
Sementara jauh di tempat lain, dua orang bersitegang di dalam sebuah ruangan setelah mendengar kabar mengejutkan dari sekretaris mereka. Laki-laki itu mengusap wajah gusar, peluh ikut timbul memenuhi permukaan kulitnya.
Dadanya kembang-kempis seiring napas yang memburu hebat. Kedua tangan terkepal, ia pukulkan pada meja kerjanya. Dan wanita yang bersamanya, duduk memijit-mijit pelipis yang berdenyut. Rasa pening menghantam bagian kepalanya saat kabar buruk itu ia terima.
Kabar tentang Lois Grup yang menarik sahamnya dari perusahaan mereka. Menjadi ancaman terbesar bagi perusahaan.
"Aku tidak mengerti kenapa mereka menarik sahamnya dari perusahaan kita?" geramnya penuh emosi.
"Tidak hanya Lois, investor yang lain pun menarik saham mereka melihat Lois melakukannya. Entah apa yang terjadi? Selama ini perusahaan berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus mencari cara untuk meyakinkan mereka dan mempertahankan perusahaan ini." Tak kalah risau wanita yang duduk di sofa pun terlihat frustasi.
"Maaf, Tuan, Nyonya, satu-satunya cara agar perusahaan tetap berjalan adalah dengan mencari tambahan modal. Kita membutuhkan tambahan modal. Saya kira kita diambang kebangkrutan, hampir semua investor menarik saham mereka karena takut merugi."
Sang sekretaris ikut bergabung dalam obrolan mereka. Mendengarnya memang begitu mudah, tapi kenyataannya teramat sulit untuk dilakukan karena mencari tambahan modal itu pun tidak mudah. Terlebih mereka masih memiliki tunggakan pada bank dengan nominal cukup besar.
"Maaf, Tuan, Nyonya, banyak karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan dengan alasan mereka mendapat tawaran kerja dari perusahaan lain dengan gaji yang lebih menguntungkan."
Satu per satu masalah datang, dalam hitungan menit saja perusahaan mereka jatuh bangkrut. Perusahaan itu disitu pihak bank, mereka harus kembali ke kota asal meninggalkan segala yang mereka punya.
"Kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi, Pah. Bagaimana ini? Perusahaan yang kita bangun dari nol harus hancur hanya dalam hitungan menit saja. Apa yang harus kita lakukan? Apa yang akan kita katakan pada Yuki saat pulang nanti," ucap wanita yang tak lain ibu Yuki sambil termehek-mehek di dalam mobil.
Mereka dalam perjalanan pulang kembali ke rumah, terpaksa karena semuanya sudah hancur.
"Mau bagaimana lagi? Katakan saja padanya, bukankah itu yang dia inginkan? Kita di rumah dan tak pergi-pergi lagi," sahut laki-laki alias ayah Yuki dengan geram.
__ADS_1
Ia kesal, dan menuduh Yuki sebagai penyebab hancurnya perusahaan mereka.
"Semua ini karena anak itu, dia berteriak kepada kita pagi itu. Kau ingat?" lanjutnya menggeram.
Ibu Yuki menggeleng menolak ucapan suaminya. Ada hal yang ia sadari dari semua kejadian yang menimpa pada mereka. Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa bahwa ada seseorang yang membutuhkan mereka di rumah.
"Bukan, semua ini bukan salah Yuki, tapi kita. Kita yang selama ini terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan kehadirannya. Dia bahkan sempat bercerita tentang seorang laki-laki, tapi kita tidak menanggapinya sama sekali. Semua ini bukan salahnya, semua ini salah kita, Pah."
Wanita itu kian histeris mengingat kejadian malam kemarin saat mereka baru saja pulang dan bertemu dengan Yuki. Gadis itu terlihat sedih dan menderita, juga ada rindu di matanya. Rindu berkumpul bersama kedua orangtuanya.
Ayah Yuki memukul setir cukup keras.
"Apa yang salah kita? Siang malam kita mencari uang untuk memenuhi semua kebutuhannya. Kita banting tulang peras keringat hanya untuk dirinya agar bisa seperti orang lain. Tidak direndahkan, tidak dihina-hina seperti temannya yang sering dihina dan dianggap sampah karena tidak memiliki apapun. Aku tidak ingin anak kita mengalami hal seperti itu."
"Aku akan mengajarinya bagaimana cara bersikap di hadapan orang tua saat di rumah nanti. Aku yakin anak itu tidak ada di rumah sekarang, dia main keluyuran di luar bersama teman-temannya. Lihat saja!" katanya lagi semakin dalam menginjak pedal gas mempercepat laju mobilnya.
"Tolong jangan marahi dia. Jangan marahi anak kita, hanya dia satu-satunya yang kita punya, Pah," pinta sang istri memelas pada suaminya.
Namun, laki-laki itu telah termakan amarah. Ia tak mendengar ucapan wanita yang tak henti menangis di sampingnya.
Sementara di rumah sakit, dua hari sudah Yuki dirawat di rumah sakit, dan selama itu pula ia selalu bersama Kenan. Tak jarang Shopia dan Mei akan berkunjung untuk berbincang dengan Kiran.
"Kau sudah lebih baik?" tanya Yuki pada Shopia. Gadis cantik itu tak lagi pucat, wajahnya nampak lebih segar dari keadaan sebelumnya.
__ADS_1
"Yah, sebenarnya aku sudah diizinkan pulang, tapi aku menolak. Jika aku pulang, mungkin aku akan sangat jarang bertemu dengan kalian terutama Kiran. Aku akan kesepian lagi," katanya dengan sedih.
"Kenapa seperti itu? Aku juga setiap hari pulang bersama Ayah, dan akan kembali ke rumah sakit sepulang sekolah. Kakak juga bisa seperti itu, saat Kakakku sudah sembuh nanti aku akan berkunjung ke rumah Kakak. Dan datanglah ke rumah bersama paman Leo," ucap Kiran serius.
Shopia menggelengkan kepala tidak mau. Ia ingin tetap di rumah sakit berkumpul bersama mereka membuat hatinya semakin hidup.
"Nona Kiran benar, Nona. Lagipula Anda harus muncul di perusahaan untuk memperkuat posisi Anda sebagai CEO sekaligus ahli waris dari mendiang orang tua Anda. Ada banyak yang ingin menggulingkan Anda dengan berbagai alasan, saya harap Anda mempertimbangkan itu semua," sahut Mei mengatakan yang sebenarnya.
Shopia tertegun, ia menunduk gelisah. Ada ketakutan dalam hatinya mengingat dia sekarang adalah seorang CEO, pemilik perusahaan besar meskipun masih berada di bawah Lois.
"Tapi aku takut. Aku tidak percaya pada diriku sendiri, aku juga tidak terlalu mengerti tentang perusahaan. Aku takut justru saat berada di tanganku nanti, perusahaan akan hancur. Sia-sia semua perjuangan kedua orangtuaku," ucap Shopia lirih dan bergetar.
Ada ketakutan yang kentara, dan Kenan dapat menangkap itu semua. Berbeda dengan Yuki, ia memiliki keduanya, tapi seolah-olah tak memilikinya. Keadaan Shopia sangatlah jelas, kedua orangtuanya telah meninggal.
"Kau tidak sendirian, Shopia. Di sini, akulah yang sendiri. Aku masih memiliki orang tua, tapi seperti tak memilikinya. Mereka tak peduli padaku hanya sibuk bekerja dan bekerja sepanjang siang dan malam, tidak pernah memikirkan aku. Tak pernah ada waktu untukku, aku ingin bercerita tentang Kenan, aku ingin bercerita tentang semua yang aku jalani, tapi mereka tak pernah ada untukku. Walau sehari saja," ungkap Yuki tertunduk.
Ia kembali terisak, pilu dengan kisah sendiri. Shopia menatapnya sedih, kagum pada sosoknya yang begitu tegar menjalani hari sendirian. Mungkin ia baru merasakannya, tapi Yuki sudah berapa lama keadaannya seperti itu? Kenan menggenggam jemari kekasihnya dengan lembut.
"Aku turut sedih, Kak, tapi tetap saja seorang gadis kecil apakah sanggup memimpin perusahaan? Aku hanya akan diremehkan oleh mereka." Shopia benar-benar kehilangan kepercayaan diri.
"Leo yang akan membantumu menjalankan perusahaan, percaya saja padanya. Dia orang yang sangat bisa diandalkan," sambar Alex yang muncul dari balik pintu bersama Leo.
Laki-laki itu tersenyum seraya mengangguk saat matanya bertemu dengan manik hazel Shopia.
__ADS_1