
Dahi Asenio mengernyit ketika mendengar penuturan dari Kessy. Masih dalam posisi Kessy berada di pangkuannya, Arsenio pun bertanya,
"Apa maksudmu?"
Kessy menempelkan dahinya pada dahi Arsenio dan berkata,
"Aku tau kamu sangat membutuhkan uang. Aku hanya ingin membantumu Sayang. Aku tidak meminta bayaran padamu. Aku hanya ingin kamu menemaniku minum malam ini. Bagaimana?"
Arsenio diam. Dia memikirkan tentang hutang-hutangnya, biaya rumah sakit ibunya dan tentunya memikirkan istrinya yang semakin dekat dengan bosnya.
Sepertinya hanya dengan ini saja aku bisa memperoleh uang dengan cepat. Lagi pula Laura bersenang-senang di luar. Kenapa aku tidak? Aku juga bisa mencari kesenangan sendiri di luar, Arsenio berkata dalam hatinya.
Arsenio melepaskan dahinya dari dahi Kessy. Dia menatap intens manik mata Kessy seraya berkata,
"Apa hanya menemanimu minum saja?"
Kessy tersenyum. Dia merasa Arsenio sudah masuk dalam umpannya. Dilingkarkannya kedua tangannya itu pada leher Arsenio dan tersenyum manja padanya.
"Tentu saja Sayang. Aku hanya membutuhkanmu untuk menemaniku saja," jawab Kessy dengan suara menggoda dan menatapnya seolah menginginkannya.
"Baiklah. Tapi serahkan dulu ceknya padaku. Aku tidak mau nantinya kamu beralasan lupa," ujar Arsenio sambil menatap tajam pada Kessy yang masih betah duduk di pangkuannya.
Kessy tertawa mendengar ucapan Arsenio. Kemudian dia berkata,
"Tenang saja Sayang. Aku akan memberikannya nanti, ketika kita berada di klub yang kemarin."
"Baiklah. Sekarang turunlah. Kita harus cepat menyelesaikan proyek dengan perusahaan RAZ," tutur Arsenio sambil menurunkan tubuh Kessy dari pangkuannya.
Tanpa sengaja tangan Arsenio menyentuh bagian sisi kedua dada Kessy ketika menurunkannya dari pangkuannya.
Tidak dipungkirinya jika dia sedikit mempunyai keinginan untuk memegangnya. Akan tetapi dia masih sadar dan dia meyakinkan dirinya agar bisa menahannya.
"Awww… Kamu menyentuhnya Sayang. Apa kamu menginginkannya?" tanya Kessy dengan gaya menggodanya.
"Ehemmm… Kerjakan saja pekerjaanmu agar semuanya bisa cepat selesai tepat waktu," ucap Arsenio sedikit gugup dan mengalihkan pandangannya pada kertas-kertas yang ada di mejanya.
Kessy terkekeh melihat tingkah Arsenio yang diyakininya sudah tergoda padanya. Dalam hatinya dia berkata,
Akan aku manfaatkan kesempatan ini.
Kessy yang berdiri kini menundukkan kepalanya untuk berbisik di telinga Arsenio.
"Akan aku selesaikan tepat waktu semua pekerjaannya agar kita bisa bersenang-senang nanti."
Hembusan nafas Kessy membuat Arsenio merasakan hal aneh dalam dirinya. Dia pun menoleh ke arah Kessy.
__ADS_1
Glek!
Arsenio menelan ludahnya ketika melihat bagian dada kembar Kessy yang besar dan menggoda itu terpampang dengan jelasnya di hadapannya.
Kessy tersenyum melihat ekspresi wajah Arsenio yang terlihat sangat menginginkannya. Dengan jahilnya Kessy semakin mendekatkan bagian dadanya yang terlihat belahannya itu pada wajah Arsenio.
Selama beberapa detik Arsenio terpanah pada bagian dada Kessy itu. Bahkan hembusan nafasnya mengenai kulit bagian dada Kessy yang memang hanya tertutupi sebagian saja.
Setelah itu Kessy menjauhkannya dari hadapan Arsenio. Dia menahan tawanya melihat wajah Arsenio yang salah tingkah saat ini. Merasa sudah cukup menggodanya, Kessy berjalan berlenggak-lenggok menuju meja kerjanya.
Arsenio menghela nafasnya melihat bagian tubuh belakang Kessy yang terlihat menggoda saat ini. Dalam hatinya berkata,
Pantas saja dulu aku pernah tergoda olehnya. Sayangnya dia tidak memiliki kesetiaan.
Waktu pun berlalu. Kini jam pulang kantor pun tiba. Arsenio segera menyelesaikan pekerjaannya untuk tahap awal proyek dari RAZ.
Kessy berjalan menghampiri Arsenio. Seperti biasanya, dia duduk di meja kerja Arsenio sehingga berada tepat di hadapannya. Tangannya kembali melingkar pada leher Arsenio dan berkata,
"Ayo kita berangkat sekarang Sayang."
Arsenio melepaskan tangan Kessy dari lehernya seraya berkata,
"Berikan dulu padaku cek itu."
Kessy tertawa mendengar ucapan Arsenio yang sedang menagih padanya bak seorang debt collector. Tangannya mengambil sesuatu dari tas yang diletakkannya pada meja Arsenio.
Arsenio tersenyum tipis. Dia segera meraih cek kosong tersebut dan menulis angka pada nominal cek yang masih kosong itu.
"Ini, tanda tangani lah," perintah Arsenio sambil memberikan kembali cek tersebut pada Kessy.
Kessy pun segera menandatangani cek tersebut. Dia tidak mempermasalahkan jumlah yang tertera pada cek yang ditulis oleh Arsenio. Baginya uang bisa dengan mudah diminta pada keluarganya. Dan kini pun dia juga bisa meminta pada Alberto, Om kesayangannya.
Setelah menandatanganinya, Kessy memberikan kembali cek tersebut pada Arsenio. Dengan segera Kessy menarik tangan Arsenio setelah menyimpan cek tersebut di dalam tasnya.
"Pakai mobilku saja. Biarkan mobilmu di kantor. Nanti akan aku antar kamu kembali ke kantor," ujar Kessy ketika mereka berada di parkiran mobil mereka.
Arsenio pun menyetujuinya. Dia merasa lelah dan dia butuh waktu untuk mengistirahatkan badannya.
Kessy mengemudikan mobilnya, sedangkan Arsenio duduk di kursi penumpang yang ada di sebelah pengemudi.
"Sepertinya kamu lelah sekali," ucap Kessy memecah keheningan dalam mobil tersebut.
Arsenio yang sedang memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi, seketika membuka matanya ketika Kessy berbicara padanya.
"Aku sangat lelah. Baik pikiran dan juga tenaga," tukas Arsenio disertai helaan nafasnya.
__ADS_1
Kessy tersenyum mendengar ucapan Arsenio. Dalam posisinya yang masih mengemudi, dia pun berkata,
"Carilah hiburan di luar rumah. Jangan mau kalah dengan istrimu yang setiap hari sibuk dengan bosnya."
Sontak saja Arsenio menoleh ke arah Kessy. Dengan sangat antusiasnya dia bertanya,
"Bagaimana kamu bisa tau?"
Kessy tertawa mendengar pertanyaan Arsenio. Kemudian dia berkata,
"Rumah orang tuaku ada di wilayah rumah bosnya istrimu. Dan aku selalu melihat istrimu berada di rumah bosnya. Apa dia juga bekerja di rumah bosnya sebagai asisten pribadinya untuk mengurusinya di rumah? Apa itu berarti dia juga mengurus masalah ranjang?"
Lagi-lagi Kessy berhasil membangkitkan kemarahan Arsenio. Kini dada Arsenio kembali bergemuruh. Bayangan akan kedekatan istrinya dengan Ryan kembali di pelupuk matanya.
Tepat saat itu mobil Kessy masuk ke dalam parkiran klub malam yang mereka kunjungi sebelumnya.
Kessy menggandeng erat Arsenio masuk ke dalam klub malam tersebut. Mereka duduk di depan bar seperti waktu itu.
"Berikan minuman seperti biasanya," perintah Kessy pada bartender yang sedang meracik minuman.
Dua gelas minuman berwarna dengan kadar alkohol tinggi diberikan oleh bartender tersebut pada Kessy dan Arsenio.
Kegelisahan hati Arsenio membuatnya tidak nyaman. Segera diraihnya ponsel dari sakunya untuk melihat titik keberadaan istrinya.
Dadanya bergerak naik turun seiring nafasnya yang tidak beraturan. Dalam dadanya terasa bergemuruh ketika melihat titik keberadaan Laura berada di rumah Ryan.
Sedang apa mereka? Mengapa Laura selalu di rumah bosnya itu hingga larut malam? Arsenio bertanya-tanya dalam hatinya.
Diraihnya gelas yang berisi minuman tersebut dan diteguknya hingga habis. Hatinya yang berkabut amarah membuatnya tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Kessy memberikan kode pada bartender untuk memberikan kembali minuman yang sama pada Arsenio.
Dengan cepatnya tangan Arsenio menyambar kembali minuman tersebut dan meminumnya hingga habis tidak tersisa.
Bartender pun memberikan minuman yang sama di hadapan Arsenio. Untuk ketiga kalinya, Arsenio kembali meminumnya.
Kini dia sudah dalam kondisi mabuk. Bahkan dia tidak bisa menyanggah tubuhnya sendiri.
Kessy menyeringai melihat Arsenio yang dalam keadaan mabuk saat ini. Dengan segera dia membayar minuman tersebut dan membantu Arsenio berjalan untuk keluar dari tempat itu.
"Mau ke mana kita?" tanya Arsenio dengan suara mabuknya.
"Kita akan bersenang-senang. Apa kamu mau Sayang?" tanya Kessy yang berbisik di telinga Arsenio.
Arsenio tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Kessy padanya. Kemudian dia berkata,
__ADS_1
"Bersenang-senang? Di mana?"