
"Apa masakanmu bisa dimakan Mas?" tanya Laura yang menghentikan langkah suaminya ketika akan kembali ke dapur.
Arsenio menghela nafasnya mendengar pertanyaan istrinya yang terdengar seperti mengejeknya. Kemudian dia berkata,
"Setidaknya aku berusaha dengan keras agar bisa memasak makanan untuk seseorang. Sayangnya orang itu tidak menghargai kerja kerasku."
"Mas menyindirku? Aku tiba-tiba ingin pizza ketika melihat iklannya di TV. Apa aku salah memesannya? Aku juga tidak tau, tiba-tiba saja aku ingin makan pizza," sahut Laura dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
Seketika Arsenio merasa bersalah melihat istrinya yang menangis. Dengan cepatnya dia menghampiri istrinya dan memeluknya, seraya berkata,
"Maafkan aku Sayang. Aku hanya sedang lelah. Jangan menangis, makanlah pizza nya. Aku akan membersihkan dapur terlebih dahulu."
Laura menganggukkan kepalanya. Dia juga tidak mengerti kenapa dirinya seperti itu. Dia tidak ambil pusing. Menurutnya semua ini karena kelelahan hati, pikiran dan juga badannya.
"Makanlah bersamaku, setelah itu Mas bisa bersihkan dapurnya dan buang saja makanannya jika tidak yakin bisa dimakan," tutur Laura sambil terkekeh di akhir ucapannya.
Arsenio tersenyum getir sambil menghela nafasnya. Dia menertawakan dirinya sendiri yang seolah sedang dikerjai oleh istrinya.
Dengan cekatannya, Arsenio segera membuang semua bahan makanan dan masakannya. Dia bahkan membersihkan dapur sehingga dapur itu kembali bersih.
"Untung saja aku belum memasak nasi," gumam Arsenio sambil tersenyum.
Dia menghampiri istrinya dan bergabung bersama istrinya untuk memakan pizza.
Ternyata aku tidak bisa apa-apa tanpa dirinya. Laura istri yang sangat luar biasa. Aku tidak boleh kehilangan dirinya, Arsenio berkata dalam hatinya sambil menatap Laura yang dengan lahapnya memakan pizza.
Merasa sudah kenyang, Laura menghentikan makannya. Dia kembali ke dalam kamarnya tanpa menunggu Arsenio yang masih menghabiskan pizza tersebut.
"Sayang, soft drink nya tidak diminum?" tanya Arsenio dengan membuka sedikit pintu kamarnya.
"Minum saja, aku sudah minum smoothies mangga tadi," jawab Laura sambil melihat layar ponselnya.
"Mangga? Tumben?" celetuk Arsenio yang masih berada di pintu kamarnya.
"Lagi ingin saja," jawab Laura dengan singkat tanpa menoleh ke arah suaminya.
Arsenio menutup pintu kamar tersebut. Dia kembali menuju tempatnya semula. Kini dia bersantai sambil menikmati pizza dan soft drink yang ada di meja tersebut.
Setelah menghabiskan semuanya, Arsenio membersihkan tempat itu. Dia tidak mau istrinya kembali marah padanya.
"Lelah sekali aku hari ini. Sebaiknya aku tidur saja sekarang," gumam Arsenio sambil beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Di dalam kamarnya dia melihat Laura yang sudah berbaring dan memejamkan matanya. Dengan segera Arsenio berbaring dan memeluk tubuh istrinya.
Laura memberontak melepaskan dirinya dari pelukan suaminya seraya berkata,
"Jangan pikir aku sudah memaafkan mu Mas. Aku masih sangat kecewa padamu."
Seketika Arsenio kembali merasa frustasi. Tadinya dia mengira jika Laura sudah memaafkannya. Tapi kini dia baru tau jika istrinya itu masih belum sepenuhnya bisa memaafkannya.
Arsenio sadar jika memang dia salah. Dia juga tidak menyalahkan istrinya, karena dia mengerti jika istrinya bersikap seperti itu karena kesalahannya.
Berkali-kali Arsenio berusaha agar dimaafkan oleh istrinya. Sayangnya Laura lebih memilih diam. Dia ingin suaminya benar-benar mengerti arti kemarahannya. Dan dia ingin suaminya tahu bagaimana berartinya seorang Laura bagi Arsenio.
Arsenio kembali memeluk tubuh istrinya dengan erat seolah dia tidak ingin kehilangannya.
Laura tidak lagi memberontak. Dia merasa percuma karena tenaga Arsenio lebih kuat darinya. Dia hanya diam dan memejamkan matanya, berharap esok pagi akan menjadi hari yang menyenangkan baginya.
Menjelang pagi, Laura merasa tenggorokannya sangat kering. Dia beranjak bangun dari tidurnya dan mengambil minuman di lemari es.
Setelah dia mengambil minuman, dia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Namun, ketika dia akan membuka pintu kamarnya,dia kembali berhadapan dengan benda yang selalu memberinya misi. Pada panel tersebut tertulis misi yang harus dilakukan oleh Laura.
Laura menghela nafasnya, lagi-lagi dia harus mengalah pada suaminya.
"Kenapa selalu aku yang harus mengalah?" gumam Laura seolah tidak terima dengan misi tersebut.
Laura membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali. Dia mengabaikan panel tersebut yang selalu berada di depannya seolah memaksanya untuk membacanya.
Laura tidak ingin membacanya, dia merasa jika hanya dia yang selalu berjuang untuk hubungan mereka. Dia tidak pernah melihat jika suaminya itu melakukan sesuatu untuk rumah tangga mereka. Hanya tadi saja suaminya itu mau melakukan apa yang diinginkan oleh Laura. Dan itu untuk pertama kalinya.
Sayangnya Laura tidak bisa lagi menghindar. Tanpa berniat membacanya pun tulisan dalam panel tersebut dapat dibacanya dengan jelas, karena jarak panel tersebut yang sangat dekat dengan wajahnya.
'Memberikan barang yang diinginkan suami sebagai hadiah ulang tahunnya dan berbuat baik pada suami dengan menuruti keinginannya'
Laura kembali menghela nafasnya. Bahkan kini tubuhnya sangat lemas setelah membaca misi tambahan yang harus dikerjakannya.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya tersenyum senang. Hadiah dari misi tambahan itu sangatlah besar.
"Masa bodoh dengan kekesalanku padanya. Hadiah uangnya sangat besar, aku sangat membutuhkannya. Terlebih lagi aku tidak boleh gagal jika tidak mau merasakan hukumannya," gumam Laura sambil menggigit kuku tangannya.
Dia kembali merebahkan tubuhnya. Dia sedikit merasa tenang karena merasa misinya kali ini tidak harus banyak mengeluarkan tenaga seperti misi-misi sebelumnya. Hanya saja dia harus menyiapkan hatinya karena dia merasa hatinya akan banyak terluka oleh misi kali ini.
__ADS_1
Laura kembali masuk ke dalam selimutnya. Merasakan ada pergerakan, Arsenio membuka matanya. Kemudian dia berkata,
"Habis dari mana?"
"Ambil minum," jawab Laura sambil memejamkan matanya.
Arsenio membawa tubuh Laura ke dalam pelukannya. Dia memeluk kembali tubuh istrinya itu dengan sangat erat dan berkata,
"Maafkan aku Sayang. Jangan hukum aku dengan cara seperti ini. Aku merasa sangat tersiksa jika kamu marah padaku."
Laura teringat akan misinya. Dia membalas pelukan suaminya seraya berkata,
"Jangan ulangi lagi. Aku tidak akan memaafkan mu jika kamu mempunyai hubungan dengan perempuan mana pun."
Arsenio menatap Laura. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya menanggapi permintaan istrinya.
"Emmm Mas, apa ada yang kamu inginkan?" tanya Laura sambil menatap mata suaminya.
Arsenio terlihat berpikir. Setelah beberapa detik dia berkata,
"Ada. Tapi aku takut kamu akan marah nantinya."
Laura mengernyitkan dahinya seraya berkata,
"Apa itu?"
"Tidak. Aku tidak akan mengatakannya. Kamu baru saja memaafkan ku. Aku tidak mau jika kamu kembali marah padaku," ucap Arsenio dengan tegas.
Seperti dugaanku. Tidak mungkin misi yang diberikan sangatlah mudah. Aku harus bisa merayunya agar dia mau mengatakannya, Laura berkata dalam hatinya.
Laura memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah suaminya. Dengan gerakan cepatnya dia mencium sekilas bibir suaminya. Setelah itu dia berkata,
"Aku janji, aku tidak akan marah. Apa pun itu."
Melihat istrinya yang seperti itu, Arsenio percaya jika istrinya tidak akan marah padanya.
Dia mendekatkan bibirnya pada telinga istrinya dan membisikkan sesuatu padanya.
Seketika mata Laura terbelalak mendengar apa yang diinginkan oleh suaminya. Dalam hatinya berkata,
Apa ini? Kenapa aku harus mengabulkan keinginannya?
__ADS_1