Takdir Kenan

Takdir Kenan
Ibu?


__ADS_3

"Shaka, bisa kau ceritakan bagaimana kau bisa berada di suku tersebut?" tanya Kenan yang menemani malam Shaka di rumah sakit.


Pemuda berkulit hitam itu tercenung, mengingat kembali apa yang sudah ia lewati selama dua puluh tahun lebih bersama suku kanibal di hutan terlarang.


"Aku tidak terlalu mengingatnya, Baba hanya mengatakan jika ia menemukanku di pinggiran hutan terlarang. Menangis sendirian tanpa sehelai benangpun. Malam itu hujan turun, aku sekarat. Baba membawaku ke sukunya, dan merawatku hingga terlepas dari maut. Akan tetapi, Baba dan yang lainnya tak pernah mengizinkan aku menyentuh makanan mereka." Shaka mengawang menatap langit-langit kamar, terkenang dengan kebaikan dari laki-laki tua yang menjadi pemimpin suku tersebut.


"Beliau tidaklah jahat, mereka juga tidak selalu memakan daging manusia. Lebih seringnya adalah memakan daging hewan yang kami buru di hutan. Suku kami akan memakan daging manusia saat ada manusia yang merusak hutan. Itulah faktanya, tapi berita yang tersiar bahwa kami selalu menculik anak-anak untuk dijadikan santapan. Aku tidak pernah melihat itu," ucap Shaka lagi sambil menggelengkan kepala menyangkal berita yang beredar di masyarakat.


Shaka terdiam, menatap manik coklat Kenan dengan dalam. Ia tak menyangka jika masih memiliki keluarga selain mereka yang berada di suku. Kenan pun terdiam mendengarkan, ia terhenyak saat mendengar fakta baru tentang suku pemakan daging tersebut.


"Benarkah seperti itu?" Shaka menganggukkan kepala memastikan apa yang diucapkannya adalah benar.


"Saat ritual di bulan purnama kami menggunakan darah manusia yang dimantrai Baba untuk memperkuat tubuh. Seperti yang kulakukan pada malam itu, kau sendiri melihatnya, bukan? Itu memang darah manusia." Shaka berucap jujur karena tak satupun dari suku tersebut yang tersisa. Semuanya sudah musnah bersamaan dengan kematian sang pemimpin.


"Tapi kenapa dia menganggapmu sebagai anaknya? Lalu, untuk apa pernikahan itu dilakukan?" Kenan teringat Yuki malam itu yang akan dinikahkan dengan Shaka.


Pemuda itu mendesah panjang, ia kembali menatap langit-langit ruangan membayangkan kejadian malam itu.


"Sebagai calon pemimpin suku, aku haruslah menikah. Baba mengatakan, jika hidupnya sudah tak akan lama lagi. Maka dari itu, aku yang terkuat di antara yang lain harus naik tahta menggantikannya. Itu semua atas kesepakatan seluruh penduduk suku, juga keputusan Baba yang mutlak. Pernikahan itu akan semakin memperkuat posisiku sebagai pemimpin," jelas Shaka.


Riak di wajahnya berubah sendu, mungkin dia menginginkan posisi itu, tapi karena kejadian penculikan Yuki semuanya hancur berantakan.


"Kenapa harus Yuki?" tekan Kenan tanpa sadar.

__ADS_1


"Bukan karena calon istrinya gadis itu, Kenan, tapi karena gadis yang diserahkan anak muda itu masihlah suci maka kami tak perlu keluar hutan untuk mencari lagi. Aku tidak tahu jika gadis itu sangat berharga untukmu, dan aku juga tidak tahu jika kau adalah saudaraku. Maafkan aku," ungkap Shaka dengan setulusnya.


Jauh di lubuk hatinya, ia sudah tak ingin kembali ke suku tersebut. Tinggal di hutan dengan segala ketertinggalan, ia ingin hidup normal seperti yang dikatakan wanita yang pernah mengasuhnya. Di kota, berkeluarga.


"Sudahlah, tak perlu dibahas lagi. Selanjutnya, apa kau ingin kembali ke hutan itu dan membangun lagi sukumu?" tanya Kenan penasaran dengan tujuan selanjutnya dari Shaka.


Pemuda itu menggelengkan kepala, matanya sayu dan penuh tekad.


"Aku ingin hidup normal, Kenan. Aku tidak ingin kembali ke hutan itu lagi sekalipun Baba sangat berjasa dalam hidupku, tapi aku ingin menjalani hidupku sendiri. Bekerja dan memiliki keluarga yang bahagia. Itulah yang dikatakan wanita yang pernah mengasuhku," jawab Shaka.


Senyum Kenan terbit sempurna, itulah yang dia inginkan. Berkumpul bersama keluarga dan membentuk keluarga masing-masing.


"Kau tahu, itulah yang ingin aku dengar. Jika kau sudah pulih nanti, aku akan membawamu pulang. Akan kukenalkan kau pada Ayah dan Kiran," ucap Kenan antusias.


"Ibu?" tanya Shaka penuh pengharapan. Hanya Ibu yang dia tahu, untuk Ayah ia tak tahu apa itu. Juga Kiran, entah siapa dan bagaimana?


"Ibu ... beliau sudah meninggal saat Kiran dilahirkan, tapi kau akan mengenal Ibu dengan hanya melihat Adik kita itu. Dia sama persis seperti Ibu, wajahnya, sikap dan tingkahnya, tak lupa dia selalu ceria. Tersenyum setiap saat, kau akan menyukainya," jawab Kenan berusaha menyembunyikan kesedihannya saat Shaka bertanya soal Ibu.


"Jadi, Ibu sudah dikuburkan sama seperti Ibu-ibuku yang lainnya? Aku tetap tidak memiliki Ibu?" Shaka bergetar, ia menatap sendu Kenan. Tak terima dengan kisah yang digariskan untuknya.


Shaka ingin memiliki Ibu, perlakuan dan setiap untaian kata yang dilontarkan lisannya, selalu menancap di hati. Dia ingin bertemu dengan Ibu, memeluk dan menumpahkan segala resah dan gelisah tanpa dicela dan dimaki. Ibu, dia hanya ingin Ibu.


"Tidak apa, kita akan mengunjungi makam Ibu bersama-sama. Di rumah ada Ayah, Ayah sama seperti Ibu. Kasih sayangnya, sama besar seperti yang Ibu berikan. Kau jangan bersedih." Kenan menepuk bahunya, mengusapnya dengan pelan.

__ADS_1


Shaka menghela napas panjang, ia mengangguk setuju. Kenan membantunya berbaring karena malam telah sampai pada puncaknya. Ia sendiri berbaring di sofa, menunggu Shaka.


****


Keesokan harinya, tidur Kenan terganggu dengan sesuatu yang menggelitik telinganya. Beralih ke lubang hidung, lanjut ke telinga lagi. Kenan menepis tangan jahil itu, tapi tetap saja benda yang menggelitik tidurnya terus terasa.


Suara tawa cekikikan membuat Kenan ingin membuka mata dengan segera, tapi benar-benar terasa berat.


"Shaka?" Ia bergumam parau saat membuka mata dan mendapati Shaka yang sedang berjongkok di samping sofa tempat tidurnya.


"Kau nyenyak sekali. Kapan kita akan pulang? Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Ayah dan Adik," ucap Shaka dengan wajah berbinar penuh semangat.


Kenan beranjak duduk, ia menguap lebar dan merentangkan tangan mengendurkan otot-otot yang terasa kaku dan nyeri. Menatap malas pada Shaka yang masih menunggunya dengan senyum di wajah.


"Ini masih terlalu pagi, bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik? Jika kau masih merasa tidak nyaman, kau belum bisa pulang," ucap Kenan yang kembali menguap karena kantuk masih melanda.


Shaka menelisik tubuhnya sendiri, bingung keadaan seperti apa yang ditanyakan Kenan.


"Aku baik-baik saja. Kau lihat, aku sudah tidak merasa sakit lagi. Kita bisa pulang sekarang?" Lagi-lagi senyum polos itu terukir di bibirnya. Kenan tak dapat menolak, ia pun tak sabar ingin memperkenalkan Shaka pada mereka berdua.


"Baiklah, tapi biarkan dokter memeriksamu dulu. Setelah dokter mengizinkan, kita akan pulang," ucapnya sambil tersenyum.


Shaka berjingkrak, lantas duduk di sofa samping Kenan.

__ADS_1


"Aku cuci muka dulu, sebentar lagi dokter akan datang dan jangan nakal," ingatnya. Shaka mengangguk patuh. Jadilah hari itu Shaka keluar rumah sakit, tapi langkah mereka terhenti di selasar saat seseorang menghentikan keduanya.


__ADS_2