Takdir Kenan

Takdir Kenan
Menyelidik


__ADS_3

"Nona?"


"Kau sudah mendapatkannya?"


Gadis yang duduk bersandar di kepala ranjang rumah sakit itu menurunkan majalah dari depan wajahnya. Ia menatap dingin wanita yang baru saja memasuki ruangan.


"Sudah, Nona. Saya sudah mendapatkan informasi tentang pemuda itu," jawabnya yakin dan pasti.


"Katakan!" Ia menunggu. Matanya yang penuh muslihat menatap tajam pada udara yang tak terlihat.


"Namanya Kenan, putra dari pengusaha Alexander pewaris perusahaan Lois. Saat ini bekerja di restoran milik ayahnya sendiri. Hanya itu yang saya dapatkan, Nona," jawabnya menjelaskan identitas Kenan.


"Perusahaan Lois? Tuan Alexander? Mmm ... aku suka, kau bisa menyingkirkan kerikil itu, bukan? Singkirkan apapun yang menghalangi jalanku untuk mendapatkannya!" Senyum yang diukirnya dipenuhi muslihat dan kelicikan.


Wanita yang membawa laporan membungkukkan tubuh mematuhi semua perintahnya.


"Jadi, namanya Kenan? Aku suka, aku harus mendapatkannya dan menyingkirkan gadis jelek itu." Maniknya memancar penuh tekad. Ia kembali membuka majalah membaca-baca apa yang ada di dalamnya.


Sementara di ruangan Kenan, Yuki dan yang lain menunggu pemuda itu bangun dari tidurnya. Ia menggenggam tangan Kenan, meletakkannya di pipi sambil terus berharap ia akan segera membuka mata.


Kiran tak jauh darinya, gadis kecil itu berbaring di samping Kenan sambil tak lepas menatapnya. Tangan kecil itu melingkar di perut sang Kakak, ia rindu bermain dengannya. Merindukan suara tegas itu memanggil namanya. Rindu semua cinta dan perhatiannya.


Jemari Kenan berkedut, Yuki sigap mendongak menilik jemari mereka yang saling bertaut.


"Kenan?" panggil Yuki lirih. Kiran sontak beranjak duduk, matanya membulat memperhatikan wajah Kenan yang mengernyit.


Alex menghentikan pekerjaannya dan menunggu anak itu bereaksi.


"Yuki!"


Gadis itu berdiri mendekatkan wajahnya pada wajah gelisah Kenan. Mengusap peluh yang bermunculan di sana dengan hati-hati.


"Kenan? Aku di sini, buka matamu!" ucap Yuki semakin mengeratkan genggamannya pada jemari Kenan.


"Kakak!" Kiran turut bersuara. Hampir seharian ia menunggu mata Kenan terbuka, sampai-sampai Alex harus membawa pekerjaannya ke ruangan Kenan karena tak ingin meninggalkan anaknya itu.


Kenan membuka mata lebar-lebar, mencari sosok yang ia khawatirkan keselamatannya.


"Yuki?"


"Kenan, ada apa? Aku di sini," ucap Yuki semakin mendekatkan diri pada Kenan.

__ADS_1


"Yuki, apa kau baik-baik saja?"


"Eh?"


Tak hanya Yuki, Kiran dan Alex bahkan Kenan sendiri pun terkejut dengan keadaan dirinya yang tak lagi gagap. Ia bahkan dapat beranjak duduk dengan cepat tanpa merasa sakit di sekujur tubuh.


"Kenan? Kau sembuh?" Yuki memekik senang. Ia memeluk Kenan dengan erat, tapi Kenan justru menjerit kesakitan.


"Argh!"


"A-ada apa?" Yuki menjauhkan diri secepatnya. Menatap Kenan dengan bingung.


Kekasihnya itu meringis, matanya terpejam erat, lidahnya berdesis. Kenan membanting dirinya kembali di atas ranjang, mengerang dengan kedua tangan terkepal erat.


"Kenan?" Alex berhambur mendekat.


"Kakak!"


"Kenan!"


Yuki dan Kiran menangis tersedu, tapi tak lama pemuda itu berhenti mengerang dengan napas tersengal-sengal. Peluh membanjiri wajah hingga bagian punggung dan dadanya. Kenan membuka mata, menyodorkan tangan kepada Yuki memintanya untuk membantu.


Alex mengangguk saat lirikan mata Yuki mengarah kepadanya. Gadis itu beranjak sambil terisak pilu, membantu Kenan untuk duduk dan menyeka keringat dari wajahnya.


"Jangan menangis? Aku sudah lebih baik. Hanya saja, kedua kakiku masih terasa sakit untuk digerakkan," ucap Kenan menenangkan. Tangannya membelai pipi Yuki yang dibasahi air mata.


Gadis itu tak kunjung berhenti menangis meskipun Kenan berkali-kali menyeka air matanya. Ia menarik tubuh Yuki ke dalam pelukan, mendekapnya dengan lembut. Diikuti tangannya yang merangkul tubuh Kiran.


Alex tersenyum, ia merasa sedikit lega meskipun Kenan belum sembuh sepenuhnya.


"Kudengar Kenan sudah sembuh?"


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan cukup keras, Regan datang membawa beberapa tas belanja ke ruangan Kenan. Ia berjalan sambil membentang kedua tangan hendak memeluk sahabatnya itu.


Pelukan mereka terurai, semua menoleh pada Regan sambil tersenyum lega. Yuki mengusap air matanya, duduk di ranjang Kenan bersama Kiran.


"Stop! Kau bisa menyakitinya, jangan memeluk!" sergah Yuki disaat Regan hampir memeluk tubuh Kenan.


Sahabat Kenan itu mengernyit, ia melihat pemuda itu telah dapat tersenyum sempurna bahkan dapat menggerakkan kedua tangannya.


"Oh, baiklah. Bagaimana kabarmu, kawan?"

__ADS_1


Mereka melakukan tos, Kenan terkekeh. Senang bisa kembali meski belum sepenuhnya.


"Sudah lebih baik, setidaknya lidahku tak lagi kaku saat berbicara," jawab Kenan lebih baik dari sebelumnya.


"Kau membawa makanan?" Yuki melihat isi tas yang dibawa Regan, semuanya makanan yang sengaja ia beli untuk mereka.


"Yup! Kalian, makanlah. Aku yakin kalian belum memakan apapun," ucap Regan seraya duduk di kursi menemani Kenan.


"Makanlah, Yuki. Kau juga harus makan," titah Regan tegas.


"Aku akan makan di sini bersama Kenan," sahut Yuki seraya menyuapi Kenan makan. Kebahagian pada akhirnya menghampiri mereka, satu per satu masalah pergi menjauh.


"Regan, aku titipkan Yuki padamu. Jangan biarkan dia pergi seorang sendiri ke mana pun," pinta Kenan setelah menyelesaikan makannya.


Semua orang menautkan alis bingung dengan pernyataan yang baru saja Kenan katakan.


"Memangnya ada apa?" Regan bertanya bingung, mewakili semua orang.


"Entahlah, aku merasa ada bahaya yang mengintai Yuki. Sangat dekat sekali. Tolong, berjanjilah padaku kau akan menjaganya hanya sebelum aku pulih." Kenan memohon lewat sorot matanya.


"Tapi, Kenan, semua orang yang menyerang kita waktu sudah berada di dalam penjara. Rumah dan keluarga mereka hangus terbakar bahkan seluruh aset mereka pun ikut terbakar. Ada bahaya apa lagi?" terang Regan memberitahu.


Mata Kenan membelalak, berita ini baru ia dengar dari mulut Regan saja.


"Benar, Kenan. Itu memang balasan yang pantas untuk mereka yang telah membuat Shaka pergi," sahut Yuki geram.


"Kak, Shaka!"


"Shaka?" Kenan bermuram bersamaan dengan Kiran. Teringat pada Shaka membuatnya ingin mengunjungi tempat peristirahatan terakhir sang adik kembar. .


"Kau tenang saja, Nak. Kita akan mengunjungi mereka setelah kau pulih nanti," ucap Alex sambil mengusap bahu Kenan yang melorot.


"Jadi, bahaya seperti apa yang kau maksudkan?" tanya Alex.


"Entahlah, Ayah. Aku rasa ada seseorang yang ingin memisahkan aku dengan Yuki, tapi aku tidak tahu siapa dan di mana? Perasaanku mengatakan mereka sangat dekat," ucap Kenan mendongak memperlihatkan wajahnya yang serius.


"Ayah mengerti!" Alex menjauh, terus berjalan keluar ruangan menemui Leo.


"Tuan!"


"Leo, aku ingin kau mencari tahu siapa saja yang mencurigakan di sekitar rumah sakit ini. Aku curiga seseorang sedang merencanakan hal buruk untuk mereka," titah Alex serius.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" Leo bergegas pergi meninggalkan ruangan Kenan. Entah ke mana laki-laki itu pergi, yang pasti dia akan menjalankan tugas dari Alex tanpa membuatnya kecewa.


__ADS_2