
"Selamat pagi!" sapa Kenan pada Yuki dan Kiran yang baru saja muncul di dapur. Ia tersenyum sambil meletakkan sepiring nasi goreng terakhir lengkap dengan telur mata sapi kesukaan si gadis kecil.
"Ke-kenan ...!" Yuki tersenyum kikuk. Semu merah muncul di pipi, malu lantaran Kenan menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Sudahlah, duduk kita sarapan. Kalian harus bersekolah, bukan?" ucapnya sambil menarik kursi seraya mendaratkan bokong di sana.
"Ayo, Kak!" Kiran menarik tangan Yuki untuk ikut duduk menikmati sarapan pagi yang disiapkan laki-laki itu.
"Nasi goreng Kakak sangat enak rasanya. Kak Yuki pasti suka," ucap Kiran sambil mengambil sendok miliknya dan melahap nasi goreng tersebut, "mmm ... selalu sesuai dengan seleraku," sambungnya sambil melirik Yuki yang baru saja menyendok nasi di piringnya.
Ia melirik Kenan, pemuda itu sama sekali bukan sampah. Selama ini dia dianggap sampah karena tak satu pun yang tahu perihal hidupnya.
"Mmm ... benar, ini enak," ucap Yuki setelah merasai nasi goreng tersebut.
"Tidak perlu berlebihan, ini hanya nasi goreng biasa dengan bumbu spesial yang bernama cinta," gombal Kenan sambil terkekeh dan melanjutkan makannya.
Yuki dan Kiran ikut tertawa kecil, mereka seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Satu orang Ayah, satu orang Ibu, dan satu orang anak.
"Apa selama ini yang memasak di rumah Kakakmu, Kiran?" tanya Yuki melirik Kiran yang baru saja menyeruput susu miliknya.
"Iya, Kak. Aku tidak ingin makan kecuali masakan Kakak karena selain rasanya sangat enak masakan Kakak sangat aman untuk aku makan," jawabnya tersenyum riang gembira.
Kenan memandang wajah bahagia gadis kecilnya itu, dulu mereka selalu dihantui rasa takut. Takut akan makanan di rumah diracuni Bibi, tapi sekarang perasaan itu sudah tak lagi mereka rasakan.
"Oya? Sepertinya Kakak harus belajar memasak pada Kakakmu." Yuki melirik Kenan yang bersemu malu. Pandangan Kenan beralih ke samping.
"Tentu saja, jika sudah besar nanti aku pun ingin belajar memasak kepada Kakak," seloroh Kiran tampak antusias disaat mengatakan keinginannya itu.
"Kalian sudah selesai? Jika sudah, kita akan berangkat!" selah Kenan yang mulai bosan mendengar mereka berdua membicarakannya.
__ADS_1
Keduanya beranjak mengikuti Kenan yang lebih dulu meninggalkan dapur. Piring-piring kotor sengaja ditumpuk di tempat pencucian karena jarum jam terus bergerak meninggalkan tempatnya.
"Piring itu bagaimana?" tanya Yuki. Ia ragu antara pergi dan tidak.
"Biarkan saja untuk saat ini. Kau tidak lihat jam, sudah sangat siang," seru Kenan yang dibenarkan hati Yuki.
Ia bergegas menyusul keluar, masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pekarangan rumah Kenan yang cukup besar.
Kiran berpamitan pada keduanya setelah sampai di sekolah.
"Ingat pesan Kakak, tunggu saja di pos satpam sebelum Kakak datang menjemput," ingat Kenan yang diangguki dengan pasti oleh Kiran. Ia melambaikan tangan seraya berjalan masuk ke dalam sekolah.
Tanpa mereka ketahui, dua orang telah mengintai di depan sekolah Kiran. Kenan melaju meninggalkan sekolah tersebut tanpa berpikir buruk tentang hari ini.
"Mmm ... Kenan, Regan selalu bertanya tentangmu. Sepertinya dia kehilangan sosok sahabat di kelas. Hari ini, dia ada pertandingan melawan Teddi. Kemarin dia mengatakan jika sangat berharap kau ada di sana menonton," ungkap Yuki sambil menatap Kenan yang fokus mengemudi.
"Baiklah. Katakan padanya aku akan datang," ucap Kenan sebagai dukungan untuk sahabatnya itu beradu tanding bola basket. Kemampuan Regan dan Teddi tak jauh beda, hanya saja Teddi lebih unggul dari pada dirinya karena lebih sering berlatih.
"Akan aku sampaikan," sahut Yuki tersenyum girang. Ia senang akhirnya dapat menonton bersama Kenan.
"Hati-hati!" ucap Kenan sesaat Yuki hendak keluar mobil.
Gadis itu berbalik, tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih untuk sarapan yang luar biasa." Ia gegas keluar melambai melepas kepergian Kenan menuju restoran.
Tiga pasang mata menatap nyalang sosok Yuki yang baru saja keluar dari mobil laki-laki itu. Tak menyangka jika Kenan saat ini sudah berubah dan menjadi kaya.
"Kupikir kabar itu hanya bualan semata, ternyata Kenan benar-benar berubah," celetuk salah satu di antara mereka.
"Kudengar juga dia memiliki rumah yang besar peninggalan Ibunya yang hanya dihuni olehnya dan adiknya saja yang kecil," sahut yang lain menimpali.
__ADS_1
"Tapi dia tidak semudah itu mendapatkan tempat di hati semua guru dan siswa. Bagusnya, dia sudah keluar dari kampus ini. Tidak ada lagi sampah yang harus dibuang ke tempatnya karena sampah itu sendiri yang memutuskan pergi," sarkasnya tanpa perasaan.
Ketiganya melengos pergi meninggalkan tempat mereka mengintip. Entah apa maksudnya, tapi mereka memiliki niat yang tidak baik terhadap gadis itu.
Yuki terus berjalan tanpa berpikir sesuatu yang buruk. Bertemu dengan ketiga temannya berkumpul dan bercerita soal apa saja.
"Yuki!" tegur Regan yang sengaja datang ke kelas Yuki untuk mendengar kabar tentang Kenan.
Gadis itu menoleh sambil tersenyum, "Regan, aku sudah memberitahu Kenan. Dia akan datang untuk melihat pertandingan, kuharap kau tidak mengecewakan dirinya," ungkap Yuki memberitahu Regan agar menambah semangat dalam dirinya.
Binar bahagia muncul di bibirnya, mendengar Kenan akan datang cukup menyulut semangat dalam dirinya untuk bermain dengan sebaik mungkin.
"Terima kasih, aku pastikan dia tidak akan kecewa padaku," katanya sumringah seraya berbalik pergi membawa rasa bahagia di hati.
"Mereka seperti dua orang berbeda jenis yang sedang jatuh cinta," celetuk teman Yuki usai kepergian Regan. Tawa renyah menggema dari tempat mereka, disambung kata-kata mengejek Regan yang berbunga selayaknya orang jatuh cinta.
Sementara Kenan, sedang menjalankan tugasnya sebagai kepala pelayan. Ia sudah mengantongi izin dari manager untuk pergi melihat pertandingan sahabatnya. Tak sabar rasanya ingin pergi, melihat waktu yang berjalan lambat. Sudah lama sekali semenjak ia memutuskan berhenti kuliah, tak sekalipun bertemu dengan teman baiknya itu.
"Ah, sayang sekali. Aku lupa meminta nomornya kepada Yuki," gumamnya sangat menyayangkan.
Disaat ia sudah memiliki benda itu, tapi tetap tak bisa menghubungi temannya.
"Kenan! Kau sudah lihat orang yang melamar kerja kemarin?" tanya sang manager yang mendatangi tempat Kenan mengawasi para pekerja restoran.
"Belum, Pak. Saya baru membaca data-datanya saja, tapi belum memutuskan apakah akan diterima di sini," sahut Kenan yang begitu teliti menyeleksi para calon pekerja di restoran tersebut.
"Bagus. Sudah seharusnya kita teliti dalam mencari pegawai. Di jaman sekarang, sangat sulit mencari orang jujur. Baiklah, jika kau ingin pergi, pergilah! Kau perlu bersenang-senang dengan sahabat." Laki-laki paruh baya itu menepuk bahu Kenan sambil berlalu.
Mendapat izin seperti itu, Kenan tidak menunda lagi. Tak apa, ia akan berbincang melepas rindu bersama Regan sebelum pertandingan.
__ADS_1