Takdir Kenan

Takdir Kenan
Kekuasaan Alex II


__ADS_3

"Tu-tuan Alex!" seru ketiga laki-laki yang datang tergesa itu. Wajah pucat mereka menunjukkan seberapa terhormatnya laki-laki yang dihina para istri mereka.


Alex tersenyum sinis, sedangkan Kiran menatap bingung sekeliling terlebih pada ketiga laki-laki yang berubah pucat pasih saat menyebut nama Ayahnya.


"Jadi, mereka anak dan istri kalian? Wanita-wanita dan anak-anak nakal yang mengganggu anakku?" Alex mengangkat sebelah alis mengintimidasi ketika karyawannya.


"Be-benar, Tuan. Tolong, maafkan kami. Ampuni istri dan anak-anak kami, Tuan. Ampuni kami!" mohon ketiganya sambil menangkupkan tangan di depan wajah.


Sementara ketiga wanita yang menghardik dan menghina Alex celingukan bingung karena setahu mereka Alex atau pemilik perusahaan Lois itu berjanggut tebal hingga menutupi kedua belah bibirnya.


"Me-mangnya si-siapa dia?" Takut-takut, salah satu dari mereka bertanya. Bibirnya gemetar diikuti peluh yang mulai rembes dari pori-pori kulitnya.


"Kalian keterlaluan, minta maaf pada Tuan Alexander. Beliau pemilik perusahaan Lois tempat suami kalian bekerja!" Leo yang tidak diketahui kedatangannya menyambar dengan geram.


Mereka terperangah, satu-satunya yang menjadi bukti kuat bahwa laki-laki itu adalah Alexander Lois, asistennya yang dingin dan tak pernah tersenyum itu. Leo, yang sering mereka jumpai dalam acara-acara yang digelar perusahaan Lois.


"Ja-jadi, dia benar-benar Tuan Alexander?"


"Ya. Aku ingin surat pengunduran diri kalian sudah ada di mejaku besok pagi sebelum aku sampai di kantor!" tegas Leo tak segan mengambil keputusan meskipun jabatannya hanyalah sebagai asisten.


Ketiga pasang mata wanita itu menjegil lebar, tidak terima karena Leo bersikap sewenang-wenang dengan jabatannya.


"Maafkan kami, Tuan Leo, tapi Anda tidak bisa memecat suami kami begitu saja tanpa persetujuan Tuan Alex. Anda tidak bisa sewenang-wenang hanya karena jabatan Anda lebih tinggi daripada suami kami," cerocos salah satu wanita dengan matanya yang melotot lebar.

__ADS_1


Beberapa guru datang untuk melerai, tapi tangan Leo sigap terangkat menghentikan tindakan mereka.


"Perlu kalian tahu, dengan atau tanpa persetujuan Tuan Alex, keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Siapapun yang berani merendahkan Tuan Alex dan keluarganya mereka tidak layak hidup dengan baik. Kalian dengar! Serahkan surat pengunduran diri kalian besok sebelum aku datang!" tegas Leo tanpa segan.


Alex tersenyum samar, menangis pun tiada guna karena jika Leo sudah membuat keputusan siapapun tak akan ada yang berani untuk menggugat.


"Silahkan, Tuan. Acaranya dimulai dua menit lagi," beritahu Leo sambil mengarahkan tangan ke depan mempersilahkan Alex untuk memasuki ruangan.


Tanpa mempedulikan raungan ketiga pasang suami istri itu, Alex menuntun Kiran memasuki ruangan. Namun, tarikan tangan mungil itu, menghentikan laju ketiganya. Alex menoleh dengan dahinya yang mengernyit.


"Ada apa, sayang? Acaranya akan segera dimulai," tanya Alex heran.


Kiran menoleh pada tiga keluarga yang sedang menangis berjamaah itu. Hatinya tak tega melihat mereka menangis sambil memohon.


Secercah harapan timbul di hati mereka mendengar suara Kiran bertanya. Mereka pikir anak itu akan memohon kepada Alex untuk mencabut keputusan yang telah dibuat Leo.


"Benar, sayang. Ada apa? Apa kau ingin Ayah menarik keputusan untuk memecat mereka?" tanya Alex lagi dengan senyum yang dipaksakan. Teringat akan ucapannya bahwa ia akan melakukan apapun yang diinginkan Kiran asal dia bahagia dan bisa tersenyum.


Benar, senyum kini tersungging di bibir mereka. Kini sedang menunggu balasan dari Kiran tentang apa yang ditanyakan Alex tadi adalah benar.


Namun, gelengan kepala dari Kiran, memupus harapan di hati mereka. Bukan itu yang dia inginkan. Kerutan di dahi Alex pun terbentuk banyak dan dalam, menebak-nebak apa yang akan diucapkan oleh putrinya.


"Aku tidak akan meminta Ayah merubah keputusan, tapi setidaknya berikan mereka pesangon untuk menyambung hidup. Kudengar bila seseorang telah dipecat dari perusahaan Lois, mereka tidak akan pernah bisa diterima bekerja di mana pun. Jadi, Ayah, berikan mereka uang untuk membuka usaha sebagai penyambung hidup," tutur gadis kecil itu serius.

__ADS_1


Alex dan Leo terdiam sejenak. Berikutnya, tawa Alex pecah menggelegar. Ia menepuk-nepuk bangga kepala Kiran, tak dinyana gadis kecilnya itu sungguh cerdas. Namun, di sisi lain, ketiga keluarga yang sudah mulai lega dan merasa senang kini kembali menangis.


Harapan yang sempat singgah di hati mereka, menguap begitu saja. Ketiga wanita itu bertambah histeris begitu mendengar penuturan Kiran tentang pengaruh perusahaan Lois.


Alex menghentikan laju tawanya, ia menatap bangga dengan sisa senyum di bibir.


"Kau memang cerdas. Itu artinya kau sudah mengetahui tentang perusahaan Ayah sebelum bertemu dengan Ayah. Memang begitu yang terjadi di lapangan, dan masalah pesangon yang kau katakan tadi Leo dan sekretaris Ayah yang lain akan mengurusnya," ucap Alex sambil mengajaknya kembali masuk ke ruangan karena suara panggilan untuk para tamu telah disuarakan.


Para orang tua yang lain dan teman-teman Kiran menatap iba pada ketiga keluarga itu. Mereka yang selalu bersikap arogan, dan suka merendahkan orang lain terutama Kiran dan Kakaknya, kini mendapat ganjaran yang setimpal. Mereka semua meninggalkan tempat itu dan masuk ke ruangan untuk menyaksikan jalannya acara.


Acara tetap berjalan dengan baik dan lancar meskipun sempat terjadi ketegangan antara Alex dan orang tua murid. Para guru pun bangga atas kehadiran orang yang luar biasa di kota tersebut. Wali murid juga anak-anak mereka tak lagi memandang rendah Kiran sebagai anak yatim piatu dan tidak memiliki apapun.


Semuanya berubah setelah kehadiran Alex di sekolah itu meskipun dia harus membatalkan beberapa janji temu dengan rekan bisnisnya, Alex merasa terbayarkan dengan melihat senyum Kiran di sepanjang acara. Gadis kecil itu nampak ceria saat menampilkan sebuah tarian bersama teman-temannya.


Di sisi lain, Kenan dan Shaka masih di perjalanan setelah dari toko boneka tadi. Mereka terus melaju membelah jalanan ibukota menuju suatu tempat.


"Ke mana kita akan pergi? Kenapa rumah rasanya jauh sekali?" celetuk Shaka yang mulai jenuh berada di dalam mobil. Ia mendekap hadiah boneka yang akan diberikannya kepada Kiran. Mendesah berat dan nampak bosan.


"Kita akan ke sekolah Kiran, ada acara di sekolah itu dan aku ingin menghadirinya. Selama ini hanya aku yang dia punya sebelum Ayah dan kau datang," jawab Kenan terus fokus ke depan memutar kemudi dengan stabil.


Mendengar nama Kiran, Shaka kembali antusias. Tak sabar ingin melihat seperti apa rupa sang Adik yang katanya mirip sekali dengan mendiang Ibu mereka. Jalanan berbelok dan terus masuk ke sebuah pagar yang terbuka lebar. Parkiran sekolah itu penuh dan sesak oleh berbagai macam kendaraan.


Mereka mencari lahan kosong untuk memarkir mobil sebelum turun memasuki ruang acara. Melihat Kenan yang datang, penjaga langsung mempersilahkan masuk karena setiap tahunnya pemuda itulah yang selalu datang menjadi wali sang adik.

__ADS_1


__ADS_2