Takdir Kenan

Takdir Kenan
Pembalasan Alex


__ADS_3

"Mikael! Lepaskan anak itu dari penjara, dan biarkan dia kembali ke rumahnya. Antar dia secara khusus sampai kau memastikannya sendiri dia berada di rumah bersama keluarganya!" perintah dari Alex sepulangnya mereka dari pemakaman.


Tanah merah itu akan jadi saksi bahwa semua pengorbanannya tak akan berakhir sia-sia.


"Baik, Tuan!" Mikael tak lagi menundanya, ia segera pergi meninggalkan kediaman Alex bersama beberapa orang lainnya.


"Aku ingin kau pergi ke rumah gadis itu, pastikan mereka semua berkumpul dan kau ... tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?" Pandangan Alex menghujam tajam, maniknya berubah sekelam malam. Tak ada kebahagiaan yang terlihat seperti beberapa waktu lalu.


"Saya mengerti, Tuan!" Leo menunduk sebelum membawa dirinya keluar dari rumah duka yang masih diselimuti awan berkabut itu.


Sore hari gemericik air dari langit kembali turun, mengguyur dia yang baru saja ditimbun tanah merah kuburan. Menyiram hari orang yang ditinggalkan, semoga ketenangan bersama mereka.


"Aku ingin wanita itu dan anaknya dilepaskan, lempar mereka ke jalanan dan jangan biarkan siapapun mengasihani keduanya. Aku ingin melihat penderitaan mereka!" Suara gumaman Alex yang seperti perintah itu, disanggupi dua orang yang masih berada di dalam ruangan.


Mereka juga ikut pergi, menyusul dua orang lainnya untuk menjalankan perintah yang diberikan. Tinggallah Alex sendiri, ia berdiri di dekat jendela. Kedua tangannya yang berpangku di belakang, mengepal kuat. Menggenggam bara dendam yang membakar jiwanya.


Pandanganya hampa menatap lalu-lalang kendaraan di kejauhan. Manusia hilir mudik menjalankan aktivitasnya, tapi tidak dengan Alex. Ia kehilangan sebagian dari hidupnya.


"Lihatlah! Kalian juga harus menderita seperti yang aku alami saat ini. Rasakan sendiri bagaimana rasa kehilangan. Aku ... ingin menyaksikan bagaimana kalian menghadapi kutukan itu!" Matanya bergulir, memicing tajam penuh amarah.


Alex beranjak, berjalan keluar dengan tergesa. Ia membuka pintu kamar putranya, melihat gadis kecil itu berbaring sambil memeluk sebuah figura di atas ranjang sang Kakak. Air mata Alex menetes, putri bungsunya kehilangan senyuman, keceriaan yang selalu menghiasi hari-hari kini tak lagi nampak di wajah cantik itu.


"Aku bersumpah, akan menghilangkan senyum dari hidup kalian!" geramnya seraya menutup pintu kamar tersebut dengan pelan. Ia tak ingin mengganggu tidur putrinya yang pulas.


"Jaga dia, jika dia bertanya, katakan aku sedang ada pertemuan penting!" perintah itu ia berikan kepada Regan yang masih berada di rumah Kenan.


Sahabat Kenan itu mengangguk pasti, menjaga Kiran adalah sebagian janji yang pernah ia ucapkan pada sahabatnya dulu. Regan memilih duduk di depan kamar yang ditempati Kiran. Berjaga-jaga khawatir gadis kecil itu membutuhkan seseorang yang sedikit bisa menghiburnya.

__ADS_1


Mikael pergi ke dalam penjara, menemui ayah dan anak itu.


"Tuan Alex membebaskanmu. Beliau sudah mencabut semua tuntutan. Kau bisa pulang dan kembali berkumpul bersama keluargamu hari ini juga. Saya pribadi yang akan mengantar pulang dengan selamat karena sudah dapat dipastikan orang-orang Tuan Alex di luaran sana sedang tersulut emosi dan hanya aku yang bisa menenangkan mereka," ungkap Mikael yang terdengar masuk akal di telinga Steve dan Teddi.


"Kau yakin Alex membebaskan putraku?" tanya Steve sedikit curiga, tapi jika itu benar dia akan sangat senang.


"Tentu saja, Tuan. Saya secara langsung diperintahkan Tuan Alex untuk melindungi putra Anda sampai di rumah," ucap Mikael lagi sambil terus menahan geram yang bergejolak dalam dada.


"Rasanya aku tidak percaya, aku curiga dia merencanakan sesuatu dibalik semua ini," gumamnya tanpa tahu terima kasih.


Mikael menyandarkan punggung ke kursi, kedua tangannya dilipat di perut. Ia tersenyum sinis seraya menajamkan mata menatap Steve dan Teddi.


"Seandainya, jika aku diberi pilihan, ingin rasanya aku mencabik tubuh anakmu itu. Seandainya saja Tuan Alex memerintahkan aku untuk meneguk darahnya, akan aku lakukan dengan senang hati. Jadi, kau ingin anakmu selamat sampai rumah atau kau justru ingin melihatnya mati dengan daging terkoyak?" Mikael memberi pilihan.


"Kau tahu, kesalahan yang kau lakukan tidaklah termaafkan. Anakmu yang menculik calon istri Tuan Muda, dan memberikannya kepada suku kanibal untuk ditumbalkan. Lalu, Tuan Muda menyelamatkannya juga putramu dari ritual menjadi monster, tapi kau justru menabuh genderang perang terhadap Tuan kami. Jika suatu saat terjadi sesuatu padamu dan keluargamu, maka itu memang pantas untuk kau dapatkan," ungkap Mikael dengan tegas.


"Apa itu benar? Kau yang lebih dulu melakukan penculikan? Katakan, Teddi!" tuntut Steve sambil memukul bahu putranya sendiri dengan kesal.


"Maafkan aku, Ayah. Aku tidak tahu jika Kenan adalah anak Tuan Alex. Aku hanya tidak suka gadis yang aku kejar justru memilih bersamanya," ucap Teddi takut-takut.


"Bodoh! Kau bodoh!"


"Meminta maaf sekarang itu tidaklah baik karena Tuan Alex sedang berduka. Adik satu-satunya meninggal, dan salah satu putranya juga meninggal dalam insiden pertempuran tiga hari yang lalu," ucap Mikael jelas ia menggeram marah.


"Jadi, cepatlah! Aku tidak memiliki waktu banyak untuk terus berada di sini!" Mikael beranjak, ia berjalan tanpa peduli dua orang yang masih duduk di tempatnya.


"Ayah?"

__ADS_1


"Pulanglah!"


Teddi meninggalkan Steve sendirian, ia mengikuti Mikael pulang dan Steve kembali ke dalam tahanan.


Mikael mengantar anak itu sendiri sampai di depan rumahnya. Ia memberi peringatan sebelum Teddi keluar.


"Beberapa hari ke depan, sebaiknya kalian semua tidak meninggalkan gerbang rumah. Jika ingin tetap selamat dan aman, tetaplah berada di rumah berkumpul bersama keluarga. Bukankah itu menyenangkan?" ucap Mikael dengan nada sinis dan mata yang mendelik tajam.


Teddi tidak menyahut, ia cepat keluar dari mobil dan masuk menutup gerbang rumahnya. Mikael tidak lekas pergi dari sana, menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan apa yang diinginkan Alex.


"Kalian sudah dalam posisi?" Mikael menghubungi beberapa orang yang ditugaskannya untuk menjalankan misi yang dia berikan.


Hari terus beranjak hingga malam datang bersama gelap. Seseorang keluar dari kediaman Steve dengan tergesa dan menghampiri Mikael.


"Kau sudah melakukan tugasmu?" tanya Mikael padanya.


"Sudah, Bos."


"Masuklah! Sebentar lagi pemilik rumah akan datang dan kita akan menyaksikan pemandangan indah malam ini." Mikael tersenyum puas membayangkan semua rencananya berjalan sempurna.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Mikael padanya.


"Mereka sudah memulainya, Bos," jawabnya.


Laki-laki dibalik kemudi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak lama sebuah ledakan terdengar dari arah kediaman Steve. Semua akses keluar tertutup tak satupun dari mereka yang di dalam dapat keluar.


Berselang, kepulan asap mulai membumbung, diikuti kobaran api yang menjilat-jilat. Tepat pada saat itu, mobil polisi yang membawa Steve muncul. Laki-laki angkuh di dalamnya berlari keluar. Wajahnya terlihat menderita melihat anak dan istrinya meminta tolong di lantai dua rumah mereka. Tak lama api melahap keduanya, kebakaran hebat yang menghebohkan komplek tersebut malam itu.

__ADS_1


"TIDAK!"


__ADS_2