Takdir Kenan

Takdir Kenan
Menunjukkan Diri


__ADS_3

Ada yang panas bergolak, tapi bukan air mendidih. Ada yang panas membakar, tapi bukan sengatan api. Dia, laki-laki yang di sana, di tengah lapangan itu tengah memanas hatinya.


Melihat Kenan dan Yuki yang duduk berduaan sambil saling melempar senyum, dan menggoda. Ia cemburu, Teddi yang mati-matian mengejar Yuki, tapi Kenan yang justru merapat pada gadis itu.


"Sial!" Dibantingnya bola basket di tangan hingga memantul dan melambung tinggi ke udara. Permainan belumlah dimulai, tapi tubuh Teddi telah memanas dan berkeringat.


"Astaga, Kenan! Apa yang kau lakukan? Matilah kau!" umpat Regan yang baru saja muncul di lapangan dan tak sengaja menatap Teddi yang memanas. Ia melihat Kenan bersenda gurau dengan Yuki.


Kakinya melangkah dengan cepat, ingin memberi peringatan pada sahabatnya itu. Sayang, emosi Teddi jauh lebih dulu muncul ketimbang dirinya yang baru saja datang.


"Mampus!" Dia mengumpat lagi saat melihat bola basket yang melayang ke arah Kenan berada.


Semua yang hadir menegang, hal itu seringkali terjadi pada Kenan saat ia berniat menonton pertandingan basket. Semua orang sudah biasa.


"Ugh!" Para siswa yang duduk di kursi penonton bersorak. Di antara mereka bahkan ada yang menutup wajah karena tak tega melihat Kenan harus menerima hantaman bola basket.


Yuki memekik, ia menjauhkan tubuh saat sebuah angin melesat kencang di depan wajahnya. Ia membelalak melihat bola basket itu menghantam wajah Kenan.


Namun, yang terjadi selanjutnya adalah ... Kenan berdiri, ia berjalan menuruni tempat duduk penonton sambil memutar bola basket di tangannya.


"Waw!" Para gadis bersorak melihat sisi lain dari seorang Kenan yang dianggap sampah itu.


"Aku tidak bisa bermain karena tidak pernah diberi kesempatan untuk berlatih. Kau seharusnya bersyukur dan berlatih keras karena mendapat tempat khusus di hati pelatih. Sebagai pemain andalan di tim basket ini, seharusnya kau berlatih lebih giat lagi bukan malah menindas orang yang kau anggap lemah sepertiku ini!" ungkap Kenan di sepanjang langkah kakinya mendekati Teddi.


Regan melongo tak percaya, dalam hati ia merasa bangga sahabatnya telah berubah banyak.


Kenan memainkan bola basket di tangannya tepat di depan wajah Teddi. Membuat laki-laki populer itu geram dan ingin mencabik daging Kenan.


Hup!

__ADS_1


Tangannya meleset saat Kenan memainkan bola tepat ketika tangan Teddi hendak mengambilnya.


"Permainan bukan hanya mengandalkan kekuatan, tapi juga pikiran dan strategi tentu saja." Kenan melakukan dribbel seperti yang sering dilakukan Teddi. Ia menjadi pusat perhatian dalam waktu sekejap mata.


Jari telunjuknya bergerak meminta Teddi mendekat dan merebut bola di tangannya. Duel pun tak terelakan lagi. Kenan masih menguasai bola di tangan, ia bermain cantik dan lihai. Sama sekali tidak terlihat seperti sampah. Regan sendiri tak percaya pada apa yang disaksikan matanya.


"Benarkah dia Kenan?" tanyanya pada diri sendiri.


"Aku juga bertanya pertanyaan yang sama denganmu, Regan. Benarkah dia Kenan?" Rekannya ikut bergumam bertanya hal yang sama dengannya.


"Apakah benar itu Kenan siswa sampah dan tak berguna itu?" timpal yang lain dengan rasa yang sama seperti Regan. Tidak percaya.


Di antara mereka ada yang terpikat dengan pesona Kenan. Hatinya terpaut pada sosok pendiam di bawah itu. Dalam sekejap mata Kenan berubah. Ia menjadi sosok yang diidamkan setiap wanita. Keren!


Teddi memanas, tapi Kenan masih bermain santai dan tenang. Ia bahkan memberi celah pada Teddi untuk merebut bola di tangannya, tapi setiap kali Teddi hendak merebut setiap itu juga Kenan menembakkan bola tersebut ke dalam ring.


Kenan mengangkat bahu, ia berbalik hendak meninggalkan lapangan. Langkah kakinya terkesan lamban, seperti Kenan biasanya. Tanpa ia sadari, dirinya sudah mendapat tempat di hati siswa yang menyaksikan kejadian langka tadi.


Yuki terlonjak, ia berdiri cepat dan berlari turun ke lapangan. Maksud hati ingin melindungi Kenan dari hantaman bola itu, tapi Kenan sudah lebih dulu menangkap bola yang melambung ke arahnya.


"Licik! Menyerang lawan dari belakang ketika lengah, hanyalah para pengecut yang melakukannya." Kenan melempar bola tersebut hingga kembali masuk ke dalam ring.


Ia beradu tatap dengan Teddi, beberapa saat saja sebelum berbalik dan meninggalkan lapangan. Kantin tujuannya.


Yuki menarik napas lega, ia terduduk dengan lemas melihat Kenan yang berhasil menangkap bola sebelum menyentuh tubuhnya.


"Dia berubah!" Rekan Teddi datang menepuk bahu laki-laki itu. Teddi menepis dan berlalu dengan membawa kekalahan.


Ia mengangkat bahu saat rekannya yang lain bertanya melalui pandangan mata. Pada akhirnya, latih tanding ditunda karena kejadian itu. Mereka membubarkan diri dengan tertib. Desas-desus tentang Kenan cepat menyebar hingga ke seluruh telinga siswa di sekolah tersebut.

__ADS_1


Regan yang gagal berlatih pun mencari Kenan. Biasanya ia akan berada di atap dan berdiam diri di sana. Benar saja, saat Regan tiba, Kenan sedang berdiri bersandar di pembatas menatap ke jalanan di bawahnya.


"Apa kau ingin melompat lagi?" tanyanya seraya membawa kaki melangkah mendekati temannya itu.


Kenan tertawa kecil sebelum berbalik dan bersandar di pagar pembatas.


"Aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Suara adikku selalu mengiang di telinga, 'Kakak, jangan tinggalkan aku.' Mana mungkin aku bertindak bodoh lagi," katanya masih dengan senyum di bibir. Ia melipat kedua tangan di perut.


Regan ikut bersandar di tempat yang sama dengannya, menatap hamparan langit cerah di hari itu.


"Apa malam itu kau tidak teringat pada Kiran? Ah ... jika kau mati, maka aku yang akan mengambil dan merawatnya. Apa kau tidak takut dia akan lebih menyayangiku dari pada Kakaknya sendiri?" Regan melirik Kenan yang diam membisu.


Keduanya mengarahkan pandangan pada tempat yang sama. Menatap arak-arakan awan putih yang berjalan lambat di langit.


"Kiran pasti bersedih saat dia tahu Kakak yang dia sayangi melakukan tindakan bodoh itu. Aku sudah bisa membayangkan seperti apa tangisannya waktu itu bahkan jika aku belikan cokelat pun, dia akan menolak dan lebih memilih Kakaknya hidup kembali." Regan melipat tangan di perut.


Sementara Kenan, menunduk. Semua yang dikatakan Regan benar adanya. Kiran masih sangat membutuhkan dirinya, dialah satu-satunya keluarga yang dimiliki gadis kecil itu setelah Paman dan istrinya.


"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku tidak akan melakukannya lagi. Tidak akan!" ucap Kenan terdengar seperti sumpah untuk dirinya sendiri.


Regan meliriknya, ditepuknya bahu laki-laki itu sambil tersenyum bangga. Ia selalu mendukung Kenan dalam hal kebaikan apa pun.


"Memang seharusnya kau begitu, Kawan. Jika rasa putus asa datang dalam benakmu, maka ingat selalu adikmu yang manis itu. Kebodohan yang kau lakukan akan menghilangkan senyum di wajahnya yang selalu ceria. Jangan pupus impiannya karena kau membiarkan dia hidup sendiri dengan beban berat yang dipikulnya." Regan kembali menepuk bahu Kenan sebanyak dua kali.


Kenan tersenyum padanya, dan merangkulkan sebelah tangan di leher sahabatnya itu. Keduanya beranjak hendak kembali ke kelas, tapi sekelompok orang justru datang menghadang dan tidak memberi celah jalan untuk keduanya pergi.


"Mau ke mana kau? Aku baru saja sampai, kita akan bermain dulu sebentar. Benar, bukan?" ucap salah satu dari kelompok tersebut. Ia memegang bahu Kenan, mencegahnya untuk pergi.


Regan gemetar, mereka semua adalah preman sekolah. Kelompok itu begitu menakutkan jika keinginan mereka tidak terpenuhi. Sering memalak bahkan merampas paksa apa yang diinginkan dari tangan si pemilik.

__ADS_1


"Aku hanya ingin kembali ke kelas, aku tidak ingin membuat keributan," ucap Kenan sambil menatap berani manik laki-laki yang lebih tinggi darinya itu.


__ADS_2