
Suasana menegang kala Yuki keluar mobil tersebut dengan kepala tertodong senjata. Tubuh gadis itu bergetar ketakutan, hal yang paling ia sesali untuk seumur hidup.
Tuhan, tolong aku! Aku berjanji setelah ini akan menjadi pendengar yang baik, Tuhan. Tolong lindungi aku.
Yuki memohon dalam hati, berjanji untuk mendengarkan. Sayang, semua sudah terlanjur. Nasi susah menjadi bubur, ia tertodong dan tak dapat melakukan apapun.
"Singkirkan mobilmu dan biarkan kami pergi! Kau tak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" ancam wanita itu lagi menakut-nakuti Mikael dan orang-orangnya.
Namun, laki-laki itu bergeming di tempatnya. Terpaku tanpa beranjak sedikit pun. Tak ada riak ketakutan di wajahnya, ia tetap datar dan dingin tanpa ekspresi.
"Oh, jadi kau tak ingin memberi kami jalan? Baiklah ... jangan sesali keputusanmu!" Ia menarik pelatuk bersiap untuk menembak.
Mikael melangkah tanpa sepatah kata pun terucap. Di belakang mereka, sekelompok orang berseragam mengepung tak memberi mereka celah untuk melarikan diri.
"Kau pikir sedang berurusan dengan siapa? Beraninya menakuti!" Suara Mikael menggema tajam. Setiap nada penuh tekanan, kedua tangan terkepal erat hingga urat-uratnya menonjol.
"Kau tahu dua perusahaan besar yang baru-baru ini terbakar hangus? Rumah mewah dua pengusaha berikut orang di dalamnya melebur menjadi abu? Hmm ...."
Mikael tersenyum miring saat wajah mereka beriak. Terkejut? Tentu saja. Siapa yang tidak tahu tentang berita yang menggemparkan dunia dua pekan lalu. Semua orang tahu bahkan tak hanya di dalam Negeri, mereka yang di luar Negeri pun tahu tentang berita itu.
Gelisah. Itulah yang terlihat dari wajah-wajah penculik Yuki, tapi mereka masih merasa besar kepala karena Alex dan Tuannya adalah sama. Sama-sama berkuasa di daerah masing-masing. Mereka tak tahu, kekuasaan Alex tak hanya di satu kota, tapi hampir seluruh Negeri.
"Jadi, kalian pelakunya? Kalian yang melakukan perbuatan kotor itu? Sangat disayangkan, kalian bahkan begitu berani mengotori tangan kalian sendiri," ucap wanita itu dengan berani meskipun hatinya sedang was-was saat ini.
Mikael tertawa, tak nampak di wajahnya penyesalan. Tak ada istilah kejahatan karena membela tuannya. Begitu prinsip yang dipegang seorang Mikael.
"Apapun ... apapun bisa aku lakukan untuk membalas mereka yang sudah berani mengusik keluarga Tuanku! Pilihlah, Nyonya. Kau akan melepaskan Nona Yuki, atau hangus seperti dua pengusaha sebelumnya?" tawar Mikael menatap tajam wanita yang mulai bergetar.
Ketiga temannya tak setegar dirinya, mereka menunduk dengan kedua tangan diletakkan di belakang kepala. Mereka tahu seperti apa Alex saat membalas, ia akan menghabisi semua orang yang menabuh genderang perang terhadapnya.
__ADS_1
"Tidak! Jika dia mau berjanji akan menjauhi putra Tuanmu dan memberikannya kepada Nona kami maka aku akan dengan rela melepaskannya." Ia menekan moncong senjata pada pelipis Yuki.
Gadis itu memejamkan mata, meringis, menggigit bibir saat ketakutan semakin meraja di hatinya. Isak tangis Yuki membuat Mikael menggeram. Mengingat Kenan begitu mencintai dan melindunginya, Mikael tak akan membiarkan gadis itu tergores sedikit pun.
"Kau tidak memiliki pilihan. Lepaskan Nona Yuki atau dia yang akan aku habisi!" Leo muncul bersama Alex dan Kenan yang berada di atas kursi roda. Di depan mereka seorang gadis belia berdiri dengan tubuh kaku. Hal yang sama seperti yang dilakukannya kepada Yuki, Leo menyandera gadis yang dipanggilnya Nona untuk membebaskan Yuki.
Wanita itu membalikkan tubuh bersama Yuki, matanya membelalak melihat orang yang dibelanya berdiri ketakutan.
"M-mei?" panggil gadis itu dengan lirih.
"No-nona?"
Air mata wanita itu luruh begitu saja, ia tak dapat menahan diri untuk tidak menangis saat melihat gadis itu berhadapan langsung dengan moncong senjata.
"Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian membawanya keluar rumah sakit?" teriak wanita yang bernama Mei histeris.
Kenan melihat cinta di maniknya, cinta yang besar untuk gadis belia itu. Sayang, dia telah melakukan kesalahan lebih besar lagi dengan menculik Yuki dan bahkan mengancamnya.
Mikael berlari dan menghantam tengkuk wanita bernama Mei. Ia mengerang, tubuhnya jatuh berdebam.
"No-nona! Maafkan saya!" lirihnya pelan. Sigap, orang-orang Mikael menangkap mereka.
Yuki berlari sekencang mungkin, menjatuhkan diri di bawah kaki Kenan menangis penuh penyesalan. Karenanya, Kenan harus keluar rumah sakit untuk menolong.
"Mei! Jangan sakiti dia! Kumohon, jangan! Semua ini salahku. Aku yang salah, aku yang memintanya untuk menyingkirkan gadis itu. Semua ini salahku karena aku menginginkan laki-laki itu. Jangan sakiti dia!"
Gadis belia itu meraung, ada getar ketakutan dalam setiap nada suara yang ia keluarkan. Ketakutan akan ditinggalkan pergi oleh mereka yang dia sayangi. Tubuhnya bergetar, gelisah hebat.
"Tidak, Nona. Jangan menyalahkan diri Anda sendiri. Biarlah saya yang menerima hukuman, Anda harus selamat. Anda harus tetap hidup, Nona. Jangan menangis!"
__ADS_1
Wanita yang bernama Mei ikut berteriak. Tak lama, gadis belia itu mengalami sesak hebat. Ia memegangi dada, matanya mendelik dan terpejam secara bergantian. Tubuhnya ambruk, jatuh berlutut menghantam jalanan beraspal.
"NONA!" Mei meronta hingga cekalan di tangannya terlepas, ia berlari sekuat tenaga menangkap tubuh gadis itu sebelum benar-benar jatuh ke jalan.
"M-mei!" Wajahnya pucat pasi, seolah-olah tak ada darah yang mengaliri.
"Nona! Tidak, Anda harus bertahan, Nona." Mei memangku kepala gadis itu. ia mendongakkan kepala menatap Alex dan yang lainnya.
"Tolong! Untuk kali ini saya memohon kepada kalian. Saya akan menerima hukuman saya, tapi tolong selamatkan Nona saya. Tolong bawa dia kembali ke rumah sakit. Saya mohon, Tuan. Saya mohon, bawa Nona saya ke rumah sakit!" pinta Mei tersedu-sedu mengiba pada Alex yang sedikit terkejut.
"Kau yakin dia tidak berpura-pura?" Suara Alex bertanya dingin.
"Kalian boleh langsung membunuh saya jika dia sedang berpura-pura. Tolong, saya tidak ingin kehilangannya. Saya tidak ingin dia pergi meninggalkan saya!" tegas Mei lagi meyakinkan.
"M-mei. Ma-maaf!" ucap gadis itu sebelum tangannya jatuh terkulai. Ia menutup mata tak sadarkan diri.
"NONA! Tidak, Nona. Anda harus bertahan, saya akan membawa Anda ke rumah sakit. Anda harus bertahan, Nona!" ucap Mei berkali-kali.
Ia berdiri sambil mengangkat tubuh Nona itu. Berjalan pelan mendekati mobilnya, tapi sebuah mobil menghadang. Mikael membuka kaca mobil dan memintanya untuk masuk.
"Masuklah! Jangan banyak berpikir jika kau tak ingin Nona-mu itu mati!" ucap Mikael mengancam.
Tanpa berpikir, Mei masuk ke dalam mobil yang dibawa Mikael. Mereka meninggalkan lokasi, diikuti iring-iringan mobil Alex dan lainnya. Di dalam mobil, Yuki tak henti menangis dan meminta maaf kepada Kenan. Ia menyesal karena tak mendengarkan Regan.
"Tolong, jangan salahkan Regan. Semua ini salahku, aku yang pergi sendiri dengan membohonginya. Maafkan aku, Kenan. Aku menyesal," ucap Yuki terus terisak lirih.
"Sudahlah, lagipula semuanya sudah berakhir dan baik-baik saja." Kenan mengusap rambut Yuki. Ia bersyukur karena tidak terlambat datang.
Kenan mengalihkan pandangan pada Leo yang mengemudi.
__ADS_1
"Leo, bagaimana kau bisa menemukan gadis itu?"