Takdir Kenan

Takdir Kenan
Shaka Yang Baru


__ADS_3

"Kalian tunggu saja di rumah, Ayah harus pergi ke sekolah Kiran untuk menghadiri acara sekolah," ucap Alex pada keduanya seraya beranjak dari duduk.


"Mmm ... Ayah, tunggu! Sebaiknya Ayah perbaiki dulu penampilan Ayah sebelum pergi ke sekolah Kiran," sambar Kenan mencegah cepat Alex yang hendak pergi.


Semakin bertambah kerutan di dahi tuanya tatkala ia mengernyit bingung dengan ucapan Kenan.


"Memangnya kenapa dengan penampilan Ayah? Tidak ada yang salah, bukan?" katanya, merentangkan kedua tangan memastikan penampilannya yang memang selalu begitu.


Kenan menggelengkan kepala, Shaka memindai apa yang seharusnya dirubah Alex sebelum pergi ke sekolah Kiran.


"Kurasa anak kecil tidak terlalu menyukai rambut di wajah. Mereka akan ketakutan saat melihat rambut di wajah Ayah yang lebat itu," cetus Shaka memperjelas apa yang diucapkan Kenan.


Alex memegangi janggutnya, ada benarnya juga apa yang diucapkan Shaka barusan. Dia berpikir beberapa saat sebelum memutuskan merubah penampilannya. Bibir tua itu tersenyum menatap kedua putra kembarnya yang bila dilihat lebih lama mereka memang memiliki kesamaan.


"Baiklah, terima kasih atas saran kalian. Ayah akan pergi memperbaikinya. Selamat bersenang-senang. Jangan lupa belikan hadiah untuk adikmu sebagai tanda perkenalan," ucapnya sebelum meninggalkan kedua anak yang masih berdiri di warung makan itu.


"Mmm ... Kakak, aku masih ingin makan. Boleh aku memesan makan lagi?" pinta Shaka dengan polosnya. Porsi di warung itu tidaklah sesuai dengan porsi makannya, perut Shaka masih terasa kosong setelah ia menghabiskan satu piring nasi berikut lauk pauknya.


Kenan berdecak gemas, ia mendatangi pemilik warung memesan dua porsi sekaligus untuk Shaka. Laki-laki suku itu pun tersenyum senang, meski tak ada daging dan ikan, ia tetap lahap memakannya.


"Makanlah, jika masih kurang kau bisa memesannya lagi," ucap Kenan menyerahkan dua piring nasi ke hadapan Shaka.


"Terima kasih." Shaka terus tersenyum, ia yang baru menginjakkan kaki di kota dan belum tahu seluk-beluk kehidupan kota membuat Kenan dilanda kecemasan. Banyak orang-orang yang akan memanfaatkan dia karena kepolosannya.


Tenaganya yang luar biasa dan tinggi tubuh yang tak biasa sudah pasti akan berguna untuk mengerjakan sesuatu yang kasar lagi berat. Kenan tak ingin adiknya itu bertemu dengan mereka yang memiliki sifat tamak dan serakah lagi licik.

__ADS_1


Ia terus tersenyum sepanjang Shaka melahap makanannya. Dua orang adik yang kini harus dia jaga. Shaka memang kuat dari segi fisik, tapi dia masih terlalu polos untuk dibiarkan berkeliaran di luar tanpa pengawasan.


"Kau sudah selesai?" tanya Kenan saat Shaka menenggak sebotol besar air mineral yang disiapkannya.


Ia mengangguk polos, tak lama suara sendawa keluar cukup keras membuat semua pengunjung menatapnya jijik, tapi lain dengan Kenan. Ia justru tertawa kecil melihat wajah puas dari Shaka.


"Kita pulang," ajaknya seraya beranjak meninggalkan warung makan itu dan menuju parkiran rumah sakit.


"Kakak, Ayah bilang aku harus membeli hadiah untuk Adik. Hadiah itu yang seperti apa?" tanya Shaka sambil berjalan mengikuti Kenan.


"Hadiah itu sesuatu yang berharga yang kita berikan pada orang kesayangan. Seperti Baba memberikanmu kalung yang malam itu aku hancurkan," jawab Kenan tak lagi segan berbicara soal suku yang ia hancurkan malam itu.


Shaka mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Ia menjeda langkah sesaat Kenan membukakan pintu mobil untuknya.


"Masuklah! Kau akan senang menaikinya," katanya masih memegang daun pintu mobil tersebut. Dengan ragu Shaka menaiki mobil, duduk tak tenang di dalam sana. Ia terlupa bahwa malam itu juga mobil yang membawanya ke ruang tahanan.


"Itu hanya kulit buatan, bukan kulit sebenarnya." Kenan mulai menghidupkan mesin dan berjalan perlahan meninggalkan parkiran rumah sakit.


"Wah, sejuknya ... dari sini aku bisa melihat bangunan-bangunan tinggi itu. Ada banyak patung di jalan. Lihat! Ada yang bergerombol juga. Wah ...." Shaka terus mengoceh tanpa henti. Kepalanya tak berpaling dari jendela melihat takjub pemandangan kota.


"Ternyata yang dikatakan Ibu pengasuh itu benar, ada banyak bangunan tinggi di kota. Ada banyak orang yang berlalu-lalang di jalan bahkan jalan di kota licin dan tidak becek." Kenan hanya mengulas senyum sembari mendengarkan dengan baik ocehan Shaka tanpa menyela ataupun menyahut.


"Mmm ... kita akan berhenti di toko boneka itu. Kiran suka sekali dengan boneka," ucap Kenan mengalihkan perhatian Shaka dari gedung-gedung menjulang tinggi.


"Boneka? Apa itu?" Dahinya mengernyit bingung.

__ADS_1


"Kau akan tahu saat kita masuk ke dalam tokonya, tapi sebelum itu ... sebaiknya kita pergi ke ... sini dulu." Kenan berhenti di depan gedung salon perawatan.


Mengajak Shaka masuk ke dalamnya, dan berbicara dengan bahasa yang membuat adik kembarnya itu hanya dapat melongo tak mengerti. Pandangan Shaka mengedar menatap semua yang ada dalam salon tersebut. Ia berjengit saat sebuah mesin mengeluarkan bunyi.


"Shaka, ikutlah dengannya. Biarkan dia melakukan apapun padamu, jangan berontak dan jangan nakal!" ucap Kenan yang diangguki Shaka dengan patuh.


Seorang pelayan wanita mengajaknya masuk ke dalam sebuah ruangan. Kenan meminta mereka memberikan perawatan pada seluruh tubuh Shaka. Sementara ia duduk menunggu sambil mengirimkan pesan permohonan izinnya pada asisten Alex di restoran.


Dua jam lamanya Shaka berada di dalam ruangan, Kenan sudah menyiapkan pakaian untuknya. Ia tak ingin Kiran melihat Shaka sebagai bekas penghuni suku kanibal.


"Tuan Muda!" tegur pelayan yang menangani Shaka. Ia membawa seorang pemuda yang lain dari pemuda yang masuk bersamanya.


Kulitnya tak lagi hitam meskipun tidaklah seputih Kenan. Terlihat bersih dan menarik. Rambutnya yang panjang, kusam dan kusut, sekarang terlihat rapi dengan potongan sama persis seperti dirinya. Bulu-bulu yang tak terawat raib, semuanya bersih ia menjelma menjadi sosok baru.


"Shaka? Kaukah ini?" tanya Kenan dengan wajah terkejut sambil berjalan mendekati sosok Shaka yang lain.


"Iya, memangnya ada apa denganku? Kau tahu, wanita itu membuat tubuhku terasa lelah karena harus mengikuti apa yang dia katakan," bisik Shaka sambil melirik wanita yang melayaninya.


Kenan terkekeh, ternyata benar itu adalah Shaka dengan penampilannya yang baru. Giginya yang semula menguning bahkan kini terlihat putih bersih. Kenan memberikan pakaian ganti padanya dan meminta Shaka untuk mengganti pakaian sebelum keluar dari salon.


Keduanya melenggang keluar setelah melunasi tagihan. Lanjut menuju toko boneka, membeli boneka paling besar sebagai hadiah untuk Kiran.


"Oh, jadi ini yang namanya boneka. Sama seperti patung hanya saja terbuat dari kain," cetusnya setelah membawa boneka tersebut keluar dari toko. Perjalanan berlanjut menuju rumah, di sepanjang jalan itu Shaka tak henti mengoceh. Berbicara dengan boneka yang baru saja dibelinya.


Kiran pasti terkejut, dia memiliki dua orang Kakak yang akan melindunginya dari semua orang-orangnya jahat.

__ADS_1


Kenan bergumam.


__ADS_2