
Pagi pun menyapa. Laura terlalu nyenyak tidur hingga tidak menyadari jika suaminya tidur di belakangnya.
Laura segera beranjak turun dari tempat tidurnya tanpa membangunkan suaminya terlebih dahulu. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk segera bersiap-siap berangkat bekerja.
Keluar dari kamar mandi, dia memandang suaminya yang masih saja tidur dengan nyenyaknya. Dia menghela nafasnya merasakan kelelahan yang luar biasa pada dirinya. Entah mengapa dia merasa mudah lelah dan merasa tidak enak badan mulai beberapa hari yang lalu.
Namun, dia hanya bisa menahannya. Dia tidak bisa berleha-leha dengan keadaannya saat ini. Hutang-hutang ibunya dan suaminya selalu membuatnya tertekan, sehingga dia harus bersemangat untuk bekerja.
"Mas… Mas bangun. Sudah siang. Aku berangkat kerja dulu," ucap Laura sambil menggoyang-goyangkan badan suaminya.
"Mmm… jam berapa?" tanya Arsenio dengan suara yang terdengar serak setelah bangun tidur.
Laura berjalan meninggalkan suaminya yang masih duduk sambil menguap dan mengusap-usap matanya. Dia mengambil tasnya dan berkata,
"Aku berangkat dulu. Mandilah dan akan aku siapkan sarapannya."
Dengan segera Arsenio beranjak turun dari tempat tidurnya seraya berkata,
"Tunggu aku. Kita sarapan bersama. Aku akan mandi dengan cepat."
"Tidak bisa Mas. Aku akan terlambat nanti. Aku akan berangkat sekarang," sahut Laura sambil terburu-buru berjalan keluar dari kamarnya.
Dengan gerakan cepatnya Laura menyiapkan sarapan suaminya. Dia hanya membuat roti selai coklat kacang untuk suaminya. Dan membawa untuk dirinya sendiri sebagai bekal dimakan di kantornya.
Arsenio terburu-buru mandi, berharap agar bisa sarapan bersama dengan istrinya. Dia mempercepat semua gerakannya. Bahkan hanya dalam hitungan menit saja dia bisa menyelesaikan seluruh kegiatan paginya.
Sayangnya semua hanya sia-sia. Laura sudah berangkat bekerja. Dia hanya meninggalkan beberapa lembar roti yang sudah diolesi selai olehnya.
"Sayang… Sayang aku sudah siap. Ayo kita makan," seru Arsenio yang berjalan keluar dari kamarnya.
Dia menatap seisi ruangan yang tidak ada tanda-tanda kehadiran istrinya. Kemudian pandangan matanya tertuju pada piring yang berisi roti buatan Laura.
Dia menghela nafasnya yang terasa berat menyesakkan dadanya. Kini dia bisa merasakan rasa sakit hati yang dirasakan oleh istrinya.
Duduklah dia di kursi yang biasanya ditempatinya. Tepatnya di depan piring tersebut. Dia menatap nanar roti-roti itu seolah tidak tega untuk memakannya.
"Rasanya aneh. Tidak seenak biasanya. Apa karena aku makan sendirian ya?" ucap Arsenio sambil menghela nafasnya.
Diletakkannya roti yang hanya dimakannya separuh itu. Bahkan tidak ada kopi atau pun teh hangat yang disiapkan oleh istrinya.
Dia kembali menghela nafasnya, meratapi kehidupan yang baru-baru ini dijalaninya. Beranjaklah dia dari kursi tersebut dan berjalan menuju lemari es.
__ADS_1
Diambilnya susu UHT yang ada di dalam lemari es itu. Dia menoleh kembali ke arah roti miliknya yang masih tersisa di atas piringnya. Kemudian dia beralih menatap susu UHT kemasan tetra pack yang ada di tangannya.
Dia pun menghela nafasnya kembali. Helaan nafasnya itu mengisyaratkan kekecewaan dirinya saat ini.
"Harusnya aku meminum kopi pagi-pagi begini. Kenapa sekarang jadi minum Susu UHT dingin? Sejak kapan semuanya berubah? Bahkan istriku selalu meninggalkanku untuk pergi terlebih dahulu," gerutu Arsenio sambil menuang susu di gelasnya.
Setelah meminum habis susu UHT dalam gelasnya, Arsenio meletakkan gelas tersebut di atas meja makan di samping piringnya. Karena rasa kesalnya itu, dia tidak membereskan bekas makanannya. Gelas dan piring yang masih tersisa rotinya itu dibiarkan begitu saja di atas meja makan.
Ditutupnya pintu rumahnya itu dengan sangat keras. Seolah dia sedang melampiaskan kekesalannya pada pintu tersebut.
"Ah aku lupa. Pintunya belum dikunci. Aku harus mengunci pintunya terlebih dahulu. Bisa gawat jika ada orang yang masuk. Lebih gawat lagi jika Laura pulang terlebih dahulu. Bisa kena omelannya aku," ucap Arsenio yang sudah berada di dekat mobilnya, kini dia berjalan kembali ke arah pintu rumahnya untuk mengunci pintu tersebut.
Setelah memastikan pintu rumahnya sudah terkunci, Arsenio bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut menuju kantornya.
Sepi. Hanya beberapa hari saja Laura sibuk dengan pekerjaannya, dia merasakan kesepian yang mendalam. Tanpa disadarinya, dia telah merasakan apa yang dirasakan oleh Laura sejak dulu, sejak dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga melupakan istrinya yang selalu menunggunya untuk hanya sekedar makan malam bersama.
Hanya di malam hari lah mereka bisa bertemu dan merasakan momen kebersamaan mereka. Hanya saja, sering dilewatkan oleh Arsenio dengan banyak alasan yang menuntut Laura agar bisa memakluminya.
Kini seolah berbalas sudah. Arsenio telah merasakannya. Sayangnya dia mempunyai rasa curiga pada istrinya. Berbeda dengan Laura yang sama sekali tidak mencurigai suaminya sebelum dia bertemu dengan Rena dan Kessy.
Tiba di kantornya, Arsenio segera melacak keberadaan istrinya. Dia bernafas lega karena mendapatkan istrinya berada di kantornya.
Namun, beberapa saat kemudian, dering ponselnya menggangu konsentrasinya dalam bekerja.
"Halo, Selamat–"
Pak Arsenio, datanglah ke ruangan saya sekarang, terdengar suara tegas Alberto dari telepon yang memerintahkan Arsenio.
Setelah mengatakan hal itu, Alberto segera menyudahi panggilan telepon tersebut.
Arsenio menatap heran pada layar teleponnya. Dahinya mengkerut, merasa aneh dengan perintah dari atasannya itu.
"Ada apa ini? Kenapa aku merasa ada yang aneh?" ucap Arsenio dengan tatapannya yang masih tertuju pada layar ponselnya.
Dia segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan Alberto. Di depan ruangan Alberto, Arsenio merasa gugup. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Hal itu dilakukannya berkali-kali hingga rasa gugup itu sedikit menghilang.
Tok… tok… tok…
Dengan sedikit ragu tangan Arsenio mengetuk pintu tersebut.
"Masuk!" seru Alberto yang berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Arsenio segera membuka pintu tersebut dan memasang senyumnya ketika masuk ke dalam ruangan tersebut.
Alberto yang sedang duduk di kursi kebesarannya menyambut kedatangan Arsenio dengan senyumnya. Dia pun mempersilahkan Arsenio duduk di hadapannya.
"Silahkan duduk Pak," ucap Alberto sambil tersenyum dan menunjuk kursi yang ada di depannya.
Arsenio pun duduk di kursi tersebut. Dia sedikit merasa aneh dengan senyuman yang diberikan Alberto padanya.
"Maaf Pak, ada apa Bapak menyuruh saya datang kemari?" tanya Arsenio dengan ragu-ragu.
Alberto masih saja menyuguhkan senyumnya pada Arsenio. Kemudian dia memajukan sedikit badannya dan menopang dagunya dengan kedua tangan yang disatukan dan berkata,
"Bagaimana perkembangan usaha anda untuk mendekati CEO dari perusahaan RAZ agar bisa bekerja sama dengan kita?"
Seketika wajah Arsenio memucat. Dalam hatinya berkata,
Pantas saja hatiku merasa tidak enak, ternyata Pak Alberto menanyakan tentang kerja sama ini.
"Maaf Pak, saya masih berusaha mendekatinya. Beri saya waktu yang lebih banyak lagi Pak," ucap Arsenio dengan tatapan yang sangat meyakinkan pada Alberto.
Alberto melihat kesungguhan dari wajah Arsenio. Setelah itu dia tersenyum dan berkata,
"Tapi sayangnya kita tidak punya banyak waktu Pak."
Raut wajah Arsenio berubah menjadi sendu. Tanpa berpikir panjang dia berkata,
"Bapak tenang saja, saya akan usahakan secepatnya Pak. Bapak percayakan saja pada saya."
Alberto tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Arsenio. Dia merasa tindakannya sangat tepat untuk memilih Arsenio dan menekannya.
"Baiklah. Akan saya tunggu kabar baiknya. Tapi ingat… saya tidak bisa menunggu lama," ujar Alberto sambil tersenyum seolah meremehkannya.
Keluar dari ruangan Alberto, Arsenio segera mengambil ponselnya dan mencari kontak nama seseorang.
Dia menatap layar ponselnya ketika melihat nama istrinya terlihat di sana seraya berkata,
"Aku mohon, bantu aku."
Jari tangannya menekan tanda telepon untuk menghubungi istrinya. Hanya beberapa kali berdering saja telepon tersebut diangkatnya.
"Sayang, bagaimana tentang kerja sama itu? Apa sudah ada titik terang?"
__ADS_1