
Laura pulang dengan hati yang gembira. Perasaannya sedikit lega karena kini dia telah mendapatkan pekerjaan.
Dia berdiri di depan rumahnya. Diperhatikannya baik-baik bangunan tersebut yang sudah lima tahun ini telah menjadi tempat berlindungnya bersama dengan suaminya.
Banyak sekali kenangan mereka berdua yang tersimpan di rumah itu. Bahkan keinginannya untuk bercerai dari suaminya pun masih jelas melekat di ingatannya.
Laura masuk ke dalam halaman rumahnya. Dia menghela nafasnya melihat halaman rumah tersebut yang terbayang kenangan bersama dengan suaminya.
Banyak hal yang mereka lakukan di halaman rumah itu. Dan itu semua masih tersimpan di memorinya.
"Baiklah Laura. Lebih baik berusahalah agar rumah ini tetap menjadi rumahmu. Bekerjalah dengan keras agar bisa membayar hutang ibumu dan menyelamatkan rumah ini," ucap Laura ketika berada di ruang tengah dan melihat sekelilingnya.
Di kantornya, Arsenio sangat tertekan karena pekerjaan dan tekanan dari pihak bank yang selalu menghubunginya. Dia merasa sangat frustasi saat ini. Bahkan dia enggan pulang karena malu pada istrinya yang ikut merasakan akibat dari kebodohannya.
Karena itulah akhir-akhir ini Arsenio pulang terlambat. Di samping dia berusaha untuk bekerja lebih keras lagi, dia juga tidak ingin membahas masalah hutang-hutangnya itu dengan istrinya. Dia tidak mau jika hubungannya dengan istrinya menjadi buruk karena masalah tersebut.
"Aaarrrggghhh...!!!" Arsenio menjambak rambutnya dan berteriak frustasi dalam ruangannya. Pihak bank kembali menagih dan mengingatkannya untuk membayar hutang-hutangnya.
Sedangkan orang yang menipu Arsenio belum juga ditemukan oleh pihak kepolisian. Mereka masih berusaha mencari orang tersebut dengan cara mereka.
"Sial! Kenapa aku jadi punya hutang sebanyak ini?" seru Arsenio dengan kesalnya.
"Apa ini semua karma buatku karena membeli PS5 di saat ibu mertuaku sedang membutuhkan uang untuk operasi?" sambung Arsenio sambil terkekeh layaknya orang hilang akal.
Di saat seperti ini dia sangat merindukan istrinya. Merindukan saat-saat mereka bersama di jam-jam seperti ini.
Sudah beberapa hari ini Arsenio selalu pulang terlambat. Dia selalu beralasan lembur pada istrinya. Dan memang benar dia sedang berada di kantornya. Dia mencari cara agar bisa segera membayar hutang-hutangnya dan tidak berurusan kembali dengan bank tersebut.
Tiba-tiba terdengar dering telepon dari ponselnya. Diambilnya ponsel miliknya dari sakunya.
Segera diangkatnya telepon tersebut ketika dia membaca nama Alberto tertera di layar ponselnya sebagai si penelepon.
"Halo–"
__ADS_1
Segera ke ruangan saya sekarang juga, ucap Alberto menyela sapaan Arsenio ketika menerima panggilan teleponnya.
"Baik Pak," tukas Arsenio menanggapi perintah Alberto.
Arsenio menghela nafasnya dengan berat. Dia mempunyai firasat jika Alberto akan mempersulitnya kali ini.
Dengan segera dia menuju ke ruangan Alberto. Dia tidak ingin Alberto marah padanya hanya karena terlalu lama menunggunya.
Kini Arsenio sedang duduk di hadapan Alberto. Dia sedikit khawatir jika ada masalah dengan pekerjaannya.
"Pak Arsenio, saya perhatikan akhir-akhir ini anda sering pulang larut malam. Apa ada pekerjaan yang membuat anda lembur hingga larut malam?" tanya Alberto dengan tatapan menyelidik pada Arsenio.
Arsenio menghela nafasnya. Dia merasa malu jika harus mengatakan pada Alberto mengenai masalah yang dihadapinya.
"Saya sedang membutuhkan banyak uang Pak," jawab Arsenio dengan menundukkan kepalanya.
Alberto menatap Arsenio. Dia merasa iba padanya. Menurut Alberto kinerja Arsenio memang patut diacungi jempol. Dan yang terpenting dia kenal dengan keponakannya yang paling manja padanya.
Kessy, keponakannya itu tidak mengatakan apa pun tentang kepergian Arsenio dari restoran saat mereka sedang makan siang bersama untuk merayakan ulang tahun Arsenio hari itu. Kessy hanya mengatakan pada Alberto jika Arsenio sedang ditunggu oleh rekan kerjanya.
"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Alberto pada Arsenio yang sedang menundukkan kepalanya.
Sontak saja Arsenio mendongakkan kepalanya, melihat ke arah Alberto. Kemudian dia berkata,
"Kenapa Pak? Apa Bapak akan meminjami saya uang?"
Alberto terkekeh mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Arsenio padanya. Dia menatap Arsenio dengan serius dan berkata,
"Jika kamu mau, kenapa tidak? Katakan padaku berapa jumlahnya. Tapi, aku ada syarat untukmu."
Dahi Arsenio mengernyit mendengar kata syarat yang diajukan Alberto padanya.
"Syarat apa itu Pak?" tanya Arsenio dengan rasa penasarannya.
__ADS_1
Alberto mendekatkan wajahnya pada wajah Arsenio. Kemudian dia menatap serius padanya dan berkata,
"Buat CEO perusahaan RAZ mempercayakan proyeknya pada kita."
Seketika Arsenio terbelalak. Dia merasa syarat yang diajukan oleh Alberto sangatlah berat.
Banyak diketahui sejumlah orang yang bergelut di bidang entertainment bahwa CEO perusahaan RAZ yaitu Ryan Arion Syahreza adalah seorang yang sangat selektif dalam memilih apa pun.
Hingga detik ini, perusahaan tempat Arsenio bekerja itu belum pernah mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan RAZ.
"Saya pikirkan dulu Pak. Saya sedikit ragu jika berurusan dengan perusahaan RAZ," ucap Arsenio dengan sungkan pada Alberto.
"Beritahu berapa jumlah uang yang kamu butuhkan melalui pesan. Akan saya kirim uangnya ke rekening kamu," ujar Alberto dengan santainya.
Mendengar hal itu membuat Arsenio merasa senang. Dia bisa sedikit bernafas lega saat ini.
Baiklah, akan aku setujui syarat ini. Akan aku cari tau bagaimana caranya untuk bisa bertemu dengan CEO dari perusahaan RAZ dan membujuknya. Apa pun akan aku lakukan agar bisa segera melunasi hutang-hutangku, Arsenio berkata dalam hatinya.
"Baik Pak, saya permisi dulu," ucap Arsenio sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Alberto tersenyum melihat Arsenio yang sangat patuh padanya. Tiba-tiba dia teringat akan Tiara, perempuan yang menyuruhnya agar menjadikan Arsenio sebagai orang kepercayaannya.
"Tiara, bagaimana kabarmu? Aku sangat ingin bertemu denganmu," gumam Alberto sambil tersenyum mengingat wajah cantik Tiara yang sedang menemaninya bermain golf dan juga menemaninya mengobrol di dalam kamarnya.
"Kenapa dia belum juga menghubungiku? Apa dia sedang kesusahan dalam pekerjaannya? Bodohnya aku yang tidak menanyakan di mana tempatnya bekerja. Jika saja aku tau, pasti akan aku bantu dia meskipun tanpa dia minta," ucap Alberto yang terlihat frustasi saat ini.
Di ruang kerjanya, Arsenio segera mengirim pesan pada Alberto berapa jumlah uang yang dibutuhkannya. Setelah itu dia berusaha mencari tahu tentang perusahaan RAZ dan tentang CEO dari perusahaan RAZ yaitu Ryan Arion Syahreza.
Berbagai macam artikel dan profil tentang Ryan Arion Syahreza yang didapatkan oleh Arsenio. Dia juga mencari tahu tentang hobi, serta apa saja yang menjadi kesenangan dari CEO perusahaan RAZ tersebut.
Bahkan Arsenio juga mempelajari tentang perusahaan RAZ agar dia bisa dengan mudahnya mendekati Ryan jika sudah bertemu dengannya.
Di dalam rumahnya, Laura sedang sibuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk bekerja besok. Tiba-tiba saja di hadapannya kembali hadir benda yang selama ini memberikannya misi.
__ADS_1
"Apa itu sebuah misi? Misi yang kemarin saja belum selesai aku kerjakan," ucap Laura diiringi dengan helaan nafasnya.