
"Kenan?"
Tak terduga Alex yang hendak menjenguk orang-orangnya berpapasan dengan Kenan dan Shaka. Langkah keduanya terhenti. Kenan mematung di tempat, sedangkan Shaka terlihat bingung. Matanya bergulir antara Kenan dan Alex yang berdiri dengan dahi berkerut.
"A-ayah?" Kenan bergumam lirih dan bergetar. Ia berjalan mendekat, diikuti Shaka yang mengekor di belakang.
"Ayah, bisa kita bicara? Tapi jangan di sini," pinta Kenan sembari mengedarkan pandangan ke lorong tersebut.
"Ayah? Kenan, apa dia Ayah yang kau maksud itu?" Shaka menyambar dengan cepat. Senyum polosnya terbit menampakkan deretan giginya yang putih sedikit menguning.
Alex mengernyit mendengar celoteh Shaka, matanya menatap tajam Kenan menuntut penjelasan dari putra sulungnya itu.
"Kenan, benar, bukan?" Suara Shaka terdengar lagi. Riang dan ringan, seperti anak kecil yang berhasil menemukan mainan yang dia inginkan.
"Sebentar, Shaka. Kita akan bicara nanti," katanya. Shaka mengangguk patuh, mengunci mulutnya dan hanya tersenyum sambil memandang Alex.
"Kenan?" Suara Alex menuntut. Kenan memejamkan mata, menarik napas panjang sebelum kembali menatap sang Ayah.
"Aku akan jelaskan, Ayah, tapi tidak di sini. Bisa kita bicara? Sambil sarapan atau sekedar minum kopi?" pinta Kenan lagi dengan sangat.
Alex melirik keduanya dengan bingung, terutama pada Kenan.
"Baiklah." Alex mengurungkan niat menjenguk orang-orangnya, ia membawa Kenan ke sebuah warung yang menyediakan sarapan tak jauh dari rumah sakit. Mereka memilih tempat terpojok dan jauh dari pengunjung lainnya agar pembicara mereka tak terdengar.
"Jadi, jelaskan pada Ayah sekarang!" tuntut Alex sesaat setelah mereka duduk dan menerima makanan.
Kenan tak menyahut, ia mengeluarkan lembar foto dari saku dan memberikannya kepada Alex.
__ADS_1
"Ayah tahu sesuatu tentang foto itu?" tanya Kenan sembari memperhatikan riak di wajah Alex. Laki-laki tua di hadapannya, membenarkan letak kacamata guna dapat melihat dengan jelas gambar pada lembar tersebut.
"Reina, dia Ibumu. Lalu, bayi siapa yang ada di pangkuannya? Kenapa dua?" Gurat bingung jelas terlihat di wajah Alex. Kenan menebak jika Ayahnya memang tidak tahu menahu soal kelahiran kembar mereka.
"Jadi, Ayah tidak tahu jika Ibu melahirkan bayi kembar? Coba Ayah lihat catatan dibalik foto tersebut," ucap Kenan tak lepas memandang wajah Alex yang masih kebingungan.
Sementara Shaka terus melahap makanannya, tak acuh pada percakapan dua orang yang sedang serius. Alex membalik lembar foto itu dan menelisik tulisan tangan wanita yang amat ia cintai.
"Tanggal kelahiran ini sama persis dengan tanggal kelahiranmu, Kenan. Kenapa Reina tidak pernah mengatakannya padaku bahwa dia melahirkan bayi kembar? Ini yang membuat aku bingung. Ada rahasia apa dibalik kisah rumit ini?" Alex bergumam. Bulir keringat bermunculan di dahi merembes hingga membasahi janggutnya yang lebat.
"Itu yang ingin aku cari tahu, Ayah. Tunggu ... apakah saat aku dilahirkan Ayah tidak menemani Ibu?" Kenan mengernyitkan dahi bingung.
Alex meletakkan foto tersebut di hadapannya, memandang Shaka yang masih asik dengan makanannya sebelum melirik Kenan yang menunggu jawabannya. Tatapan sayu dan penuh penderitaan.
"Kau tahu, hubungan Ayah dan keluarga Ibumu tidaklah baik. Mereka melarang Ayah untuk menemani Ibumu bahkan setelah tiga hari kau dilahirkan Ayah tidak juga boleh menemui kalian. Jika bukan karena Ibumu yang nekat menemui Ayah, maka Ayah tak akan pernah melihat kau saat bayi, Kenan. Akan tetapi, pada saat itu Ibumu hanya membawa satu bayi saja, dia juga tidak mengatakan apapun soal kelahiran kembar kalian," ungkap Alex bernada terkejut dan tidak percaya.
"Aku dibuang ke hutan terlarang dan diselamatkan Baba. Katanya, seseorang dengan tega membiarkan bayi merah tanpa busana di bawah guyuran hujan. Setidaknya itulah yang aku dengar dari mereka," sahut Shaka sambil menundukkan kepala. Rasa rindu pada sosok Ayah angkat menyeruak hadir tanpa diminta. Mereka suku pedalaman dan tertinggal, tapi memiliki kasih sayang yang tak beda dengan mereka yang hidup di kota.
Mendengar suara Shaka, Alex melirik ke arahnya. Ia tertegun saat pemuda berkulit hitam itu pun ikut mendongak dan menatap ke arahnya. Pancaran maniknya yang menohok itu mengingatkan Alex pada sosok sang istri.
Tak ingin percaya begitu saja, Alex melempar tatapan pada Kenan yang masih terdiam dengan wajah tegang serius.
"Bagaimana kau bisa yakin dia adalah bayi kembar itu?" tanyanya.
"Dari tanda lahir yang ada di tubuhnya. Bayi itu memiliki tanda lahir di bagian dada kiri, dan Shaka memiliki hal yang sama. Lagipula, Ayah, sejak melihatnya kemarin malam aku merasa memiliki ikatan batin dengannya. Hal itulah yang membuatku meminta Ayah untuk membawanya pergi," ucap Kenan sambil melirik Shaka yang kembali terdiam di sampingnya.
Alex menggelengkan kepala masih tidak dapat menerima kenyataan yang tak pernah ia tahu. Tangannya sigap membalik lembar itu lagi guna dapat melihat apa yang dikatakan Kenan tadi. Ia melongo saat menemukan kebenaran tentang ucapan Kenan.
__ADS_1
"Tidak mungkin!" gumamnya geram.
"Mungkin Paman dan Bibi tahu sesuatu. Kita harus menanyakannya pada mereka, Ayah," usul Kenan lagi. Lagi-lagi Alex mendesah panjang.
"Mereka ikut pergi bersama orang-orang yang melakukan penyerangan kemarin. Paman dan Bibimu itu memang sepertinya tahu sesuatu karena selama kelahiranmu, dialah yang menemani Ibumu. Ayah kira kunci rahasia masalah ini ada padanya," sahut Alex menduga.
Shaka tercenung, ikut berpikir keras tentang pemecahan dari masalah yang sedang dihadapi Keduanya. Kenan sendiri berdecak kesal, ia lupa jika di dalam bangunan itu juga terdapat Paman dan Bibinya. Yang ia ingat hanya Shaka dan Shaka saja.
"Lalu, bagaimana, Ayah? Apakah kita akan balas menyerang mereka?" tanya Kenan karena rasanya akan memperkeruh keadaan saja.
"Sudahlah, tidak perlu. Sepertinya kau dan dia sudah sangat dekat, Ayah tidak akan melarangmu untuk membawanya ke rumah karena bagaimanapun keluarganya di suku itu sudah tak bersisa," ucap Alex tak ingin lagi ada peperangan yang akan melibatkan banyak orang menjadi korban.
Sampai saat ini saja, beberapa orangnya yang dirawat di rumah sakit sebagian masih dalam keadaan kritis. Ia hanya tidak tega pada keluarga mereka yang terus menangis, terutama anak-anak yang masih sangat membutuhkan orang tuanya.
"Ayah benar. Jadi, aku boleh membawanya pulang?" Kenan berbinar. Shaka menyambutnya dengan antusias.
"Yah."
"Lalu, bagaimana dengan panggilan Ayah? Apa aku boleh memanggilmu Ayah seperti yang Kenan lakukan?" sambar Shaka berharap Alex akan mengizinkannya.
Mata tua itu memindai tampilan pemuda yang berkulit hitam tak sama dengan Kenan, tapi bibirnya membentuk senyuman setelah melihat beberapa kesamaan antara dirinya dan Kenan.
"Tentu saja, kau juga anakku meski aku sendiri belum yakin," katanya.
Senyum Shaka terbentuk sempurna, ia ingin berjingkrak dan berseru seperti yang dilakukan para anggota suku saat merasa senang.
"Terima kasih, Ayah." Alex mengangguk. Bersyukurlah atas apa yang dimiliki saat ini, tak perlu melihat orang yang nampak dari luar bahagia karena kebahagiaan itu masing-masing oranglah yang menentukan.
__ADS_1