arsenio dan memegang kedua tangannya untuk menghentikan langkahnya.


"Semua orang akan berpikiran sama denganku. Aku yakin kamu juga berpikiran sama denganku. Jadi… jangan sungkan menghubungi ku jika butuh teman untuk berkeluh kesah dan menghiburmu," ucap Kessy sambil mengedipkan sebelah matanya.


Arsenio menoleh ke arah kamar tadi seraya berkata dalam hatinya,


Apa benar kamu melakukan itu Laura?

__ADS_1


__ADS_2