
"Hai, Adik! Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan. Pertemuan kita yang singkat, kehadiranmu yang hanya sesaat, semua itu telah memberikan kesan terdalam dan tak terlupakan untuk hidupku. Kau pasti bahagia sekarang karena bisa hidup bersama Ibu. Sampaikan salamku padanya, aku akan menjaga mereka dengan baik. Terima kasih."
Kenan berdiri mematung di depan dua buah pusara yang salah satunya masih berupa tanah merah. Taburan bunga beraneka macam menghiasi kedua gundukan itu. Dua ikat bunga segar juga diletakkan di batu nisan mereka.
Setelah menjalani terapi dengan rutin, Kenan sudah pulih meskipun tak dapat berjalan normal seperti sebelumnya. Ia menyeret salah satu kakinya saat berjalan, terpincang dan nampak kesulitan.
Ia dan Yuki sengaja tinggal lebih lama di pemakaman, menyapa ibu dan adiknya yang pergi lebih dulu. Yuki melingkarkan tangan di lengan Kenan, menyandarkan kepala di bahu pemuda itu. Dia ingin menjadi kekuatan untuk laki-laki yang telah berjuang menyelamatkan hidupnya.
"Sudah selesai? Sebaiknya kita pulang, aku ... lapar," bisik Yuki di akhir kalimat dengan wajah yang bersemu.
Kenan menoleh, mencubit gemas hidung mancung kekasihnya itu sebelum berpamitan pada keduanya. Mereka berbalik, dituntun Yuki Kenan menyusuri tanah kuburan itu.
"Yakin bisa mengemudi? Biarkan aku yang melakukannya," ucap Yuki sesaat mereka tiba di tempat mobil yang terparkir.
Kenan terkekeh, apakah dia terlihat selemah itu?
"Aku hanya terpincang saat berjalan, kakiku masih ada dan masih bisa digunakan dengan baik. Tentu saja aku bisa mengemudikan mobil," katanya seraya membuka pintu mobil dan memasukinya.
Yuki tersenyum, ia membenarkan rambutnya yang terbang tertiup angin. Menyelipkannya ke belakang telinga sebelum ikut masuk ke dalam mobil.
Kenan melaju dengan perlahan, meninggalkan pemakaman. Pandangannya fokus ke depan, menatap lurus jalanan yang padat. Yuki melirik kekasihnya itu, tersenyum. Ia merasa bahagia saat ini dapat hidup dengan tenang tanpa takut ada bahaya yang mengancam.
"Mmm ... Yuki, kau yakin ingin menikah denganku?" Pertanyaan Kenan yang tiba-tiba menyurutkan senyum di bibir Yuki.
"Apa maksudmu?" sungutnya tak senang.
Kenan tersenyum, menggeleng sebentar sebelum melihat Yuki yang kebingungan.
"Kau tidak malu memiliki suami yang berjalan pincang sepertiku ini?" tanya Kenan setelah menghadapkan kembali matanya ke depan.
"Ayo kita menikah sekarang, akan aku buktikan bahwa aku tidak malu apalagi menyesal memiliki suami seperti dirimu. Nikahi aku sekarang juga, Kenan. Aku muak mendengar pertanyaan itu terus menerus dari mulutmu!"
Yuki cemberut, kedua tangannya terlipat di perut. Wajahnya masam dan tak enak dilihat. Kenan melirik, ia menepikan mobilnya. Membuka sabuk pengaman, seraya beranjak menghadap ke arahnya.
"Hei, kau nampak jelek jika cemberut seperti ini. Senyumlah. Baiklah, maafkan aku. Aku berjanji tak akan menanyakan ini lagi padamu. Sekarang ... berikan aku senyum manismu!" rayu Kenan sembari menyentuh dagu wanita itu seraya membalikkan wajahnya.
Ia tersenyum, tapi Yuki masih belum menarik garis lengkung ke atas. Bibirnya datar dan lurus. Kenan mendekat, dengan tiba-tiba menyerang bibir Yuki. Memagutnya dengan gemas.
Yuki terbuai, perlahan menurunkan tangan dan melingkarkannya ke leher Kenan. Ia membalas serangan Kenan secara perlahan. Terbuai kenikmatan, keduanya hampir lupa bahwa mereka masih berada di jalan.
Kenan melepas pagutan, menyatukan dahi mereka dengan napas tersengal-sengal. Jakunnya naik dan turun, hasrat kelelakiannya menginginkan lebih.
"Aku mencintaimu, Yuki. Tetaplah di sampingku apapun yang terjadi," bisik Kenan mesra.
Yuki memejamkan mata, menikmati hembusan napas hangat Kenan.
__ADS_1
"Aku pun mencintaimu, jangan merasa rendah diri hanya karena keadaanmu. Apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaanmu, aku akan tetap mencintaimu. Ayo kita menikah, dan memiliki banyak anak." Keduanya tersenyum mendengar celotehan Yuki.
Kenan menjauhkan wajahnya, menangkup wajah gadis itu seraya mengecup dahi, pipi, dagu, juga bibirnya secara singkat. Mereka terkekeh, rasanya seperti mimpi dapat menikmati kebahagiaan tanpa halangan apapun.
*****
"Satu ... dua ... tiga!"
Seikat bunga dilemparkan sepasang pengantin ke atas, melayang jauh di udara. Keduanya berbalik antusias melihat mereka yang berkumpul untuk dapat menangkap bunga tersebut.
Dan ....
Hap!
Dua tangan menangkapnya secara bersamaan. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
"Aku yang lebih dulu!"
"Aku yang lebih dulu!"
"Kenapa mereka seperti anak kecil?" bisik Yuki di telinga Kenan.
"Entahlah, cinta memang begitu. Mikael yang sangar berubah lembut, dan Leo yang tak banyak bicara menjadi lebih sering bercerita. Seperti kau dan aku akan bersiap mencetak Kenan dan Yuki junior."
Wajah pengantin wanita itu bersemu, ia menunduk senang. Tiba-tiba tubuhnya melayang meninggalkan hiruk-pikuk keramaian pesta dan perebutan bunga antara Mikael dan Leo.
"Milikku!"
"Milikku!"
"Hei, hei! Biar aku yang memegang bunganya, sekarang silahkan ajak pasangan kalian untuk berdansa. Mereka memperhatikan kalian sedari tadi, kekanakan. Aku akan menikahkan kalian sebagai bersama-sama. Pergilah, temui kedua calon menantuku yang lain!"
Alex datang menengahi, merebut bunga itu dari tangan keduanya seraya menceramahi mereka sedikit. Mendengar ucapan Alex, senyum di bibir keduanya terbit. Mereka berlari cepat meninggalkan Alex begitu saja.
"Terima kasih, Ayah!" teriak keduanya sambil berlari. Alex menggelengkan kepala sambil tersenyum. Kehadiran mereka tak hanya sebatas asisten dan bodyguard saja, mereka lebih dari itu. Alex menganggap keduanya sebagai anak-anaknya sendiri.
"Tuan!"
Sebuah sapaan membuat tubuh Alex berbalik. Ia tersenyum mendapati kedua orang tua Yuki berdiri di belakangnya.
"Ada apa? Apa kalian menikmati pestanya?" tanya Alex dengan ramah.
"Kami sangat menikmatinya, Tuan. Kami datang untuk mengucapkan banyak terima kasih kepada Anda karena telah menerima kami menjadi anggota keluarga. Maafkan kesalahan kami, Tuan. Kami benar-benar menyesalinya. Kami serahkan putri kami satu-satunya untuk dijaga Kenan, putra Anda. Kami yakin, Kenan adalah suami yang baik untuknya dan akan dapat membahagiakan Yuki sampai tua nanti," ungkap ayah Yuki dengan kesungguhan hatinya.
Alex tersenyum, menepuk bahu laki-laki itu sebelum memeluknya.
__ADS_1
"Kita akan bersama-sama berjuang untuk membahagiakan anak-anak kita." Ayah Yuki mengangguk setuju.
Wanita di belakangnya tersenyum haru, mereka tak pernah mengira akan menjadi anggota keluarga dari Alexander Lois yang terkenal meskipun jarang muncul di publik.
Kebahagiaan jelas terpancar di wajah mereka semua. Alex mengedarkan pandangan, terkekeh melihat putri kecilnya yang terus menempel pada Regan. Terlalu banyak wanita cantik, katanya.
"Tuan!"
Seseorang yang ditugaskan sebagai keamanan di gerbang rumah, datang tergesa.
"Ada apa?" tanya Alex dengan kerutan di dahi melihat kepanikan di wajahnya.
"Seorang wanita dan seorang pemuda datang mencari Anda, Tuan. Mereka memaksa untuk bertemu dengan Anda," lapornya.
Kepalanya menunduk usai mengatakan situasi di luar gerbang.
"Di mana mereka?"
"Mereka masih menunggu di luar gerbang, Tuan."
Alex berjalan lebih dulu diikuti laki-laki yang melapor tadi. Ia tahu siapa yang datang.
"Ria? Roni?" panggil suara Alex dari dalam gerbang.
Kedua orang itu gegas mendekat, bediri dan memegangi besi pagar.
"Kakak, aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan pada kalian. Tolong maafkan aku, Kakak. Maafkan kami. Kami sudah sangat tersiksa dengan hukuman kami. Setidaknya beri Roni tempat berteduh. Kasihan dia karena aku tidak memiliki tempat tinggal. Tolong biarkan dia tinggal di sini. Tolong, Kak!" mohon Ria tanpa tahu malu.
Ia menangis, maniknya memancarkan rasa putus asa yang teramat. Pakaian mereka kotor, tubuhnya mereka kurus tak terurus. Alex mendesah, ia membiarkan keduanya masuk dan membawa mereka ke belakang. Memberikan pakaian ganti juga membiarkan mereka makan dengan lahap.
"Ini ... gunakan untuk mencari tempat tinggal dan untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian. Maafkan aku karena tidak bisa membiarkan kalian untuk tinggal di sini. Kukira uang ini cukup untuk membangun usaha."
Alex memberikan sebuah amplop berisi uang tunai untuk mantan adik iparnya itu. Dia tidak akan pernah membiarkan mereka untuk tinggal di rumah itu lagi apalagi jika mengingat pengkhianatan keduanya, rasanya ingin meremukkan tubuh mereka.
Perlahan Ria menerima amplop tersebut, sambil menangis ia berucap terima kasih dan memohon maaf. Alex kembali mengantar mereka ke luar. Dalam hati keduanya berjanji tak akan pernah mengganggu kehidupan mereka lagi.
Sementara pengantin tengah disibukkan membuat adonan.
"Pelan-pelan! Rasanya akan sakit dan berdarah. Begitu yang aku dengar," sergah Yuki menahan Kenan yang bersiap mengaduk adonan.
"Iya, iya ... kau jangan tegang. Jika tidak, maka adonan yang kita buat akan gagal!" seru Kenan seraya memulai aksinya mengaduk-aduk adonan.
"Di mana Kenan dan Yuki?"
"Mereka tidak ada di tempat!"
__ADS_1
Ramai-ramai orang berceloteh tentang pasangan pengantin yang menghilang. Mereka tidak tahu saja, keduanya sedang sibuk membuat adonan.
\=SEKIAN\=