
"Ehemmm… Maaf Pak, ada telepon yang sangat penting dari Bapak Arsenio mengenai rencana iklan yang Bapak berikan padanya," ucap asisten Alberto yang berhasil mengagetkan Alberto ketika berbisik di telinga Tiara.
Alberto menatap asistennya itu dengan tatapan marah. Dan asisten tersebut meminta maaf seraya memberikan ponsel yang dibawanya pada Alberto.
Laura yang menyamar sebagai Tiara kaget ketika nama Arsenio disebut oleh asisten Alberto. Dia kembali memutar otaknya agar rencananya segera berhasil dan segera meninggalkan tempat itu.
Terlalu bahaya jika aku terlalu lama berada di sini, Laura berkata dalam hatinya.
Alberto berdiri dari duduknya dan sedikit menjauh dari Laura untuk menjawab telepon tersebut.
Selang beberapa menit, Alberto kembali duduk di kursinya dan tersenyum kembali pada Tiara.
"Maaf, apa yang menelepon anda itu tadi Bapak Arsenio dari Bright Star grup?" tanya Tiara yang mencoba berhati-hati menjalankan rencananya.
Alberto menatap heran pada Tiara. Dia mengernyitkan dahinya seraya berkata,
"Kamu kenal? Apa kamu juga dekat dengannya?"
Seketika Tiara menggelengkan kepalanya sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan seraya berkata,
"Tidak. Bukan begitu. Saya pernah mendengar namanya dari saudara sepupu saya. Kata saudara sepupu saya, kinerja Bapak Arsenio sangat bagus. Saya yakin anda tidak akan kecewa jika menjadikannya sebagai orang kepercayaan anda."
Alberto menatap mata Tiara seolah tidak percaya padanya. Laura pun tidak menyerah. Dengan identitasnya yang menjadi Tiara sekarang ini, dia mencoba meyakinkan Alberto agar percaya pada semua perkataannya.
Tiara memajukan badannya sehingga lebih mendekat pada Alberto. Tangannya bergerak mengusap dada Alberto dan menatap matanya dengan intens serta berkata dengan nada yang sangat menggoda.
"Anda percaya pada saya bukan?"
Tatapan mata Alberto terkunci pada bibir Tiara yang sangat menggodanya. Seperti terhipnotis, Alberto menganggukkan kepalanya dan bergerak mendekati wajah Tiara seolah ingin mencicipi manisnya bibir menggoda milik Tiara.
Namun, Tiara bergerak memundurkan badannya sehingga Alberto tidak dapat melakukan keinginannya.
"Malu, dilihat orang," ucap Tiara yang bersikap malu-malu pada Alberto.
Alberto tersenyum dan mencubit gemas hidung Tiara. Kemudian dia berkata,
"Kita main-main di dalam kamar resort ini saja. Bagaimana?"
__ADS_1
Jantung Tiara berdegup sangat kencang. Dia takut jika Alberto benar-benar mempunyai cara untuk menahannya agar tidak bisa lepas darinya.
Namun, Tiara merupakan seorang presenter yang handal berakting, dia berusaha keras untuk tetap bisa menguasai keadaan.
Tiara tidak menjawab. Dia tersenyum malu untuk memberi kesan yang berbeda pada Alberto.
"Bagaimana dengan Pak Arsenio tadi? Apa Bapak akan melepaskan begitu saja orang yang berbakat? Jika saya yang mempunyai kesempatan bekerja sama dengan Pak Arsenio, pasti saya tanpa pikir panjang lagi akan bekerja sama dengannya. Bahkan saya akan menjadikannya orang kepercayaan saya, seperti yang dilakukan oleh saudara sepupu saya waktu itu," tutur Tiara dengan sangat meyakinkan agar Alberto percaya padanya.
Alberto terlihat sedang berpikir. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Tiara. Beberapa detik setelah itu, Alberto berkata,
"Apa kamu yakin? Apa saya bisa percaya padamu?"
Tiara tersenyum manis dan menggoda pada Alberto. Tangannya kembali bergerak mengusap dada Alberto dan berkata,
"Seratus persen yakin."
Alberto menatap intens manik mata Tiara. Kemudian dia berkata,
"Baiklah. Aku percaya padamu. Sepertinya kamu sangat berpengalaman dalam hal ini."
Laura tersenyum lega mendengar perkataan Alberto. Dalam hati dia bersorak kegirangan merayakan keberhasilannya.
"Kita jadi menghabiskan malam bersama bukan?"
Laura tersenyum manis, tapi dalam hatinya dia memberontak dan pikirannya masih berusaha memikirkan cara untuk lepas dari Alberto malam ini.
"Mmm… Aku rasa anda masih belum percaya pada saya," ucap Tiara yang terlihat meragukan Alberto.
Dahi Alberto mengkerut, menandakan bahwa dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Tiara. Kemudian dia berkata,
"Apa maksudmu?"
"Jika anda percaya pada saya, pasti anda sekarang ini menghubungi Pak Arsenio dan mengatakan padanya akan menjadikannya sebagai orang kepercayaan anda," ujar Tiara sambil menyeringai seolah meremehkan Alberto.
Alberto terkekeh mendengar perkataan wanita cantik yang ada di hadapannya saat ini. Dia mengambil ponsel yang diletakkannya di meja dan menghubungi nomor yang tertera di layar ponselnya.
"Halo, Pak Arsenio. Saya percayakan proyek ini pada anda. Jangan kecewakan saya karena mulai sekarang anda sudah menjadi orang kepercayaan saya."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Alberto menyudahi panggilan teleponnya. Dia menatap Laura seolah bertanya dengan matanya.
Laura tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya di depan Alberto.
Alberto terkekeh melihat tingkah Tiara yang sangat menggemaskan baginya. Terlihat jelas Alberto sangat tertarik pada Tiara. Semua yang ada pada diri Tiara tidak dimiliki oleh istri Alberto.
Dia merasa jika kini hidupnya akan terasa berbeda dengan kehadiran Tiara dalam hari-harinya.
Tiara sangat senang karena merasa misi kali ini bisa dikerjakannya. Tapi dia belum bisa bernafas dengan lega karena dia harus memikirkan cara bagaimana agar dia bisa terlepas dari Alberto malam ini.
"Sepertinya aku harus ke toilet sebentar," tukas Tiara sambil beranjak dari duduknya.
"Jangan lama-lama. Cepatlah kembali. Aku menunggumu di sini," ujar Alberto menghentikan langkah Laura.
Tiara tersenyum dan mengedipkan matanya sebelum pergi meninggalkan Alberto yang masih duduk di sana menunggunya.
Laura yang masih menyamar sebagai Tiara itu segera berjalan menuju tempatnya untuk menyembunyikan tas perlengkapannya.
Dia mengambil ponsel dengan nomor lain yang sudah dipersiapkannya untuk penyamarannya kali ini.
Segera dimatikannya ponsel dengan nomor aslinya yang sudah dialihkan panggilannya ke nomor barunya. Setelah itu dia memasukkan ponsel asli miliknya ke dalam tasnya.
"Semoga semuanya akan berhasil tanpa ada kecurigaan dari siapa pun. Ayo Laura, kamu harus bisa mencari akal pada saat kalian berada dalam satu kamar nanti," gumam Laura menyemangati dirinya sendiri.
Laura menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Setelah itu dia kembali menemui Alberto agar pria itu tidak curiga padanya.
Alberto menyambut kedatangan Tiara yang tersenyum manis padanya. Dia pun berdiri dan membalas senyuman Tiara padanya.
Tangannya terulur menyambut kedatangan Tiara. Karena Tiara tidak ingin Alberto curiga padanya, dia menyambut uluran tangannya.
Ternyata Alberto mengajaknya pergi dari tempat itu. Kini jantung Tiara berdetak dengan sangat cepat. Dia sangat panik saat ini. Dia takut jika Alberto benar-benar ingin berbuat macam-macam padanya.
Namun, lagi-lagi akting Laura sangat bagus. Kecemasannya tidak bisa dengan mudah diketahui oleh Alberto. Bahkan kepanikan Laura tidak dapat dilihatnya.
"Masuklah," ucap Alberto setelah membuka pintu kamarnya.
Kamar itu begitu mewah dan tentunya sangat luas. Beruntungnya Laura sudah pernah menginap di resort mewah tersebut, sehingga dia terlihat biasa saja saat masuk ke dalam kamar tersebut.
__ADS_1
Alberto menarik tangan Tiara hingga dia terduduk di pangkuannya. Kemudian dia berkata,
"Apa kamu mau mengobrol-ngobrol terlebih dahulu? Atau kita langsung bermain-main?"