Takdir Kenan

Takdir Kenan
Kerasnya Hari Kiran


__ADS_3

Kenan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan, senyumnya terbit dan bergegas pergi.


"Kiran sudah selesai sekolah, aku akan menjemputnya dulu sebelum ke kampus," gumamnya sembari terus berjalan keluar menuju parkiran.


"Siang, Pak Kenan!" sapa penjaga parkir dengan ramah.


"Siang, Pak!" Kenan tersenyum ramah terus melanjutkan langkah menuju mobilnya sendiri.


"Orang baik dan jujur akan bernasib baik pula. Pak Kenan contohnya, ia memberikan kita pelajaran berharga bahwa jika bekerja harus dari hati dan jujur dijunjung tinggi." Seorang teman menepuk bahu penjaga parkir yang masih menatap kepergian Kenan.


"Kau benar, pak Kenan memang pemuda yang baik. Dia juga rajin dan tak pernah mengeluh," sahutnya sambil tersenyum saat mengingat masa-masa Kenan bekerja sebagai pramusaji meski hanya paruh waktu. Pemuda itu sering berbagi makanan dikala menerima uang gaji yang tak seberapa.


Uhuk-uhuk!


Kenan terbatuk secara tiba-tiba, tenggorokannya kering dan gatal. Ia mengambil air mineral dan meneguknya.


"Ekhem! Kenapa tiba-tiba aku terbatuk?" celetuknya sambil terus menginjak pedal gas menuju sekolah Kiran.


Tepat waktu, bel berbunyi dan anak-anak berhamburan keluar menemui orang tua mereka yang sudah menunggu. Kenan keluar dan menunggu di tempat biasa, ia melihat Kiran berjalan bersamaan dengan siswa yang lainnya.


Ada hal yang menarik perhatian Kenan, gadis kecilnya dikelilingi tiga orang teman yang terus berbicara. Kiran menundukkan kepala dalam-dalam, wajahnya terlihat lesu dan muram.


Kenan mengernyit, ada sesuatu yang selama ini disembunyikan gadis kecilnya. Ia coba mendekat ingin mendengar apa yang dikatakan ketiga gadis kecil lainnya.


"Kiran itu tidak memiliki orang tua, dia hanya tinggal bersama Kakaknya yang miskin itu. Makan saja susah bagaimana mau membayar biaya kelulusan yang sangat mahal itu? Kau akan tetap berada di sekolah ini, Kiran." Mereka kompak tertawa, menertawakan si gadis kecil yang terus menunduk sedih.


"Lalu, di hari kelulusan nanti Kiran tidak didampingi orang tua? Begitu?" seloroh yang lain semakin merobek perasaan Kiran yang rapuh. Ia baru saja bangkit dari keterpurukan, sekarang sudah mendapatkan hal yang tidak menyenangkan.


Kenan geram, rahangnya mengetat menimbulkan bunyi gemelutuk yang nyata.


"Kau tenang saja, Kiran. Setelah lulus kami akan sering-sering mengunjungimu di sekolah ini." Gelak tawa kembali terdengar. Kenan mengepalkan erat tangannya, ia masih berdiri di sana meskipun ketiga anak itu telah pergi.

__ADS_1


Melihat sedih pada sosok sang adik yang begitu tegar menghadapi hinaan. Langkah yang hendak diambilnya urung ia lakukan disaat Kiran mengangkat wajah dan membuang napas kasar.


"Tidak apa-apa, Kakak sudah lebih dari cukup untukku. Jika tidak ada orang tua, aku masih memiliki Kakak yang hebat!" katanya, bibir yang sejak tadi turun itu diangkatnya tinggi-tinggi. Membentuk senyum manis, senyum ketegaran.


Kenan terenyuh, ia berbalik dan menempelkan punggung di dinding. Menengadah sedih, tak pernah tahu hari-hari yang dilalui sang adik sepahit itu dan dia masih memuji dirinya hebat.


"Terima kasih, sayang. Kakak berjanji akan melakukan apa saja untuk membuatmu selalu tersenyum." Ia menurunkan pandangan, menatap sendu pada punggung kecil yang berjalan ceria.


Kenan bergegas pergi meninggalkan tempatnya menguping. Ia tak ingin Kiran dihina lagi, setelah berencana, ia menaiki mobilnya. Mumpung ketiga siswa itu masih ada di sana, dan Kiran tertinggal di belakang. Kenan sengaja menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah.


Membuat langkah para siswa dan orang tua mereka terhenti, menatap penasaran siapa pemilik mobil itu. Kenan membuka kaca mobil, ia tampak gagah dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang bangir.


Bibirnya tersenyum saat melihat Kiran yang berjalan pelan. Kenan keluar dan menunggu sang adik di dekat mobil. Tangannya terlipat di dada dengan punggung yang bersandar pada badan mobil.


Ketiga siswa yang menghina Kiran termangu di tempat mereka, bersama para orang tua. Kenan melambai saat kaki kecil Kiran berlari ke arahnya.


"Kakak!" serunya dengan ceria. Kenan beranjak, meraih tubuh kecil Kiran dalam gendongan dan mencium pipinya.


Ia tersenyum mengejek ketiga teman yang menghinanya. Mereka benar-benar tak percaya jika itu adalah Kakak Kiran yang miskin.


"Ingin saja." Kenan membukakan pintu untuknya. Membiarkan jendela mobil terbuka agar Kiran dapat melihat semua temannya.


Gadis kecil itu melambaikan tangan pada mereka yang masih termangu tak percaya. Kenan tersenyum puas dari balik kacamata hitamnya.


Jangan pernah menghina gadis kecilku!


"Kakak sudah bawakan makanan, setelah sampai di rumah segera makan dan istirahat. Ingat, untuk jangan keluar rumah. Di luar sangat berbahaya untukmu disaat kau sendirian," ucap Kenan seperti biasa mengingatkan.


"Baik, Kak."


Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang. Beruntung, jalanan tidak terlalu macet. Ia bisa dengan cepat mengantar Kiran dan ke kampus setelahnya.

__ADS_1


"Pastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat!" Kiran mengangguk seraya masuk ke dalam gerbang rumah, menguncinya sebelum meniti langkah menaiki undakan teras.


Kenan menjalankan mobilnya setelah memastikan Kiran berada di dalam rumah. Bayangan wajah Regan sudah hadir dalam pelupuk, tak sabar ingin segera bertegur sapa dengan sahabat lamanya itu.


Mobil Kenan memasuki area kampus, secara kebetulan jam istirahat berbunyi. Para siswa berhamburan keluar, Regan bersiap-siap untuk pertandingan. Dadanya berdebar menunggu kedatangan Kenan.


Pemuda itu keluar dari mobil, mengenakan seragam resmi juga kacamata hitam yang sengaja ia pasang. Mulai berjalan memasuki area kampus yang sudah ia hafal betul.


"Kenan!" Yuki berteriak nyaring. Gadis itu cepat berlari dari lantai dua kampus menuju tempat Kenan berada.


"Kenan?" Gumaman para siswa yang lain terdengar. Mereka yang penasaran karena kabar Kenan yang berubah pun gegas mendekati pembatas.


Semua siswa terperangah melihat seorang pemuda berpenampilan gagah berdiri dengan senyum berseri. Kenan membuka kacamata dikala Yuki hampir mendekati. Tak segan, gadis itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan Kenan. Bersorak seluruh siswa, antara percaya dan tidak dengan apa yang dilihat mata mereka.


"Kau bersemangat sekali?" bisik Kenan di telinga Yuki. Gadis itu meremang, mengeratkan pelukan menyembunyikan telinganya yang memerah.


Ia ingin menunjukkan pada semua orang yang sudah menghina Kenan di kampus itu bahwa pemuda yang mereka hina itu kini sudah berubah. Ia melepas pelukan, dan menggandeng tangan Kenan memasuki lorong kampus.


Gedung olahraga tujuan mereka, setelah jam istirahat pertandingan akan dimulai.


"Teddi, Kenan ada di sini!" lapor salah satu teman Teddi dengan napas tersengal-sengal akibat berlari ke gedung tersebut.


Teddi yang sedang mengganti pakaian, terjeda mendengar kabar tersebut. Ia masih tidak terima kekalahannya pagi itu, dan menganggap Kenan hanya sedang beruntung saat itu.


"Kau tahu, Yuki memeluknya. Aku melihatnya sendiri," lanjutnya memberitahu. Teddi menggeram, gadis itu benar-benar mengabaikannya dan memilih Kenan.


Regan yang mendengar, buru-buru mengenakan seragamnya dan keluar dari ruang tersebut, tapi seseorang menjegal langkahnya.


*****


Hallo, terima kasih selalu setia mengikuti kisah Kenan. Author mengadakan giveaway, bagi yang ingin berpartisipasi silahkan masuk grup. Pengumuman GA ada di grup. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2