Takdir Kenan

Takdir Kenan
Kenan


__ADS_3

Brak!


"Argh!"


Mikael melayang dan menabrak tumpukan kayu tak jauh dari tempat Kenan terbaring. Tubuh kekar itu penuh luka bahkan wajahnya sudah tak berupa. Miris dan menyedihkan. Mikael sudah tak berdaya, untuk membuka kelopak matanya saja ia sudah tak sanggup.


"Mikael!" seru Leo panik, ia meninggalkan Kenan berlari mendekati rekannya. Memeriksa dengan cepat, memastikan laki-laki itu masih bernapas.


"Mikael!" Kenan bergumam seraya mencoba untuk bangkit meski seluruh tubuh terasa nyeri dan ngilu.


Tawa Shaka kembali membahana, diikuti sorakan kemenangan dari seluruh anggota suku tersebut.


"Bangun, sayang! Kau pasti bisa mengalahkannya."


Sebuah bisikan mengiang di telinga, suara lembut sang Ibu menyengat seluruh sendi dalam tubuhnya. Kenan memejamkan mata, mengumpulkan tenaga untuk dapat bangkit kembali.


Jeritan Yuki menggugah hatinya, Kenan membeliak saat melihat Shaka berhadapan dengan gadisnya. Tangan monster itu bahkan sudah lancang menyentuh kulit Yuki, menyulut emosi dalam diri Kenan.


Ibu ... aku percaya bahwa kau ada di sini dan memberiku kekuatan. Ibu ... bantulah putramu ini.


Kenan berdiri meski tertatih, susah payah membuat kakinya yang bergetar menjadi tegak. Iris mata Kenan memancar penuh amarah, lingkaran keemasan yang mengelilingi biji maniknya yang cokelat memancarkan kekuatan yang tak biasa.


"Tu-tuan Muda!" Leo melebarkan mata tak percaya pada apa yang dilihatnya.


Di sana, Kenan sedang berjalan mendekati kelompok tersebut dengan membawa aura pembunuh yang menggetarkan tubuh semua orang. Kedua tangan yang terkepal, menonjolkan urat-urat berwarna hijau kebiruan.


Tubuhnya membesar seiring langkah yang terus berayun. Merasakan tekanan yang berbeda, kelompok tersebut gegas berbalik ke belakang tubuh mereka. Sosok Kenan bagai peri yang bercahaya di kegelapan malam.


Langkahnya tak surut, tombak-tombak di tangan mereka mengacung bersiap mengoyak daging tubuh Kenan. Mereka serentak menyerang sambil berteriak lantang.

__ADS_1


"Tuan Muda!" Leo bediri dengan gurat cemas yang kian kentara. Tubuh Kenan di kelilingi tombak-tombak runcing nan tajam. Sedikit saja bergerak sudah pasti dapat menggores kulitnya.


Kenan mengibaskan tangannya, menepis beberapa tombak yang mengarah tepat ke perut. Gerakan tangan itu nampak biasa saja, tapi memberikan dampak luar biasa. Tombak itu terpental berikut dengan para pemegangnya. Melayang hingga jatuh ke tepi hutan.


Shaka menoleh saat mendengar jeritan dari anggotanya. Ia menggeram, lantas beranjak tegak berbalik menantang Kenan. Meski tangan sibuk menangkis setiap serangan, tapi pandangan Kenan tak teralihkan dari sosok Shaka yang berdiri jumawa di depan api yang membara.


Sang pemimpin suku ikut melebarkan bola mata, menatap tak percaya pada sosok Kenan di bawah sana. Ia berteriak panik memanggil-manggil nama Shaka, menyuruhnya untuk mundur dengan cepat.


"Aku tidak peduli, mau kau itu utusan Tuhan atau apapun, aku tak akan gentar berdiri tegak untuk melawanmu," ucap Shaka dengan lantang menyahuti teriakan sang Ayah yang menyuruhnya untuk berhenti.


"Diamlah, Pak Tua! Aku yakin dengan kemampuanku sendiri, aku pasti dapat mengalahkannya." Angkuh. Sikapnya memang sangat angkuh hingga ia tak peduli teriakan sang Ayah yang mencemaskannya.


"Kemarilah!" teriaknya menyambut Kenan yang beberapa jengkal lagi sampai di tempatnya. Seluruh anggota suku yang menghadang, terkapar di tanah tepi hutan. Kenan berlari membawa kedua tangan yang terkepal, berteriak membangkitkan semangat dalam jiwa agar tak habis.


Shaka tersenyum miring, ia percaya dan yakin pada kekuatannya yang tak pernah terkalahkan. Tetap berdiri tegak di sana menyambut dengan tubuhnya kedatangan serangan Kenan.


Brugh!


Kenan menghujam kedua pundak Shaka dengan kuat, membuat laki-laki pongah itu terduduk dengan lutut membentur tanah. Menancap memberikan rasa ngilu yang membuatnya meringis menahan nangis.


Namun, ia tak ingin mengalah. Kedua tangannya yang berotot mencekal tangan Kenan, meremasnya dengan kuat, seraya mengangkat tangan itu menjauhi pundaknya.


Shaka melayangkan sundulan pada bagian perut Kenan. Entah terbuat dari apa batok kepala laki-laki tersebut, tapi sangat keras saat menghujam bagian perut Kenan sehingga ia menjauh dan termundur beberapa langkah.


Namun, kondisi tubuhnya yang saat ini tak lagi sama, ia tetap berdiri di sana dengan tegak tanpa terlihat kesakitan sama sekali. Kenan kembali maju, berlari membawa kepalan tangannya. Shaka yang telah berdiri kembali lebih waspada setelah melihat kekuatan Kenan meningkat.


Dia semakin kuat, aku harus waspada. Pundakku rasanya mau patah, ngilu dan sakit.


Shaka bergumam dalam hati, kedua pundaknya masihlah teras ngilu. Akan tetapi, terlalu memalukan untuknya jika ia menyerah hanya dengan satu kali serangan saja.

__ADS_1


Shaka mengepalkan tangan, rasa sakit yang diberikan Kenan membuat dadanya terasa sesak. Ia bernapas pendek-pendek, memburu udara untuk mengisi paru-parunya yang tiba-tiba kosong.


Ia mulai berlari melakukan pertemuan dengan Kenan. Dua tangan bertemu, membuat debu-debu membumbung ke udara dan api memercik ke sekitar membakar dedaunan kering yang menumpuk di sekitar hutan.


Kenan menahan serangan Shaka sekuat tenaga yang ia miliki, begitu pula dengan laki-laki suku itu. Ia mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk dapat menumbangkan Kenan dan memiliki Yuki sebagai istrinya.


Kenan menekan tangan Shaka, mengantarkan rasa sakit yang teramat terutama pada pundaknya. Tak lama Shaka menjerit, ia melayangkan pukulan dengan tangan yang satunya.


Genggaman tangan Kenan terlepas, Shaka buru-buru mundur menjaga jarak antara dirinya dan Kenan. Ia memegangi tangannya yang terus berdenyut, menjerit kesakitan mengerang dengan sangat kuat. Suaranya bahkan mampu menerbangkan burung-burung dari sangkarnya.


Kali ini Kenan tak ingin mengalah, ia mengumpulkan tenaga dan membentuknya pada satu itik. Tentu saja Kenan tak ingin mengalah, ia menangkis tepat waktu disaat pukulan Shaka hampir mengenai wajahnya.


Mereka bergulat, layaknya dua orang bertubuh besar dan saling menjatuhkan satu sama lain. Kenan meninju perut Shaka dengan kuat. Laki-laki pulau itu meringis sambil memeluk perutnya.


"Kali ini aku tak akan membiarkanmu menyentuh kulitku bahkan segores saja!" geram Kenan sambil menendang cukup kuat perut Shaka hingga terpelanting sambil memuntahkan cairan merah kental.


Kenan membawa kakinya melangkah mendekati sosok Shaka yang tak berdaya dengan mulut dipenuhi cairan merah.


"A-ampun! To-tolong, ja-jangan! A-aku menyerah!" mohon Shaka sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.


Kenan tetap melangkah mendekatinya, meskipun ia terus menerus mengatakan penyesalannya terhadap semua takdir yang sudah terjadi.


"To-tolong, ampuni kami ... kami hanya menjalankan perintah dari mereka. Tidak lebih," ucap Shaka cukup membuat Kenan mengernyit bingung.


Kenan melirik, seraya berjongkok di hadapan laki-laki tak berdaya itu dan menatapnya dengan lekat.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu? Jika kau mengatakannya maka aku akan membebaskanmu juga semua anggota sukumu. Katakan, siapa yang sudah menyuruhmu melakukan ini semua?" tuntut Kenan.


"Me-mereka adalah ...."

__ADS_1


__ADS_2