System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 81 : Karma


__ADS_3

Pak Arsenio mohon untuk segera ke rumah sakit sekarang juga, perintah seseorang dari telepon.


"Ada apa dengan ibu saya?" tanya Arsenio dengan paniknya.


Ibu anda sedang kritis sekarang. Kami harapkan anda secepatnya datang kemari, tutur seseorang dari seberang sana.


"Kritis? Apa Ibu saya sudah dioperasi?" tanya Arsenio yang bertambah cemas sekarang.


Sebaiknya anda cepat datang kemari. Dokter akan menjelaskannya sendiri pada anda, jawab orang tersebut dengan sedikit terburu-buru.


Panggilan telepon itu pun berakhir. Pihak rumah sakit telah memberitahukan pada Arsenio tentang keadaan ibunya saat ini.


"Kessy, tolong antarkan aku ke rumah sakit yang merawat ibuku sekarang juga. Cepat!" perintah Arsenio dengan tegasnya.


"Di mana? Aku belum tau tempatnya," sahut Kessy yang tidak terima dibentak oleh Arsenio.


"Minggir! Aku yang akan menyetir," tukas Arsenio sambil membuka pintu mobilnya.


Kessy pun segera keluar dari mobilnya. Dia tidak mau membuat Arsenio bertambah marah padanya.


Setelah mereka bertukar tempat duduk, Arsenio segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun untuk segera datang ke rumah sakit menemui ibunya.


Tiba di rumah sakit yang merawat ibunya, Arsenio segera turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah sakit tersebut meninggalkan Kessy yang masih duduk di dalam mobilnya. Bahkan mobil tersebut diparkiran dengan seenaknya oleh Arsenio.


Kessy menghela nafasnya ketika Arsenio seenaknya saja meninggalkannya. Bahkan petugas parkir telah menghampirinya dan memperingatkannya agar memarkir mobilnya dengan benar.


"Dok, bagaimana dengan keadaan ibu saya?" tanya Arsenio pada dokter yang baru saja keluar dari kamar inap ibunya.


Dokter tersebut menghela nafasnya. Kemudian dia berkata,


"Maaf Pak, kami sudah berusaha semampu mungkin. Sayangnya yang di atas berkehendak lain. Waktu kematiannya juga baru saja dibacakan. Kami turut berduka cita atas meninggalnya ibu anda."


Dokter tersebut sedikit menundukkan kepalanya untuk berpamitan dan meninggalkan tempat tersebut.


Badan Arsenio terasa lemas. Bahkan kakinya seperti tidak bertulang. Dia tidak bisa bergerak, hanya air matanya saja yang menetes di pipinya.

__ADS_1


"Ibu… Maafkan aku Bu… Maafkan anakmu ini yang tidak bisa menolong Ibu…," ucap Arsenio dengan deraian air matanya.


"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Kessy yang baru saja datang menghampiri Arsenio.


"Ibu… ibu meninggal," jawab Arsenio di sela isakan tangisnya.


"A-apa? Bagaimana bisa? Apa yang mereka lakukan sehingga ibu kamu meninggal?" tanya Kessy seolah menyalahkan pihak rumah sakit.


Beberapa perawat keluar dari kamar tersebut dengan membawa badan ibu Arsenio yang sudah tidak bernyawa.


Arsenio segera mengusap air matanya dan mendekati tubuh ibunya yang terkulai lemah tidak bernyawa di atas brankar pasien.


"Ibu… Bangun Bu… Maafkan aku Bu… Maaf…," ucap Arsenio dengan air matanya yang kembali menetes.


"Maaf Pak, kami pindahkan dulu pasien ke kamar jenazah. Silahkan Bapak ikut kami ke sana," tutur salah satu perawat yang mendorong brankar tersebut.


Arsenio pun mengikuti jenazah ibunya yang dipindahkan ke kamar jenazah. Dia berada di sebelah brankar menemani ibunya meskipun sudah tidak bernyawa lagi. 


Menyesal. Arsenio sangat menyesal karena terlambat mengurus administrasi perawatan ibunya dan mengurus operasi ibunya, sehingga dia berpisah dengan ibunya begitu cepat.


Dia duduk melamun seolah mengacuhkan Kessy yang sedari tadi menemani di sampingnya. Kessy mencoba menenangkan Arsenio, tapi tidak ada respon darinya. Arsenio benar-benar mengacuhkannya.


Arsenio mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Dalam hatinya berkata,


Mungkin ini yang dirasakan oleh Laura. Dia merasa hancur saat itu dan aku sama sekali tidak ada di sampingnya. Pantas saja saat itu dia sangat marah padaku dan membanting PS5 ku saat itu. Aku memang bodoh. Sepertinya sekarang aku mendapatkan karma itu. Bodoh… Bodoh… Bodoh….


"Sayang… sudahlah. Orang mati tidak bisa hidup lagi. Meskipun kamu menangis sampai besok pun, ibumu tidak akan hidup lagi. Lebih baik kamu pulang dan beristirahatlah. Besok pemakamannya bukan? Aku akan mendampingi mu besok di pemakaman. Jangan khawatir," ujar Kessy dengan entengnya tanpa merasakan kepedihan orang lain.


"Kamu pulanglah. Aku akan di sini hingga semuanya sudah selesai disiapkan," tukas Arsenio yang berniat untuk mengusir Kessy.


"Tapi Sayang, aku ingin menemanimu di sini," sahut Kessy yang tidak terima karena merasa diusir oleh Arsenio.


Arsenio menatap Kessy dengan tatapan tajamnya seraya berkata,


"Aku ingin sendiri. Aku ingin menenangkan diriku. Sudahlah. Lebih baik kamu pergi saja dari sini sekarang juga."

__ADS_1


Merasa diusir dengan sangat kasar oleh Arsenio, Kessy merasa marah. Dia meninggalkan Arsenio begitu saja tanpa mengatakan apa pun.


Sepeninggalan Kessy dari tempat itu, Arsenio kembali menyesali dirinya sendiri. Dia menyadari jika kehidupannya saat ini menjadi berubah karena kesalahannya dan kebodohannya sendiri. 


Bahkan apa yang menimpa istri dan bayi yang dalam kandungannya pun tidak bisa dilahirkan karenanya. Hanya ada kata menyesal saja dalam dirinya saat ini. Tidak ada yang bisa mengembalikan keadaan seperti semula.


Apa pun yang dikatakannya sebagai wujud pembelaan dirinya tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Dia merasa cobaan hidupnya kali ini sangat berat baginya. Semua datang dalam waktu yang bersamaan.


"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menebus semuanya?" tanya Arsenio disertai helaan nafasnya.


Selang beberapa saat ketika dia melamun, tiba-tiba saja dia teringat akan istrinya.


"Aku akan memberitahu Laura tentang kematian Ibu. Dia menantunya, dia berhak tau atas meninggalnya ibu mertuanya," ujar Arsenio seraya mengambil ponselnya dari saku celananya.


Segera dia menghubungi nomor ponsel Laura. Sayangnya berkali-kali dia menghubungi nomor istrinya itu tidak ada satu pun yang diterimanya. Semua panggilan telepon tersebut hanya menjadi panggilan tidak terjawab.


"Ke mana dia? Kenapa dia tidak mengangkatnya? Apa karena dia masih marah padaku? Lebih baik aku coba mengirim pesan padanya. Siapa tau dengan dia tau berita ini melalui pesan yang aku kirim, dia akan menghubungiku atau mungkin dia akan mau menerima teleponku," ucap Arsenio sambil menulis pesan untuk istrinya.


Beberapa saat setelah dia mengirim pesan, tidak ada satu pun pesan balasan yang diterimanya. Bahkan pesan tersebut tidak dibaca oleh Laura.


Arsenio kembali menghubungi nomor ponsel istrinya, sayangnya tidak ada jawaban darinya.


"Kenapa dia tidak menjawabnya?" gerutu Arsenio dengan kesalnya.


Matanya tertuju pada jam yang melingkar di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,


"Apa Laura sedang beristirahat sekarang?"


Tiba-tiba saja bayangan Ryan yang selalu berada di sisi Laura, kembali menghampirinya. Bahkan dia membayangkan di saat keterpurukan Laura itu, Ryan mengambil kesempatan untuk mendekatinya. Apa lagi kamar inap Laura di rumah sakit tersebut sangat luas dan mewah karena berada di kawasan VVIP.


Tidak ingin menduga-duga, Arsenio kembali menghubungi nomor ponsel istrinya. Dan lagi-lagi panggilan telepon tersebut hanya menjadi panggilan tidak terjawab. Dengan penuh kekesalan Arsenio berkata,


 


"Sialan! Apa yang sekarang mereka lakukan sekarang!" 

__ADS_1


__ADS_2