Takdir Kenan

Takdir Kenan
Rencana


__ADS_3

"Tuan!"


"Bagaimana?"


"Anda benar, Tuan. Tuan Teddi diculik dan disekap di sebuah hutan yang tak diketahui keberadaannya."


"Bagaimana bisa?"


"Menurut mata-mata yang dikirim, dia melihat Tuan Alex keluar dari sebuah hutan. Dia mengira laki-laki tua itu telah mengunjungi tempat di mana tuan Teddi dan teman-temannya disekap."


"Apa dia tidak masuk untuk menyelidiki?"


"Tidak, Tuan! Banyak ranjau terpasang, bukan hanya di dalam tanah, tapi jebakan juga banyak terpasang di pepohonan yang tumbuh di hutan tersebut."


"Sial!"


"Bagaimanapun caranya, kalian serang tempat itu dan temukan Teddi!"


Laki-laki seusia Alex itu nampak frustasi mendengar laporan dari orang kepercayaannya. Wajahnya kusut, ia duduk tak tenang di kursi kebesaran miliknya. Berpikir keras solusi apa untuk dapat menyusup ke hutan tersebut.


"Saya dengar, tak ada siapapun yang bisa memasuki kawasan hutan tersebut dengan selamat selain tuan Alex sendiri, Tuan," lanjutnya memberi informasi yang semakin membuatnya frustasi.


"Bedebah! Kenapa si tua bangka Alex bisa memiliki tempat seperti itu? Temukan cara untuk dapat memasuki kawasan hutan tersebut. Bila perlu, korbankan banyak orang untuk dapat menerobos masuk ke dalamnya!" titahnya menggeram penuh emosi.


Tangan kanannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Urat-urat di lehernya menonjol, menandakan ia tangah dikuasai emosi yang meledak-ledak.


"Baik, Tuan!" Sigap orang kepercayaannya itu keluar dari ruangan, mengumpulkan semua orang yang bekerja untuknya. Menyusun rencana untuk dapat masuk ke kawasan hutan milik Alex yang dijaga ketat tak hanya oleh manusia, tapi juga jebakan-jebakan yang tak mudah dihindari. Belum lagi ranjau yang terpasang di dalam tanah, salah berpijak, sudah pasti hancur lebur menjadi abu.


"Sial! Aku tidak menyangka Alex bodoh itu bisa selangkah lebih maju dari pada aku. Aku harus bisa masuk ke kawasan hutan tersebut dan menyelamatkan anak pembawa masalah itu. Sial! Awas saja kau, Teddi! Dasar anak tak tahu diri!" Geram sendiri hingga Teddi yang menjadi sasaran.

__ADS_1


"Kenapa kau membuat masalah dengan anaknya si Alex? Jika sudah begini, rumit sekali urusannya." Ia memukulkan kepalan tangannya di atas meja.


"Tunggu saja pembalasanku, Alex!"


Beberapa hari terlewati, Kenan masih kembali ke restoran sebagai kepala pelayan. Yuki telah pulang ke rumah karena orangtuanya telah kembali dari perjalanan bisnis. Kenan sedang mengawasi restoran, tak sengaja matanya melihat satu sosok yang begitu akrab.


"Regan? Kau di sini? Kau tidak ke kampus?" tegur Kenan saat mendapati sahabatnya sedang duduk sendirian di bangku restoran. Ia duduk menemani pemuda yang nampak murung itu.


"Hei, Kawan! Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat murung seperti ini?" Kenan kembali bersuara disaat Regan sama sekali tak menyahut dan hanya memainkan pipet pada gelas jusnya.


Mendengar suara Kenan, Regan mengangkat wajahnya. Memandang sahabat yang sudah lama tak ia jumpa duduk bersama di dalam kelas.


"Kenan! Kembalilah sekolah, kumohon. Aku kesepian, kawan. Tak ada teman mengobrol yang asik seperti dirimu. Ayolah, Kenan! Bukankah Ayahmu telah kembali? Dia bisa menjaga Kiran, dan kau kembali belajar di kelas," gerutu Regan dengan wajah yang mengernyit sedih.


Kenan termangu, terbersit dalam hati keinginannya untuk kembali ke kelas. Duduk bersama Regan, belajar dengan baik. Hanya saja, Kenan sudah tak berniat kembali bersekolah. Dia ingin menjalankan bisnis restoran milik Ayahnya, mempelajari semua tentang bisnis tanpa harus belajar di kelas.


"Bisnis?" beo Kenan tidak mengerti.


"Apa kau tahu siapa Ayahmu? Namanya?" tanya Regan antusias. Kenan menggeleng, hal itu sukses membuat Regan menahan napas karena tak percaya.


"Nama Ayahmu? Apa kau mengetahuinya?"


Kenan mengernyit disaat Regan mencecarnya dengan pertanyaan.


"Aku ... lupa," cicit Kenan dengan rasa bersalah bersarang di hatinya. Ia benar-benar lupa siapa nama Ayahnya, ia juga lupa menayangkannya.


"Astaga!" Regan menepuk dahinya sendiri. Tak habis pikir ada anak yang tak mengenal Ayahnya. Padahal, Kenan pernah hidup bersamanya meskipun di saat kecil dulu.


"Kalau tidak salah, nama Ayahmu adalah Alexander Lois. Seorang pengusaha sukses yang mengepalai beberapa perusahaan kecil. Baik di dalam ataupun di Luar Negeri. Salah satunya adalah perusahaan milik keluargaku yang bernaung di bawah perusahaan Ayahmu. Kau tidak tahu?" Regan berjengit bingung. Benar-benar anak tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung. Begitu isi pemikiran Regan terhadap pemuda di hadapannya.

__ADS_1


Kenan menghendikan bahu tak tahu, ia terkejut mendengar keterangan dari Regan tentang fakta Ayahnya. Kenan menarik gelas jus milik Regan dan menyeruput jus di dalamnya hingga menyisakan setengah.


Ia harus mendinginkan hati dan pikirannya setelah memanas karena mendengar fakta tentang Ayahnya.


"Hei, hei, minumanku!" Regan mendelik, Kenan seolah-olah tak berdosa telah merebut minumannya. Pemuda itu melamun entah apa yang sedang dipikirkan?


"Kau yakin itu nama Ayahku? Jangan mengada-ada." Kenan mendengus setelah mencerna semuanya.


Regan berdecak, "Terserah jika kau tak percaya padaku, tapi ... Regan, bagaimana dengan kekuatan yang kau miliki? Kudengar kau menghanguskan kalung yang mereka pakai," cecar Regan penasaran karena ia sendiri tidak melihat secara langsung bagaimana Kenan mengalahkan suku yang dikenal dengan kekebalan tubuh mereka.


"Kau tahu, Regan? Dulu saat aku masih kecil, saat Ayah pergi tanpa sebab, Ibu selalu menghiburku. Dia mengatakan, jika aku dalam keadaan putus asa maka sebut saja namanya. Dia akan datang menjadi kekuatan. Dan malam itu ...." Kenan menjeda, mengingat kembali kejadian malam itu.


"Aku hampir meregang nyawa, tubuhku tak bertenaga hanya dengan satu kali serangan saja. Tulangku remuk dan seluruh sendi dalam tubuhku rasanya terlepas semua. Kuingat pesan Ibu, kusebut namanya. Tak lama, aku merasakan aliran tenaga yang tak biasa dalam tubuhku. Membantuku bangkit dan pada akhirnya ... begitulah," tutur Kenan.


Ia sendiri tidak mengerti, mengapa setiap kali disebut nama Ibunya, tenaga asing yang luar biasa ia rasakan mengalir dalam tubuhnya. Membentuk otot-otot baru dan lebih kuat dari yang dia miliki.


"Mungkin Ibumu berada di sisi Tuhan, dia tak ingin melihat anaknya menderita karena kekalahan. Lagipula, orang-orang di suku itu pantas mendapatkan hukuman. Mereka sudah membuat resah para penduduk, menculik anak-anak untuk dijadikan santapan mereka. Menculik para wanita hanya untuk dijadikan mesin pencetak anak. Setelah tak mampu melahirkan, mereka pula akan dijadikan makanan. Begitulah yang aku tahu," papar Regan panjang lebar.


"Pantas saja kemarin malam aku tak melihat satu pun wanita di antara mereka. Jika yang kau katakan itu benar, semoga tak ada lagi yang membuat masyarakat resah dan takut. Aku menyimpannya satu, entah kenapa aku seperti memiliki ikatan yang tak biasa dengan pemuda suku itu. Aku hanya ingin mencari tahunya," sahut Kenan.


Regan melongo tak percaya, menganggap Kenan sedang bercanda menyimpan salah seorang pemakan daging.


"Kau tahu, Regan? Teddi dalang dibalik semua itu. Mereka tertangkap sedang melakukan ritual di goa keramat milik suku kanibal. Beruntung ritual itu belum mencapai puncak, dan berhasil digagalkan oleh orang-orang Ayahku." Regan semakin tak bisa bernapas.


"Benarkah? Di mana mereka sekarang?" Regan bertanya setelah menormalkan rasa terkejutnya.


"Ada di ruang tahanan milik Ayahku yang aku sendiri tidak tahu di mana letaknya."


"Sial si Teddi!"

__ADS_1


__ADS_2