System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 86 : Menyadari kebodohan diri sendiri


__ADS_3

Arsenio terperangah mendengar orang-orang tersebut ternyata pihak dari bank tempatnya meminjam uang saat itu. Kini mereka datang untuk menyita rumahnya, tempat tinggalnya yang sudah dihuninya bersama dengan Laura selama kurang dari enam tahun.


"Tidak. Saya akan melunasinya hari ini. Saya sudah ada uang untuk membayarnya, hanya saja kemarin saya sedang kesusahan sehingga saya tidak bisa datang ke bank. Dan sekarang saya akan melunasinya," ujar Arsenio yang tidak berkenan meninggalkan rumahnya untuk disita pihak bank.


"Maaf Pak, rumah ini sudah tidak bisa anda pertahankan lagi karena rumah ini sudah dibeli oleh orang lain," jelas salah satu petugas bank yang datang menemui Arsenio.


Sontak saja mata Arsenio terbelalak mendengar penjelasan dari mereka. Dengan terbata-bata dia berkata,


"Apa? Dibeli? Oleh siapa? Bagaimana bisa mereka menjual tanpa ada saya sebagai pemiliknya?"


Dua orang tersebut yang mengaku dari pihak bank saling menatap. Mereka saling menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian salah satu dari mereka memberikan sebuah map pada Arsenio seraya berkata,


"Ini surat jual belinya. Dan perlu Bapak ketahui jika rumah ini pada saat transaksi tersebut dalam kepemilikan Bank, karena batas waktu yang ditentukan oleh Bank pada Bapak sudah habis."


Dengan tangan yang bergetar Arsenio menerima map tersebut. Dibukanya secara perlahan map yang berisi surat jual beli rumah yang dimilikinya.


Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar ketika melihat nama si pemilik baru rumah tersebut.


"Laura Veronica?" ucap arsenio lirih dengan suara yang tercekat.


"Tidak… Ini tidak mungkin. Kenapa nama Laura yang ada di sini?" ujar Arsenio sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Kami berikan waktu hingga pukul lima sore nanti. Tolong segera tinggalkan rumah ini beserta isinya, karena semuanya sudah berpindah tangan pada pemilik yang baru," perintah salah satu dari pihak bank yang berdiri di hadapan Arsenio.


"Kami permisi dulu Pak. Jam lima sore nanti kami akan kembali," sambung petugas bank yang satunya lagi.


Arsenio tidak bergeming. Bahkan lidahnya terasa kelu saat ini. Tidak ada kata-kata yang bisa terucap darinya. Hanya butiran air mata yang menetes mengiringi kesedihannya.


Kedua orang dari bank tersebut meninggalkan tempat itu tanpa jawaban dari Arsenio yang masih mematung dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Aku harus menghubungi Laura. Aku akan menanyakan padanya," ucap Arsenio sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya berniat untuk mengambil kunci mobilnya.


Namun, ketika dia masuk ke dalam kamarnya, matanya menangkap ponsel dan dompet milik Laura yang berada di atas tas Laura.


Seketika tubuh Arsenio terasa lemas seperti tidak bertulang saat melihat barang-barang Laura yang menemani tidurnya semalam. Ponsel, dompet dan tas Laura itu membuatnya teringat bahwa dirinya saat ini tidak bisa menghubungi istrinya itu. 


Dengan berbekal keinginannya yang kuat itu, badan Arsenio yang lemas seketika kembali bugar. Bahkan kakinya yang terasa tidak bertulang, seketika terasa ringan saat ini.


Disambarnya kunci mobil miliknya yang berada di atas nakas. Segeralah dia berjalan cepat keluar rumahnya untuk segera menuju rumah sakit tempat Laura dirawat saat ini.


Arsenio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah dia tergesa-gesa dan tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya.


Hanya beberapa saat saja dia sudah sampai di rumah sakit tempat Laura dirawat saat ini. Dia segera berlari menuju ruangan Laura yang sudah pernah didatangi sebelumnya.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu ruangan tersebut, Arsenio membuka pintu itu dan berjalan masuk menghampiri Laura.


Laura terkejut melihat Arsenio yang menerobos masuk ke dalam ruangannya ketika dia sedang menikmati makanannya.


Begitu pula dengan Ryan. Dia menikmati makanannya bersama dengan Laura di tempat yang berbeda. Laura makan di tempat tidurnya dan Ryan makan di sofa yang ada di ruangan tersebut. Dan mereka pun sama-sama terkejut ketika pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka.


"Laura, Sayang apa maksudnya ini semua? Apa kamu yang melunasi semua hutang-hutangku?" tanya Arsenio dengan tatapan penuh rasa bersalah pada istrinya.


Laura menghela nafasnya. Dia sudah menduga jika laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu pasti menemuinya untuk menanyakan tentang rumahnya itu.


Diletakkannya piring yang dibawanya di atas nakas. Kemudian dia menatap Arsenio dengan tatapan tegas dan berkata,


"Aku yang melunasinya. Jadi bisa dikatakan juga aku telah membelinya. Kamu pernah berjanji padaku bukan, tentang rumah itu? Jika aku membantumu untuk melunasinya, rumah itu akan berganti kepemilikan menjadi namaku. Apa kamu masih mengingatnya Mas?" 


Seketika Arsenio mengingat janjinya pada Laura. Dalam hatinya dia merutuki kebodohannya yang selalu terjebak dalam situasi yang dibuatnya sendiri.


Arsenio menatap nanar pada istrinya yang sedang menatapnya dengan tegas. Tubuhnya kembali lemas mendengar kenyataan yang didengarnya.


Laura mengambil sesuatu dari laci nakas yang ada di dekat tempat tidurnya. Dia memberikan map coklat pada Arsenio seraya berkata,


"Tolong tanda tangani berkas-berkas ini agar bisa diproses dengan cepat."

__ADS_1


Arsenio menatap amplop coklat tersebut, kemudian dia berganti menatap Laura seraya berkata,


"Apa ini?"


__ADS_2