Takdir Kenan

Takdir Kenan
Menemui Para Tahanan


__ADS_3

"Kolam renang ini ... apa sudah lama tidak dipakai?" tanya Yuki saat Kiran mengajaknya bermain di belakang rumah.


Ada sebuah bekas kolam renang yang tak diisi air, nampak bersih dan tak ada kotoran apapun di dalamnya. Sayang, sepertinya memang sudah tidak dipakai.


"Kolam ini akan dipakai, Kakak baru saja membersihkannya dua hari yang lalu sebelum aku diculik. Kami berniat menggunakannya saat libur," jawab Kiran tersenyum menoleh pada Yuki yang termangu di tepi kolam bersamanya.


"Mmm ... bagaimana kalau kita bersihkan, lalu kita isi air sambil bermain. Mau?" ajak Yuki bersemangat.


"Ok!" Kiran mengangguk setuju. Antusias dan bersemangat sekali menyambut ajakan Yuki. Keduanya mengambil alat-alat yang diperlukan, turun menggunakan tangga yang ada, dan mulai membersihkan kembali sebelum mengisinya dengan air.


"Kakak seksi sekali?"


"Tak apa, di sini hanya ada kita."


Keduanya asik bersih-bersih sambil bermain supaya tak terasa lelahnya. Yuki menyalakan kran air dan memenuhi kolam tersebut, bersama Kiran mereka berdua asik bermain air. Tertawa bergembira, benar-benar lupa akan tragedi penculikan tadi malam.


Sementara Kenan dan Ayahnya dalam perjalanan menuju sebuah bangunan terpencil di dalam hutan jauh dari kota.


"Ayah, tempat apa yang akan kita tuju? Kenapa kita masuk ke dalam hutan?" Kenan tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya. Matanya memindai sekitar menatap pepohonan yang tumbuh puluhan tahun lamanya. Batang-batang berlumut dan akar-akar yang mencuat ke permukaan. Tanaman merambat melilit hampir mencapai pucuknya.


"Tentu saja menemui mereka. Ayah sengaja menempatkan mereka di sini karena penjara terlalu ringan untuk menghukum mereka," jawab Alex menjelaskan sembari terus fokus ke hadapan menuju bagian jantung hutan.


Kenan tak lagi bertanya sampai mereka tiba di depan sebuah bangunan tua yang nampak tak terawat dari luar. Mobil itu terus merangsek masuk ke dalam bangunan dan berhenti di ruang tengah bangunan tersebut.


Tiga orang datang menyambut sigap membukakan pintu untuk Kenan dan Ayahnya.


"Selamat datang, Tuan!" sapa mereka menunduk kompak. Ayah Kenan hanya mengangguk seraya mengambil langkah bersama Kenan diikuti ketiga orang yang menyambutnya.

__ADS_1


Kenan masih menutup mulut dengan pandangan yang mengedar ke seluruh ruangan. Di luar memang nampak menyeramkan, tapi saat di dalam keadaannya lebih bersih dan layak huni seperti rumah-rumah yang biasa ditempati.


"Bagian dalam bangunan ini bersih, sedangkan di luar terlihat seperti tidak dipakai." Kenan bersuara setelah mereka melewati ruangan lain. Tak banyak ruangan di dalam bangunan tersebut, ada satu pintu yang paling mencolok. Pintu berdaun dua terbuat dari kayu dengan ukiran di sisi kanan dan kirinya.


Pintu itulah tujuan mereka, salah seorang membukakan pintu dengan lebar. Tiga ruangan berjeruji menyambut mereka, dua buah ruangan yang memisahkan antara wanita dan laki-laki, dan satu lagi keluarga Paman Kenan. Di luar seseorang dirantai kaki dan tangannya. Dialah Shaka. Orang yang dianggap paling berbahaya di antara yang lain.


"Shaka?" Kenan bergumam heran melihat Shaka yang diam saja dirantai. Kepalanya menunduk, terlihat pasrah dan tak berdaya.


Kenan berjalan mendekati Shaka, ia menelisik setiap inci tubuh pemuda suku itu. Ada bekas cambukan di sekujur tubuhnya, Kenan bergidik ngeri.


"Shaka? Kau baik-baik saja?" tanya Kenan dengan pelan.


"Aku haus! Lapar!" rintih Shaka tak sanggup mengangkat kepalanya untuk bertatapan dengan Kenan.


"Air!" Kenan berteriak panik.


Seseorang memberinya air atas perintah Alex. Kenan gegas mengambilnya, membantu Shaka untuk membasahi tenggorokan dan membuatnya tersadar. Pemuda itu menenggak air yang diberikan Kenan dengan rakus, ia seperti sedang berada di gurun pasir dan berhari-hari tak menemukan air.


"K-kau datang?" katanya sumringah meski terbata. Kenan menganggukkan kepala, entah mengapa ia merasa ada ikatan dengan Shaka.


"Aku baik-baik saja, aku memang pantas mendapatkan ini. Kau jangan menatapku seperti itu," ucapnya dengan napas tersengal-sengal.


Kenan tak punya pilihan, ia menunduk sambil menggigit bibir menahan sesuatu yang asing yang ia rasakan. Kenan berbalik menatap sang Ayah, juga ketiga orang yang bersamanya.


"Ke depannya aku mau kalian memperlakukan Shaka dengan lebih baik. Beri ia makan dan minum, jangan beri dia daging. Satu lagi, jangan siksa dia!" tegas Kenan menatap pasti pada ketiga pasang manik pengawal Ayahnya.


"Turuti yang dia perintahkan!" Suara Alex mempertegas perintah yang diberikan Kenan.

__ADS_1


"Baik, Tuan Muda!" sahut mereka serentak. Kenan berbalik mendatangi salah satu jeruji yang dihuni oleh sebuah keluarga. Ia tersenyum sinis seraya melanjutkan langkah menuju kurungan lainnya yang dihuni oleh tiga orang wanita.


"Ternyata kalian dalang dibalik penculikan Yuki. Apa salah Yuki padamu, Lisa? Hingga kau menyerahkannya pada suku kanibal di hutan terlarang?" cecar Kenan pada gadis yang meringkuk di pojokan. Tubuhnya berguncang, isak tangis lirih terdengar.


"Maaf ... maafkan aku, Kenan. Maafkan aku. Aku khilaf, aku salah, dan aku menyesal," racau Lisa dengan wajah menunduk.


"Sudah terlambat. Tindakanmu sudah diluar batas, dan tidak bisa dimaafkan. Kau pantas menerima hukuman, mendekamlah di sini untuk waktu yang lama!" tegas Kenan tanpa sedikitpun merasa iba.


"Kenan, tolong lepaskan kami. Kami hanya ikut-ikutan saja, Kenan. Tolong maafkan kami, Kenan. Kami tidak mau mendekam di sini, Kenan. Tolong lepaskan kami!" mohon kedua teman Lisa sambil bersimpuh di balik jeruji.


"Ikut-ikutan atau apapun alasan kalian, aku tidak peduli! Ikutlah ke mana Lisa pergi sampai kalian benar-benar menyadari kesalahan yang telah kalian lakukan!" Menangislah mereka mendengar ketegasan Kenan.


Laki-laki sampah itu sudah benar-benar berubah. Ia tak lagi mengalah, apalagi berbaik hati. Kenan beralih ke ruangan lainnya, menemui para tahahan laki-laki yang terdiri dari Teddi dan kawanannya.


"Kau dendam padaku hingga melakukan konspirasi untuk menculik Yuki. Pecundang!" Ia berbalik menghadap ketiga orang yang menemaninya.


"Beri mereka hukuman berat! Buat mereka tidak berdaya hingga mereka lebih memilih mati daripada hidup!" titah Kenan yang sukses membuat Teddi dan teman-temannya melebarkan biji mata.


Kenan berjalan menjauh, mendekati Alex yang hanya diam memperhatikan.


"Aku serahkan mereka pada Ayah, tapi tolong jangan siksa Shaka. Entah kenapa aku merasa dia tidak sejahat itu," ucap Kenan yang diangguki Alex tanpa kata. Ia pergi meninggalkan bangunan, menuju restoran untuk kembali bekerja.


"Bedebah kau, Kenan!" teriak Teddi dari dalam jeruji.


Kenan tersenyum miring, ia menjeda langkah dan berbalik bukan untuk membalas umpatan Teddi.


"Ayah, jika Ayah datang berkunjung ke restoran. Rahasiakan identitasku sebagai anak Ayah, aku ingin bekerja seperti biasanya," pinta Kenan sambil tersenyum.

__ADS_1


Teddi menatap tak percaya, begitu pula dengan Lisa. Gadis itu mengangkat wajahnya mendengar penuturan Kenan.


"Baiklah. Ayah akan menjaga rahasia kita." Kenan mengangguk seraya melanjutkan langkah keluar dari gedung tersebut.


__ADS_2