System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 48 : Hadiah mewah


__ADS_3

Arsenio sungguh kaget mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Sungguh dia tidak mengira jika Ryan akan memberikan sebuah mobil mewah pada istrinya.


Kini pikiran Arsenio semakin kalut. Dia menduga ada hubungan lain antara istrinya dengan Ryan. Apa lagi dia sempat melihat istrinya itu sedang di hotel bersama dengan Ryan.


Tanpa berkata-kata, Arsenio segera masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan badannya di dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Dia mendinginkan kepalanya di bawah guyuran air shower yang sangat deras. Pikiran tentang hubungan istrinya dengan CEO dari perusahaan RAZ itu sangat mengganggunya.


Ingin rasanya dia melarang istrinya untuk bekerja di perusahaan tersebut. Sayangnya itu tidak bisa dilakukannya. Dia membutuhkan uang untuk membayar hutang-hutangnya dan yang lebih penting lagi, dia membutuhkan peran istrinya untuk meyakinkan Ryan yang merupakan CEO dari perusahaan RAZ itu agar bisa bekerja sama dengannya.


Kini mereka berdua berada di meja makan dan duduk saling berhadapan seperti biasanya. Selama beberapa saat mereka saling diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Arsenio pada istrinya setelah menelan makanannya.


"Baik. Aku belajar banyak hal di sana," jawab Laura di sela kunyahannya.


Apa aku menyinggungnya jika menanyakan tentang yang di hotel tadi? Arsenio berkata dalam hatinya.


Apa harus sekarang aku menanyakan tentang kebersamaannya dengan Kessy di hotel tadi? Laura bertanya dalam hatinya.


"Emmm… Sayang, tadi di hotel… kalian…," Arsenio menggantung ucapannya.


Dia tidak mau menyinggung istrinya karena takut jika istrinya tidak mau membantunya untuk meyakinkan bosnya agar bekerja sama dengannya. Akan tetapi dia juga tidak bisa menahan rasa keingintahuannya tentang apa yang terjadi dengan istrinya dan bosnya.


Laura menghentikan makannya. Dia mengerti arah pembicaraan suaminya. Dia menatap suaminya dengan tatapan kesalnya seraya berkata,


"Kenapa Mas bisa bersama dengan Kessy di hotel itu?" 


Arsenio membelalakkan matanya. Dia lupa akan kenyataan bahwa ada Kessy di sampingnya ketika istrinya itu bertemu dengannya.


"Itu… kami baru saja menemui orang yang akan bekerja sama dengan perusahaan," jawab Arsenio gugup melihat tatapan mata istrinya yang terlihat tidak percaya padanya.

__ADS_1


Laura menghela nafasnya yang terlihat kecewa pada suaminya. Tapi dia enggan untuk bertengkar dengan suaminya.


Istri mana yang bisa tenang melihat suaminya bergandengan mesra dengan mantan pacarnya? Begitu juga dengan Laura. Dia tidak bisa tenang melihat suaminya bersama dengan Kessy. Apa lagi dia melihat Kessy yang bergelayut manja pada lengan Arsenio.


"Kami juga ada pertemuan dengan CEO dari perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan kami," ucap Laura dengan wajah kesalnya.


"Tapi kenapa kalian keluar dari dalam lift? Apa pertemuannya di–"


"Pertemuannya di kamar hotel VVIP," sahut Laura dengan kesalnya tanpa melihat ke arah suaminya.


Seketika mata Arsenio terbelalak. Kini tubuhnya lemas, hingga tangannya melepaskan sendok dan garpu yang sedang dipegangnya.


"Ka-kamar hotel? VVIP? Apa… kalian…," Arsenio menjeda ucapannya.


Dia tidak mampu menyelesaikan ucapannya yang terasa sangat menyakitkan hatinya.


Seolah tidak terjadi apa-apa, Laura masih saja sibuk menghabiskan makanannya. Dia ingin memperlihatkan pada suaminya jika dia tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh apa pun. Baik oleh kehadiran Kessy ataupun kecurigaan suaminya pada hubungannya dengan bosnya.


"Jangan berpikiran aneh-aneh. Aku tidak seperti kalian yang secara terang-terangan bermesraan meskipun berada di tempat umum. Terlebih lagi di hadapanku," sahut Laura yang sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya.


"Kenapa harus bersama dengan dia? Lagi pula siapa yang tau kalian masuk ke kamar hotel apa tidak setelah aku meninggalkan hotel itu terlebih dahulu," sahut Laura sambil beranjak dari tempat duduknya.


Mata Arsenio terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia tidak menyangka jika istrinya mempunyai pikiran seperti itu padanya.


"Lalu apa yang kalian lakukan di kamar hotel VVIP itu? Kenapa kalian tidak membawa berkas apa pun?" tanya Arsenio pada istrinya yang sudah berjalan menuju kamarnya.


Seketika langkah kaki Laura terhenti. Dia menyeringai mendengar pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya. Tanpa menoleh ke arah belakang di mana suaminya masih duduk di kursi makan, dia pun berkata,


"Karena berkas-berkas kami dibawa oleh sekretaris Pak Ryan."


"Kenapa bisa begitu? Kenapa kalian tidak keluar bersamaan saja?" tanya Arsenio yang sudah tidak bisa membendung lagi rasa ingin tahunya.

__ADS_1


Laura memutar badannya dan menghadap ke arah suaminya. Dia menyeringai dan berkata,


"Lalu, bagaimana dengan uang pinjaman itu? Apa sudah kamu bayar semuanya?"


Seketika raut wajah Arsenio berubah. Dia menundukkan kepalanya dan berkata,


"Pak Alberto hanya memberikan sepuluh persennya saja. Sisanya akan diberikannya setelah aku bisa bekerja sama dengan perusahaan RAZ."


"Bagaimana dengan mantan pacarmu itu? Apa bersama dia juga merupakan syarat dari Pak Alberto?" tanya Laura sambil menyeringai pada suaminya.


"Seperti yang kamu tau, aku tidak bisa merubah keadaan apa pun jika Pak Alberto yang memerintah. Tapi aku bersumpah jika tidak akan ada hubungan apa pun dengannya. Tidak akan ada yang terjadi di antara kami," jawab Arsenio dengan sangat yakin untuk berusaha meyakinkan istrinya.


Laura kembali menyeringai mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Kemudian dia berkata,


"Kita buktikan saja nanti."


Setelah itu Laura masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu suaminya menanggapi ucapannya.


Di dalam kamarnya, dia kembali merasakan apa yang dirasakannya selama sore tadi. Semenjak bertemu dengan suaminya di hotel tadi, pikiran Laura menjadi tidak menentu. Dia sangat sulit untuk fokus pada pekerjaannya. Dan hanya bayangan Kessy yang tersenyum mengejeknya dengan menggandeng mesra Arsenio, selalu terbayang di pelupuk matanya.


Tak terasa air matanya lolos begitu saja membanjiri pipinya. Dengan segera kedua tangannya bergerak dengan kasar untuk menghapus buliran-buliran air mata yang dengan kurang ajarnya keluar begitu saja tanpa seijinnya.


"Kenapa aku sangat cengeng akhir-akhir ini? Kenapa aku selalu meneteskan air mata untuknya? Aku harus bertahan. Aku harus bisa melewati ini semua. Demi semuanya," gumam Laura dengan diiringi air matanya yang semakin deras membasahi pipinya.


Lelah dengan tangisannya yang tak kunjung reda, Laura segera berbaring dan menutup badannya hingga seluruh wajahnya dengan menggunakan selimut. Dia tidak mau jika suaminya mengetahui kelemahannya.


Tiba-tiba pintu kamar itu pun terbuka. Arsenio masuk ke dalam kamarnya. Dia menatap nanar punggung istrinya yang sedang tidur memunggunginya.


Direbahkannya tubuhnya itu dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak mengganggu istrinya. Pandangan matanya tidak bisa lepas dari istrinya yang sedang memunggunginya. Dalam hatinya berkata,


Aku harus bagaimana sekarang? Apa aku harus percaya dan membiarkannya bekerja di sana? Tapi aku sangat membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


Tiba-tiba terlintas dalam benak Arsenio sesuatu yang bisa membantunya. Dalam hati dia kembali berkata,


Sepertinya aku harus menggunakan cara itu.


__ADS_2