System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 38 : Mobil bergoyang


__ADS_3

Malam itu sangat indah bagi sepasang suami istri yang telah menghabiskan malam mereka di tempat yang indah.


Laura benar-benar dengan ucapannya. Dia mengajak Arsenio untuk menghabiskan malam mereka di dalam mobil.


Seperti saran dari Laura, aktivitas malam mereka itu dilakukan di dalam mobil. Malam yang benar-benar sepi dan hanya ditemani oleh deburan ombak serta semilirnya angin malam di pantai itu membuat kesan tersendiri bagi aktivitas panas mereka kali ini.


Semangat mereka berdua terpacu karena suasana malam itu, hingga mobil mereka bergoyang-goyang mengikuti gerakan mereka yang sedang beraktivitas di dalam mobil.


Mereka saling tersenyum puas dengan apa yang mereka lakukan. Dan mereka pun tertidur di dalam mobil itu untuk mengistirahatkan tubuh mereka, menyambut pagi yang indah.


Sinar matahari yang terbit mulai mengusik tidur mereka. Bahkan sinar matahari tersebut seolah menusuk mata mereka untuk membangunkan sepasang suami istri itu dari tidur nyenyaknya.


Mata mereka mengerjap-ngerjap dan mulai terbuka. Tangan mereka menghalau sinar matahari yang menerobos masuk pada jendela kaca mobil mereka.


"Sudah pagi Mas. Matahari sudah terbit," ucap Laura sambil mengusap-usap matanya.


Arsenio menoleh ke arah Laura. Dia tersenyum dan mengusap pipi istrinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Terima kasih Sayang atas malam yang tidak akan pernah terlupakan ini," ujar Arsenio dengan menatap lembut manik mata istrinya.


Laura pun membalas senyuman suaminya. Dia tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan suaminya.


"Sebaiknya kita jalan-jalan di pantai saja. Mumpung masih pagi," ajak Arsenio pada istrinya.


Laura pun beranjak dari tidurnya seraya berkata,


"Ayo Mas, kita melihat keindahan tempat ini."


Arsenio pun beranjak dari tidurnya dan keluar dari mobil tersebut menyusul istrinya yang sudah terlebih dahulu keluar dari mobil itu.


Laura terkejut ketika Arsenio menggandeng tangannya. Mereka berdua berjalan menyusuri tepi pantai. Sungguh suasana yang sangat indah dan romantis bagi mereka berdua. Saat-saat itu akan menjadi kenangan indah bagi mereka kelak.


Tiba-tiba saja secara bersamaan terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel mereka.


Mereka berdua saling menoleh dan tersenyum geli mendapati ponsel mereka yang secara bersamaan berbunyi.


Segera mereka ambil ponsel dari saku mereka masing-masing dan membaca pesan tersebut.

__ADS_1


Mata Laura berbinar ketika melihat nominal uang yang didapatkannya dari hasil menjalankan misinya.


Dua puluh juta rupiah. Sepadan dengan rasa sakit hati yang ku rasakan. Sudah ku duga jika misi yang diberikan tidak semudah itu, Laura berkata dalam hatinya sambil tersenyum memandang layar ponselnya.


Berbeda dengan Laura, Arsenio menatap tidak percaya pada layar ponselnya. Bahkan dia tidak bisa berkata apa-apa saat Laura menanyakan sesuatu padanya.


"Ada apa Mas? Kenapa kamu jadi diam seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Laura dengan tatapan menyelidik pada suaminya.


Arsenio masih saja terperangah. Lidahnya keluh. Dia tidak bisa berkata-kata saat ini. Matanya masih saja menatap layar ponselnya.


"Mas… Mas Arsen kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Laura kembali sambil menggoyang-goyangkan lengan suaminya.


Seketika Arsenio tersadar. Dia memasukkan ponselnya kembali dalam sakunya seraya tersenyum kaku dan berkata,


"Tidak. Tidak ada apa-apa."


Laura menyadari tingkah aneh suaminya yang tidak seperti biasanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya saat ini, karena terlihat dengan jelas jika Arsenio sedang menyembunyikan sesuatu.


Dengan gerakan cepatnya Laura mengambil ponsel suaminya dari dalam sakunya. Arsenio terkejut dan mencoba melarang istrinya untuk melihat ponsel miliknya.


Namun, Laura menyeringai menanggapi permintaan suaminya. Dia bisa dengan mudahnya membuka kunci ponsel suaminya dan melihat pesan yang baru saja diterimanya.


"Sayang, aku bisa jelaskan. Aku juga tidak mengira jika–" 


"Jika apa? Apa ini berarti pesan yang kamu terima ini benar-benar untukmu Mas?" tanya Laura dengan berapi-api sambil menunjukkan layar ponsel milik Arsenio yang masih memperlihatkan pesan tersebut.


Arsenio ketakutan melihat istrinya yang terlihat sangat marah padanya. Tapi dia tidak bisa mengelak lagi, dia hanya bisa mengakuinya dan meminta maaf pada istrinya.


Dengan ragu-ragu Arsenio menganggukkan kepalanya. Secepat kilat dia meraih kedua tangan istrinya dan meminta maaf padanya.


"Maafkan aku Sayang. Aku akan menjelaskan semuanya. Jangan marah. Ini hanya salah paham saja," ucap Arsenio dengan tatapan mengiba pada Laura dan memegang erat kedua tangannya.


Laura menghempaskan kedua tangan Arsenio yang sedang memegangnya. Sayangnya Arsenio memegangnya dengan erat, sehingga Laura kesusahan untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya.


Namun, dengan sekuat tenaganya Laura berhasil menghempaskan tangan Arsenio dan berkata,


"Salah paham katamu Mas? Jika memang kamu benar mengakuinya, tidak mungkin ini semua hanya salah paham!" 

__ADS_1


Kini air mata Laura menetes dengan sendirinya. Dia tidak bisa lagi menahan amarah dan air matanya. Bahkan dadanya merasa sangat sesak menerima kenyataan yang baru saja diketahuinya.


Laura mengusap kasar air mata yang dengan kurang ajarnya keluar tanpa persetujuannya. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan suaminya saat ini. Dia ingin menjadi Laura yang tegar dan kuat di hadapan suaminya.


"Katakan! Alasan apa yang akan kamu jelaskan padaku! Katakan!" seru Laura dengan menatap suaminya penuh dengan amarah.


Arsenio menghela nafasnya. Dia tahu jika tidak bisa lagi menghindar. Tangannya menarik tangan Laura untuk diajak duduk di bawah pohon kelapa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Laura memberontak ingin melepaskan tangannya dari suaminya, sayangnya itu tidak berhasil. Dia tidak bisa melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya.


Kini mereka berdua duduk di bawah pohon kelapa. Mereka saling menatap lurus ke depan, ke arah pantai yang ombaknya sedang bergulung dengan indahnya.


"Aku meminjam uang dari bank itu untuk mengembalikan uang yang aku pinjam dari tabungan calon anak kita waktu itu," ucap Arsenio sambil menatap istrinya.


Masih menghadap ke arah depan, seolah sedang menikmati keindahan pantai yang tersuguh di hadapannya, Laura berkata,


"Apa itu untuk membeli barang terkutuk yang bernama PS5?" 


Arsenio menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Iya, benar. Tapi barang itu sudah kamu hancurkan."


Laura tersenyum getir menertawakan kebodohannya. Dan dia pun berkata,


"Bahkan aku membelikan kembali benda terkutuk itu kemarin sebagai kado ulang tahunmu meskipun benda itu mengingatkanku pada kematian ibuku."


Arsenio terhenyak, dia teringat akan kebodohannya saat itu. Kebodohan yang membuat Laura marah padanya karena kematian ibunya.


"Maaf Sayang, aku sungguh-sungguh tidak tau waktu itu jika ibu–"


"Sudahlah. Aku tidak mau membicarakan itu lagi. Membahas hal itu membuat hatiku bertambah sakit dan membuatku merasa semakin bersalah pada ibu," sahut Laura dengan sinis tanpa menoleh ke arah suaminya.


Arsenio menghela nafasnya. Dia sadar jika semua itu kesalahannya. Bahkan dia menyadari kebodohannya saat itu.


"Maaf."


Hanya kata maaf yang bisa diucapkan Arsenio pada Laura.

__ADS_1


Laura menyeringai mendengar kata maaf yang bisa diucapkan oleh Arsenio dengan mudahnya. Bahkan dia saja sangat sulit menyampaikan kata maafnya pada ibunya yang sudah tiada ketika dia sampai di rumah sakit pada saat itu.


"Lalu, kenapa jumlahnya begitu besar? Kamu apakan uang sebanyak itu?" tanya Laura dengan tegas dan menatap suaminya dengan tatapan mengintimidasi.


__ADS_2