
Akhirnya Arsenio berangkat dengan menggunakan taksi. Dia sudah tidak bisa menunda waktunya lagi meskipun belum mengetahui apa yang terjadi dengan mobilnya.
Laura memaksa suaminya untuk cepat pergi dari tempat itu dan dia juga mengatakan bahwa dia lah yang akan mengurus mobil tersebut dengan mempercayakan pada bengkel tempat mereka biasa mempercayakan mobil itu.
Kini Laura sedang menunggu pihak bengkel datang untuk mengambil mobil tersebut.
Beberapa saat setelah itu, pihak bengkel datang untuk mengambil mobil Arsenio. Laura yang sedang menunggu di sana segera mempersilahkan mereka untuk membawa mobil tersebut. Dia mengatakan pada pihak bengkel apa yang terjadi dengan mobil tersebut.
Sedangkan Arsenio, dia benar-benar berangkat terlebih dahulu tanpa menemani istrinya menunggu pihak bengkel yang akan mengambil mobilnya.
Setelah mengurus mobil tersebut, Laura menghela nafasnya dan berjalan lemas menuju halte yang ada di depan kantor suaminya.
Dia duduk di kursi halte sambil menunggu taksi yang sedang lewat di jalan tersebut.
"Hari ini sangat melelahkan. Lebih baik aku memesan taksi saja agar bisa beristirahat lebih cepat di rumah," gumam Laura sambil memesan taksi melalui ponselnya.
Tiba-tiba ponsel yang sedang dipegangnya bergetar, menandakan ada panggilan telepon masuk pada ponselnya.
Dilihatnya layar ponsel tersebut yang menampilkan nama sutradaranya sebagai si penelepon.
"Halo, selamat malam," sapa Laura mengawali percakapan di telepon.
Laura, segera datang ke kantor sekarang juga. Kita akan mengadakan rapat penting, ucap Anto, sutradara acara yang dipandu oleh Laura.
Laura kembali menghela nafasnya. Bahkan helaan nafas Laura terdengar sangat lemah dan lelah dengan keadaannya saat ini.
Ingin sekali dia menjerit saat ini untuk menyuarakan apa yang dirasanya. Sayangnya dia tidak bisa melakukan itu. Semua harus dijalankannya sebagai sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab pada hutang ibunya dan tanggung jawab pada misi yang diembannya saat ini.
Dia segera bangkit dari duduknya ketika melihat taksi pesanannya sudah datang dan berhenti tepat di depannya.
Di dalam taksi tersebut Laura mencoba memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Selama beberapa saat, taksi itu pun berhenti. Laura membuka matanya dan melihat jika kini dia sudah berada di depan kantornya.
Dengan segera dia berlari masuk ke dalam kantornya setelah membayar taksi yang ditumpanginya.
Setelah itu mereka segera memulai rapat yang menjadi bahan acara mereka selanjutnya.
__ADS_1
Rapat berlangsung selama beberapa jam. Dan akhirnya mereka pun mendapat hasil untuk acara dadakan yang akan diselenggarakan sesuai dengan perintah dari atasan mereka.
"Sudah malam. Kita bubarkan rapatnya dan pergi untuk makan malam bersama. Perusahaan yang akan membayar makan malam kita kali ini. Dan tempatnya juga sudah dipesan sejak tadi sore," ucap Anto sambil beranjak dari tempat duduknya.
Laura melihat semua rekan setimnya juga beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti sutradara tersebut.
Laura menghela nafasnya sambil beranjak dari duduknya. Sungguh dia terlalu lelah hari ini. Dia hanya ingin beristirahat di rumah agar fresh keesokan harinya.
Namun, semua itu hanya keinginannya semata. Dia tidak bisa menolak perintah sutradaranya. Bahkan dalam kondisi bukan jam kerja pun dia harus patuh padanya.
Mereka semua berangkat menggunakan mobil yang biasa mereka gunakan jika bepergian bersama. Laura pun ikut dalam mobil tersebut.
Setelah beberapa saat, sampailah mereka di tempat yang sangat mewah dan tenang. Sehingga suasana di tempat itu sangat nyaman untuk mereka yang berkunjung di tempat itu.
Mereka semua berkumpul di ruangan yang sudah disiapkan untuk tim mereka. Berbagai hidangan makanan sudah tersedia di meja panjang yang ada di hadapan mereka.
Makan malam kali ini lebih spesial daripada makan malam biasanya yang diadakan satu bulan sekali. Mereka semua tidak banyak tanya, bagi mereka perut mereka lah yang utama.
Di sela makannya, Laura mendengar suara Arsenio yang ada di sebelah ruangan mereka. Ternyata Arsenio dan timnya sudah terlebih dahulu datang dan menempati ruangan yang ada di sebelah ruangan Laura.
Dia pun keluar dari ruangan tersebut dan berdiri di depan pintu ruangan sebelahnya. Diambilnya ponsel dalam sakunya dan dia menghubungi nomor ponsel suaminya.
"Halo, Mas Arsen, keluarlah sebentar," ucap Laura melalui telepon.
Setelah itu Laura mengakhiri panggilan teleponnya tanpa memberi kesempatan untuk suaminya bertanya ataupun membalas ucapannya.
Laura berdiri dengan meletakkan kedua tangannya di depan dadanya untuk menunggu suaminya keluar dari ruangan tersebut.
Beberapa detik kemudian Arsenio keluar dari ruangan tersebut. Terlihat jelas jika dia kaget melihat Laura yang sudah berdiri di sana.
"Sayang, kok kamu ada di sini? Bukannya tadi kamu sedang menunggu montir di kantorku?" tanya Arsenio sambil berjalan mendekati Laura setelah menutup pintu ruangan tersebut.
Laura tersenyum menyambut suaminya yang sedang menghampirinya. Kemudian dia berkata,
"Kami semua sedang makan malam di sini setelah rapat berakhir."
Arsenio menganggukkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Apa kamu mau bergabung dengan kami?"
Dengan cepatnya Laura menolaknya. Dia menggelengkan kepalanya dan menunjuk ruangannya seraya berkata,
"Tidak usah. Ruangan kami tepat di sebelah ruanganmu."
Arsenio mengikuti arah tunjuk dari tangan Laura. Dia mengangguk dan berkata,
"Ya sudah, masuklah. Nanti kita pulang bersama."
"Aku akan ke toilet terlebih dahulu," ucap Laura sambil tersenyum pada suaminya.
Setelah itu dia pergi ke arah toilet setelah mendapatkan anggukan kepala dari suaminya.
Ketika berada di dalam toilet, tiba-tiba Laura kembali dihadapkan dengan panel mengambang yang sudah tidak asing lagi baginya.
Laura membaca baik-baik tulisan yang tertera pada panel tersebut. Dia membaca dalam hati,
'Jauhkan suamimu dari bahaya!'
Di sana juga tertera ketentuan bahwa misi kali ini merupakan misi tambahan dari misi yang sebelumnya. Dan dia akan mendapatkan bonus jika berhasil menjalankan misi tersebut. Tentunya dia juga akan mendapatkan hukuman jika tidak bisa menjalankannya.
Laura merasa misi kali ini sangat berat baginya. Dia tidak mengerti bahaya apa yang akan mengancam suaminya.
"Sungguh aku sangat lelah sekali. Apa tidak bisa aku bernafas sejenak saja untuk beristirahat dan menikmati hari-hariku yang damai?" gumam Laura disertai helaan nafasnya yang terasa begitu berat.
Langkah kaki Laura terasa sangat berat keluar dari toilet tersebut. Badannya terasa lemas seolah tidak bertenaga setelah mengetahui misi yang harus dilakukannya.
Kenapa dia banyak sekali musuh? Kenapa banyak sekali yang ingin mencelakainya? Laura berkata dalam hatinya disertai helaan nafasnya.
Mata Laura selalu menjelajah tiap jalanan yang dilaluinya. Dan dipasangnya baik-baik telinganya untuk mendengarkan semua suara yang ada di setiap jalanan itu.
Jalanan dari toilet menuju ruangannya sangat sepi. Bahkan seperti tidak ada yang berada di sepanjang jalan itu.
Laura berjalan dengan hati-hati agar langkah kakinya tidak terdengar oleh siapa pun. Dalam hatinya berkata,
Aku harus menggagalkan rencana itu.
__ADS_1