Takdir Kenan

Takdir Kenan
Duel


__ADS_3

Tawa dari anak si kepala suku masih terdengar menggelegar, membahana memecah kesunyian malam di hutan terlarang tersebut. Disambut gelak tawa yang serempak dari seluruh anggota suku juga senyum tipis dari sang pemimpin.


Pemuda itu berteriak lantang, entah apa yang dia teriakan, tapi Kenan mengerti dia meminta dukungan dari semua orang-orangnya.


"Namaku Shaka! Orang terkuat di suku ini, anak dari kepala suku yang tak terkalahkan!" teriaknya sambil membusungkan dada, dan menepuk-nepuknya jumawa. Ia mencibirkan bibir mengejek Kenan yang hanya bertubuh kurus tidak berotot seperti dirinya.


Sang pemimpin suku tersebut mengangkat tongkat hingga ujungnya yang berupa tengkorak mengecup ubun-ubun pemuda yang bernama Shaka. Ia memejamkan mata seolah-olah sedang mendapatkan berkat dari sang Ayah. Dengan kedua tangan menangkup di dada dan kepala mendongak, tak lama mulutnya terbuka lebar. Sebuah cairan berwarna merah keluar dari lubang pada tengkorak tersebut.


Kenan bergidik, ia tahu itu adalah cairan darah manusia yang mereka bunuh dan mereka makan dagingnya. Mengerikan!


Shaka menurunkan wajah tanpa membuka mata, berikutnya ... tubuh berotot itu menggeliat, ia meringis menampakkan giginya yang berubah warna karena cairan tadi.


Shaka membentang kedua tangan lurus dan panjang ke samping tubuhnya. Jemarinya mengepal kuat, ia meraung, melonglong seperti serigala sambil mengernyit menahan sakit.


Kenan hanya berdiri mematung, menyaksikan kejadian aneh yang baru pertama ini ia jumpa.


"Tuan Muda! Mereka adalah monster, Anda yakin bisa mengalahkannya? Lihat, dia sudah berubah." Leo dan Mikael datang bersamaan, mereka mengkhawatirkan Kenan.


Sejujurnya, Kenan sendiri ragu dengan kemampuan yang dia punya. Apalagi setelah melihat Shaka yang kian menjerit kian membuat tubuhnya besar hingga otot-otot yang menonjol nampak dengan jelas.


"Tuan Muda ... apa yang harus kita lakukan?" Leo gamang.


"Biar aku menggantikan Tuan Muda melawannya. Aku yakin aku mampu melawannya hingga bantuan datang. Setidaknya begitu," usul Mikael karena tubuhnya yang besar dan berotot pula ia yakin bisa menunda waktu hingga Ayah Kenan datang membawa bala bantuan.


"Tidak!" tegas Kenan. Pandangannya sama sekali tak teralihkan dari Shaka yang masih menjerit juga sorakan dari anggota suku tersebut.

__ADS_1


"Kalian tunggu saja jangan melakukan apapun. Aku yang akan melawannya sendiri," tegas Kenan dengan tekad besar di maniknya.


"Tapi, Tuan Muda ...."


"Tidak, Leo. Ini masalahku, gadis yang di sana ... akulah yang dia harapkan, akulah yang dia tunggu. Aku tak ingin membuatnya kecewa dengan mengorbankan kalian berdua. Awasi saja semoga Ayah datang tepat waktu," pungkas Kenan menatap mereka berdua dengan yakin.


Lingkaran keemasan di maniknya yang berwarna coklat itu, memancarkan aura kekuatan yang luar biasa. Mikael bisa merasakan itu, tapi tetap saja ... Shaka memiliki kekuatan di luar nalar manusia.


"Baiklah, Tuan Muda. Anda harus berhati-hati! Kudengar kelemahan suku kanibal ada pada kalung di leher mereka. Jika kalung tersebut dilepaskan, kekuatan mereka akan ikut menghilang." Kenan termangu, merenungkan apa yang diucapkan Mikael tadi.


"Aku mengerti!"


Raungan Shaka menyusut, menyusul tubuhnya yang semakin besar dan berotot. Kulitnya yang hitam mengkilat karena peluh melumasinya. Menjijikkan di mata Kenan, pastinya permukaan kulit itu akan terasa licin dan seperti berlendir.


Ia tertawa terbahak-bahak membuat bumi yang mereka pijak bergetar hebat. Kenan meneguk saliva melihat perubahan drastis dari sosok anak kepala suku tersebut.


Yuki menggelengkan kepalanya, ia ingin berucap kata, tapi mulutnya tersumpal. Yang terdengar hanyalah teriakan tak jelas darinya dengan air mata yang menganak sungai di pipi.


Kenan melirik, dan tersenyum. Ia meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tak akan mungkin ia membiarkan Yuki dinikahi pemuda jelek itu.


Shaka melangkah ke hadapan, setiap langkah menerbangkan debu hingga membumbung menyelimuti kakinya. Kenan menarik napas panjang dan membuangnya dengan kasar. Langkahnya terjeda disaat sebuah tarikan ia rasakan.


Kenan melepaskan tangan Leo dengan pelan, terus lanjut melangkah berhadapan dengan Shaka yang memiliki tubuh lebih besar darinya. Kenan mendongak, mantap manik merah darah di hadapannya tanpa gentar.


Ibu ... kau pernah mengatakan jika aku merasa lemah maka aku hanya perlu menyebut namamu. Kau akan datang memberiku kekuatan, bukan? Ibu ... aku membutuhkan kekuatan itu. Gadis itu ... aku mencintainya, Bu. Aku tidak ingin pemuda jelek ini yang mengambilnya sebagai istri. Bantu aku, Ibu!

__ADS_1


Kenan bergumam dalam hati, pandangannya lurus menohok manik Shaka yang berapi-api. Ditatap Kenan dengan berani seolah-olah sedang ditandai, membuat amarah dalam dadanya semakin memuncak.


Tanpa basa-basi Shaka melayangkan pukulan tepat mengenai ulu hati Kenan. Tubuh kurus Kenan terpental jauh, melayang dan jatuh menghantam tumpukan kayu bakar milik suku tersebut.


Kenan terbatuk-batuk, cairan merah menyembur keluar dari mulutnya. Ia meringis, seluruh tubuhnya terasa lemas seketika. Otot-otot dan sendi dalam tubuh ikut melunak, tulang belulang rasanya hancur berantakan. Ia tak memiliki tenaga, hanya satu kali serangan saja dari Shaka.


Yuki menjerit, air matanya semakin membanjir di pipi. Ia memberontak, menggeliat, berharap ikatan di tubuhnya akan melonggar dan terlepas. Namun, kenyataanya, ikatan tersebut tak tergerak sama sekali. Ia menangis histeris melihat Kenan yang memuntahkan darah begitu banyak dari mulutnya.


Leo dan Mikael tak bisa diam saja, mereka gegas menghampiri Kenan dan melihat kondisi tubuhnya.


"Tuan Muda!" seru Leo dengan panik. Kenan masih terbaring di atas tumpukan kayu tersebut dengan kondisinya yang lemah nyaris tak dapat menggerakkan satu jari tangan pun.


"Sialan! Brengsek! Aku akan pergi melawannya!" seru Mikael. Di bawah tatapan sayu Kenan laki-laki bertubuh besar itu berjalan dengan gagah menghampiri tempat Shaka tertawa terbahak bersama para anggota sukunya.


"Ho ... ada lagi? Yang ini lebih baik dari pada pemuda sebelumnya. Kau terlihat lebih masuk akal dari pada dirinya," puji Shaka sambil menyeringai pada sosok Mikael yang tak jauh beda tinggi tubuhnya.


"Jangan banyak bicara. Kau sudah mencelakai Tuan Muda dan harus menanggung akibatnya. Akan kuremukkan tulang-tulang dalam tubuhmu itu!" ucap Mikael dengan lantang.


Shaka kembali tertawa, suara tawa yang melangit menerbangkan burung-burung yang hinggap tertidur di sarangnya.


"Silahkan saja ... jika kau mampu!" cibirnya sembari memperlihatkan deretan giginya yang dilumuri darah merah.


Mikael melayangkan serangan, cukup keras hingga membuat tubuh Shaka termundur beberapa langkah. Shaka menepuk-nepuk perut bekas pukulan Mikael, ia menatap nyalang bodyguard ayah Kenan itu yang sudah berani mengotori kulitnya.


Shaka dan Mikael sama berlari sambil melayangkan serangan. Pukulan demi pukulan, tendangan dilayangkan Mikael meskipun selalu dapat ditangkis Shaka.

__ADS_1


"Sial! Sulit sekali rasanya!" umpat Mikael. Pasalnya tubuh Shaka seolah-olah kebal, dan dia juga mampu membaca setiap serangannya.


__ADS_2