
"Argh!"
Bruk!
Regan jatuh tersungkur hampir saja mencium lantai keramik ruangan tersebut. Kepalanya berbalik, ia melayangkan tatapan tajam pada salah satu teman Teddi yang menjegal langkanya itu.
Mereka tersenyum mengejek bahkan di antara mereka terdengar gelak tawa meski lirih. Regan mengepalkan jemari kuat-kuat, rahangnya ikut menegang, kedua sisi giginya saling beradu satu sama lain.
"Apa masalahmu? Kenapa kau menjegal langkahku?" bentak Regan tidak terima. Napasnya tersengal-sengal karena luapan emosi yang membuncah. Matanya menjegil jengah, kulit wajah memerah padam.
"Siapa? Ada yang tahu siapa yang dia maksud?" Laki-laki itu mengangkat kedua tangan melepas dosa yang baru saja ia lakukan. Pandangannya mengedar bertanya pada yang lain mengejek Regan yang berapi-api.
Sial! Mereka memang menyebalkan.
Regan menggeram tertahan, ia menunduk sebisa mungkin menahan diri untuk tidak tersulut. Ia beranjak, menenangkan diri sebelum berbalik tak peduli pada tawa yang mereka perdengarkan.
"Kalian memang sampah! Bisanya hanya keroyokan. Pecundang!" umpat Regan dengan suara tinggi tanpa menoleh ke belakang tubuh.
Ia mendorong pintu ruangan kuat-kuat hingga berdebam saat menutup. Kelompok Teddi menggeram mendengar celoteh asal yang keluar lantang dari mulut Regan.
"Sial! Awas saja kau, Regan! Kita lihat saja mampukah kau dan tim melawan kami." Teddi tersenyum mencibir. Ia melipat kedua tangan di dada sambil menatap tajam punggung Regan yang telah hilang.
Kenan melangkah pelan bersama Yuki yang bergelayut manja di lengannya. Di salah satu sudut lorong, sepasang mata memandang mereka penuh amarah. Pancaran kebencian jelas terlihat di maniknya yang berwarna coklat.
"Kalian pamer? Nikmati saja waktu kalian ini sebelum kesialan datang menjemput kalian." Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Api dendam membara dalam kilatan matanya.
Ia berbalik seraya membawa langkah ke arah berlawanan dengan Kenan dan Yuki. Gedung olahraga adalah satu-satunya gedung yang tak ingin didatangi Kenan semasa kuliah dulu.
Berbagai hinaan selalu ia dapatkan di gedung tersebut dari Teddi dan rekan-rekannya. Untuk itu ia selalu melewatkan jam olahraga atau kegiatan lainnya yang mempertemukan dia dengan kelompok Teddi secara langsung.
__ADS_1
Namun, kali ini berbeda, statusnya bukan lagi mahasiswa di kampus tersebut. Ia datang dengan tujuan bertemu sahabatnya, melepas rindu, sekaligus menonton pertandingan.
"Regan! Di sini!" Kenan memanggil Regan sembari melambaikan tangan. Senyumnya lebar terbentuk, betapa bahagia bertemu sahabat lama kembali.
"Kenan!" Pemuda yang baru saja keluar dari ruang ganti itu berteriak girang dan nyaring. Ia berlari persis seperti Kiran yang melihat Kenan menjemput.
Dua orang sahabat yang lama tak bertemu itu saling berpelukan, melepas rindu dan segala rasa ingin bertemu. Saling memberikan tepukan dukungan, sungguh Regan merasa sepi semenjak Kenan meninggalkan kampus.
"Kau ke mana saja? Kenapa pergi tidak memberitahuku? Kau tahu, aku hampir gila karena setiap hari menunggumu di kelas," ucap Regan usai melepas pelukan.
Matanya berkaca haru, binar bahagia terpancar dari maniknya yang berkabut. Regan menepuk bahu Kenan, senang dapat bertemu dengan sahabatnya itu.
"Maaf, kawan. Hari itu aku ingin berpamitan padamu, tapi Teddi dan teman-temannya datang menggangguku dan Yuki. Aku tak sempat memikirkan yang lain saat itu-"
"Jangan menangis, aku datang untuk memberi dukungan padamu. Kau harus bersemangat, aku tidak ingin kecewa." Kenan tersenyum.
Regan menyusut air yang menggenangi sudut matanya, ia ikut tersenyum seraya merangkul Kenan untuk masuk ke dalam gedung olahraga.
Gadis itu menunduk menyembunyikan rona merah yang muncul menghangat di wajahnya. Kenan menautkan jemari mereka, Yuki adalah orang kedua yang mengisi hari Kenan setelah Kiran.
Mereka memilih tempat duduk di tengah, menonton yang sedang berlatih mempersiapkan diri. Berbincang tanpa peduli sekitar, juga Yuki yang menjatuhkan kepala di lengan sang kekasih. Kedekatan mereka memicu api cemburu di hati banyak orang.
Di mana Kenan yang dulu dianggap sampah dan tak ditemani, kini menjelma sebagai sosok yang gagah dan menjadi idaman. Wajahnya yang rupawan, senyumnya yang manis, juga sikapnya yang memanjakan Yuki membuat iri para wanita di kampus tersebut. Tak terkecuali ketiga teman Yuki yang baru saja mendaratkan bokong mereka di sampingnya.
Yuki menjulurkan lidah saat ketiganya menatap cemburu. Ia terkekeh, seraya melepas lingkaran tangannya dan mendekat ke arah mereka. Namun, sigap Kenan menarik tangannya kembali. Yuki mengangkat alis, sengaja mengejek ketiganya yang cemberut.
"Ayo, Regan! Pertandingan akan dimulai ... oh, hai, Kenan! Bagaimana kabarmu?" Seorang teman menyapa dengan ramah. Mereka melakukan tos.
"Aku baik." Singkat saja sambil tersenyum.
__ADS_1
"Aku turun, doakan semoga kali ini aku bisa mengalahkan Teddi," ucap Regan. Kenan memberikan tinjunya beradu dengan kepalan tangan Regan.
"Berjuanglah!" katanya. Ia bergeming di tempatnya, membiarkan Yuki berceloteh dengan ketiga temannya.
Teddi dan kelompoknya memasuki arena pertandingan, ia berjalan di paling depan. Matanya melirik Kenan yang duduk tenang di bagian tengah. Lintasan cerita pagi itu, kembali membayang dalam pikiran.
Senyum yang diukir Kenan terlihat menyebalkan di matanya. Teddi tetap dingin dan angkuh meski Kenan telah memberinya pelajaran. Ia berpaling tanpa membalas senyum yang dilayangkan Kenan untuknya.
"Dia masih saja angkuh, apa tidak merasa malu setelah kejadian itu?" bisik Yuki yang kembali menempel di tubuh Kenan.
"Biarkan saja. Mungkin memang sifatnya yang seperti itu," sahut Kenan tetap bersikap tenang seperti biasa. Dia benar-benar keren.
Pertandingan dimulai, berjalan seperti biasa. Baik Teddi maupun Regan, belum menunjukkan performa mereka yang sebenarnya. Sampai beberapa saat berlalu, Kenan melihat gelagat mencurigakan dari tim Teddi.
"Ada apa?" Yuki berbisik saat merasakan tubuh Kenan yang menegang.
"Aku tidak yakin, tapi Teddi merencanakan sesuatu," sahutnya berbisik pula. Yuki melihat dengan teliti, tapi tak menemukan apapun. Pertandingan itu berjalan dengan normal.
"Biasa saja." Yuki berkomentar. Kenan hanya melirik tanpa berniat menanggapi, ia tersenyum melihat gadis itu yang serius menonton.
"Kenan, kenapa Yuki selalu menempel padamu?" goda salah satu teman Yuki membuat gadis itu mendelik tajam ke arahnya.
Kenan terkekeh geli, "Tanyakan saja padanya, tapi perlu kalian tahu ... aku menyukainya." Manis sekali, terlebih saat Kenan menyatukan dahi mereka. Menggemaskan dan membuat mereka iri.
Karena Kenan tak mungkin mengatakan seolah-olah ia tak mencintai Yuki. Hal itu tentunya akan menggores hati gadis yang ia cintai juga melukai harga dirinya sebagai wanita terhormat. Kenan juga ingin menunjukkan pada mereka bukan hanya Yuki yang jatuh cinta, tapi ia juga memiliki rasa yang sama sepertinya.
Yuki tersenyum haru, ia merasa beruntung menjadi kekasih Kenan.
"Yuki, kau beruntung sekali!" gumam mereka saling melempar lirikan dengan iri dan bangga sekaligus.
__ADS_1
Peluit tanda jeda pertandingan menggema. Regan berkumpul bersama temannya, ia mendatangi Kenan disaat laki-laki itu melambaikan tangan memanggil.
"Kau harus berhati-hati, Regan. Aku memiliki firasat buruk, entah kenapa Teddi dan timnya sedang merencanakan sesuatu yang tak baik terhadapmu." Kenan berbisik, Regan menatap waspadai pada kelompok Teddi. Benarkah?