
Tanpa sepengetahuan Devan dan Kessy, Arsenio mengikuti mereka hingga masuk ke dalam kamar hotel.
Arsenio menyeringai dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kessy yang tidak berubah. Dia masih saja suka tidur dengan berganti-ganti pria.
"Untung saja aku tidak menikah denganmu. Jika sampai aku menikah denganmu, aku tidak akan tau siapa ayah dari anak yang kamu kandung nantinya," ucap lirih Arsenio disertai seringaiannya.
Akhirnya Arsenio kembali ke kantornya tanpa memberikan berkas yang dibawanya pada Devan. Dia tidak mau mengganggu urusan orang lain, terlebih urusan Kessy. Dia takut jika Kessy akan menganggapnya masih peduli padanya.
Arsenio melempar berkas-berkas yang dibawanya di atas meja kerjanya. Dasinya dikendorkan dan dia membuka kancing kerahnya agar tidak merasa terlalu sesak.
Entah mengapa dia tidak terlalu nyaman saat ini. Seperti ada perasaan was-was dan rasa sesak dalam dadanya.
Digulungnya kemeja bagian tangannya hingga ke lengan. Dia duduk di kursi kerjanya dan berniat untuk mengerjakan pekerjaannya agar cepat selesai dan bisa cepat pulang ke rumah untuk melakukan rencananya.
Namun, tiba-tiba bayangan Laura keluar dari lift hotel bersama dengan Ryan kembali hadir. Bahkan bayangan Kessy dan Devan yang sedang masuk dan keluar dari dalam lift hotel pun menyertainya.
Arsenio menghentikan pekerjaannya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya itu seolah ingin mengenyahkan bayangan-bayangan tersebut.
"Apa Laura dan Ryan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Kessy dan Devan?" ucap Arsenio yang masih saja terbayang akan istrinya bersama dengan bosnya.
Arsenio menghela nafasnya. Dia tidak bisa konsentrasi dan fokus pada pekerjaannya. Apa yang dikerjakannya hanya menyita waktunya saja dan tidak mendapatkan hasil sama sekali.
Dilemparkannya bolpoin yang ada di tangannya ke atas meja kerjanya. Dan ditutupnya dengan kasar map yang ada di hadapannya.
Dia sibuk dengan pemikirannya. Pemikiran tentang istrinya dan hutang-hutangnya.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini? Kenapa tidak bisa hidup tenang seperti waktu itu?" Arsenio bermonolog sambil menjambak rambutnya dengan frustasi.
Seketika dia berdiri dari duduknya seraya berkata,
"Tidak bisa. Aku tidak bisa hanya duduk di sini saja tanpa melakukan sesuatu. Aku harus melihatnya agar bisa meneruskan pekerjaanku setelah memastikannya."
Keluarlah Arsenio dari ruangannya. Dengan rasa penasarannya itu dia segera mengendarai mobilnya menuju kantor istrinya.
Kini dia berada di depan gedung yang sangat megah dan menjulang tinggi dengan logo RAZ yang bisa terbaca dengan jelas dari arah mana saja.
Diambilnya ponsel dari saku celananya. Dengan lincahnya jari tangannya itu mencari nomor kontak istrinya.
__ADS_1
"Halo, Sayang, aku ada di depan kantormu. Temui aku sebentar," ucap Arsenio pada Laura yang sedang berbicara dengannya melalui telepon.
Tanpa berkata-kata, Laura segera mengakhiri panggilan telepon tersebut dan beranjak dari duduknya. Dia berjalan menghampiri Ryan dan menatap sungkan padanya.
"Maaf Pak, saya ijin keluar sebentar. Ada suami saya di depan kantor ingin berbicara dengan saya sekarang," ucap Laura dengan ragu-ragu.
Ryan mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang dikerjakannya. Dia menatap Laura seraya berkata,
"Silahkan. Tapi jangan lama-lama karena saya tidak ingin urusan pribadimu mempengaruhi pekerjaanmu."
Perkataan Ryan itu membuat Laura merasa sungkan padanya. Dalam hati dia berkata,
Diijinkan sih, tapi… kata-katanya itu loh, seperti gak ikhlas aja mengijinkannya.
Langkah Laura terburu-buru menuju depan kantornya. Dia berwajah kesal ketika melihat mobil suaminya sedang terparkir tidak jauh dari depan kantornya.
Laura segera masuk ke dalam mobil suaminya dan duduk di kursi samping kemudi.
"Ada apa? Kenapa datang di jam sibuk seperti ini?" tanya Laura dengan ekspresi kesalnya
"Tadi aku ada urusan di dekat sini. Jadi sekalian saja aku mampir untuk menemuimu. Aku sangat rindu padamu Sayang," ucap Arsenio sambil menatap istrinya dengan tatapan penuh kerinduan.
"Aku sibuk Mas. Lagi pula kita setiap hari bertemu di rumah. Aku kembali ke dalam sekarang. Tidak enak dengan Pak Ryan jika meninggalkan ruangan terlalu lama," ujar Laura seraya bergerak untuk membuka pintu mobilnya.
"Tidak enak? Kenapa? Apa dia mengawasi mu?" tanya Arsenio yang merasa heran dengan perkataan istrinya.
Laura mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Dia menghadap ke arah suaminya dan berkata,
"Karena aku satu ruangan dengannya."
Kemudian dia kembali membuka pintu mobilnya. Akan tetapi gerakannya itu kembali dihentikan oleh suaminya.
"Kenapa bisa satu ruangan dengannya? Harusnya kamu punya ruangan sendiri dan tidak satu ruangan dengan bosmu," sahut Arsenio seolah keberatan dengan ruangan kerja istrinya.
Laura menghela nafasnya mendengar pertanyaan yang diajukan suaminya padanya. Dia menyeringai dan berkata,
"Karena aku asisten pribadinya. Jadi wajar saja tempat kerjaku ada di dalam ruangannya, karena yang mengurusi semua kebutuhannya adalah aku."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Laura segera keluar dari mobil tersebut dan dengan tergesa-gesa kembali masuk ke dalam ruangan Ryan. Dia tidak mau mendapatkan sindiran atau peringatan dari bosnya itu.
Dia sangat membutuhkan pekerjaan tersebut untuk melunasi hutang-hutang ibunya dan juga hutang-hutang suaminya. Terlebih lagi dia harus menyelesaikan misinya untuk membantu suaminya agar bisa bekerja sama dengan perusahaan RAZ, tempatnya bekerja saat ini.
Kali ini Laura tidak peduli dengan kecurigaan suaminya pada hubungannya dengan Ryan. Dia lebih mementingkan pekerjaannya dan misinya. Dia sudah lelah dengan sakit hatinya yang disebabkan oleh Kessy akhir-akhir ini.
Dengan sangat hati-hati sekali Laura masuk ke dalam ruangan kerja Ryan yang juga merupakan ruangan kerjanya. Dia tidak mau mengganggu konsentrasi Ryan ketika sedang bekerja.
Sayangnya gerakan Laura itu menarik perhatian Ryan. Dia melirik Laura yang berjalan dengan mengendap-endap menuju meja kerjanya. Dan dia menahan senyumnya melihat tingkah Laura yang sangat lucu menurutnya. Dalam hatinya berkata,
Kenapa dia sampai mengendap-endap seperti itu? Apa dia takut padaku?
Laura kembali duduk di kursinya tanpa mengatakan apa pun pada Ryan yang berpura-pura tetap fokus pada pekerjaannya dan tidak melihat keberadaan Laura di dalam ruangan tersebut.
Ryan melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia menutup map yang ada di depannya seraya berkata,
"Sudah jam makan siang. Sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu.
Laura menoleh ke arah Ryan. Terlihat sekali dia sedang terkejut saat ini.
"Maaf Pak, saya lupa tidak menanyakan makan siang yang Bapak inginkan. Dan maaf, saya belum menyiapkannya," ucap Laura dengan ekspresi takutnya.
Arsenio tersenyum tipis melihat ketakutan di mata Laura. Kemudian dia beranjak dari duduknya seraya berkata,
"Kita makan siang di luar sekarang."
Dengan cepatnya Laura beranjak dari duduknya dan menyambar tasnya untuk segera mengikuti Ryan yang sudah berjalan menuju pintu ruangannya.
Di tempat lain, tepatnya di dalam mobilnya, Arsenio bertambah frustasi mengetahui tentang pekerjaan istrinya.
"Kenapa dia harus satu ruangan dengannya? Kenapa dia menjadi asisten pribadi yang mengurusi semua kebutuhannya? Lalu, apa itu ada hubungannya dengan di hotel waktu itu?"
Namun, tatapan matanya kini tertuju pada pintu gedung tersebut. Tampak Laura dan Ryan yang sedang berjalan bersama keluar dari kantor tersebut.
Hatinya sangat bergemuruh tatkala melihat istrinya masuk ke dalam mobil mewah milik Ryan dan duduk di belakang bersamanya.
"Mau ke mana mereka?" ucap Arsenio sambil menatap lekat ke arah mereka seolah tidak mau kehilangan momen apa pun.
__ADS_1