System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 18 : Upaya


__ADS_3

Kini Arsenio dan Laura berada dalam kamar Laura. Karena Laura hanya perempuan seorang diri dalam timnya, dia selalu mendapatkan kamar sendiri tanpa berbagi dengan yang lainnya.


Deborah, tentu saja dia seorang laki-laki yang harus satu kamar dengan laki-laki lainnya. Hanya saja, dia selalu menolak untuk satu kamar dengan yang lainnya, sehingga dia menyewa kamarnya sendiri.


Arsenio masih saja memandang istrinya dengan tatapan penuh tanya. Dia masih belum sepenuhnya yakin pada perkataan Rendi dan juga pada istrinya.


Dia merasa jika perkataan Rendi sangat meyakinkan dan seingatnya Laura sedang berada di toilet saat itu. Sehingga dia berpikir jika itu semua bisa saja terjadi.


Namun, dia tidak mendapatkan buktinya, sehingga dia juga menjadi ragu.


Laura merasa jika Arsenio menatapnya tidak seperti biasanya. Dalam hati dia berkata,


Pasti dia masih menaruh curiga padaku. Aku harus mengembalikan kepercayaannya padaku.


Laura berjalan mendekati suaminya dan menarik tangannya hingga Arsenio bangkit dari duduknya. 


"Mas, bagaimana jika kita mandi bersama?" tanya Laura sambil tersenyum dan mengerlingkan matanya untuk menggoda suaminya.


Arsenio pun tidak bisa menolaknya. Laki-laki mana yang menolak jika diajak oleh perempuan cantik untuk mandi bersamanya, terlebih perempuan tersebut adalah istrinya.


Arsenio tersenyum dan dengan gerakan cepatnya dia berhasil menggendong istrinya.


Pluk!


Terdengar benda yang jatuh di lantai. 


Sontak saja Arsenio dan Laura melihat ke arah lantai tersebut. Mata Laura terbelalak melihat botol vial kaca yang jatuh dari saku celananya. Dia sangat merutuki kebodohannya yang tidak membuang botol beserta isinya tersebut di toilet tadi.


Arsenio menunduk dan berusaha menggapai botol tersebut. Dia mengernyitkan dahinya ketika melihat botol tersebut seraya berkata,


"Apa ini?"


"Emmm itu… aku malu mengatakannya. Sebenarnya aku menyiapkan itu untuk malam ini. Aku ingin memuaskan mu di tempat ini," jawab Laura dengan diiringi jemari tangannya yang membuat pola abstrak pada dada suaminya untuk menggodanya.


Seketika bibir Arsenio melengkung ke atas. Dia tidak bisa menolak apa yang akan dilakukan istrinya padanya. Kemudian dia berkata,


"Tentu saja aku sangat senang. Tapi, apa tidak berbahaya memakai ini? Kita sangat menginginkan keturunan. Jika benda ini mempunyai efek lain, sebaiknya jangan digunakan. Buang saja obat ini."


Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kali ini dia sangat bangga pada suaminya. Keputusan suaminya itu membuatnya sangat berarti.


Seolah tidak sabar, mereka saling melepaskan pakaian dan membuangnya ke sembarang arah.


Arsenio membawa tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi yang ada dalam kamar tersebut. Mereka mandi bersama seperti kebiasaan mereka saat awal-awal pernikahan mereka.


Laura benar-benar mengikuti perintah suaminya. Dia membuang bubuk yang berada dalam botol vial kaca yang diambilnya dari saku celana asisten Ferdian ke dalam closet.


Seolah tidak puas bermain di kamar mandi, mereka berdua berpindah tempat menuju ranjang. Dan malam itu pun mereka lewati dengan penuh gaairah meskipun tanpa obat seperti kala itu.


Mereka pun tidur bersama dengan berselimut kelelahan karena aktifitas mereka malam ini.

__ADS_1


Pelukan Arsenio sangat nyaman, sehingga membuat Laura merasa tenang dalam pelukannya. Hingga tanpa mereka sadari waktu pun berlalu dengan sangat cepat.


Selang berapa saat kemudian, ponsel Laura berdering. Suara dering ponsel Laura itu mampu mengusik tidur mereka.


"Siapa sih yang menelpon jam segini?" tanya Arsenio dengan suara beratnya tanpa membuka matanya.


Laura pun enggan untuk membuka matanya. Tangannya terulur pada meja yang ada di sebelah ranjangnya untuk mengambil ponsel miliknya.


"Halo," sapa Laura setelah menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan telepon tersebut.


Syuting akan segera dimulai. Cepat datang ke taman. Semua sudah berkumpul di sana.


Terdengar suara Dani dari telepon yang mampu membuat kedua mata Laura terbuka sempurna.


Seketika Laura bangkit dari tidurnya dan terduduk dengan kedua matanya yang sudah terbuka lebar. Kemudian dia berkata,


"Baik, saya akan segera ke sana."


Gerakan Laura mampu membuat Arsenio membuka matanya. Ditambah lagi dengan suara Laura yang sangat lantang, membuat Arsenio bertanya-tanya. 


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Arsenio sambil menguap dan mengusap-usap kedua matanya.


Laura yang sudah mengakhiri panggilan teleponnya menoleh ke arah suaminya dan berkata,


"Mereka sudah menungguku di taman. Aku harus cepat ke sana. Kamu lanjutkan saja tidurnya. Aku akan bersiap-siap dan berangkat sekarang juga."


Laura beranjak dari ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa bajunya. Arsenio segera memakai bajunya yang berserakan di lantai karena ulah mereka seolah tidak sabar ketika melepas baju sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


"Tunggu, aku akan mengantarmu," ucap Arsenio sambil meraih tangan Laura.


Laura pun tidak menolak. Dia merasa lebih aman bersama dengan suaminya di waktu dini hari seperti sekarang ini.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Laura. Dia mengambil ponsel dari dalam tasnya  dan segera melihatnya. Dia takut jika notifikasi tersebut merupakan pesan penting yang berasal dari rekannya.


Seketika mata Laura membelalak melihat nominal angka yang masuk ke dalam rekeningnya. Bibirnya melengkung ke atas melihat hasil jerih payahnya kali ini.


Empat belas juta rupiah. Sepadan dengan kerja kerasku tadi. Berarti misi kali ini sudah berakhir. Ah… leganya hatiku, Laura berkata dalam hatinya diiringi senyuman bahagianya.


Arsenio merasa aneh dengan istrinya yang kaget ketika melihat pesan masuk pada ponselnya, tapi sedetik kemudian istrinya itu tersenyum. 


"Ada apa? Siapa yang mengirim pesan pada jam segini?" tanya Arsenio dengan tatapan penuh curiga.


Laura gugup dan segera mematikan ponselnya. Kemudian dia memasukkan ponsel tersebut ke dalam tasnya seraya berkata,


"Tidak, bukan siapa-siapa. Mereka menyuruhku agar segera berada di sana."


Arsenio merasa ada yang disembunyikan oleh istrinya. Seketika dia teringat akan perkataan Rendi tadi. Tapi dia segera menepisnya dan berkata dalam hatinya,


Tidak. Itu tidak mungkin. Laura sudah membuktikannya dengan bersamaku sedari tadi. Dia juga tidak menghubungi atau mengirim pesan pada siapa pun. Sebaiknya aku percaya padanya. Dan aku akan menunggunya untuk mencari kebenarannya.

__ADS_1


Kini mereka sudah sampai di taman resort tersebut. Lagi-lagi Anto dikagetkan dengan kehadiran Arsenio yang datang bersama dengan Laura.


"Loh, kenapa anda ada di sini? Apa anda menyusul istri anda ke sini karena syuting kali ini tidak ada di jadwalnya?" tanya Anto yang menyambut kedatangan Laura bersama dengan suaminya.


Arsenio tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Anto untuk berjabat tangan padanya. Kemudian dia berkata,


"Kebetulan sekali saya bersama dengan tim saya makan di ruang sebelah kalian. Jadi secara tidak sengaja kami bertemu."


Anto terkekeh mendengar jawaban dari Arsenio. Setelah itu dia berkata,


"Pantas saja Laura sering keluar masuk ruangan dengan alasan ke toilet, ternyata karena ingin bertemu dengan anda."


Seketika Arsenio menoleh pada istrinya dengan tatapan penuh curiga karena dia kembali teringat pada perkataan Rendi.


"Baiklah. Siap-siaplah terlebih dahulu," tutur Anto seraya pergi meninggalkan pasangan suami istri tersebut.


"Bolehkah aku bertanya?" tanya Arsenio dengan menatap curiga pada istrinya.


Laura kembali gugup melihat tatapan mata suaminya yang terlihat seperti meragukannya. Kemudian dia berkata,


"Tentu saja boleh. Ada apa?"


"Apa kamu mengenal rekan dari tim lain yang satu ruang makan denganku tadi?"


Dahi Laura mengernyit seolah dia tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya seraya berkata,


"Tidak. Kenapa? Memangnya ada tim lain di ruangan kamu tadi?" 


Akting Laura benar-benar sempurna. Bahkan keahlian aktingnya meningkat karena misi yang dijalankannya.


Arsenio menghela nafasnya yang terlihat seperti frustasi. Dia tidak bisa memikirkan semuanya terus menerus. Akhirnya dia bertanya pada istrinya tentang apa yang dikatakan oleh Rendi padanya.


"Tadi Rendi melihatmu bersama dengan laki-laki di sekitar toilet dan kalian…,"


"Oh… laki-laki itu. Dia bertanya padaku karena sepertinya dia mengenalku dan tidak mengetahui persis siapa aku," sahut Laura dengan cepatnya agar suaminya tidak mengatakan hal lainnya.


"Benarkah?" tanya Arsenio kembali.


Laura menganggukkan kepalanya dengan yakin sehingga Arsenio tidak bisa meragukannya.


Arsenio menatap lekat manik mata istrinya dan berkata dalam hatinya,


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sepertinya aku yang merasa bodoh sekarang ini?


"Aku bersiap-siap dulu. Kamu bisa kembali ke dalam kamar atau menungguku di sana," ujar Laura sambil menunjuk kursi taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


Setelah mengatakan itu, Laura segera berjalan cepat menuju Deborah yang sudah menunggunya untuk meriasnya.


Namun, pada saat Deborah merapikan rambutnya, Laura kembali melihat panel yang selalu memberikan misi padanya. Dalam hatinya berkata,

__ADS_1


Apa itu misi keenam untukku?


 


__ADS_2