
Rendra memberitahukan pada Ryan tentang pekerjaan Arsenio yang telah selesai dan dia sudah melihat hasil pekerjaan Arsenio.
"Baiklah, setujui saja semuanya meskipun ada kekurangan. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan perusahaan itu setelah kerja sama ini berakhir," ujar Ryan pada orang yang sedang berbicara padanya di telepon.
Sebelum panggilan telepon itu diakhiri, datanglah dokter yang telah mengoperasi Laura menghampiri Ryan dan mengatakan hasil operasinya. Dan Rendra mendengar itu semua dari telepon yang masih belum mereka akhiri.
Operasi? Ryan, siapa yang dioperasi? Apa yang sebenarnya terjadi? Ada di mana kamu sekarang? tanya Rendra yang terdengar sangat cemas dan penasaran.
"Laura ada di rumah sakit. Dia baru saja selesai dioperasi. Jadi, tolong urus masalah kantor selama aku belum berada di sana. Jika ada sesuatu yang butuh persetujuanku, hubungi saja aku," jawab Ryan dengan cepat.
Setelah itu Ryan segera mematikan panggilan teleponnya tanpa menunggu Rendra mengatakan sesuatu padanya.
Ryan mengikuti Laura yang sedang dipindahkan ke ruangan VVIP yang telah disiapkan oleh Ryan untuknya. Di tempat itu pula dokter melakukan pengawasan setelah operasi tersebut dilakukan.
Ruangan yang begitu luas dan mewah itu terasa sangat nyaman bagi pasien yang menghuninya. Begitu pula dengan Laura. Dia tidak akan bisa menghuni ruangan yang sangat mahal itu jika bukan karena Ryan yang membayarnya.
Laura tidak bisa menahan tangis dan kesedihannya setelah dokter menjelaskan semuanya padanya. Dia menyalahkan dirinya yang tidak peka dan tidak merasakan kehadiran buah hatinya selama ini dalam kandungannya.
Yang paling membuat Laura marah dan kecewa adalah Arsenio. Ayah dari bayi yang dikandungnya itu sangat membuatnya kecewa. Air mata Laura kembali menetes tatkala dia teringat akan peristiwa yang terjadi di kamarnya.
Sungguh terlalu kamu Mas! Kamu sangat jahat! Kamu membunuh anak kita! Kamu pembunuh! Laura memaki Arsenio dalam hatinya dengan air matanya yang mengalir di pipinya.
Bahkan saat ini saja kamu tidak ada di sisiku. Ah… Apa yang aku harapkan darinya? Bukannya dia lebih memilih bersama dengan wanita tidak tahu malu itu? Lagi pula aku tidak yakin jika bisa melihat wajahnya saat ini, Laura kembali berkata dalam hatinya dengan diiringi deraian air matanya.
"Laura, saya turut berduka cita. Tapi saya harap kamu jangan terus-menerus larut dalam kesedihan kamu. Laura yang saya kenal adalah Laura yang kuat, tangguh dan hebat. Jadilah Laura yang seperti itu selamanya. Saya yakin jika kamu akan bisa menjadi ibu yang hebat untuk anak kamu nantinya," tutur Ryan yang mencoba menenangkan dan menguatkan Laura.
__ADS_1
Air mata Laura masih saja menetes di pipinya. Dia masih saja merasakan kesedihan itu. Rasa kehilangan itu masih saja dirasakannya. Bahkan rasa bersalah itu masih saja menghantuinya.
"Saya sangat berterima kasih sekali pada Bapak. Maaf karena saya telah merepotkan Bapak. Dan untuk biaya rumah sakit yang telah Bapak bayar, potong saja dari gaji saya selama beberapa bulan hingga semuanya lunas," ujar Laura dengan bibirnya yang bergetar menahan tangisnya.
Ryan beranjak dari duduknya. Dia berdiri di dekat Laura dan berkata,
"Masalah biaya tidak usah kamu risaukan. Ini semua fasilitas dari perusahaan untuk karyawannya. Jadi kamu tidak perlu menggantinya."
Laura menyeka air matanya dan berusaha meredakan tangisnya. Kemudian dia berkata,
"Tapi Pak, pasti jumlahnya sangat besar. Tidak mungkin karyawan biasa bisa menerima fasilitas seperti ini dari perusahaan."
"Kamu asisten saya Laura. Dan kamu berhak menerima semua ini dari perusahaan. Jangan pikirkan ini semua. Cukup fokus pada pemulihan mu saja," tutur Ryan yang sedang menatap Laura dengan sungguh-sungguh.
Laura menganggukkan kepalanya seraya mengucapkan terima kasih pada bosnya itu. Sedangkan Ryan, dia menatap iba pada Laura yang selalu saja harus berjuang dalam hidupnya. Sayangnya kebahagiaan tidak berpihak padanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kamu mengandung anak dari bosmu ini hah?"
Sontak saja Laura menatap suaminya dengan amarahnya yang meluap-luap. Bahkan air matanya menetes kembali tanpa bisa dihentikannya. Dia kecewa pada suaminya yang telah mengkhianatinya. Dan sekarang suaminya itu telah memutarbalikkan fakta dengan menuduhnya berselingkuh bersama bosnya.
"Jahat kamu Mas! Kamu pembunuh! Kamu yang membuat aku kehilangan anak kita!" seru Laura dengan penuh penekanan diiringi dengan air matanya yang mengalir deras di pipinya.
*Apa? Anak kita? Kamu… kamu bilang anak kita?" tanya Arsenio yang terlihat bingung saat ini.
"Sekarang… sekarang kamu malah menuduh anak ini sebagai anak dari orang lain. Terlalu kamu Mas! Aku benci kamu Mas… benci!" ucap Laura dengan suara tercekat dan bibirnya bergetar menahan tangisnya yang diiringi dengan deraian air matanya.
__ADS_1
"Anakku?" tanya Arsenio dengan memperlihatkan wajah bingungnya.
Ryan meraih amplop coklat yang berukuran besar dari meja yang ada di ruangan tersebut. Kemudian dia memberikannya pada Arsenio seraya berkata,
"Lihatlah dan bacalah baik-baik. Di situ tertulis jelas usia kandungan Laura pada saat dia keguguran. Dan perlu kamu ketahui, kami memang sering sekali bersama, tapi itu hanya karena pekerjaan. Laura memang harus menemani saya tiap bekerja karena dia asisten pribadi saya, tidak lebih dari itu. Saya tidak mengharapkan anda percaya dengan ucapan saya. Tapi setidaknya anda tahu kebenarannya."
Arsenio membuka amplop coklat tersebut yang berisi laporan medis milik Laura. Di sana tertulis usia kandungan Laura yang memang tidak memungkinkan jika anak tersebut hasil dari hubungannya dengan Ryan karena Laura baru sekitar satu bulan bekerja dengannya. Sedangkan dalam laporan tersebut dituliskan usia kandungan Laura sudah memasuki usia enam minggu.
Badan Arsenio terasa lemas tidak bertulang. Bahkan kakinya saat ini tidak bisa digerakkannya. Air matanya menetes membayangkan anak yang selama ini telah mereka nantikan kehadirannya, kini telah tiada tanpa diketahui kehadirannya selama ini dalam kandungan istrinya.
"Sayang… maafkan aku…," ucap Arsenio dengan air matanya yang menetes dari tempatnya berdiri saat ini.
Hati Laura sangat pedih melihat air mata suaminya yang sedang meminta maaf padanya. Ingin rasanya dia memeluk suaminya untuk saling menguatkan.
Namun, seketika raut wajah Laura terlihat penuh kebencian ketika melihat sosok wanita yang paling dibencinya. Wanita itu berjalan masuk ruangan tersebut dengan senyumnya yang merekah seolah mengejeknya dan senang akan kemenangannya.
Kessy berjalan menghampiri Arsenio dan meraih lengannya untuk digandengnya seraya berkata,
"Ada apa Sayang?"
Ryan menatap jijik pada Kessy dan Arsenio. Ingin sekali dia mengusir pasangan hina itu, akan tetapi dia tidak berhak untuk mengusir mereka.
"Pergi! Pergi kalian dari sini! Aku tidak mau lagi melihat kalian! Pergi! Pergi!" seru Laura dengan sekuat tenaga diiringi deraian air matanya yang begitu deras mengalir di pipinya.
Arsenio segera menghempaskan tangan Kessy. Dia berjalan mendekati Laura untuk menenangkannya dan memohon ampun padanya.
__ADS_1
"Stop! Jangan mendekat! Pergi!" seru Laura dengan tatapan matanya yang penuh kebencian pada suaminya.