Takdir Kenan

Takdir Kenan
Tantangan


__ADS_3

Mobil Kenan tiba di pinggir hutan terlarang, ia memarkirnya sedikit jauh dari mobil Regan. Duduk menunggu karena tak mungkin rasanya Kenan meninggalkan Kiran sendiri di dalam mobil.


Ia tersentak disaat seseorang mengetuk jendela mobil. Kenan berjengit sambil memegangi dadanya yang berdegup. Menoleh dengan mata melotot hampir keluar saat melihat Leo di luar jendela mobilnya.


Kenan menurunkan kaca mobil saat mengenali sosok itu.


"Tuan Muda!" tegur Leo sopan.


"Leo? Sedang apa kau di sini? Apa kau sengaja menungguku?" tanya Kenan sambil mengernyitkan dahi heran.


Laki-laki itu mengangguk pasti sebelum menyahut, "Benar, Tuan Muda. Saya sengaja menunggu Anda di sini, mereka berdua sudah masuk ke dalam hutan dan menunggu Anda di sana."


Kenan menganggukkan kepalanya, ia melirik Kiran cukup lama. Bimbang dengan keputusannya untuk pergi.


"Leo, bisa kau panggil Regan ke sini? Aku ingin memintanya untuk menjaga adikku," pinta Kenan sambil memandang pengawal sang Ayah yang sigap berdiri.


"Tunggu sebentar, Tuan. Saya akan panggilkan," katanya, seraya berbalik dan masuk ke dalam hutan. Cukup lama Kenan menunggu, berkali-kali ia menengok hutan berharap Leo akan segera tiba.


Sesuatu bergerak di dalam gelap, dua pasang mata menyala meski samar, derap langkah pun terdengar gemerasak karena menginjak dedaunan kering juga ranting. Regan disusul Leo muncul dari gelap dengan tergesa. Teman Kenan itu gegas masuk ke dalam mobil dengan wajah berkeringat panik.


"Ada apa Regan?" Kenan menoleh dari tempatnya duduk.


"Yuki ... mereka akan menjadikannya persembahan dan ketua suku akan menikahkan dia dengan anaknya. Kau harus cepat Kenan sebelum semuanya terlambat," ucap Regan dengan napas tersengal dan putus-putus.


Panik. Kenan menjadi panik disaat mendengar kabar dari Regan. Ia melepaskan sabuk pengaman dengan cepat.


"Tolong jaga Kiran, aku mengandalkanmu untuk menjaganya." Regan mengangguk.


Sebenarnya ia takut, khawatir akan ada yang menemukan mereka di sana dan mengganggu. Ia memandang punggung Kenan yang berlari masuk ke dalam hutan bersama Leo. Buru-buru Regan berpindah tempat duduk ke samping Kiran. Mengunci semua pintu mobil dan memastikan jendela tertutup rapat.

__ADS_1


Beruntung, kaca mobil milik Ayah Kenan berwarna gelap sehingga tak terlihat dari luar. Lagipula mobil itu terpakir di sekitar tempat yang gelap. Tersembunyi dari dunia luar.


Kenan memelankan laju kakinya saat ia mendengar suara-suara dari tengah hutan. Ada api yang menyala-nyala di dalam sana dan terlihat benderang.


Suara nyanyian khas suku mereka membuat tubuh Kenan meremang. Entah apa yang mereka nyanyikan, tapi itu terdengar seperti nyanyian memanggil arwah.


"Hati-hati, Tuan Muda!" ingat Leo sambil memegangi tangan Kenan yang hampir jatuh tersungkur karena tersandung sebuah akar yang mencuat.


"Terima kasih, Leo." Kenan kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya. Di sana, Mikael telah menunggu sambil mengawasi jalannya ritual.


"Tuan Muda!" bisik Mikael disaat Kenan telah berdampingan dengannya.


Kenan membeliak saat melihat Yuki yang hanya dibalut pakaian seperti mereka. Ia diikat pada sebuah kayu, berhadapan dengan api unggun besar yang menyala-nyala. Sekelompok orang berpakaian sama sepertinya, berdiri mengelilingi sambil menggumamkan sebuah lagu yang tak dapat dimengerti.


Gadis itu, menangis bercucuran air mata. Tubuhnya berguncang, menggeliat meminta kebebasan. Mulutnya disumpal kain yang melilit hingga ke belakang tubuh.


Di belakang Yuni, seseorang memakai hias kepala yang berbeda duduk di atas sebuah menara yang terbuat dari bambu. Ia memegang tongkat berkepala tengkorak, dan kalung yang terbuat dari tulang juga taring hewan. Sekali lihat saja, Kenan sudah tahu dialah pemimpin kelompok itu.


"Apa yang akan mereka lakukan pada Yuki?" geram Kenan dengan rahang yang mengetat ketika melihat para perempuan suku itu menggerayangi tubuh Yuki.


"Sialan!"


"Tuan Muda!" sergah Leo mencekal tangan Kenan yang hendak menerobos masuk ke dalam perkumpulan itu.


"Lepas, Leo!" Kenan menggeram marah. Matanya berubah merah dengan lingkaran keemasan di maniknya yang menyala.


Leo menatap dengan gugup sambil meneguk saliva melihat Kenan yang berubah seketika.


"Kita harus berhati-hati, Tuan Muda. Tidak bisa sembarangan masuk," ucap Mikael semakin menyulut emosi dalam diri Kenan.

__ADS_1


Pandangan Kenan beralih pada Mikael, menghujam manik biru laki-laki bertubuh kekar tersebut.


"Jika kalian takut, sembunyi saja di sini. Aku akan menyelamatkan Yuki dengan atau tanpa bantuan kalian!" sahut Kenan dengan tegas dan tak ingin dibantah.


Ia menghempaskan tangan Leo hingga terlepas cukup keras. Berjalan tergesa seorang diri memasuki area terlarang dari perkumpulan para pemakan sesama jenis itu.


Kenan meradang disaat pemuda yang duduk bersama pemimpin kelompok tersebut turun dan menyentuh sesuka hati tubuh Yuki.


"Brengsek! Makhluk terkutuk! Lepaskan dia!" teriak Kenan dengan napas memburu dan nafsu membunuh yang kuat.


Pemuda suku yang tengah mengendus aroma tubuh Yuki itu segera berhenti, ia mengerang marah menatap Yuki dengan kedua bola mata hampir melompat keluar.


Yuki yang menutup mata lekas membukanya saat suara Kenan mengusik telinga. Air matanya tak henti mengalir, bibirnya gemetar hebat tampak pucat seperti tak ada darah yang mengalirinya.


Desas-desus yang tak dimengerti Kenan menggaung bagai suara lebah yang terusik ketenangannya. Satu yang dapat Kenan tangkap, pemuda itu marah juga dengan para pengikutnya.


"Lepaskan dia, keparat!" teriak Kenan lagi sambil mengambil langkah mendekati kumpulan itu.


"Kenan?" Yuki bergumam, seolah-olah melihat harapan untuknya terbebas dari penjara suku itu.


Pemuda itu melirik Yuki tajam, lalu beralih pada Kenan yang terus melangkah semakin dekat. Tak ada raut takut di wajahnya, hanya tekad untuk membebaskan gadis yang ia cintai.


Suara teriakan dari atas menara bambu menyita perhatian Kenan. Ia melirik ke atas dan mendapati sang pemimpin mengangkat tongkat ke atas sambil berseru dengan bahasa yang tak dimengerti Kenan. Kemudian suara sambutan dari kelompoknya membuat tubuh meremang.


Mereka sama-sama berbalik menghadap Kenan yang tak surut dalam melangkah. Kedua kakinya terus maju dengan pasti, tak akan dia mundur lagi sekalipun musuh bersenjata lengkap di hadapannya. Kenan tetap melangkah maju.


"Mau apa kau, anak muda? Kau mengganggu acara pernikahanku malam ini. Benar-benar cari mati!"


Sungguh tak dinyana, pemuda itu dapat mengerti bahkan mampu mengucapkannya dengan fasih.

__ADS_1


"Pernikahan? Tak ada pernikahan untukmu malam ini. Jika kau merasa lebih pantas bersanding dengannya, maka lawanlah aku! Kita duel satu lawan satu. Siapa yang menang dialah yang pantas bersanding dengan gadis itu!" tantang Kenan dengan kedua tangan mengepal erat di kedua sisi tubuhnya.


Tawa pemuda itu pecah menggelegar, menggema di dalam hutan yang sunyi senyap.


__ADS_2