Takdir Kenan

Takdir Kenan
Bertemu


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah senyum seorang pemuda yang baru saja datang menyapa gadis yang duduk termenung di dekat jendela. Sepi, asistennya pergi untuk pulang. Dia sendirian karena keperluan rumah belum dibelanjakan.


"Hallo, sayang. Jangan melamun seperti itu, aku tidak suka melihatnya," ucap Kenan seraya menjalankan kursi rodanya mendekati Yuki.


Gadis itu menoleh, seketika saja senyumnya terbit. Sepi dan sedih raib jika sosok tampak itu telah datang.


"Ini masih sangat pagi, kenapa kau sudah kemari?" tanya Yuki, tapi dalam hati senang bukan main.


Kenan terkekeh, ia mendekap pinggang Yuki yang berdiri di depannya. Kepalanya mendongak bertatapan dengan manik hangat yang dipenuhi penderitaan itu.


"Kau masih bersedih?" tanya Kenan sembari mengusap kedua lengan kekasihnya itu.


"Iya sebelum kau datang, tapi tidak setelah melihat senyummu. Kau membawakanku makanan?" Yuki tersenyum lebar sebelum menggigit bibirnya.


Seksi dan menggoda keimanan Kenan. Laki-laki itu terkekeh, melepas tangan Yuki dan mengeluarkan makanan yang dibawanya.


"Kekasih Mikael yang mengantarkannya ke kamarku. Kita makan sama-sama," ucap Kenan seraya beranjak mendekati sofa disusul Yuki yang mengekor di belakangnya.


"Kekasih paman Mika? Siapa? Aku belum mendengar soal itu." Yuki mengerutkan dahi.


Duduk di sofa seraya membuka bungkusan yang dibawa Kenan. Roti isi, roti tawar selai, ada dua botol susu hangat.


"Ini hangat. Benar-benar hangat," komentar Yuki setelah membongkar isi bungkusan yang dibawa Kenan.


"Iya, dia memang calon istri yang baik. Hampir setiap hari aku lihat membawakan Mikael makanan," celetuk Kenan sambil tersenyum tipis. Ia mengambil sepotong roti isi seraya menggigitnya.


"Siapa wanita yang kau maksud itu?" tanya Yuki penasaran. Tangannya mengambil roti selai dan melahapnya, tak lupa ia membuka dua botol susu hangat untuk menghangatkan pagi mereka.


"Wanita yang selalu bersama calon istri Leo. Dia orangnya."


Yuki membelalak mendengar wanita itu disebut.


"Mei? Diakah?" ucapnya memekik hampir tak percaya. Kenan menganggukkan kepala sambil terus mengunyah dan menyeruput susu hangat pemberian calon istri Mikael.


"Dia baik sekali," lirih Yuki.

__ADS_1


"Kulihat kau sudah lebih baik, tidak pucat seperti kemarin. Kenapa masih di rumah sakit?" Kenan bertanya setelah menghabiskan dua potong roti isi dan sebotol susu hangat.


Yuki menghela napas, beban di pundaknya teras berat saat mengingat dirinya yang harus sendirian di rumah.


"Aku lebih suka di sini, ada kau yang selalu menemani setiap waktu. Oh, bukankah hari ini jadwalmu untuk terapi? Aku temani." Gadis itu tersenyum manis mengingat hari ini Kenan akan menjalani terapi.


"Yah, sebentar lagi." Yuki mengangguk. Terapi dilakukan saat jam sembilan pagi, setelah sarapan dan pemeriksaan.


******


"Kenan! Kau sudah bisa berdiri!" pekik Yuki saat Kenan mencoba untuk berdiri tegak di depan kursi rodanya. Kenan tersenyum haru, hampir-hampir menangis. Ia menatap Yuki sambil melipat bibir menahan gejolak rasa dalam hatinya.


"Perkembangan yang sangat bagus, Tuan Muda. Sepertinya tidak lama lagi Anda akan sembuh," timpal dokter pula antuasias.


Yuki berdiri beberapa meter dari keberadaan Kenan.


"Lihat aku, Kenan! Kau bisa melakukannya. Datanglah padaku, sayang!" pinta Yuki bersemangat.


Kenan mengangguk, mencoba untuk melangkah meski berat terasa. Setapak dua tapak ia hampir terjatuh, tapi masih bisa menyeimbangkan dirinya.


Kenan berdiri kembali, mengumpulkan tenaga di kaki. Mencoba untuk melangkah lagi. Berkali-kali ia jatuh, disaat itu juga Yuki berlari hendak membantu, tapi Kenan menolak. Ia belajar untuk berdiri sendiri dan melanjutkan langkah mendekati sang kekasih.


Peluh bercucuran tak dirasanya. Jatuh menetes di atas lantai keramik berwarna putih. Napasnya terengah-engah layaknya orang yang baru saja melakukan lari maraton. Melihat Yuki yang membentangkan kedua tangan, semangat Kenan berkobar. Ia kembali menegakkan tubuh, melangkah tertatih. Semakin lama dan sering kakinya bergerak, semakin terbiasa dan perlahan normal.


"Argh!" Kenan ambruk dalam pelukan Yuki. Keduanya jatuh ke lantai, Yuki menopang tubuh kekasihnya seraya memberikan pelukan dan ciuman di dahi sambil menangis haru. Kenan tersenyum puas meskipun harus menghabiskan seluruh tenaga yang ia miliki.


"Aku berhasil! Aku berhasil, Yuki. Aku akan sembuh," ucap Kenan terengah-engah. Yuki mengangguk-anggukkan kepalanya, memeluk Kenan dengan sepenuh jiwa.


*****


"Benarkah? Kakak sudah bisa berjalan?" Kiran melompat turun dari pangkuan Alex. Berjalan cepat ke arah Kenan yang duduk di ranjangnya.


Kenan mencubit gemas pipi sang adik, mengusap kepala seraya mencium ubun-ubunnya. Ia mengangguk sambil tersenyum.


"Aku ingin melihat." Ia mundur dan membiarkan Kenan menunjukkan kedua kakinya yang sudah dapat digerakkan meskipun tertatih.

__ADS_1


Yuki sigap berada di belakang Kenan, khawatir ia tak dapat melakukannya lagi, tapi semua kekhawatiran itu tak terbukti. Kenan dapat berdiri tegak, dan mulai melangkah.


Alex yang melihat tertegun, berdiri dan terpaku di tempatnya sebelum bersorak.


"Ayo, Nak! Kau bisa." Ia bertepuk tangan penuh semangat. Kenan tersenyum, terus melangkahkan kakinya yang masih gemetar.


"A-ayah!" Kenan melirik kedua kakinya yang melangkah, juga melirik Alex yang menunggu dengan kedua tangan membentang.


"Anakku!" Alex memeluk tubuh Kenan yang menubruknya. Menepuk-nepuk lembut punggungnya bangga sekaligus terharu. Ia menyusut air yang tiba-tiba jatuh dari matanya. Melepas pelukan seraya memandangi wajah itu dengan kagum.


"Yuki!"


Pintu ruangan Kenan terbuka secara tiba-tiba dan kasar. Dua orang paruh baya berdiri dengan wajah kusut dan kuyu. Mereka berhambur masuk saat melihat Yuki berdiri tak jauh dari ranjang Kenan.


Mereka pikir itu ruangan anaknya sehingga tak segan untuk masuk dan memeluk Yuki. Menangis, mengatakan penyesalannya terhadap semua sikap mereka selama ini. Mereka mengira hanya ada Yuki di ruangan tersebut.


Kenan dan Alex mengernyit, laki-laki tua itu membawa Kenan untuk duduk di sofa bersama Kiran pula. Menonton secara gratis drama keluarga.


"Maafkan Papah dan Mamah, Yuki. Kami menyadari semua kesalahan kami, dan kami menyesalinya. Tolong, maafkan kami, Nak. Ampuni semua kesalahan kami. Maafkan kami," racau sang Ayah tersedu-sedu.


Mereka melepas pelukan dan memandangi wajah Yuki yang sedikit pucat. Rasa bersalah menghantam rongga dada. benar-benar memukulnya tiada perasaan.


Ayah Yuki kembali memeluknya, sedangkan wanita itu terus menangis histeris tiada henti. Yuki termangu, otaknya lambat mencerna apa yang sedang terjadi.


"Papah, Mamah, ada apa?" Yuki bertanya seraya melepaskan pelukan ayahnya. Matanya menatap mereka berdua secara bergantian.


"Kami sudah terkena karma, Nak. Kami sudah mendapatkan balasan dari Tuhan. Maafkan kami, sayang," ucap ibu Yuki sambil menangis.


"Aku tidak mengerti apa yang telah terjadi pada kalian? Kenapa kalian berdua datang-datang menangis?" Yuki nampak kebingungan.


Kedua orang tuanya bergantian menceritakan keadaan perusahaan mereka. Yuki hanya diam dengan mata yang melebar, sedangkan Kenan dan Alex juga Kiran melongo mendengar cerita orang itu yang mendramatisir cerita sesungguhnya.


"Semua ini karena Alexander yang merasa paling berkuasa itu. Jika bukan karenanya, keadaan perusahaan kita mungkin akan baik-baik saja."


Yuki melirik takut-takut. Kenan menoleh pada ayahnya, sedangkan laki-laki itu menggeram dengan kedua tangan terkepal.

__ADS_1


"Itu karena kalian telah berani menyakiti calon menantuku!"


Deg!


__ADS_2