Takdir Kenan

Takdir Kenan
Trauma?


__ADS_3

"Mei, siapa dia?" Seorang gadis bermata hazel bertanya pada gadis lainnya yang berdiri di belakang.


"Siapa yang Anda maksud, Nona?" tanyanya sambil mengambil langkah mendekat mencoba untuk melihat siapa yang dimaksud gadis yang dipanggilnya nona itu.


"Di sana, pemuda yang duduk di kursi roda itu. Siapa dia?" Tangannya menunjuk pada seorang laki-laki yang duduk di kursi roda bersama seorang gadis.


"Apakah Anda tertarik padanya?" tanya gadis yang dipanggilnya Mei itu.


"Iya, dia sangat tampan. Wanita yang di sana tidak pantas mendampinginya. Jika kau tahu beritahu aku siapa dia? Tapi jika tidak, segeralah cari tahu siapa laki-laki itu dan dari keluarga mana dia berasal?" titahnya dengan tegas.


Wajahnya yang lugu, tapi memiliki senyum yang mematikan, licik dan penuh muslihat. Ia berada di kamar lain mengenakan pakaian yang sama seperti pasien yang lainnya. Terpaku di dekat jendela, mematri tatapan pada sosok Kenan yang terdiam mendengarkan celoteh Yuki.


"Baik, Nona. Sesuai yang Anda inginkan, dalam waktu satu jam Anda sudah sudah menerima laporan tentang identitasnya," sahutnya seraya berbalik keluar dari ruangan gadis itu.


Seringai jahat mencuat dari bibirnya, mata tajam itu menyala penuh tekad. Siapapun pemuda itu, ia harus bisa mendapatkannya.


"Kau harus jadi milikku. Harus!"


Sementara di sana, di bawah pohon rindang itu Kenan dan Yuki masih bercengkerama tentang apa saja. Gadis itu terus saja bercerita meski Kenan hanya diam mendengarkan. Bibir yang tersenyum itu tiba-tiba membentuk garis lurus, serius dan nampak tak senang.


Yuki menangkap gelagat itu, alisnya bertaut melihat wajah Kenan yang membeku.


"Ada apa? Kenapa kau tegang sekali?" tanya Yuki sembari menyentuh tangan Kenan seraya menggenggamnya. Kenan balas menggenggam, erat. Seolah-olah Yuki akan terlepas jika ia sedikit saja mengendurkannya.


"K-kau da-lam ba-ha-ya," ucap Kenan terbata.


Yuki semakin bingung, tapi garis wajah Kenan tidaklah sedang bermain-main. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah, tak ada apapun yang bisa membuatnya bahaya. Semuanya nampak normal dan biasa saja.


"Tidak ada, Kenan. Itu hanya halusinasimu saja, mungkin kau sedikit trauma dengan kejadian itu. Tenang, ya. Semuanya baik-baik saja, aku berjanji padamu tak akan ada bahaya apapun yang mendekatiku," ucap Yuki menenangkan diri Kenan.

__ADS_1


Ia pikir Kenan mengalami trauma setelah kejadian beberapa waktu lalu itu. Hal itu memang wajar adanya karena kejadian demi kejadian ia alami secara beruntun.


Namun, Kenan menggelengkan kepala. Wajahnya nampak panik dan gelisah. Genggaman tangannya semakin erat, tubuhnya bergetar hebat. Yuki panik, buru-buru ia beranjak dan membawa Kenan masuk kembali ke ruangan.


"Kau tunggu di sini, aku akan memanggil dokter," ucapnya panik.


Kenan menggelengkan kepalanya meminta untuk tidak pergi, tapi gadis itu melesat secepat kilat memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Kenan. Hatinya berdebar tak karuan, cemas dan gelisah jadi satu. Ketakutan kian meraja, ia khawatir terjadi sesuatu pada diri Kenan.


Pada saat itu, Alex dan Kiran datang melihat Yuki berada di luar ruangan keduanya segera menghampiri.


"Yuki?"


"Tuan!" Yuki memekik begitu ia menoleh untuk panggilan Alex.


Laki-laki tua itu merajut alis saat melihat kegelisahan di wajah calon menantunya. Terus berjalan semakin mendekati sosoknya, hati Yuki sedikit lega.


"Tuan, Kenan ... dia meracau tak jelas, dia mengatakan jika aku dalam bahaya. Padahal, tidak ada apapun di sini. Aku takut Kenan mengalami trauma berat, Tuan." Yuki menangis menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terisak hingga bahunya terguncang hebat.


"Kakak?" Kiran tak tega melihat gadis baik hati itu bersedih.


Alex merengkuh tubuhnya, sangat wajar jika Kenan mengalami trauma mengingat dia terjun bebas dari atas tebing.


"Sudah, Nak. Tenangkan hatimu, kita doakan saja yang terbaik untuk Kenan semoga dia baik-baik saja," ucap Alex mengusap-usap punggung Yuki yang bergetar.


Pintu ruangan Kenan terbuka, dokter muncul dengan raut wajah yang sulit diartikan. Alex melepas pelukan dengan segera dan mendatangi dokter tersebut.


"Dokter, apa yang terjadi pada putraku?" tanya Alex tak sabar.


Dokter laki-laki itu menghela napas, panjang dan berat sebelum ia menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kami sudah memeriksanya, tapi tak ada masalah apapun. Tidak ada trauma berat yang dialami pasien. Semuanya terlihat stabil hanya struktur tulang dalam tubuhnya saja yang belum kembali normal. Selebihnya, tidak ada masalah. Untuk kejadian tadi, kami juga tidak mengerti mungkin beliau merasakan aura jahat di sekitar sehingga tubuhnya merespon dengan waspada," ucap dokter tersebut.


Yuki tak puas mendengar penuturan dokter, rasanya ada yang janggal entah apa.


"Tapi, Dokter, dia terlihat sangat ketakutan tadi. Dia terus meracau jika aku sedang dalam bahaya. Tubuh Kenan juga bergetar hebat," sela Yuki.


Gurat kebingungan nampak jelas di wajahnya, tak mengerti dengan kondisi Kenan yang tidak sesuai dengan keterangan dokter. Setelah menelisik keduanya, Alex jadi mengerti. Ia menenangkan Yuki untuk tidak terlalu panik. Tangannya mengusap lembut bahu gadis itu menenangkan.


"Terima kasih, Dokter. Kami mengerti," ucap Alex sambil membungkuk sedikit.


"Baiklah, saya akan memeriksa pasien yang lain. Tuan Muda sedang tidur, kami memberinya obat penenang agar beliau dapat beristirahat. Silahkan, kami permisi."


Mereka bertiga memasuki ruangan Kenan setelah dokter tersebut pergi. Pemuda itu kembali terbaring di ranjang pesakitan tak berdaya. Berselang, Leo datang menyusul bersama Mikael.


"Mungkin Kenan hanya butuh istirahat saja. Seharunya dia tertidur setelah meminum obat, biarkan dia tidur. Semoga saat bangun keadaannya sudah lebih baik," ucap Alex mengusap-usap bahu Yuki yang duduk di samping kekasihnya itu.


Gadis itu mengangguk mengerti. Ia menjatuhkan kepala di atas ranjang Kenan, menunggu pemuda itu bangun dari tidurnya. Di ranjang Kenan, Kiran duduk sambil memperhatikan wajah damai sang Kakak.


Alex mendaratkan diri di sofa, ia sedang berpikir keras soal kejadian yang menimpa Kenan. Tak akan mungkin gadis itu berbohong, bukan? Matanya terlempar pada sosok anggun dengan kepala berada di ranjang sang putra. Hati Alex terenyuh, tanpa sadar mengakui Yuki sebagai gadis yang tepat pilihan Kenan.


"Ayah, apa Kakak akan tidur lama lagi? Kenapa memejamkan mata?" tanya Kiran sambil menelisik wajah Kenan yang damai dalam tidurnya.


Yuki mendongak cepat, menggelengkan kepala lemah, tak akan mungkin Kenan kembali tidur panjang lagi.


"Tidak, sayang. Kali ini Kakakmu hanya tidur biasa saja, sebentar lagi akan membuka matanya dan kembali bermain bersama kita. Kau doakan saja semoga Kakakmu baik-baik saja," ucap Alex sambil mengulas senyum meskipun terpaksa.


Tak dapat ia pungkiri, hatinya ikut merasakan gelisah.


Apa yang terjadi padamu, Nak?

__ADS_1


__ADS_2