
"Kenan, bagaimana? Aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa kali ini. Aku ... sebenarnya aku menyukaimu, Kenan. Sudah sejak lama, hanya saja aku tidak berani mengatakannya padamu. Beri aku kesempatan untuk memulai semuanya," mohon Lisa memandang sendu Kenan.
Kilatan di matanya mengharapkan persetujuan Kenan. Pemuda tampan di hadapannya menilik, melipat kedua tangan di dada, memasang senyum tipis yang menggoyahkan hati para wanita.
"Aku tidak tahu jika kau menyukaiku. Yang aku tahu kau dan Teddi memiliki hubungan yang tidak biasa bahkan seluruh siswa di kampus pun tahu soal hubungan kalian. Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau menyukaiku? Ini ... terdengar seperti lelucon bagiku." Kenan meringis lucu. Ia menggigit bibirnya menahan tawa, kepala menggeleng sedikit karena rasa tak percaya.
Lisa menunduk, apa yang baru saja diucapkan Kenan sungguh menohok harga dirinya. Tangannya saling meremas gelisah, terasa lembab karena keringat bermunculan dari pori-pori kulit.
"Masalah itu ... Teddi tak lagi peduli padaku, dia lebih memilih mengejar Yuki daripada bertahan denganku. Sesaat aku sadar, dia sebenarnya tidak mencintaiku." Ia mengangkat wajahnya yang bersemu disaat tawa kecil Kenan menyahut.
"Lalu, aku kau jadikan pelarian semata? Karena sikap Teddi yang tak acuh padamu dan kini kau menemuiku hanya untuk itu? Konyol!" Kenan menggelengkan kepalanya.
Senyum mencibir jelas ia perlihatkan untuk Lisa. Gadis itu meneguk ludah bingung, apalagi yang harus ia lakukan untuk mendapatkan perasaan Kenan kembali.
"Bu-bukan begitu, Kenan. Sejujurnya, sudah sangat lama aku menyukaimu bahkan sebelum aku mengenal Teddi, tapi laki-laki itu mengancamku. Dia memaksaku untuk tidak dekat denganmu, Kenan. Apa yang aku katakan ini adalah yang sebenarnya. Kenan, percaya padaku," ungkap Lisa.
Pandangan matanya menyiratkan kesungguhan, tapi kebohongan yang tersembunyi di dalamnya masih nampak jelas di mata Kenan.
Kenan mendengus halus, berpaling sambil tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Pintu utama terbuka, Kenan yang sedang menunggu kedatangan Yuki dan Kiran gegas memalingkan wajah.
Senyum lebar terbit dari bibir merah alami itu, ia melambai tatkala Yuki melihat ke arahnya. Kerutan bermunculan di antara dua ujung alis Lisa. Penasaran, dia menoleh ke belakang tubuh dengan mata memicing mempertajam netranya.
Amarah tak terelakan dari hati, ia geram. Mengetatkan semua gigi hingga berbunyi gemelutuk.
Sial! Kenapa gadis itu harus datang ke sini? Apa dia sengaja mengganggu waktuku?
Hatinya mengumpat, matanya menyalang. Kenan beranjak.
"Aku pergi dulu. Nikmati makananmu," ucapnya seraya meninggalkan Lisa sendirian.
__ADS_1
"Ke-kenan, tunggu!" Namun, pemuda itu tak acuh dan terus melanjutkan langkah menemui Yuki.
"Kakak!" Gadis kecil Kenan memeluk dengan manja. Disapunya kepala Kiran dan dikecupnya ujung kepala itu. Lisa yang melihat hanya bisa memasang wajah kesal, seharusnya dia yang disambut Kenan seperti itu.
"Dengan supir?" Kenan bertanya sambil merangkul bahu Yuki dan mengajak keduanya menduduki sebuah meja yang sudah ia siapkan. Cemburu dan iri kian meraja di hati Lisa.
"Iya. Kata Kak Yuki, kita akan berjalan-jalan setelah makan siang," jawab Kiran sumringah. Gadis kecil itu kini selalu tersenyum, ceria, dan banyak berbicara. Tak seperti dulu, apa yang ingin dikatakannya tak dapat terucap lisan.
Kenan melirik Yuki yang membuang pandangan ke jendela. Pipi gadis itu bersemu merah, rona bahagia jelas tergambar di wajahnya yang cantik.
Kenan tersenyum, kembali menatap Kiran, mengacak gemas rambut adiknya itu.
"Baiklah. Pekerjaan Kakak dimulai jam dua nanti, setelah itu kita akan pergi. Kalian, tidak apa-apa menunggu sebentar, bukan?" Ia melempar lirikan pada keduanya secara bergantian.
Yuki dan Kiran menganggukkan kepala cepat-cepat sambil menahan senyum senang bisa berkeliling bersama Kenan.
Pramusaji datang menyuguhkan makanan yang sudah dipesan Kenan disaat mereka berdua datang. Tawa bahagia, senyum saling menggoda, membuat Lisa cemburu buta. Ia mengepalkan kedua tangan erat-erat hingga setiap bukunya memutih.
"Kak, kenapa perempuan itu? Dia marah-marah setelah makan, apa dia sudah membayar?" celetuk Kiran setelah Lisa keluar dari pintu utama.
"Biar para pekerja yang mengurusnya. Sudah, lanjutkan makan kalian," ucap Kenan tak acuh. Benar saja, keributan terjadi di depan restoran di mana pekerja restoran mengejarnya hingga ke parkiran.
Kenan menggelengkan kepala melanjutkan makannya bersama Yuki dan Kiran.
******
Beberapa saat menunggu Kenan melakukan pergantian shift, kedua gadis berbeda usia itu berdiri di dekat mobil milik laki-laki itu. Sementara milik Yuki, dibawa oleh supir pribadinya.
"Terlalu lama menunggu?" Suara Kenan bertanya sambil berjalan mendekat. Pemuda itu kini nampak gagah saat berjalan. Senyumnya menawan tanpa kacamata tebal yang menghalangi pandangan.
__ADS_1
"Tidak, ayo!" ucap Yuki seraya membuka pintu mobil dan duduk di samping kursi kemudi. Kiran duduk anteng di kursi belakang dengan senyumnya secerah mentari pagi.
"Ke mana kita?" seru Kiran bersemangat.
"Ke mana pun yang kau mau, sayang." Kenan memandang sosoknya dari spion tengah.
"Ke taman bunga!"
"Siap!"
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah keramaian jalan ibukota. Bernyanyi bersama lagu riang gembira mengusir jenuh dan sunyi di antara mereka. Berlenggak-lenggok mengikuti irama, senyum-senyum tersemat penuh rasa bahagia.
Jalanan mulai sepi dari kendaraan, hanya beberapa saja yang berpapasan dengan mobil mereka. Suasana mulai berganti, pepohonan tumbuh di sepanjang jalan memayungi. Menghalau mereka dari terik matahari.
Bermacam warna sudah nampak dalam pandangan, sekejap lagi mereka akan tiba di taman. Taman yang membuat semua mata terpesona dalam keindahan. Suguhan alam nyata bukan hanya dalam impian.
"Wah ... warna-warni! Pasti banyak bunga di sana!" seru Kiran menempelkan kedua tangan di jendela menatap takjub pada hamparan penuh warna dalam radius beberapa kilometer.
"Lebih dari ratusan jenis bunga ada di sana bahkan mungkin ribuan jumlahnya," sambar Yuki sambil menoleh ke belakang menatap Kiran.
Gadis kecil itu berbalik memandang ingin tahu pada gadis seusia Kakaknya itu.
"Kakak pernah ke sana?" Sinar matanya menyorot antusias.
"Mmm ... Kakak sudah beberapa kali pergi ke sana bersama teman-teman. Jadi Kakak tahu semua tentang bunga di sana karena Kakak pernah belajar tentang berbagai jenis tanaman bunga di taman itu," jawab Yuki sambil mengingat kembali saat-saat melakukan tugas penelitian bersama rekan sejawatnya.
"Wah ... jika begitu Kakak pasti sudah tahu semua tempat itu," katanya bertepuk tangan kecil dengan gembira.
"Kakak akan bawa Kiran berkeliling taman itu. Jangan takut tersesat karena Kakak sudah hafal semua seluk beluk taman itu." Yuki memang gadis yang ramah, baik dan penyayang. Kiran bersorak, Kenan tersenyum.
__ADS_1
Semenjak Kiran bertemu dengannya, gadis kecil itu seperti menemukan sosok Ibu dalam diri Yuki. Hampir setiap malam berkisah tentang gadis manis itu, rasa rindu ingin selalu bertemu. Sampai-sampai rindu Kenan pun dikalahkan olehnya. Tak apa, kebahagiaan Kiran adalah kebahagiaan Kenan. Tak ada lagi yang dia inginkan selain melihat senyum terus terbit di bibir mungilnya.