
"Naiklah!" pinta Kenan pada Kiran yang masih mematung menatapi ketiga preman yang merintih sambil memegangi tangan mereka.
Ia melirik Kakaknya itu, tatapan matanya datar tersirat ketakutan di dalam maniknya yang berwarna abu-abu.
"Apa tangan Kakak tidak apa-apa?" tanyanya sambil memperhatikan tangan Kenan. Remaja itu tersenyum, ia mengacak rambut adiknya yang diikat dua dengan gemas.
"Kakak tidak apa-apa, naiklah! Kita pulang," katanya lagi. Kiran beranjak naik, ia memeluk punggung Kakaknya dengan erat.
Sepeda tua itu dikayuh Kenan meninggalkan ketiga preman yang masih meringis kesakitan. Hari ini, ia berencana pergi ke tempatnya bekerja setelah mengantar Kiran pulang.
Ia tak tahu saja, di sekolah Regan sibuk mencari. Ingin menghubunginya, Kenan tidak mempunyai gawai.
"Ah, sial! Ke mana dia pergi? Kenapa meninggalkan kelas begitu saja?" umpatnya sambil memukul udara kosong. Regan menuju mobilnya sendiri, kesal karena ditinggal Kenan pulang lebih dulu.
"Apa Kakak akan pergi bekerja hari ini? Aku ingin makan steak daging lagi," tanya Kiran dari balik punggung Kenan.
"Iya, Kakak harus mencari uang yang banyak supaya kita bisa pergi dan tinggal sendiri. Kalau kamu mau steak, Kakak akan bawakan jika ada sisa nanti," ucap Kenan yang berhasil menerbitkan senyum di bibir sang adik.
Ia bekerja paruh waktu di sebuah restoran mewah sebagai pelayan. Pemiliknya sendiri yang merekomendasikan karena merasa kasihan pada hidup Kenan. Namun, manager di tempatnya bekerja selalu bersikap tak adil dan sering menindas Kenan.
Belum juga turun dari sepeda, suara Bibi sudah menyembur bagai larva panas yang membakar.
"Kau apakan emberku, hah? Apa kau sengaja mau merusak perabot di rumah ini? Kau tidak suka melakukan pekerjaan rumah, hah? Memangnya kau sanggup menggantinya? Menyusahkan saja! Kau harus membayar full padaku bulan ini untuk mengganti ember yang kau pecahkan ini. Kalau tidak, biar adikmu saja yang menggantinya," hardik Bibi dengan wajah yang memerah marah dan suara melengking tinggi.
Kiran merangkul kaki Kenan, gadis kecil itu gemetar ketakutan. Ia bahkan menangis karena suara tinggi Bibi yang menusuk telinganya.
"Kakak, Kiran takut," katanya mengetatkan pelukan di kaki Kenan. Tangan kiri remaja itu merangkul tubuh kecil sang adik. Matanya memandang tajam sosok Bibi yang berdiri di teras rumah.
__ADS_1
Marah. Dalam hatinya ingin dia melawan, tapi Kenan masih menghargai pamannya yang tak pernah berbuat jahat.
"Aku akan menggantinya. Kau tenang saja, Bibi!" sahut Kenan menahan getar kemarahan dalam dirinya.
Bibi menatap tajam Kenan juga Kiran yang masih memeluk kaki Kakaknya itu. Ia berbalik dan melengos pergi, detik kemudian kembali ke tempatnya membuat langkah Kenan dan Kiran terhenti seketika.
"Hari ini kalian tidak mendapat jatah makan. Kau, ikut saja dengan Kakakmu bekerja. Kau bisa mengemis di luar sana untuk mengisi perutmu itu!" Ia kembali berbalik setelah mengatakan itu.
"Kakak!" Kiran mendongak saat merasakan getaran di tangan Kenan yang menyengat tubuhnya.
Tangan kecilnya menggenggam kepalan tangan Kenan, mengurai jemari itu satu demi satu. Kiran memeluknya lagi, kali ini dia tidak menangis. Dia harus menjadi kekuatan untuk Kenan di saat Kakaknya itu marah.
Kenan memejamkan mata saat sentuhan Kiran tembus sampai ke palung hati. Ia menenangkan hatinya yang memanas, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan pelan-pelan.
"Tidak apa-apa ... Kakak tidak apa-apa," katanya memenangkan dirinya juga Kiran yang masih erat memeluknya. Keduanya melanjutkan langkah menuju kamar mereka masing-masing untuk berganti pakaian.
"Kakak!" panggil Kiran di pintu kamar Kenan. Remaja itu baru saja selesai mengganti pakaian.
"Kiran mau ikut Kakak ke tempat kerja. Kiran takut di rumah, Kak. Kiran janji tidak akan menyusahkan Kakak, Kiran akan menunggu di luar restoran tempat Kakak berkerja. Kiran janji, Kak," ungkap gadis kecil itu sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Kenan terenyuh, ia tersenyum getir sambil mengusap kedua bahu kecil itu. Ia masih terlalu rapuh untuk merasakan kerasnya hidup.
"Bukan Kakak tidak ingin mengajak Kiran, atau takut Kiran mengangguk pekerjaan Kakak, tapi ... baiklah, Kakak akan mengajak Kiran ke tempat Kakak bekerja," katanya sambil mengulas senyum manis untuk menghibur gadis kecil itu.
"Terima kasih, Kak. Kiran sayang Kakak." Gadis kecil itu berhambur memeluk leher sang Kakak sambil tersenyum senang karena ia tak perlu ditinggal sendiri di rumah.
"Ayo!" Kenan beranjak berdiri, ia meraih tas dan keluar kamar sambil menggandeng tangan Kiran. Senyum tersemat di bibir keduanya sepanjang melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1
Kiran ikut menghentikan langkah sesaat setelah Kenan berhenti mendadak. Ia mendongak dan melihat Roni yang berdiri menatap tajam mereka dengan matanya yang bengkak dan merah.
Kiran menggoyang-goyangkan tangan Kenan memintanya untuk segera melanjutkan langkah. Kenan meraih sebuah gelas yang teronggok di meja makan, meremasnya hingga melebur menjadi serpihan kaca yang bertaburan di lantai. Ia sengaja menunjukan itu di depan Roni untuk mengancam sepupu yang selalu mengganggunya itu.
Ia tersenyum sinis pada Roni sebelum melanjutkan langkah bersama Kiran. Tubuh laki-laki itu menegang, melihat apa yang dilakukan Kenan di depan matanya.
Apa yang dilihatnya semalam ternyata bukanlah mimpi. Kenan benar-benar membuat asbak dan gelas kaca itu menjadi serpihan abu. Ia bergidik dan kembali ke kamarnya.
"Ah ... sial! Harusnya aku interview hari ini, tapi gara-gara mata ini bengkak dan merah, gagal semuanya," umpatnya sambil membanting pintu kamar sendiri.
"Argh!" Ia mengacak-ngacak rambutnya sendiri saat senyum sinis Kenan terbayang di pelupuk mata. "Kurang ajar! Awas saja kau, Kenan!" Hanya bisa mengancam.
Kenan terkekeh bersama Kiran melihat wajah tegang Roni. Sampai keluar rumah, keduanya nampak bahagia karena bisa menekan Roni dengan apa yang dilakukan Kenan tadi.
Sepeda tua itu dikayuh dengan pelan, santai sambil bersenandung lagu anak-anak bersama Kiran. Kenan menurunkan Kiran di sebuah pos jaga restoran tempatnya bekerja. Ia menitipkan adiknya itu pada penjaga pos, seorang laki-laki paruh baya yang baik hati.
"Kau tunggu di sini, ya. Kakak harus bekerja. Jangan nakal, jangan menyusahkan Kakek. Janji?" ucap Kenan pada Kiran sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji!" Kepala gadis kecil itu mengangguk pasti dan mengaitkan jarinya pada jari sang Kakak.
Kenan mengusap rambut Kiran sebelum beralih pada penjaga pos.
"Titip adik saya, Pak. Dia tidak ingin ditinggal di rumah," katanya.
"Tenang saja, Kenan. Kau bisa bekerja dengan tenang selama gadis kecil ini bersamaku," jawabnya menenangkan.
Kenan melambaikan tangan pada Kiran setelah berpamitan. Ia masuk melalui pintu belakang restoran dan berkumpul bersama karyawan lainnya di ruang ganti.
__ADS_1
Mereka harus mengenakan seragam restoran saat bekerja. Kiran duduk menunggu di dalam pos sambil menonton acara kartun yang tak pernah bisa ia tonton saat di rumah. Kenan bekerja dengan tenang, lebih tenang saat Kiran bersamanya ikut.
"KENAAAAAANNN!"