System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 9 : Jebakan


__ADS_3

Laura mendekati suaminya. Dia mencari tahu siapa yang akan menjebak suaminya. Dipasangnya dengan seksama telinganya agar dia bisa mendengar percakapan suaminya dengan orang-orang di sekitarnya.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka hanya mengobrol biasa saja? Laura berkata dalam hatinya.


Tiba-tiba saja ada dua orang laki-laki yang berada di dekat Laura dan mengambil dua gelas minuman berwarna dalam gelas berkaki.


"Bagaimana? Apa kita bergerak sekarang?" tanya salah satu dari laki-laki tersebut dengan membawa gelas di tangannya.


"Lebih cepat lebih baik," jawab laki-laki satunya tadi setelah meminum minuman yang sedang dibawanya.


Laura memperhatikan dua orang tersebut dan berkata dalam hatinya,


Apa mereka membicarakan tentang Mas Arsen? 


Mata kedua orang laki-laki tersebut masih saja memperhatikan Arsenio. Mereka benar-benar tidak mau jika Arsenio terlepas darinya.


Laura pun mengikuti arah pandang mereka berdua. Dan dia sangat yakin jika kedua orang itu yang akan menjebak suaminya.


Apa yang harus aku lakukan? batin Laura sambil berpura-pura menata gelas yang ada pada troli dorong makanan.


Kedua orang tersebut meletakkan kembali gelas milik mereka di atas troli makanan yang sedang dibereskan oleh Laura.


Salah satu dari laki-laki tersebut mengambil gelas yang masih terisi minuman penuh. Laura hanya melirik saja sambil meneruskan pekerjaannya menata gelas-gelas kosong di troli makanan tersebut.


Tampak laki-laki yang satunya lagi sedang memasukkan sesuatu pada minuman tersebut yang masih dalam keadaan dipegang oleh laki-laki yang mengambil gelas tadi.


Laura yakin jika minuman tersebut telah diberikan sesuatu yang bisa menyebabkan sesuatu. Sayangnya Laura tidak tahu persisnya. Dalam benaknya hanya ada dua kemungkinan, serbuk yang dimasukkan tadi merupakan obat pencahar dan mungkin juga racun yang akan berakibat buruk pada si peminum.


Laki-laki yang memasukkan sesuatu dalam minuman tadi memberikan kode pada laki-laki yang memegang gelas tersebut. Dia menggerakkan dagunya ke arah samping untuk memberi kode pada si pembawa gelas tersebut.


Laki-laki yang membawa gelas itu berjalan menuju arah Arsenio dan rekan-rekannya yang sedang berbicara. Tampak di sana wanita yang sedari tadi mendekati Arsenio masih saja berada di sampingnya.


Laki-laki yang membawa gelas tadi berdiri di belakang wanita tersebut dan menyenggol sedikit lengannya sehingga membuat wanita tersebut menoleh padanya.


Wanita itu menerima gelas dari laki-laki tersebut dan memberikannya pada Arsenio.


"Kamu pasti haus. Aku mengambilkan minuman ini untukmu," ucap wanita tersebut dengan manja dan menempelkan dadanya pada lengan Arsenio serta mengulurkan padanya gelas berkaki yang berisikan minuman berwarna merah.


Melihat hal itu, Laura menjadi geram. Tanpa berpikir panjang dia berjalan menghampiri suaminya dan meraih gelas tersebut sehingga tidak bisa diambil oleh Arsenio.


Semua mata tertuju pada Laura. Mereka semua menatap heran padanya. Hanya wanita itu saja yang menatap tajam pada Laura.


"Berani sekali kamu mengambil minuman itu! Kamu hanya seorang waiter yang bekerja di sini. Lancang sekali kamu!" seru wanita tersebut dengan penuh kemarahan dan tangannya sudah terangkat untuk memukulnya.

__ADS_1


Arsenio menghentikan gerakan tangan wanita tersebut seraya berkata dengan tegas,


"Rena, hentikan. Jangan membuat kekacauan dalam pesta ini."


Wanita tersebut yang ternyata bernama Rena itu tidak bisa melawan Arsenio karena dia tidak mau Arsenio menilai buruk tentangnya.


Laura bernafas lega karena suaminya menyelamatkannya dari amukan Rena. Dia hanya tertegun melihat kejadian yang terjadi dengan cepat itu.


Rena menurunkan tangannya setelah Arsenio melepaskan tangannya. Dan dia merebut kembali gelas yang sedang dipegang oleh Laura.


Namun, tidak semudah pikiran Rena. Laura masih saja memegang dengan erat gelas tersebut untuk mempertahankannya.


"Lepaskan! Berikan minuman itu padaku!" seru Rena dengan matanya yang membelalak tajam dan terlihat kilatan emosi di dalamnya.


Laura pun tidak mau kalah dengan Rena. Dia masih saja mempertahankan gelas tersebut agar tidak bisa direbut oleh Rena.


Melihat hal itu, Arsenio dan yang lainnya merasa malu. Mereka berkata lirih untuk menyuruh Rena melepaskan gelas tersebut.


"Rena, hentikan. Ambillah minuman yang lainnya," tutur Arsenio dengan tegas dan menarik tubuh Rena agar tidak lagi terjadi tarik menarik antara Rena dengan Laura yang menyamar sebagai waiter.


Tubuh Rena yang ditarik oleh Arsenio, tangannya berhasil lepas dari gelas tersebut.


"Aku mengambil minuman itu khusus untukmu. Aku tidak rela jika dia yang meminumnya," ujar Rena pada Arsenio dengan tangan yang menunjuk ke arah Laura.


Rena kembali berjalan mendekati Laura. Terlihat sekali jika Laura sangat kebingungan. Dalam hatinya berkata,


Laura segera meneguk minuman tersebut dengan menutup matanya, berharap tidak merasakan apa pun dalam minuman tersebut.


Dengan gerakan cepatnya Rena menarik gelas tersebut. Sayangnya Laura masih memegang erat gelas tersebut sehingga badan Laura ikut tertarik dan dia mempercepat minumnya.


Uhuk… uhuk…


Laura tersedak minuman tersebut dan badannya terhuyung mengikuti tarikan Rena yang begitu kuat.


Arsenio yang ada di dekat mereka membantu Laura agar tidak terjatuh. Dia memegang kedua pundak Laura sehingga punggung Laura menempel pada dada Arsenio.


Arsenio merasakan hal yang aneh. Dia merasakan jika jantungnya berdetak sangat cepat, sama seperti saat dia bersama istrinya.


Laura pun merasakan hal yang sama. Dia takut jika suaminya mengetahui penyamarannya.


Tiba-tiba Laura merasakan tubuhnya seperti terbakar. Dia merasakan kepanasan dalam tubuhnya.


"Emmm… panas…," gumam Laura sambil tangannya mengusap lehernya dengan gerakan yang menggoda.

__ADS_1


Seketika mata Arsenio terbelalak mendengar suara waiter yang ada di hadapannya. Dalam hati dia berkata,


Seperti suara Laura. Apa dia memang Laura? Tapi kenapa dia berpakaian seperti ini? Jika dilihat-lihat dari wajahnya memang mirip dengan Laura. Hanya saja tompel di pipinya membuatnya berbeda.


Laura bergerak menghadap suaminya dan menatapnya dengan penuh minat seraya bergumam,


"Mas… Mas Arsen…."


Sontak saja Arsenio menyadari bahwa memang benar itu suara istrinya. 


"Lepaskan! Enak saja main peluk-peluk!" seru Rena sambil menarik tubuh Laura.


Arsenio menahan tubuh Laura agar tidak bisa ditarik oleh Rena. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya dia sedang sakit. Sebaiknya aku bawa dia ke belakang."


Rena tidak bisa menghentikan Arsenio yang begitu saja meninggalkannya sambil merangkul pundak waiter tersebut.


"Cepat kembali! Aku menunggumu di sini!" seru Rena mengiringi kepergian Arsenio.


Untung saja dia laki-laki. Seandainya dia perempuan, pasti Akan terjadi masalah, Laura berkata dalam hatinya.


Rekan-rekan kerja Arsenio terkekeh melihat Rena yang sepertinya sangat terobsesi pada Arsenio.


Memang tidak dipungkiri jika Arsenio memiliki paras yang tampan dan penampilan yang menarik. Dan dia juga cukup berpengaruh dalam pekerjaannya. Sedangkan Rena adalah seorang bintang iklan baru yang sedang berusaha untuk sukses.


"Kelihatanya dia sangat terobsesi pada Arsenio," bisik rekan kerja Arsenio yang menjadi timnya.


"Sepertinya dia ingin melejit cepat dengan caranya," balas bisik orang tersebut.


Mereka terkekeh melihat Rena yang berwajah kesal dan bergerak seperti tidak nyaman dan cemas pada sesuatu.


Arsenio membantu waiter tersebut menuju toilet pria. Di dalam toilet yang sedang sepi itu Arsenio berniat untuk membasuh muka waiter tersebut agar sadar. 


Namun, lama kelamaan badan Laura semakin panas. Dia bergumam dan bergerak dengan sangat menggoda, mengusap tangannya menyusuri lekuk tubuh dan lehernya sehingga wig yang dipakainya jatuh dari kepalanya.


Seketika mata Arsenio terbelalak melihat wig tersebut terjatuh dan rambut panjang Laura tergerai dengan indahnya.


"Sayang, kamu…," Arsenio menggantung kata-katanya dan segera mengambil wig yang jatuh itu serta memakaikannya ketika mendengar suara orang yang mungkin saja akan masuk ke dalam toilet tersebut.


Dilepaskannya rompi waiter yang dipakai oleh Laura. Dan dibuangnya rompi tersebut ke sampah yang ada dalam toilet itu.


Arsenio membantu Laura berjalan keluar toilet dan berkata,

__ADS_1


"Sedang apa kamu di sini dengan penampilan seperti ini? Dan ada apa denganmu?"


"Mas… tubuhku sangat panas. Bantu aku. Bawa aku ke kamarku. Aku… aku… menginginkanmu," ucap Laura dengan suara yang tertahan.


__ADS_2