
"Kau pulanglah, Yuki. Kenan, aku yang akan menunggunya," ucap Regan pada gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Yuki mengangkat wajah bingung, menatap dua sahabat itu secara bergantian.
"Regan benar, pulanglah. Mikael yang akan mengantarmu pulang. Dia menunggu di luar," timpal Kenan sambil tersenyum.
Yuki mendekat dengan perasaan bingung, dua orang itu seperti sedang merencanakan sesuatu. Apa?
"Tapi aku masih mau di sini," katanya menolak.
Kenan mematri pandangan, tersenyum meminta pengertian. Ia melambaikan tangan meminta Yuki mendekat. Lirikan mata Yuki memicing curiga pada sosok Regan yang duduk santai di sofa. Ia mendekat dan berdiri di dekat ranjang kekasihnya.
Kenan menarik tangan gadis itu dan menggenggamnya. Mereka bertatapan untuk waktu yang lama, gelenyar rasa hangat menjalar meninggalkan getar cinta di hati keduanya.
"Kau sudah berjanji akan mendengarkan. Aku tidak ingin kau terlalu lelah karena menjagaku. Malamku tak akan tenang saat kau harus tertidur di sofa. Pulang dan beristirahatlah dengan baik, agar esok aku bisa melihatmu secerah sang mentari pagi," rayu Kenan dengan senyum mematikan yang melumpuhkan tubuh Yuki.
Beberapa saat gadis itu tertegun, menatap manik kecoklatan milik Kenan yang selalu memancarkan cinta untuknya. Ia tersenyum, laki-laki itu selalu berhasil meluluhkan hatinya.
"Baiklah. Aku akan pulang, jangan tidur terlalu larut. Jangan biarkan dia yang di sana mengajakmu bergadang. Aku akan marah," katanya menunjuk Regan dengan ekor matanya.
Kenan terkekeh, ia mengangguk sebelum menarik tubuh Yuki ke dalam pelukan. Malam itu, Yuki kembali ke rumah diantar Mikael. Bersamaan dengan kepulangan orangtuanya dari perjalanan bisnis. Serangan balik dilancarkan Yuki.
Gadis itu tak acuh saat melewati kedua orang tua di ruang tengah rumah. Terus berlanjut menuju kamar seolah-olah tak melihat mereka di sana.
"Yuki, kau sudah pulang?" tegur sang Ibu melirik Yuki dari tempat duduknya.
Di hadapan keduanya dua cangkir minuman masih mengepulkan asap. Juga ada kudapan di atas piring menunggu disantap. Biasanya, Yuki akan duduk bergabung. Bercerita tentang harinya, tentang sekolah, dan tentang laki-laki yang mungkin sudah dilupakan mereka. Lalu, saat sedang antusias mereka akan meninggalkannya dengan alasan lelah dan mengantuk.
Gadis itu berhenti seraya berbalik menatap keduanya.
"Kalian pulang? Aku kira kalian akan menetap di sana," sarkas Yuki sambil tersenyum miring.
Mata kedua orang tua itu melebar sempurna, terkejut dengan sikap anaknya yang tak biasa.
__ADS_1
"Yuki? Ada apa denganmu?" tanya sang Ayah sedikit tak senang.
Mata kecil itu melirik tajam pada laki-laki paruh baya yang melotot ke arahnya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya lelah dan ingin beristirahat. Terlalu banyak kejadian yang membuatku hampir mati akhir-akhir ini dan aku yakin kalian tidak tahu soal itu. Atau bahkan tak pernah ingin tahu." Yuki menyurutkan senyumnya.
Ia berbalik setelah mengatakan apa yang ia pendam selama ini. Berjalan cepat menuju kamarnya sendiri seraya membanting pintu dengan cukup keras.
Sampai-sampai kedua orang tua di bawah sana terhenyak sambil memejamkan mata mendengar bunyi dentaman yang sangat keras dari kamar Yuki.
"Lihat, anak itu berubah. Siang malam kita mencari uang untuknya, dan sekarang dia berani bersikap kurang ajar pada kita," keluh sang Ayah kesal.
"Sudahlah, mungkin dia lelah atau sedang ada masalah. Besok juga akan kembali seperti biasa." Wanita di sampingnya menenangkan. Egois.
Gadis itu menyandarkan punggung pada daun pintu. Hanya sebatas itu kasih sayang mereka padanya. Ia menitikan air mata, menahan sebak di dada.
"Aku senang kalian pulang. Aku senang kalian masih ingat rumah ini, tapi aku tidak tahu apakah kalian masih ingat padaku atau tidak?" gumam Yuki sembari menyeka air matanya.
*****
Sinar matahari pagi datang menyapa, memberi rasa hangat pada mereka yang telah terbangun untuk menyambutnya. Akhir pekan selalu dinanti banyak orang, untuk dapat menikmati waktu bersama keluarga.
Gadis itu mengernyit ketika sesuatu yang menyilaukan menyapa korneanya. Ia melenguh, sebelum membuka mata dan samar melihat satu sosok perempuan yang sedang membuka tirai jendela.
"Mamah?" Ia memanggil dengan suaranya yang parau.
Sosok itu mendekat dalam alam pikiran ia melihatnya tersenyum. Namun, pada kenyatannya ....
"Nona, Tuan dan Nyonya meminta Anda untuk turun ke ruang makan," ucap sosok tersebut sambil membungkukkan tubuh.
Yuki mengucek matanya, sedikit membelalak saat mendapati asisten rumah tangganya yang ada di sana.
"Aku tidak ingin turun, kecuali Mamah yang datang membangunkan aku," ucap Yuki kembali menggelung dirinya di dalam selimut.
__ADS_1
"Maafkan saya, Nona, tapi Tuan dan Nyonya sudah bersiap untuk pergi."
Yuki membelalak, tak lama membuka selimut dengan kesal, dadanya bergemuruh. Napasnya memburu seakan-akan hendak menyemburkan api dari dalam mulutnya.
"Pergi? Akhir pekan begini, mereka tetap akan pergi?" geram Yuki. Bibirnya berkedut-kedut, kedua tangan mengepal di bawah selimut. Air mata jatuh dengan sendirinya.
Sang asisten ikut merasa pilu, ia tak tega melihat Nona mudanya selalu sendirian ditinggal kedua orang tua. Ia memberanikan diri duduk di sampingnya, mengelus punggung Yuki yang berguncang karena menahan gejolak.
"Anda harus bersabar, Nona. Mungkin Tuan dan Nyonya memang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Suatu saat, semoga keduanya bisa memiliki waktu untuk berkumpul di rumah bersama-sama Anda," ucap wanita paruh baya yang setiap hari menemaninya di rumah.
Yuki meredakan tangisnya, sesak merebak dalam dada. Tangannya dengan cepat menyusut air mata. Ia beranjak turun ketika suara deru mobil terdengar dari halaman rumah. Berjalan menuju balkon, memandang penuh benci pada dua orang tua di bawah sana.
"Kalian keterlaluan! Sangat keterlaluan! Kalian tidak pernah peduli padaku, kalian hanya mementingkan pekerjaan kalian saja. Pergi saja kalian, jangan kembali lagi! Aku benci kalian! AKU BENCI!" teriak Yuki dari lantai dua rumah.
Napasnya tersengal-sengal usai meluapkan emosi dalam diri. Kedua orang tua di bawah sana mendongak menatap nanar pada sosok gadis yang mendengungkan kebenciannya terhadap mereka.
"Yuki!" bentak sang Ayah dengan geram. "Keterlaluan! Anak yang tak tahu diuntung. Kau pikir kau bisa hidup tanpa kami, hah?!" Suara laki-laki paruh baya itu kembali menggema di udara.
Sesak, dada gadis itu semakin sesak. Air matanya kembali jatuh tanpa dapat ia tahan. Ia berlari kembali ke kamar, masuk ke kamar mandi membiarkan tubuhnya dihujani air. Ia meluruh duduk di lantai, pakaian yang ia kenakan dibiarkannya basah kuyup.
Terus menangis, dan semakin histeris tatkala telinga samar mendengar suara deru mobil.
"Kalian jahat! Kalian benar-benar tidak peduli padaku. Aku benci kalian, aku benci kalian!" Yuki menekuk lutut, memeluknya dengan tubuh basah menggigil.
Menangis tiada henti, hatinya sakit. Air mata berbaur dengan air yang mengguyur tubuhnya, isak tangis yang ia perdengarkan sungguh menyayat hati. Di luar kamar mandi, wanita paruh baya yang membangunkannya tak henti mengetuk-ngetuk pintu meminta Yuki segera keluar.
Namun, penderitaan gadis itu, telah membuatnya semakin rapuh dan tidak mempercayai siapapun yang ada di dalam rumah itu. Panik, sang asisten berlari turun ke lantai bawah mencari tukang kebun.
"Pak! Pak! Cepat, Pak. Tolong dobrak pintu kamar mandi Nona. Saya khawatir terjadi sesuatu dengan Nona, Pak. Cepat!" teriaknya panik.
Keduanya segera berlari ke lantai dua, air di dalam kamar mandi masih terdengar. Tak ada suara lain lagi. Tukang kebun itu mendobrak pintu tersebut beberapa kali karena kondisinya yang masih sangat kokoh.
"Nona!"
__ADS_1