System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 25 : Menjadi pengganti


__ADS_3

Suara dari dalam toilet itu membuat Laura ingin mencari tahu lebih banyak lagi tentang wanita tersebut.


Seruan kemarahannya itu mengundang rasa ingin tahu Laura. Dia ingin tahu tentang jati diri wanita itu dan hubungan wanita tersebut dengan suaminya.


Namun, hanya itu saja yang didengarnya. Kini wanita tersebut berjalan keluar dari toilet. Beruntungnya Laura yang dengan sigapnya segera berjalan meninggalkan depan toilet tersebut, sehingga wanita itu tidak mengetahui kehadiran Laura yang sempat mendengar seruan kebenciannya pada Arsenio.


Kini Laura sudah duduk di depan suaminya. Sekarang dia lebih waspada dan tidak mau larut dalam perasaannya. Dia akan mencari tahu tentang wanita tersebut dan hubungannya bersama dengan suaminya melalui caranya sendiri.


"Selamat malam Arsenio, apa bisa aku bergabung di sini bersama dengan kalian?" tanya wanita tadi yang tiba-tiba kehadirannya mengagetkan Laura dan Arsenio.


Sontak saja Arsenio terkejut melihat wanita yang tadi bersamanya, kini datang kembali menemuinya.


Arsenio melihat ke arah istrinya yang sedang memperhatikan wanita tersebut. Kemudian dia berkata,


"Sayang kenalkan, dia Kessy, temanku."


Laura tersenyum dan mengulurkan tangannya pada wanita tersebut serta menyebutkan namanya,


"Laura."


Wanita tersebut menjabat tangan Laura seraya berkata,


"Kessy, mantan pacar Arsenio."


Deg!


Dari sinilah Laura mengetahui faktanya. Kessy, wanita tersebut adalah mantan pacar Arsenio.


Pantas saja dia bersikap seperti itu, ternyata mereka pernah berpacaran. Tapi, apa mereka masih berhubungan selama ini? Lalu, apa tadi yang mereka bicarakan di meja ini? Aku ingin mengetahuinya. Aku harus mencari tau, Laura berkata dalam hatinya.


Seketika raut wajah Arsenio berubah menjadi gugup. Dia menatap tajam pada Kessy yang dengan lancangnya mengatakan hubungan mereka di hadapan Laura.


"Itu kan dulu. Kenapa kamu ungkit-ungkit lagi? Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa, jadi kamu tidak perlu mengatakan hal itu pada orang lain," tutur Arsenio pada Kessy dengan menatap tajam padanya.


Laura tidak berkomentar apa pun. Dia hanya memperhatikan percakapan antara suaminya dan wanita yang mengaku sebagai mantan pacarnya.


Kessy tersenyum genit pada Arsenio dan mengusap punggungnya seraya berkata,

__ADS_1


"Meskipun ada yang baru, aku yakin tidak akan ada yang bisa menggantikan posisiku dalam hatimu."


"Maaf Kessy. Lebih baik kamu cari meja yang lain saja. Kami sedang menikmati makan malam bersama. Dan aku harap kamu tidak lagi mengganggu kebersamaan kami," tutur Arsenio dengan tegas pada Kessy dan menghempaskan tangan Kessy dari punggungnya.


Kessy terlihat marah mendengar penuturan dari Arsenio. Dia ingin berada di antara Arsenio dan Laura untuk mengganggu mereka. Memang tidak dipungkiri jika sudah jauh-jauh hari Kessy sering menghubungi Arsenio untuk mengajaknya bertemu. Dia ingin bersama dengan Arsenio lagi.


Melihat senyuman Laura padanya, Kessy bertambah kesal. Senyuman Laura itu seolah mengejek baginya.


Kessy meninggalkan mereka berdua dengan amarah yang tersimpan dalam hatinya.


Aku adalah seorang Kessy yang tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang aku inginkan. Lihat saja nanti, Kessy berkata dalam hatinya sambil berjalan dengan amarahnya yang masih bisa ditahannya.


Laura menatap suaminya yang terlihat begitu tegang. Bahkan senyumnya terlihat palsu di mata Laura. Suasana yang tadinya begitu romantis, kini menjadi sedikit canggung. 


"Sayang, maaf jika dia mengganggu suasana makan malam kita. Aku tidak tau jika dia ada di sini," ucap Arsenio sambil menatap intens Laura dengan tatapan penuh permintaan maaf dan memegang tangan Laura yang ada di atas meja.


Entahlah Mas, aku masih belum tau apa yang terjadi, sehingga aku tidak tau bisa memaafkan kamu atau tidak, Laura berkata dalam hatinya sambil tersenyum getir pada suaminya.


Arsenio merasa jika istrinya bersikap berbeda setelah kedatangan Kessy. Dia memutar akalnya agar istrinya itu tidak curiga padanya.


Seketika Laura teringat akan misinya yang bertempat di puncak. Kemudian dia berkata,


"Apa boleh?" 


Sontak saja Arsenio tersenyum senang melihat istrinya antusias dengan ajakannya.


"Tentu saja boleh Sayang," jawab Arsenio sambil mengusap-usap tangan istrinya.


Mata Laura berbinar karena mengingat tempat yang sama dengan misinya akan mempermudah untuk mengerjakannya.


"Tapi Mas–"


"Jika mereka tidak mengizinkan kamu, keluar saja dari tim itu dan mintalah tim lainnya. Jika tidak bisa, resign saja. Akan lebih baik jika kamu tidak terlalu lelah agar kita bisa cepat memiliki keturunan," sahut Arsenio yang mengira Laura menanyakan tentang pekerjaannya.


Laura tersenyum mendengar keputusan suaminya. Dalam hatinya dia berkata,


Padahal aku tadi hanya akan meminta ijin untuk berjalan-jalan agar aku bisa menjalankan misiku. Tapi… jika keputusanmu seperti itu, aku akan mengatakan padanya jika mulai besok aku resign dari pekerjaanku.

__ADS_1


Arsenio merasa jika istrinya sudah memaafkannya. Dia tidak perlu lagi menjelaskan hubungannya dengan Kessy pada istrinya.


Malam itu Arsenio mengajak Laura ke semua tempat yang menjadi kenangan mereka. Tidak diragukan lagi jika kenangan itu kembali membuat mereka serasa mengulang kembali masa-masa indah mereka.


Larut dalam kenangan indah itu, Laura dan Arsenio melakukan kembali semua kegiatan mereka seperti waktu itu.


Rasa itu kembali hadir sehingga mereka lupa akan segalanya. 


...----------------...


Keesokan harinya Laura mendapatkan kabar dari Deborah. Dia ingin Laura menggantikannya untuk menjadi MUA pada syuting yang dilakukan di puncak.


Deborah mendadak mengatakannya pada Laura karena dia baru mengetahui berita tentang resign nya Laura dari acara yang dipandunya. Dan Deborah yakin jika Laura bisa melakukannya, karena dialah yang mengajari Laura merias wajahnya setiap kali mereka mempunyai waktu senggang.


Tanpa berpikir panjang, Laura pun menyetujui permintaan Deborah. Dia mendapatkan alamat lokasi tempat syuting tersebut dari Deborah.


Pagi itu Arsenio sengaja mengajak Laura berangkat bersamanya menuju lokasi yang akan mereka datangi tanpa mampir terlebih dahulu ke kantornya.


Dia mengatakan pada timnya akan bertemu mereka di lokasi syuting yang telah ditentukan.


Arsenio tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengajak istrinya untuk menikmati indahnya alam yang terdapat di daerah tersebut.


Laura menyetujuinya, karena dia mendapatkan pesan dari Deborah mengenai waktu kedatangan Laura untuk menjadi MUA di lokasi yang sudah diberitahukannya itu masih beberapa jam lagi.


Selang beberapa saat, tim Arsenio datang. Laura meminta ijin pada suaminya untuk mengambil sesuatu di mobil. Tapi itu hanya alasannya saja, sebenarnya Laura ingin mencari tahu lokasi yang diberikan oleh Deborah padanya. 


Laura menghela nafasnya dengan lesu ketika mengetahui jika lokasi syuting yang dimaksudkan oleh Deborah adalah lokasi syuting tempat Arsenio syuting kali ini. Dan hal yang membuatnya kembali lesu adalah artis yang akan di make up nya adalah Rena, perempuan yang selalu menempel pada Arsenio.


"Huuufffttt… apa yang akan aku lakukan sekarang? Pantas saja aku berpikir jika misi kali ini terlalu mudah, ternyata tidak ada misi yang semudah itu," gumam Laura dengan helaan nafasnya yang sangat berat.


Tiba-tiba saja tepat di hadapannya terlihat benda yang selalu memberikannya misi. 


Mata Laura terbelalak melihat tulisan yang tertera di sana.


"Apa? Bagaimana bisa aku melakukannya dengan mudah tanpa persiapan?"


 

__ADS_1


__ADS_2