Takdir Kenan

Takdir Kenan
Insiden


__ADS_3

"Kakak, aku mau naik itu!" seru Kiran menunjuk bianglala yang masih berputar pelan.


"Kau yakin berani?" tanya Kenan sedikit cemas. Terbayang saat ia menjatuhkan diri dari lantai sekolah, betapa mengerikannya saat itu.


"Aku berani, Kak. Ayo, Kak Shaka, kita naik itu!" ajaknya pada Shaka yang terpesona dengan keadaan ramai di taman hiburan itu.


"Ayo!" Tanpa berpikir Shaka menarik tangan Kiran menuju tempat bianglala.


"Kakak! Kita tidak bisa langsung naik, kita harus membeli tiket dulu!" seru Kiran lagi menarik kuat tangan Kakak barunya itu.


Shaka berbalik dengan bingung, "Apa tadi?"


"Tiket."


"Apa tiket?"


"Kertas yang akan membuat kita bisa menaiki benda itu!" jelas Kiran dengan susah payah.


Oleh karena masih bingung, Shaka menoleh pada Kenan yang berjalan dengan dua kertas di tangan. Ia mengangkatnya sambil tersenyum, disambut senyum Kiran yang nampak senang.


"Itu, namanya tiket. Kita harus memilikinya jika ingin bermain di sini," katanya. Shaka manggut-manggut mengerti.


Kenan memberikan tiket tersebut kepada petugas jaga mainan raksasa itu. Bianglala berhenti berputar, Kiran dibantu Shaka menaikinya.


"Itu target kita?"


"Ya, mereka berdualah target kita."


"Bagaimana dengan yang satunya?"


"Entahlah. Habisi saja jika dia berani melawan."


"Baiklah. Rencana kedua?"


Lawan bicara itu berbisik-bisik kepada temannya. Senyum-senyum jahat tercetak penuh muslihat. Mereka mengintai, mengawasi Kenan dan kedua adiknya.


"Kenapa aku merasa sedang diawasi?"


Kenan mengedarkan pandangan ke segala arah. Tak ada apapun yang membuatnya curiga. Semuanya normal seperti taman hiburan biasa yang dipenuhi permainan dan juga pedagang-pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Tak tertinggal para pengunjung yang selalu membludak meskipun bukan akhir pekan.


"Apakah ini hanya perasaanku saja? Semoga tidak akan terjadi apa-apa terhadap kami," lirihnya penuh harap.


Ia kembali menjatuhkan pandangan pada dua orang di dalam sangkar burung tersebut yang melambaikan tangan padanya. Senyum keduanya membuat hati Kenan sedikit tenang, ia ikut tersenyum dan balas melambai.

__ADS_1


Getar ponsel di saku mengalihkan fokusnya. Ia mengambilnya dan melihat sebuah pesan yang dikirimkan Yuki padanya.


Aku sudah di taman hiburan, kau di mana?


Kenan tersenyum lekas membalas pesan tersebut dengan sumringah.


Di tempat bianglala. Kemarilah!


Ia menunggu tak sabar, terus menatap pada jalan searah di mana Yuki dan Regan akan muncul. Tiba-tiba ....


Suara jeritan berasal dari orang-orang yang duduk di dalam kurung besar itu. Sontak Kenan berbalik dan membelalakkan mata saat mendapati permainan raksasa itu mati tak bergerak.


"Jangan cemas! Ini hanya gangguan teknis. Sebentar lagi mesin akan hidup kembali. Kalian semua tenang! Duduk yang tenang, tetap duduk di tempat kalian!" seru seorang petugas jaga kepada para penumpang sangkar burung tersebut.


Kenan dan beberapa pengunjung berhambur mendekati sang petugas jaga. Bertanya tentang keadaan sanak saudara mereka. Raungan ketakutan terus menggema dari para pengunjung di dalam sangkar. Ada yang nekad merayap keluar, menapaki satu demi satu besi-besi yang menjadi penyangga sangkar burung raksasa tersebut.


Jerit ketakutan terus berdengung bagai suara nyamuk yang datang bergerombol. Kenan memberi isyarat kepada kedua adiknya yang berada di puncak untuk tetap tenang. Ia memperhatikan setiap inci mainan tersebut, setiap detail, tak satupun terlewatkan.


"Maaf, Pak. Apa besi penyangga yang di tengah itu memang sengaja dibuat seperti itu? Sepertinya itulah yang menyebabkan berhentinya permainan ini," tanya Kenan sembari menunjuk ke bagian tengah bianglala di mana sepotong besi melintang dan menjadi penghalang.


Petugas jaga itu ikut memperhatikan, sampai-sampai harus meletakkan tangannya di dahi agar dapat melihat dengan jelas karena sinar matahari menjadi penghalang.


"Oh, kurasa sejak dibukanya permainan ini besi itu tidak ada di sana, Nak. Kami sudah memeriksanya sebelum menaikkan pengunjung," jawab laki-laki dewasa yang menjaga permainan itu.


"Kami yakin, kami yakin sekali, Nak." Kerutan di dahinya meyakinkan bahwa apa yang diucapkannya adalah pasti.


Jika demikian ada yang sengaja meletakan besi itu di sana. Pertanyaannya, siapa dan apa motifnya melakukan itu?


Kenan bergumam sendiri.


"Kenan!" Yuki dan Regan datang dengan wajah cemas yang tak ditutupi.


"Ada masalah?" tanya Regan.


"Kenan, Kiran di sana!" Yuki menunjuk Kiran yang menangis dalam pelukan Shaka, "Kenan, bukankah dia-"


"Tak ada waktu, jika tidak segera menangani masalahnya permainan ini akan roboh!" ucap Kenan, "tetap di sini, aku akan segera kembali!" katanya, seraya melompati batas dan berlari ke arah permainan raksasa tersebut.


Jeritan kembali terdengar saat Kenan mulai menapak pada besi-besi permainan itu. Ia terus merayap, semua orang histeris dibuatnya. Yuki gemetar ketakutan, betapa tingginya benda bulat itu.


"Hei, Nak! Petugas sebentar lagi akan tiba, turunlah! Itu sangat berbahaya," seru petugas tadi sambil melambaikan tangan meminta Kenan turun.


Tak ada sahutan dari pemuda nekat itu. Ia terus merayap ke bagian atas penyangga dan mencari cara untuk dapat menarik besi itu.

__ADS_1


"Kakak! Aku takut!" Kiran menangis tersedu. Shaka hanya diam sambil memeluk tubuh gadis kecil itu.


"Tenang, sayang. Kakak tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada kalian," ucap Kenan sambil mendongak menatap Kiran dan tersenyum.


"Kakak!"


Kenan kembali menunduk, mencari posisi yang nyaman untuk duduk dan mulai mencari cara.


Ibu, bantu aku. Kedua anakmu sedang dalam bahaya, aku yakin kau ada di sini dan tak akan membiarkan kami kesulitan. Ibu ... kumohon, pinjamkan kekuatan padaku!


Kenan mulai menarik besi itu. Sekuat tenaga, ia mengerahkan seluruh kekuatan yang ada dalam dirinya.


"Arrgh!" Kenan menjerit, kemeja yang ia Kenan terkoyak. Otot-otot dalam tubuhnya menyembul memberi kekuatan.


"Sial! Ternyata pemuda itu memiliki kekuatan yang tak biasa. Kita harus menggunakan cara B, ini tak akan berhasil!" umpat si pelaku sambil terus memperhatikan Kenan yang sedang menarik besi tersebut.


"Kenan, lihat ke bawah!" Shaka berteriak saat melihat seseorang merayap naik dengan senjata tajam di tangan. Kenan melirik sebentar, lalu kembali menarik besi itu. Benar dugaannya, ini kejahatan yang disengaja.


"Tuan Muda!" Mikael berseru meski datang terlambat. Ia naik menyusul penjahat yang akan mencelakai Kenan.


"Sial! Siapa lagi itu?"


"Dia, bukankah itu pengawal Alex?"


"Ku benar. Berarti dia mengawasi kita."


Kepanikan melanda mereka yang sedang bersembunyi. Menyebut nama Alex maka bahaya besar mengintai. Mikael menarik kaki penjahat itu hingga ia turun dan bergelantungan di besi permainan tersebut.


"Mikael, bawa dia turun. Jangan membunuhnya, cepatlah! Besi ini akan segera tercabut, dan benda ini akan berputar kembali!" teriak Kenan sambil terus berusaha menarik besi tersebut.


"Baik, Tuan Muda!" Mikael memukul tangan yang berpegangan pada besi itu hingga terlepas dan jatuh melayang. Di bawah Regan dan Yuki bersiap menangkapnya dan tak akan membiarkan dia lari.


Begitu tubuh itu jatuh, Regan sigap menangkapnya. Melilitkan tangan penjahat itu ke belakang tubuhnya dan mengikatnya kuat-kuat. Tak peduli pada suara rintihan, erangan kesakitan, yang pasti dia tak boleh lari.


Kenan berdiri di antara dua tiang penyangga. Ia telah berhasil menarik besi itu, dan kini bianglala kembali berputar dengan normal. Kenan tersenyum saat Kiran dan Shaka melintasinya.


Kenan masih berdiri di sana, berpegangan pada tiang penyangga memperhatikan setiap pengunjung yang satu per satu diturunkan. Sorak-sorai pengunjung lain bertepuk tangan dengan haru. Tim penyelamat datang dan membantu semua pengunjung keluar dari sangkar burung itu.


"Ayo, Nak, turun! Semua orang sudah selamat!" teriak petugas jaga kepada Kenan.


"Kakak!" Suara Kiran terdengar melegakan.


Namun, apa yang terjadi? Pandangan Kenan memburam, dan terus menggelap. Pegangannya pada tiang penyangga terlepas, ia jatuh melayang.

__ADS_1


"KENAN!"


__ADS_2