System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 66 : Kesibukan Laura


__ADS_3

Di sisi lain, malam itu Arsenio segera melajukan mobilnya menuju rumahnya. Dia ingin segera menemui istrinya.


Bahkan dia tidak mempedulikan Kessy yang memanggil-manggil namanya. Dia takut jika akan terjadi sesuatu apabila masih tetap bersama dengan Kessy.


Mobilnya melaju dengan sangat kencang seolah sedang dikejar oleh seseorang. Nyatanya tidak ada seorang pun yang mengejarnya. Dia hanya ingin cepat-cepat sampai di rumahnya dan bertemu dengan istrinya.


Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai oleh Arsenio masuk ke dalam halaman rumahnya. Rumah itu tampak gelap dan sepi layaknya rumah yang tidak dihuni.


Arsenio turun dari mobilnya dan memandang rumahnya seraya berkata,


"Sepertinya Laura belum pulang."


Dengan langkah beratnya, Arsenio masuk ke dalam rumahnya. Dinyalakannya semua lampu ruangan dan lampu luar rumah mereka.


Dia menghela nafasnya yang terasa berat melihat dalam rumahnya yang terasa sunyi dan sepi. Kini dia merasa kesepian layaknya pria single yang tinggal seorang diri di rumah besar itu.


Masuklah dia ke dalam kamarnya untuk membersihkan badannya. Suasana dalam kamarnya pun terasa sangat berbeda. Ada sesuatu yang dirasanya hilang. Hatinya terasa kosong dan hampa.


Arsenio mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kamarnya. Dia segera menghubungi nomor ponsel istrinya. Kakinya bergerak mondar-mandir seraya sibuk menghubungi istrinya.


Namun, lagi-lagi panggilan teleponnya itu seolah diabaikan oleh Laura. Sambil berjalan mondar-mandir itu dia berkata,


"Laura… di mana kamu? Kenapa sampai semalam ini kamu masih saja belum pulang? Apa jangan-jangan dia masih di hotel tadi?" 


Setelah berkali-kali dia menghubungi nomor ponsel istrinya dan tidak ada jawaban darinya, Arsenio mulai kesal, dia melempar ponselnya di atas ranjangnya.


Tiba-tiba dia teringat akan alat yang sudah dipasangnya pada tas istrinya. Dia kembali mengambil ponselnya untuk melacak keberadaan istrinya saat ini.


Emosinya kembali hadir tatkala melihat titik letak keberadaan istrinya saat ini berada kawasan perumahan elit yang diketahuinya sebagai rumah Ryan.


"Kenapa dia masih di rumah bos sialannya itu hingga selarut ini? Apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan?" 


Pertanyaan-pertanyaan itu dikeluarkan oleh Arsenio dengan emosinya yang menggebu-gebu. Bahkan dia sudah tidak berpikiran realistis lagi untuk saat ini.


Rasa cemburu yang dimilikinya membuatnya berpikiran buruk pada istrinya. Bahkan hatinya kini berkabut dengan emosi.


Arsenio keluar dari kamarnya. Dia menunggu istrinya sambil menonton televisi. Percuma saja, pikirannya sangat tidak tenang saat ini. Bahkan apa yang dibahas di televisi saat ini pun dia tidak mengerti.


Dilihatnya kembali keberadaan istrinya melalui ponselnya. Dia mengeram marah mengetahui bahwa titik lokasi Laura masih berada di tempat yang sama yaitu di rumah Ryan.

__ADS_1


"Sedang apa dia di rumah bosnya sampai selarut ini? Sepertinya aku tidak bisa lagi membiarkan ini terjadi. Aku akan membuatnya keluar dari pekerjaannya dan meninggalkan perusahaan RAZ agar dia tidak bisa lagi bertemu dengan bosnya itu," gerutu Arsenio dengan matanya yang berkabut emosi.


Lama dia menunggu istrinya, hingga dia tertidur di sofa bertemankan televisi yang masih menyajikan tayangan tanpa berhenti.


...----------------...


Di tempat lain, tepatnya di rumah Ryan, Laura masih membantu pekerjaannya. Setelah mengantar Ryan pulang, ternyata bosnya itu tidak mengijinkan Laura pulang. Ryan meminta bantuan Laura agar membantunya untuk mengerjakan beberapa pekerjaannya.


Tentunya dia juga mengajak Laura untuk makan malam bersamanya sebelum mengerjakan semua pekerjaan yang dibawanya pulang ke rumah.


Laura merasakan matanya sangat pedih. Dia segera menutup mulutnya ketika merasa akan menguap. Dan benar saja, dia menguap saat ini.


Merasa sangat lelah, Laura melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Dia menghela nafasnya melihat jam yang menunjukkan angka dua belas lewat dua puluh menit.


"Sudah larut malam sekarang. Apa aku minta ijin pulang saja ya?" ucap Laura lirih sambil melirik ke arah Ryan yang masih fokus pada pekerjaannya.


Ryan merasakan kegelisahan Laura saat ini. Dia melirik jam tangan yang ada di tangan kanannya. Kemudian dia berkata,


"Selesaikan besok saja. Sekarang beristirahatlah."


Bagai mendapatkan angin segar, Laura bernafas lega dan tersenyum mendengar perkataan Ryan padanya.


"Sudah sangat larut sekali Laura, kenapa kamu tidak menginap di sini saja? Banyak kamar tamu di rumah ini," ucap Ryan yang berniat menghentikan Laura meninggalkan rumahnya.


"Maaf Pak, suami saya pasti sedang menunggu saya sekarang. Lebih baik saya pulang sekarang juga," jawab Laura dengan tegasnya.


Ryan tersenyum mendengar perkataan Laura. Dia sangat mengagumi kepribadian Laura yang masih saja setia pada suaminya meskipun sudah berulang kali dikecewakannya.


"Baiklah, tapi kamu tidak akan pulang sendirian. Ada orang-orang saya yang akan mengikuti kamu hingga sampai di rumahmu untuk menjaga keselamatanmu," tutur Ryan yang sedang menatap kagum pada Laura.


Laura menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Ryan seraya berkata,


"Terima kasih Pak. Besok pagi saya akan menjemput Bapak kembali. Saya permisi dulu."


Ryan mempersilahkannya pulang dan memberi perintah pada orang-orangnya untuk mengikuti Laura yang sudah pasti untuk menjaga keselamatannya.


Mobil Laura pun meninggalkan rumah Ryan dengan diikuti satu mobil hitam dengan empat orang berbadan kekar di dalamnya. Mereka bertugas untuk menjaga keselamatan Laura hingga sampai di rumahnya.


Setelah mobil Laura masuk ke dalam halaman rumahnya, Laura segera turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Mobil orang-orang Ryan yang ditugaskan untuk mengikuti Laura segera meninggalkan depan rumah Laura setelah melihat Laura masuk ke dalam rumahnya.


Laura menghela nafasnya melihat suaminya tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.


Dengan segera dia mematikan televisi tersebut dan berlalu masuk ke dalam kamarnya. Entah mengapa dia enggan membangunkan suaminya. Apa lagi tiba-tiba dia teringat akan sikap suaminya dan Kessy saat berhadapan dengannya pada pertemuan di kamar hotel VVIP tadi siang. Rasa kesalnya bertambah saat ini.


"Lelah sekali badanku. Sudah malam, lebih baik aku hanya mencuci mukaku saja. Mandinya besok pagi saja," ucap Laura sambil memijit pundaknya yang terasa kaku.


Setelah melakukan rutinitasnya di kamar mandi, Laura memakai piyama panjangnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


"Nyamanya… rasanya aku sudah lama sekali tidak merasakan kenyamanan ranjang ini," ujar Laura sambil terkekeh.


Perlahan matanya pun terpejam. Ranjang yang empuk dan luas itu digunakannya seorang diri tanpa ada suaminya yang mengganggu tidurnya.


Tanpa terasa waktu pun bergulir. Kini sang surya sudah menyapa dengan cerahnya. Alarm Laura yang secara otomatis berbunyi tiap hari itu membangunkannya.


Laura segera bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Dia sedikit santai pagi ini setelah membaca pesan dari Ryan yang mengatakan jika Laura tidak usah tergesa-gesa untuk menjemputnya.


Keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan tas yang biasanya dipakainya untuk bekerja, Laura mencoba membangunkan suaminya sebelum dia berangkat bekerja.


"Mas… Mas… Bangunlah. Sudah pagi. Aku mau berangkat bekerja dulu," ucap Laura sambil menggoyang-goyangkan tubuh Arsenio.


Perlahan mata Arsenio terbuka. Dia terkejut melihat istrinya yang terlihat sudah berpakaian rapi, memakai make up dan tercium wangi khas parfum yang digunakan oleh Laura.


Arsenio segera duduk dan mengusap-usap matanya seraya berkata,


"Apa kamu baru pulang?"


"Aku pulang semalam dan kamu sudah tertidur lelap di sofa ini," jawab Laura sambil menuang susu UHT dalam gelas.


Arsenio mengikuti istrinya yang berada di ruang makan. Kemudian dia berkata,


"Kenapa tidak membangunkan aku?"


"Tidurmu sangat lelap dan susah dibangunkan. Sudahlah, aku akan pergi bekerja sekarang," jawab Laura setelah meneguk minumannya.


Arsenio menghalangi jalan istrinya dengan berdiri di hadapannya. Dia menatap curiga pada istrinya dan berkata,


"Bukankah sekarang hari sabtu? Kenapa kamu pergi bekerja?" 

__ADS_1


__ADS_2