
Celotehan yang mereka lakukan berdampak positif untuk mental Shopia. Gadis itu tak lagi murung, senyumnya selalu berkembang, merekah seperti bunga mawar.
"Aku tidak mau kembali, aku mau di sini bersama Kiran. Kak, tolong. Aku masih mau bercerita. KAKAK!"
Shopia meronta saat Leo menggendongnya. Berkali-kali ia melarikan diri dari kursi roda hanya untuk kembali kepada Kiran. Padahal, sudah waktunya beristirahat. Hari pun telah beranjak menemui gelap. Namun, gadis belia itu masih ingin bermain-main, seolah-olah baru menemukan dunia luar.
Kenan dan Yuki tertawa lepas melihat tingkah pasangan baru itu. Kiran pun tergelak, ia tak menampik berbicara dengan Shopia sangat menyenangkan, tapi yang diucapkan Leo ada benarnya.
"Kau harus kembali untuk beristirahat agar keadaanmu cepat pulih seperti dulu."
Begitu perintah Leo sebelum menggendong gadis itu.
"Mereka lucu sekali," celoteh Kiran tertawa geli.
"Seharusnya adegan itu tidak untuk dilihat anak seusiamu, Kiran," timpal Kenan, tapi tak urung jua bibirnya tersenyum.
"Seharusnya mereka tidak melakukan itu di hadapan seorang anak kecil sepertiku." Kiran tak mau mengalah. Ia membanting dirinya di atas sofa membuka-buka majalah kesehatan yang selalu tersedia di meja ruangan.
Kenan menggelengkan kepala, mereka masih di ruangan Yuki.
"Sayang sekali kak Regan tidak ada. Jika ada aku yakin, dia akan iri melihat paman Leo sudah memiliki kekasih. Tidak sepertinya yang tak pernah terlihat bersama seorang wanita," seloroh Kiran dengan bibir mencibir.
Yuki dan Kenan yang mendengar saling menatap satu sama lain, mengangkat bahu tak acuh, tapi tergelak saat membayangkan laki-laki jomblo itu meneteskan liurnya.
"Bukankah dia menunggumu besar?" Kenan asal bicara.
Brak!
Kiran membanting majalah, mengejutkan kedua Kakaknya. Mereka menoleh dan mengernyit saat melihat gadis kecil itu meletakkan jari telunjuknya di dagu seolah-olah berpikir.
"Kak Regan, ya? Mmm ... boleh juga. Dia tampan, menarik, baik hati, juga yang pasti dia kaya. Calon suami idaman di masa depan, tapi dia hanya boleh melamarku saat usiaku sudah seperti kak Shopia," gumamnya seorang diri.
Pandangannya mengawang ke langit-langit ruangan, tersenyum tipis, lalu terkikik tak jelas. Yuki bergidik ngeri, apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu?
"Kenan?" lirih Yuki sambil meremas jemari kekasihnya itu. Kenan meneguk ludah, tak percaya jika Kiran akan bertingkah seperti sekarang ini.
"Kiran!" sentak Kenan khawatir dengan keadaan adiknya yang tertawa dan tersenyum sendirian.
__ADS_1
"Apa?" Mata kecil itu melotot lebar nyaris mau keluar.
Tak lama pintu ruangan Yuki terbuka, Alex melangkah tergesa disusul Regan yang tak lama muncul di belakangnya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Kiran terperangah, kedua alisnya naik tinggi ke atas. Biji mata melotot lebar. Rona merah tercipta di kedua pipinya. Ia bertingkah menggemaskan sekaligus menyebalkan.
"Yuki? Kudengar kau sakit? Apa yang terjadi? Apakah semalam terjadi sesuatu?" cecar Alex yang baru mengetahui kabar Yuni sakit saat tadi berkunjung ke kamar putranya.
Yuki termangu, gurat cemas di wajah tua Alex sudah lama tak ia lihat di wajah laki-laki tua di rumahnya. Kesedihan menyeruak begitu cepat dari dalam hati, membuat matanya memanas, setetes embun jatuh dari pelupuk. Yuki menunduk untuk mengusapnya.
"Hei, Nak! Ada apa?" Alex mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
Kesedihan dalam hatinya bertambah merasakan sapuan lembut dari tangan besar milik ayah kekasihnya. Seandainya ... seandainya ....
Sayang, semua itu hanya ada dalam hayalannya semata. Yuki terisak-isak, bahunya berguncang. Ia menunduk menutupi wajah dengan kedua tangan. Alex tidak mengerti, tapi ia dapat merasakan tangis yang terdengar pilu dan penuh penderitaan itu.
Kenan di sampingnya mengusap-usap punggung berguncang itu. Regan mematung, ia tahu kenapa Yuki menangis. Juga Kiran yang tadi tersenyum-senyum kini ikut merasa sedih mendengar tangisan Yuki. Alex melilau mencari seseorang.
"Di mana Leo?" tanyanya pada siapa saja yang ada di dalam ruangan.
Alex beranjak, membawa Leo keluar ruangan untuk berbicara serius dengannya.
"Kau tahu apa yang terjadi pada Yuki?" tanya Alex segera setelah mereka berada di luar.
"Maaf, Tuan. Jika tidak salah saya mendengar semua disebabkan karena hubungan antara Nona dan kedua orangtuanya yang tidak baik bahkan, keduanya seolah tidak peduli pada anak mereka. Selalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak memiliki waktu untuk Nona," jelas Leo yang lebih dulu mencari informasi tentang keadaan Yuki.
"Benarkah? Siapa orangtuanya?" Alex menyelidik.
"Mereka pemilik perusahaan Lucky Star, Tuan."
"Lucky Star?"
"Benar, Tuan."
"Berapa persen saham kita di perusahaan itu?" tanya Alex lagi. Mata tuanya memicing. Teringat akan kedua anaknya yang tumbuh tanpa orang tua, jangan ada lagi yang seperti mereka.
__ADS_1
"Tiga puluh lima persen, Tuan. Perusahaan kita termasuk ke dalam investor terbesar di perusahaan tersebut," jawab Leo dengan cepat.
"Tarik saham kita dari perusahaan itu, aku tidak sudi membantu orang tua yang tidak peduli pada anaknya. Tarik secepatnya, dan kita lihat apa yang akan terjadi ke depannya!" titah Alex tidak segan.
Alex hanya ingin memberi mereka pelajaran tanpa ingin Yuki bertambah sedih.
"Baik, Tuan."
"Satu lagi, jangan katakan pada mereka perihal ini. Aku hanya ingin kedua orang tua itu menyadari kesalahan mereka, dan menyesalinya," perintahnya lagi dengan tegas.
"Baik, Tuan."
Alex menghela napas, menormalkan emosi sebelum kembali masuk ke dalam ruangan. Ia tersenyum melihat Yuki tak lagi menangis, melangkah perlahan ke dekat ranjang duduk tanpa segan di sana. Ia sudah menganggap Yuki seperti anaknya sendiri.
"Ada apa? Kenapa kau bisa sakit seperti ini?" tanya Alex menatap ramah wajah sembab Yuki karena menangis tadi.
"Tidak ada apa-apa, Tuan-"
"Mmm ... tunggu! Bisa kau panggil aku Ayah saja? Rasanya tidak nyaman saat terdengar telingaku," sela Alex sebelum Yuki menyelesaikan kalimatnya.
Gadis itu tertegun, berbincang-bincang dengan sosok yang disebut Ayah sudah sangat lama tak ia rasakan. Yuki sampai lupa kapan terakhir kali mereka saling bertegur sapa dan bercerita.
"Ba-baik ... A-ayah," ucap Yuki terbata dan gugup.
Alex mengangguk puas, tersenyum hangat pada gadis pilihan putranya itu.
"Seperti itu lebih baik." Manggut-manggut dengan raut wajah puas.
"Umh ... Ayah, bisakah Kak Regan memanggil Ayah ... Ayah?" Kiran menyambar, matanya berkedip-kedip lucu dan menggemaskan. Ia menaruh tautan jemarinya di bawah dagu, memiringkan kepala merayu.
Alex menoleh dengan dahi mengernyit, sedangkan Regan mematung tak mengerti. Bibirnya berkedut-kedut hendak berucap, tapi tak tahu apa yang ingin ia ucapkan.
"Alasannya ...?" Alex melirik tajam pada sahabat anaknya itu.
Sementara yang ditatapnya, bergidik ngeri. Bulu romanya berdiri, seluruh tubuhnya meremang tak karuan. Seperti ada sesosok makhluk yang tak kasat mata berdiri di belakang tubuhnya.
Kiran tertawa, kedua pipinya memerah. Apa yang terjadi padanya?
__ADS_1
"Itu karena Kak Regan adalah calon suamiku di masa depan."
"APA?!"