
"Tuan, bagaimana dengan mereka bertiga?" tanya seseorang pada laki-laki berseragam rapi yang baru saja memasuki ruangan tempat dia berjaga.
"Ada apa? Apa mereka membuat ulah? Jika iya, cambuk saja tubuh ketiganya hingga mereka diam," jawab laki-laki itu dengan nada tegas. Lirikan matanya tajam menusuk, menghujam ketiga tahanan di balik jeruji.
Mereka terkesiap, mata membelalak sempurna mendengar kalimat sadis yang diucapkan laki-laki tadi. Dua di antara mereka menggeleng takut, tapi satu lainnya justru menundukkan wajah dalam.
"Mereka selalu bertengkar setiap malam, Tuan. Berselisih tentang seorang pemuda yang bernama Kenan juga adiknya Kiran yang tak mau menandatangani surat yang mereka buat," jelasnya lagi.
Laki-laki yang dipanggil Tuan tadi mengangkat alis merasa tertarik dengan informasi yang baru didengarnya itu. Ia berbalik menatap ketiga orang di dalam jeruji, melangkah pelan mendekati. Berdiri angkuh seolah-olah dialah sang penguasa.
"Jadi, apa yang menjadi perdebatan kalian setiap malam itu? Mungkin saja aku bisa membantu, mengingat kalian yang sudah aku selamatkan," tanya laki-laki berjas navy itu dengan salah satu ujung bibir yang terangkat ke atas.
"Tu-tuan-"
"Hentikan, Ria! Dia orang asing tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita. Mereka keponakanku, Ria. Juga keponakanmu, mereka sepupumu, Roni," sergah laki-laki yang tak lain adalah paman Kenan itu.
"Aku tidak peduli, aku harus mendapat bagian dari harta itu karena sudah merawat mereka selama sepuluh tahun!" sengit Ria, Bibi Kenan.
Paman menggelengkan kepala, terbersit kekecewaan di wajahnya yang mulai menua. Penyesalan datang tak terduga, memenuhi rongga dada.
"Aku kecewa padamu, Ria. Kau hanya mementingkan dirimu sendiri. Selama ini kau juga tidak pernah tulus menjaga mereka, kau bahkan memeras mereka di rumah mereka sendiri. Aku sangatlah bodoh karena telah bersikap diam saja saat kau menindas kedua keponakanku itu. Kali ini, jangan lagi, Ria." Paman menatap kecewa istri dan anaknya yang tetap keukeuh pada keputusan mereka berdua untuk bisa mendapatkan sebagian harta warisan Kenan.
"Oh, aku muak mendengar perdebatan keluarga ini. Segera putuskan apakah kalian akan menerima tawaranku, dan bebas dari kurungan ini atau ... tetap pada keputusan yang akan membuat kalian terus berada di balik jeruji ini?" Dia menyeringai.
Ria dan Roni mengangkat tinggi alis mereka, terkejut mendengar penawaran dari laki-laki di luar kurungan itu.
__ADS_1
"Saya mau, Tuan. Jika laki-laki itu tidak mau, maka biarkan saja dia di dalam sini. Saya tidak ingin selamanya ada di sini. Tolong! Keluarkan saya dan anak saya dari sini. Apapun akan kami lakukan untuk Anda, Tuan," mohon Ria sembari berdiri memegangi jeruji memohon dan mengiba belas kasihan darinya.
Ia tertawa senang mendengar jawaban bibi Kenan itu. Kepalanya menoleh pada penjaga yang bersisian dengannya.
"Keluarlah, bawa serta anak laki-laki itu dari sini!" titahnya yang segera mendapat anggukan kepala.
Penjaga itu lantas membuka pintu jeruji, menarik Roni dari dalam kurungan dengan paksa.
"Tu-tuan, bagaimana denganku?" tanya Ria menahan cepat pintu yang akan ditutup penjaga.
Laki-laki yang tak lain adalah Steve, ayah Teddi itu tersenyum licik. Pandangannya memindai dari ujung rambut hingga ujung kaki wanita beranak satu itu.
"Kau keluarlah! Biarkan laki-laki itu tetap di sana!"
"Berlututlah di hadapanku jika kau memang benar ingin bekerjasama denganku. Aku ingin melihat sejauh mana kesungguhanmu," perintahnya dengan angkuh.
Masih dengan senyum di bibirnya Ria menjatuhkan diri di lantai. Berlutut dengan kepala menunduk segan. Paman menatapnya penuh kekecewaan, ia tak menyangka istri yang dia cintai akan meninggalkannya seperti ini.
Steve, menyandarkan tubuh pada meja yang ada di ruangan itu. Jari telunjuknya bergerak meminta Ria untuk mendekat. Wanita itu beringsut tanpa mengangkat tubuh, mendekati Steve yang menyeringai licik.
Ria mendongak, wajahnya tepat berhadapan dengan milik Steve. Wanita itu meneguk ludah gugup, matanya berkedip-kedip tak berani menurunkan pandangan. Steve membuka pengait celana, membiarkan benda itu menyembul keluar dari sarangnya.
"Lakukan!" titahnya sembari memegangi kepala Ria menggunakan kedua tangan. Tanpa segan, wanita itupun membuka mulutnya. Melakukan apa yang diminta Steve meski harus disaksikan oleh suaminya sendiri.
Paman berpaling muka dengan air mata berderai, tak kuasa melihat pemandangan menjijikkan itu. Tangannya yang mengepal memukul-mukul lantai ruangan dengan kesal. Ia tak mampu melakukan apapun disaat istrinya dilecehkan di depan mata.
__ADS_1
Sungguh tak dinyana, Ria akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Memalukan sekaligus memuakkan.
Suara rintihan Steve sungguh menyengat gendang telinganya. Ia menutup telinga dengan kedua tangan menghalau suara-suara menggelikan itu masuk ke dalamnya. Lenguhan panjang Steve menjadi akhir dari tontonan yang tak layak itu.
Steve mendorong keras kepala Ria, seraya membenarkan kembali celananya. Wanita itu terjengkang, dengan mulut yang dipenuhi ceiran kental berwarna putih pekat. Ia merasa puas, tubuh Ria yang sintal dan berisi sangat menggiurkan. Membuatnya ingin terus-menerus menikmati setiap lekuknya.
Steve berjalan mendekat, meraih dagu Ria cukup kuat. Ia meringis, sedikit merasakan nyeri. Tanpa segan Steve menyesap cairan yang masih menempel di bibir wanita itu.
"Baiklah, kau sudah membuktikannya. Kau bisa keluar dari ruangan ini dan akan tinggal di rumahku. Beri aku pelayanan terbaikmu, puaskan dahagaku, aku akan mengabulkan apa yang menjadi inginmu!" Ia menghempaskan kepala Ria dengan kuat sebelum keluar meninggalkan ruangan terkutuk itu.
Senyumnya tercetak licik saat melihat paman Kenan sama sekali tak berpaling padanya. Laki-laki itu masih menangis tergugu, pernikahan yang dia jaga selama dua puluh tahun itu kandas karena pengkhianatan sang istri.
Ria mengusap cairan di mulutnya, menoleh pada paman dengan air mata yang tiba-tiba jatuh tanpa ia inginkan.
"Maaf, maafkan aku! Kumohon, maafkan aku," katanya sebelum beranjak ikut meninggalkan dia sendirian. Pintu berdebam, tangis paman kian kencang. Meraung dalam kesendirian, tiada seorangpun yang mendengarkan.
"Bodoh! Kau khianati aku, kau khianati cintaku, kau juga khianati pernikahan kita. Aku menyesal selama ini menuruti semua inginmu, aku menyesal selama ini membiarkanmu menyakiti dua keponakanku," racau paman penuh penyesalan.
"Kenan, Kiran, maafkan Paman. Maafkan Paman yang bodoh ini. Kalian anak-anak baik semoga mau memaafkan Paman." Ia terus menangis tiada henti. Mengingat semua yang telah terjadi semakin besar penyesalan dalam hatinya.
Sementara Ria tidak peduli, ia disambut seorang pelayan begitu keluar dari ruangan. Membawanya ke sebuah bangunan yang berada di belakang bangunan utama rumah Steve. Bangunan tempat berkumpulnya wanita-wanita simpanan laki-laki itu.
*****
Maaf, ya. Part ini agak-agak gimana gitu. Terima kasih selalu setia mengikuti kisah Kenan. Jangan lupa tekan Jempol dan beri masukan dalam komentar.
__ADS_1