Takdir Kenan

Takdir Kenan
Prasangka


__ADS_3

Pekerjaan berjalan seperti biasa, Kenan melirik Kiran yang tertidur di sampingnya. Wajah damai sangat adik menjadi penghibur untuknya, setelah setengah hari bermain di taman berkeliling melihat berbagai macam jenis bunga, kini tiba masanya mengistirahatkan tubuh.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel milik Kenan. Ia berpaling dari wajah Kiran dan membuka pesan selamat malam dari calon pendampingnya di masa depan.


"Kenan, sudah tidur?" Bunyi pesan yang ditulis Yuki dibubuhi emoticon senyum malu-malu.


Kenan menarik kedua sudut bibirnya ke atas, rindu menyeruak teringin pagi cepat menyapa.


"Belum, kenapa belum tidur?" Pesan balasan dari Kenan ditambah emoticon bertabur lambang cinta.


"Aku belum mengantuk, perasaanku tidak enak, Kenan."


Degh!


Entah kenapa membaca pesan yang dikirimkan Yuki hati Kenan berdebar cemas. Senyum yang diukirnya raib berganti gelisah memikirkan keadaan Yuki. Ia beranjak duduk mengambil posisi tegap. Melakukan panggilan telepon yang segara diangkat Yuki.


"Apa yang kau pikirkan, Yuki? Perasaan seperti apa maksudmu?" tanya Kenan. Garis wajahnya berganti cemas, perasaan tak enak mulai menggelayuti hati dan pikiran, membuatnya tak tenang berdiam diri sendirian.


"Aku merasa sesuatu akan terjadi malam ini. Kenan, apa Kiran baik-baik saja?" Suara Yuki terdengar bergetar. Bukan karena dibuat-buat, tapi gadis itu benar-benar tengah dilanda gelisah yang merundung hatinya.


"Kiran sedang tidur. Kau ... sendirian?" tanya Kenan lagi sembari melirik Kiran yang tetap pulas tertidur.


"Ah ... syukurlah. Aku sendirian, Mamah dan Papah pergi ada meeting dengan rekan bisnis mereka. Kenan, kenapa aku tiba-tiba merasa takut. Aku takut sendirian, Kenan," ucap Yuki. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar.


Duduk meringkuk memeluk bantal, secara tiba-tiba ruang kamar yang selalu membuatnya nyaman itu berubah mencekam. Keringat dingin merembes dari pori-pori membasahi piyama yang ia kenakan.


"Di mana kau?" tanya Kenan bersiap untuk pergi menjemput ke rumahnya.


"Aku di kamar," jawab Yuki takut-takut.


"Tunggu sebentar! Kujemput," ucap Kenan. Ia menutup sambungan. Mengusap kepala Kiran dan mengecupnya.


"Kakak tinggal sebentar, ya. Kau akan aman di rumah." Ia beranjak mengambil jaket dan kunci mobil. Memastikan jendela kamarnya terkunci rapat juga jendela rumah yang lainnya. Memeriksa setiap pintu khawatir seseorang masuk dan berbuat jahat padanya.

__ADS_1


Kenan mengunci pintu rumah, menjalankan mobil dengan gegas menuju rumah Yuki. Jalanan masih ramai kendaraan, beberapa orang bahkan masih berlalu-lalang, ada juga kelompok-kelompok anak muda yang sedang nongkrong.


Kenan menghentikan mobil di depan gerbang rumah Yuki, seorang penjaga gerbang membukakan pintu seraya bertanya alasannya datang.


"Silahkan masuk!"


"Tidak perlu, Pak. Saya terburu-buru, biar saya telepon Yuki," katanya seraya melakukan panggilan pada ponsel milik Yuki.


Gadis itu tidak menjawab, ia berlari keluar kamar dan terus menuruni anak tangga menuju lantai satu. Yuki membuka pintu cepat, melihat Kenan ia mempercepat laju kakinya.


"Kenan!" Yuki berhambur memeluk tubuh pemuda itu. Terkejut, itulah yang dirasakan Kenan saat gadis itu memeluknya erat.


"Di sini ada Bapak yang menjaga gerbang juga ada Bibi di dalam. Kenapa kau takut?" tanya Kenan sembari mengusap rambut Yuki yang lembab sebab keringat.


" Aku tidak tahu, Kenan. Aku tidak tahu, aku hanya merasa tidak tenang di rumah. Boleh aku menginap di rumahmu malam ini!" ucap Yuki.


Kenan melepas pelukan, membenarkan rambutnya yang berantakan seraya mengangguk. Yuki berpamitan pada penjaga gerbang dan memintanya untuk menyampaikan pesan bahwa ia pergi.


"Kau meninggalkan Kiran sendirian?" Yuki memekik. Pemuda yang mengemudi di sampingnya menginjak pedal gas semakin dalam mempercepat laju mobil menuju rumah.


"Kenapa orang tuamu meeting hingga larut seperti ini?" tanya Kenan sambil terus fokus ke jalanan yang mulai lengang kendaraan.


"Sebenarnya mereka berada di luar kota sekarang, kemungkinan menginap untuk beberapa hari. Aku tidak tahu," jawab Yuki menundukkan kepala dalam-dalam. Jemarinya saling meremas satu sama lain, gelisah entah apa yang membuatnya gelisah.


Mobil mereka berhenti di depan gerbang rumah Kenan.


"Biar aku saja yang buka," cegah Yuki disaat Kenan hendak turun dari mobil membuka gerbang.


Gadis itu keluar membukakan gerbang untuk Kenan memasukkan mobil. Keduanya gegas memasuki rumah setelah memastikan gerbang terkunci.


"Kiran di kamar atas, kau tidur saja dengannya. Aku akan tidur di tempat lain," titah Kenan setelah mereka berada di dalam.


"Terima kasih." Yuki menapaki anak tangga menuju kamar yang ditunjukkan sang pemilik rumah.

__ADS_1


Sementara dirinya, akan tidur di lantai satu di depan televisi. Pemuda itu berbaring dengan televisi yang dibiarkan menyala. Memikirkan ucapan Yuki yang tiba-tiba merasa gelisah, ia sendiri pun dapat merasakan hal tersebut.


Mungkinkah sesuatu yang buruk sedang mengintai mereka? Menunggu waktu lengah keduanya barulah akan beraksi.


Ah, entahlah! Kenan mencoba memejamkan mata menepis semua prasangka buruk yang hinggap merayap di hatinya. Berdoa dalam hati semoga tak akan pernah terjadi hal buruk dalam hidup mereka.


Sementara Yuki, ia tersenyum sesaat setelah memasuki kamar tersebut melihat Kiran yang masih tertidur pulas memeluk guling. Gadis kecil itu nampak damai dalam buai alam impian. Yuki mencuci wajahnya sebelum beranjak ke ranjang yang sama dan berbaring di sisi gadis kecil itu.


"Mamah, Papah, kuharap kalian meluangkan waktu sebentar untukku. Aku ingin berbicara tentang Kenan dan hubungan kami," gumam Yuki sambil mengusap dahi Kiran yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


Ia membaringkan diri usai memberikan kecupan pada dahi itu. Memeluk tubuh Kiran memberikannya kehangatan.


Di tempat lain, dua orang mengadakan pertemuan. Wajah mereka tampak tegang dan serius, entah apa yang sedang mereka bahas.


"Kau yakin ingin melakukan ini?" tanya salah satunya memastikan.


"Bukankah kita memiliki dendam yang sama? Jadi, untuk apa ragu melakukannya. Tidak akan ada yang dirugikan dari rencana ini, bukan?" sahutnya berani. Memprovokasi lawan bicaranya agar mau menjalankan rencana yang telah ia buat.


"Aku tidak sejauh itu, berbeda dengan dirimu yang begitu menggebu. Katakan apa alasanmu hingga kau sampai berubah pikiran seperti sekarang ini?"


"Apa pedulimu? Semua itu hanya aku saja yang tahu." Ia membalik badan tanpa berucap lagi.


Kepalanya menoleh pada dia yang masih bergeming di tempatnya terpaku tadi.


"Pastikan kau melakukannya secepat mungkin. Aku akan bayar tinggi untuk itu." Ia memasuki mobilnya dan berlalu meninggalkan tempat tersebut.


Rencana apa yang sedang mereka buat?


Senyum tercetak licik di wajahnya yang terhalang kegelapan. Hanya bibirnya saja yang tersorot lampu sambil terus mengemudi semakin menjauh.


Sementara lawan bicaranya, masih di sana. Berdiri di samping badan mobil, bersandar sambil menatap langit yang dipenuhi bintang.


"Hah ... kau benar, kita memiliki dendam yang sama. Aku memang menaruh dendam padanya, dan ingin membalas rasa sakitku. Kita lihat saja, apa yang bisa dia lakukan?"

__ADS_1


__ADS_2