Takdir Kenan

Takdir Kenan
Perjuangan Dimulai


__ADS_3

Dor!


Sebuah timah panas meluncur mengincar kepala Alex. Shaka yang memiliki insting yang tinggi mampu merasakan pergerakan musuh beberapa meter jauhnya, segera beralih menghadang datangnya benda itu.


"Ayah, awas!"


Dash!


Peluru itu tepat bersarang di dadanya. Semua orang terperangah, melihat Shaka yang berdiri tegak dengan darah mengucur deras. Kedua tangan membentang dengan semua jarinya yang mengepal.


Batas kemampuan yang dia miliki telah sampai, tenaga dalam tubuhnya hampir terkuras habis hingga tak mampu lagi menahan datangnya timah panas tersebut.


"Shaka!" Kenan memekik seraya memeriksa tubuh adiknya, "kau berdarah." Ia mendongak menatap wajah pemuda itu yang nampak biasa saja.


Shaka tersenyum, ia menampung darah di dada seraya meminumnya secara langsung. Seperti pada malam itu, tubuh Shaka menggeliat kesakitan. Meraung keras sebelum membeku dengan aura yang berbeda.


Ia memungut sebuah batu, dan melemparkannya jauh ke atas pohon. Berselang, jeritan seseorang menggema menyusul tubuhnya yang jatuh melayang sebelum menghantam tanah.


Shaka berjalan pelan menghampirinya, laki-laki itu nampak ketakutan. Tak sempat melarikan diri, Shaka menginjak dadanya dengan kuat. Bunyi payah tulang terdengar nyaring, pekikan tercekik menguar dari mulutnya.


Buru-buru Alex menutupi wajah Kiran. Ia khawatir putri kecilnya akan trauma dengan kejadian beruntun yang menimpanya.


"Ayo, Kak. Masih ada yang ingin bermain dengan kita. Mereka mengelilingi kita dengan senjata yang sama, aku siap meskipun ini untuk yang terakhir. Aku akan mempertaruhkan segalanya demi keluarga kita," ucap Shaka dengan suara parau seperti pada malam itu.


Bola matanya kembali berubah semerah darah, kilatan penuh tekad menyelimutinya. Tubuh Shaka membesar hingga otot-ototnya menonjol. Alex tertegun, inikah sosok Shaka yang sebenarnya? Ia sendiri tidak percaya bahwa anaknya akan berubah sedemikian rupa.


Luka di dadanya tertutup, dan peluru itu pun menyembul sebelum jatuh ke tanah. Darah tak lagi keluar dari bekas hantaman amunisi yang menembus rusuknya.


Kenan mengangguk seraya beralih pandangan pada Leo yang sedikit termangu melihat kejadian aneh di depan matanya.


"Paman Leo, bisa bawa Ayah dengan selamat, bukan? Aku serahkan mereka pada Paman, tolong bawa mereka pulang," ucap Kenan penuh pengharapan.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Apa kau berniat melawan mereka sendiri di sini?" bentak Alex tak senang. Darahnya berdesir hebat, ia tak akan mungkin mengorbankan anaknya sendiri untuk menyelematkan hidupnya.


Kenan menatap Alex yang berapi-api, di sampingnya Kiran yang mulai normal kembali tak lagi pucat pasi seperti sebelumnya.


"Ayah, musuh sudah mengepung kita. Aku dan Shaka akan mengalihkan mereka. Ayah pergilah dari sini, pergi sejauh mungkin. Paman Mikael sedang dalam perjalanan menuju ke tempat ini," ucap Kenan memohon pada Alex.


Mobil berhenti persis di samping mereka, di dalamnya Bibi dan Roni serta Steve diikat dan dijaga ketat oleh orang-orang Alex. Leo mengambil alih kemudi, Kenan memaksa Alex untuk masuk ke dalam mobil.


"Kakak!" Kiran memeluk Kenan, gadis kecilnya menangis tersedu.


"Tidak apa-apa, pulanglah bersama Ayah." Kenan mengusap rambutnya yang basah.


Wajah cantik itu mendongak, menatap Kenan yang menunduk ke arahnya.


"Kakak harus kembali, berjanjilah untuk pulang. Aku menunggu Kakak di rumah," pinta Kenan dengan derai air mata yang meleleh di pipinya.


"Aku sudah kehilangan Ibu, aku tidak ingin kehilangan Kakak lagi. Kakak harus pulang." Kiran kembali memeluknya. Menangis tersedu-sedu tak ingin berpisah.


Kiran melepas pelukan, memberikan Kenan kecupan di pipi kanan dan kirinya. Lalu, berbalik menatap Shaka yang diam memperhatikan. Kaki kecilnya berayun mendatangi tempatnya berdiri.


"Kakak Shaka!" Kedua tangan kecil itu melingkar di salah satu kaki Shaka. Tubuhnya yang bertambah tinggi dan besar membuat Kiran nampak lebih kecil dari sebelumnya.


Kiran mendongak, "Membungkuklah!" Shaka membungkuk. Mendekatkan wajahnya pada sang adik yang masih lekat menatapnya.


Kiran mencium pipi kanan dan kiri Shaka seraya berbisik lirih di telinganya, "Aku sayang Kakak. Sama seperti Kak Kenan, berjanjilah untuk pulang. Aku dan Ayah menunggu kalian di rumah."


Shaka mengangguk, bukan karena menyanggupi, tapi sekedar menyenangkan hati gadis kecil itu. Tangan besarnya sigap membawa Kiran ke dalam gendongan, meletakkan tubuh sang adik di atas pangkuan Alex seraya menutup pintu dan menjauh.


Kenan dan Shaka bersisian, putra kembarnya nampak gagah dan perkasa meski berbeda. Mereka seolah-olah siap untuk mati mempertaruhkan demi kehidupan yang damai di masa depan.


"Berjanjilah untuk tetap hidup dan pulang ke rumah!" Suara Kiran sayup terdengar seiring kepergian mobil yang membawa mereka.

__ADS_1


"Kau siap?" tanya Kenan pada Shaka. Adik kembarnya mengangguk pasti, ia telah siap sejak beberapa saat lalu.


Keduanya berpisah, mencari keberadaan musuh. Suara letusan senjata api menggema di dalam hutan bersamaan dengan deru mobil yang dikemudikan Alex.


Shaka mengambil sebilah bambu, ia mematahkannya dan membuat ujungnya menjadi runcing seperti tombak. Sementara Kenan, mengambil sebuah ranting pohon yang cukup kuat.


Keduanya memanjat pohon berbeda, mengintai keberadaan musuh yang mengepung tempat itu. Ada belasan mobil terpakir di dalam hutan, juga puluhan orang yang terpisah mencari keberadaan mereka.


Penyerangan kedua ini dipimpin oleh papah Lisa. Oleh karena tersulut ucapan Steve, ia ikut membalas dendam pada Alex padahal tidak tahu kejadian yang sebenarnya.


Kenan mematahkan tiga buah ranting pohon, membidik mereka yang lengah sebelum melempar kuat ranting tersebut.


Crash!


Tepat, ranting yang diluncurkannya mengenai jantung penjahat itu. Ia jatuh berdebam tanpa suara, seketika mati tak bernyawa. Kenan melempar ranting kedua, lalu ketiga. Setidaknya walaupun tidak membunuh banyak, tindakan itu akan mengurangi jumlah penjahat yang ada.


Melihat rekan mereka jatuh tanpa nyawa oleh sebuah ranting pohon yang menancap di bagian jantung, mereka semua menjadi waspada. Menatap sekeliling, ke atas, ke samping, mencari-cari keberadaan mereka. Namun, tak terlihat.


Di sisi lain, setelah memperhitungkan jumlah penjahat di tempat yang lain, Shaka kembali turun. Ia melangkah dengan sebilah bambu runcing di tangan, mengincar penjahat yang berada dalam jarak yang dekat.


Tombak bambu itu ia tancapkan pada tengkuk penjahat. Tubuhnya menggelepar, lalu diam tak berkutik. Shaka kembali berjalan menghampiri yang lain, tapi kali ini mereka melihatnya.


"Kepung dia!" Secara serentak semua yang ada mengelilingi Shaka dengan moncong senjata yang mengarah kepadanya.


Shaka bergeming, memperhatikan moncong yang mengepul di depan matanya itu. Ia tak tahu senjata jenis apa yang ada di hadapannya, sekilas tadi ia merasakan sakit dan panas secara bersamaan.


"Tembak!"


"Shaka?" Kenan berjengit, ia segera melompat turun dan berlari ke tempat adiknya berada.


"Shaka!"

__ADS_1


__ADS_2