System Lady Rich

System Lady Rich
Bab 50 : Pengawasan jarak jauh


__ADS_3

Setelah Arsenio keluar dari kamarnya dan menerima telepon dari Devan, dia kembali masuk ke dalam kamarnya. 


Arsenio mengacak-acak isi tasnya. Dia mencari sesuatu yang sangat dibutuhkannya.


Dimana alat itu? tanya Arsenio dalam hatinya.


Dia terlihat sangat frustasi mencari sesuatu yang dicarinya dalam tasnya. Barang tersebut yang akan membantunya untuk bisa mencari tahu tentang keberadaan istrinya.


Arsenio menghela nafasnya yang terasa berat baginya. Alat tersebut tidak ditemukannya. Dia memandang ke arah istrinya yang masih tertidur dengan nyenyak dan berkata dalam hatinya,


Aku harus mendapatkan benda itu. Aku tidak bisa mengawasinya selama dua puluh empat jam. Aku harus bisa mengawasinya, apa pun yang terjadi.


Setelah itu dia kembali berbaring di samping istrinya dengan memandang punggung istrinya yang sedang membelakanginya.


Keesokan harinya, Laura berangkat lebih dulu. Dia meninggalkan Arsenio yang masih dalam kamar mandi saat itu. Akan tetapi dia sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Arsenio keluar dari kamarnya dengan memakai dasinya. Matanya mengitari ruang makan dan dapur untuk mencari istrinya.


Namun, dia tidak menemukan sosok yang sedang dicarinya. Dia hanya menemukan tudung saji yang tertutup di atas meja makan.


"Sayang… Sayang ayo kita makan," seru Arsenio sambil membuka tutup tudung saji tersebut.


Setelah beberapa detik dia duduk di kursi makan tersebut, dia menoleh ke sekelilingnya untuk mencari istrinya.


"Ke mana dia? Kenapa dia tidak berada di sini?" tanya Arsenio yang bermonolog sambil matanya menyusuri sekelilingnya.


Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Beranjaklah dia dari tempat duduknya dan berjalan menuju lemari es.


Pandangan matanya tertuju pada satu kertas warna merah yang tertempel pada pintu lemari es tersebut.


Sarapannya sudah aku siapkan di meja makan. Aku berangkat kerja terlebih dahulu. Bersihkan meja makan sebelum berangkat kerja. 


Arsenio menghela nafasnya melihat pesan yang ditulis oleh istrinya. Dia merasa kecewa dengan situasinya saat ini. Dan dia merasa sikap Laura berubah sejak istrinya itu bekerja.


"Kenapa dia sekarang lebih sibuk dibandingkan denganku? Sebenarnya apa saja pekerjaannya di perusahaan RAZ itu? Sepertinya aku harus membeli barang itu agar bisa mengawasinya," ucap Arsenio yang sedang menatap tulisan pesan istrinya pada selembar kertas yang dipegangnya.


Dia kembali ke ruang makan dan memakan sarapannya seorang diri. Kesepian, dia merasa kesepian tanpa hadirnya istrinya di meja makan tersebut.

__ADS_1


"Biasanya dia ada di hadapanku meskipun sedang marah. Tapi aku tidak pernah kesepian seperti ini," tukas Arsenio yang merasa kehidupannya sudah sedikit berubah, tidak seperti biasanya yang selalu disiapkan oleh istrinya.


Apa lagi sesuai dengan pesan istrinya dia harus mengurus semuanya setelah selesai makan. Sungguh sangat melelahkan untuknya yang selalu diurus oleh istrinya.


Bahkan jika dia tinggal sendirian, sudah bisa dipastikan jika rumahnya akan sangat berantakan olehnya.


Selesai mencuci piringnya, dia segera mengambil tas kerja dan jasnya dengan tergesa-gesa. Dia berangkat bekerja tanpa meletakkan kembali sisa makanan ke dapur atau pun menutupnya kembali dengan tudung saji. Bahkan pintu rumahnya pun lupa dikunci olehnya.


Di kantornya, pikiran Arsenio masih saja tertuju pada istrinya. Dia tidak bisa fokus bekerja meskipun sudah dipaksakan olehnya.


Kessy masuk ke dalam ruangan Arsenio. Dia menggelengkan kepalanya ketika melihat Arsenio sedang menatap kosong ke arah jendela ruangan tersebut.


Kessy melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Arsenio bermaksud untuk menyadarkannya. Sayangnya Arsenio masih tetap saja pada lamunannya.


Kessy memukul lengan Arsenio seraya berkata,


"Arsenio! Sayang! Kita ada pertemuan dengan Pak Devan dari perusahaan Gemilang Sejahtera sekarang. Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" 


Sontak saja Arsenio terperanjat kaget. Dia segera beranjak dari duduknya dan segera menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawanya untuk bertemu dengan Devan.


"Sebaiknya kamu berangkat terlebih dahulu. Aku akan membawa mobilku sendiri karena sebelumnya aku akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu."


"Kamu akan pergi ke mana? Bagaimana dengan pertemuannya? Seharusnya kita berangkat bersama," sahut Kessy yang tidak terima jika Arsenio pergi tanpanya.


"Aku berangkat sekarang," ujar Arsenio yang sudah berjalan menuju pintu.


"Arsenio! Tunggu aku!" seru Kessy sambil berjalan mengikuti Arsenio.


"Jangan membuatku marah dan tidak mau lagi bekerja denganmu. Cepat lakukan apa yang aku perintahkan padamu," perintah Arsenio dengan tegas pada Kessy yang sedang berjalan di belakangnya.


Kessy pun menghentikan langkahnya. Dia menatap nanar punggung Arsenio dengan helaan nafas kecewanya yang tidak bisa bersama dengannya.


Arsenio tetap pada keputusannya. Dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kessy padanya. Pikirannya hanya tertuju pada Laura, istrinya yang terasa semakin jauh darinya.


Mobil Arsenio berbelok pada pertokoan yang sering dikunjunginya. Dia membeli suatu barang yang menurutnya bisa membantunya untuk mengawasi istrinya.


Setelah membeli barang tersebut, Arsenio segera menuju tempat pertemuan yang sudah ditentukan oleh Devan.

__ADS_1


Kerja sama ini sangat penting baginya. Dia tidak ingin melewatkannya begitu saja. Karena kinerjanya kini dipertaruhkan dengan semua kerja sama yang akan dilakukannya.


Kini, dia sudah berada di tempat yang ditentukan oleh Devan untuk pertemuan mereka. Sebuah hotel berbintang lima yang sangat mewah dan tentunya tidak kalah dengan hotel yang sebelumnya mereka gunakan sebagai tempat pertemuan awal mereka.


Tampak di sana Kessy sudah duduk berhadapan dengan Devan. Mereka saling mengobrol dan tidak terlihat canggung sama sekali.


Arsenio memandang heran pada Devan yang tidak ditemani oleh siapa pun. Dalam hatinya berkata,


Kenapa dia hanya sendirian dan tidak ditemani oleh sekretarisnya? Ah sudahlah, tidak seharusnya aku memikirkan hal itu. Sekarang ini aku harus memikirkan pekerjaan, hutang-hutangku dan istriku.


"Selamat siang Pak. Maaf saya sedikit terlambat," ucap Arsenio sambil mengulurkan tangannya.


Kessy dan Devan menghentikan obrolan mereka dan menoleh ke arah Arsenio yang sedang berdiri di samping meja mereka.


Devan menerima uluran tangan Arsenio dan menjabatnya seraya berkata,


"Sepertinya saya yang terlalu cepat datang Pak."


Setelah itu Arsenio duduk di kursi yang berada di dekat Kessy dan mengeluarkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan untuk perjanjian kerja sama mereka.


Hanya selama beberapa saat saja urusan perjanjian mereka sudah selesai. Setelah itu mereka menyudahi pertemuan tersebut.


"Terima kasih Pak, semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar," ucap Arsenio sambil berjabat tangan dengan Devan sebelum dia meninggalkan tempat itu.


"Baik Pak. Saya harap semuanya akan berjalan baik," ujar Devan yang sedang berjabat tangan dengan Arsenio.


Setelah itu Arsenio berpamitan untuk meninggalkan tempat itu terlebih dahulu tanpa mengajak Kessy untuk kembali ke kantor bersamanya.


Kessy mengedipkan matanya pada Devan yang sedari tadi menatapnya dengan penuh minat setelah kepergian Arsenio.


Devan tersenyum genit pada Kessy yang ada di depannya. Bahkan Kessy kini memberi kode padanya untuk segera meninggalkan tempat itu.


Devan pun segera beranjak dari tempat duduknya. Dia memberi kode pada Kessy agar menggandeng tangannya. Dengan gaya manjanya, Kessy segera bergelayut manja pada lengan Devan dan berjalan memasuki lift hotel tersebut.


Tiba-tiba Arsenio kembali masuk ke dalam restoran hotel itu dengan membawa map yang akan diberikannya pada Devan. Dia melihat Kessy dan Devan masuk ke dalam lift hotel tersebut. Dia pun berkata,


"Mau ke mana mereka berdua?"

__ADS_1


__ADS_2