Takdir Kenan

Takdir Kenan
Belum Berakhir


__ADS_3

Di tengah badai ketakutan, Steve sedang membuat rencana melarikan diri. Matanya menatap sekeliling, jatuh pada Ria dan anaknya yang diam membeku. Kedua manusia serakah itu nampak pucat pasi dengan tubuh yang gemetar hebat.


Sesuatu mengalir dari celana Roni, terus rembes ke tanah. Steve meringis jijik. Pandangannya jatuh pada seonggok mayat yang terjatuh tepat di kakinya. Mata mayat itu melotot lebar, jelas dia kesakitan saat meregang nyawa.


Bola matanya terus berputar pada dua mayat dalam kondisi hangus terbakar. Bau gosong menguar kuat meski gerimis masih melanda bumi.


"Aku harus cepat pergi dari sini, aku tidak ingin berakhir menjadi mayat di hutan ini. Tidak! Aku harus secepatnya pergi," gumamnya gemetar. Ia menyelinap di antara semak.


Terus merayap menjauh dari jangkauan Shaka. Menyadari Steve menghilang Ria mengumpat dengan panik.


"Steve sialan! Dia meninggalkan kita, Roni," kesalnya meski takut melihat Shaka yang terus mengamuk menghabisi orang-orang milik Steve.


Satu per satu mayat bergelimpangan di tanah dengan kondisi yang berbeda. Bagian-bagian tubuh mereka bahkan ada yang terlepas dan hilang entah ke mana.


"Roni, kita harus segera pergi dari sini." Ria menarik tangan anaknya untuk pergi, Roni belum sadarkan diri. Masih terus termangu pada sosok Shaka yang menjelma bagai raksasa buas dan jahat.


"Roni, gerakkan kakimu untuk berlari!" Ria terus menarik tubuh anaknya hingga terseret.


"Ibu!"


"Cepat, bodoh!" umpat Ria saat Roni mulai tersadar.


Keduanya berlari tanpa berniat menoleh ke belakang lagi, terus melaju ke depan meninggal para mayat itu.


"Mau ke mana, Nyonya?" Leo menghadang langkah mereka. Keduanya sontak menghentikan langkah, tak tahu harus apa. Kembali? Itu tidak mungkin karena sama saja mengantarkan nyawa pada Shaka yang sedang mengamuk.


"Jangan halangi jalanku!" ketus Ria meski bergetar ketakutan.


"Tidak semudah itu, Nyonya. Anda sudah ikut andil dalam mencelakakan tuan saya. Tak akan saya biarkan lolos begitu saja." Leo melirik, ia tahu bantuan yang Mikael kirim telah datang sebagian.


"Ringkus mereka berdua!" Ria dan Roni panik. Melihat ke segala arah yang nampak tak ada siapapun.


Empat orang datang secara tiba-tiba, langsung menyergap keduanya. Mengikat mereka menggunakan tali, kemudian dilempar ke dalam mobil.


Brak!


Suara pintu dibanting sangat keras mengejutkan Ria juga Roni yang tak berkutik di bawah tatapan laki-laki di dalam mobil tersebut.


"Sial!"


"Tak ada gunanya Anda mengumpat." Laki-laki itu tersenyum sinis, ia waspada menjaga keduanya.


Di sisi lain.

__ADS_1


Steve terus berlari menuju keluar hutan karena merasa tak ada yang mampu melawan Shaka, ia pergi menyelamatkan dirinya sendiri. Tak peduli pada orang-orang yang dibawanya, yang dia lakukan hanyalah berlari secepat mungkin, tanpa tahu jika di depan sana seseorang sedang menunggunya.


Kenan menjagal dengan membentangkan salah satu tangannya, sedangkan ia sendiri bersembunyi dibalik sebuah pohon.


Bruk!


Steve terjatuh, berdebam di atas tanah berlumpur. Ia mengaduh dan meringis. Matanya berkunang-kunang tak mampu melihat sekitar. Cairan merah merembes dari dua lubang hidungnya. Dalam remangnya penglihatan, sesosok bayangan melangkah perlahan.


Kenan menginjak dada laki-laki itu sebelum membungkuk menatap wajahnya. Penglihatan Steve mulai kembali, kini ia dapat melihat dengan jelas siapa pemuda yang berada di atas tubuhnya.


"Kau, ayah Teddi?" Ia tersenyum.


"Sialan! Singkirkan kakimu dari tubuhku!" jeritnya parau. Kedua tangan Steve mencoba menyingkirkan kaki Kenan, tapi sia-sia saja. Kaki Kenan seolah-olah menancap dalam dagingnya.


"Kau ingin bermain-main denganku, bukan? Kita lihat saja, siapa yang akan menjadi pemenangnya," ucap Kenan memberikan seringai yang cukup tajam.


"Sialan kau!" umpat Steve, tapi hanya sebatas itu.


"Ada apa? Tidak dapat melanjutkan ucapanmu?" Kenan mencibirkan bibir. Pandangnya menyorot tajam, menghujam manik ketakutan milik Steve.


"Lihat apa yang akan aku lakukan padamu dan semua orang yang kau sayangi!" ucap Kenan seraya beranjak menegakkan tubuh tanpa mengangkat kakinya dari dada Steve.


Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menghubungi seseorang sambil melirik tajam pada Steve yang tak berdaya.


"Hallo, Mikael. Datangi rumah Teddi dan ringkus dia. Bawa dia dan Lisa ke kantor polisi serta berikan bukti kejahatan mereka pada pihak berwajib!" titah Kenan pada Mikael.


"Kau, sialan! Kenapa kau melakukan itu pada anakku?!" bentak Steve tidak terima.


Kenan mematikan ponselnya, masukkan ke dalam saku. Pandangannya menatap langit yang masih menangis sebelum jatuh pada Steve yang terus meronta.


Kenan kembali membungkuk, menopang salah satu tangannya di atas lutut yang menginjak dada laki-laki itu.


"Kau ingin tahu apa yang telah diperbuat anakmu itu, bukan? Dia telah berani menculik kekasihku dan hampir menjadikannya tumbal untuk suku kanibal. Lalu, apa kau tahu bahwa putramu itu melakukan ritual sesat di goa suci milik suku itu?"


Steve melebarkan mata tak percaya.


"Tidak mungkin!" Keringat mengucur dari pori-pori wajahnya, merembes dan berbaur bersama dengan darah yang mengucur dari lubang hidung.


"Tidak percaya, bukan? Pemuda yang sedang mengamuk di dalam hutan itu tahu segalanya. Jika kau masih tidak percaya, tanyakan saja padanya." Kenan beranjak. Melepas kakinya dari dada Steve dengan mudah.


"Sialan kau!"


Bugh!

__ADS_1


Kenan menendang perutnya saat ia mencoba menyerang hingga kembali terjungkal di atas tanah tanpa daya.


"Ringkus dia, Leo. Satukan dengan penjahat lainnya. Kita tidak bisa membiarkan mereka berkeliaran bebas di luaran," titah Kenan pada Leo yang berjalan pelan menghampiri.


Dengan cepat, assisten Alex itu mengikat tangan Steve dan menyatukannya dengan Ria juga Roni.


"Kenapa kau meninggalkan kami?" ketus Ria begitu tubuh Steve dibanting ke dalam mobil yang sama.


"Apa peduliku!" sengitnya sambil memalingkan wajah dari wanita itu.


"Kau ...!" Ria menendang kakinya cukup kuat.


"Hentikan, j*l*ng! Memangnya siapa kau sampai aku harus menunggumu? Kau bukan siapa-siapa, seharusnya kau berterimakasih kepadaku karena telah membantumu!" hardik Steve yang kesal bertambah kesal karena bentakan Ria.


Keduanya bungkam, saat sesuatu yang dingin menyentuh tengkuk mereka.


"Hentikan perdebatan kalian, aku muak mendengarnya!" ucap salah satunya dengan geram.


Roni meneguk ludah gugup sekaligus takut. Laki-laki itu memang pengecut, selalu bersembunyi dibalik ketiak Ibunya.


Kenan memasuki hutan bersama Leo berkumpul bersama Shaka yang baru saja menyelesaikan perkelahiannya.


"Di mana Kiran dan Ayah?" tanya Kenan segera setelah bertemu dengan Shaka.


"Di sini, Kenan!"


"Kakak!"


Kiran berlari memeluk Kenan. Gadis kecil itu terlihat pucat dan lemah, pastilah syok dan trauma.


"Kau tak apa, sayang?" tanya Kenan sambil mengusap rambutnya yang basah. Kiran menggelengkan kepala lemah.


"Maafkan Ayah karena kehadiran Ayah kalian selalu terlibat dalam bahaya. Maafkan Ayah," ucap Alex penuh penyesalan.


Kenan menurunkan Kiran, berjalan perlahan menghampiri Alex dan memeluknya.


"Tidak, Ayah. Semua ini bukan salah Ayah, bukan karena kehadiran Ayah juga. Semua ini karena mereka yang tak bisa melihat kita bahagia," ucap Kenan memeluk erat tubuh ayahnya.


Alex balas memeluk, bersyukur semua baik-baik saja dan berharap tak akan ada masalah lagi untuk ke depannya.


"Kita pulang!" ajak Alex seraya melepas pelukan dan melangkah pulang.


Namun, baru beberapa langkah meninggalkan hutan, sebuah peluru melesat dan mengenai salah seorang dari mereka.

__ADS_1


Dor!


"Argh!"


__ADS_2